Amelia Kusumawardhani, seorang dokter forensik yang blak-blakan dengan kehidupan sederhana yang dipenuhi novel, anime, dan kerajinan tangan, tidak pernah menyangka kematiannya akan membawanya ke dalam novel favoritnya.
Lebih buruk lagi, ia terlahir sebagai anak pungut keluarga penjahat dalam cerita asli yang ditakdirkan untuk menghancurkan kerajaan.
Dan dia sendiri?
Ia hanya memiliki satu akhir dalam novel.
Yaitu mati.
Berlatar di sebuah Kerajaan Fantasi bergaya Eropa, akankah Amelia mampu bertahan, menemukan kebenaran, dan mengubah takdir yang seharusnya menjadi miliknya. Bagaimanakah kelanjutan kisahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinnox, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Festival Berburu 2
Lucien tidak langsung menjawab sindiran Ratu. Tatapannya justru tetap tenang, lalu perlahan beralih kepada Kaisar.
"Karena itulah saya datang hari ini," ucap Lucien akhirnya. "Saya hendak melaporkan secara langsung kepada Yang Mulia mengenai pengangkatan Aveline Valois."
Ratu yang sejak tadi tersenyum tipis tidak memberikan tanggapan. Kipas di tangannya bergerak sekali, menutupi sebagian wajahnya, sebelum tatapannya kembali jatuh kepada Eve. Sorot mata merah tersebut menyapu tubuh kecil Eve dari kepala hingga kaki, seolah sedang mencari sesuatu yang bisa dipermasalahkan.
Namun setelah beberapa saat, Ratu hanya mengibaskan kipasnya dan kembali bersandar di kursinya. Disisi lain, Kaisar justru tertawa kecil. Suaranya menggema di dalam tenda, membuat beberapa bangsawan yang berdiri di sekitar ikut menundukkan kepala.
"Bagus, bagus." Kaisar menatap Lucien dengan senyum lebar. "Aku senang kau masih mau melaporkannya kepadaku."
Kaisar menyandarkan tubuhnya dengan santai. "Selama ini kau bahkan tidak pernah terlalu peduli dengan keberadaanku. Aku sempat berpikir Duke Valois sudah lupa siapa yang duduk di atas takhta."
Jemari Lucien yang berada di sisi tubuhnya bergerak sedikit. Eve memperhatikan perubahan kecil tersebut.
Kaisar masih tersenyum, "Namun tampaknya kau sudah sadar," lanjutnya, "bahwa kedudukan Valois tidak lebih dari seorang bawahan."
Suasana di dalam tenda mendadak terasa lebih berat.
Lucien mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras, sementara tatapannya yang semula tenang berubah menjadi dingin. Tidak ada jawaban keluar dari mulutnya, tetapi Eve bisa melihat jelas ketegangan pada bahunya.
'Woi, Pak Tua.' Eve menelan ludah.
'Jangan nyulut api lah.' Dia bahkan secara refleks bergeser sedikit lebih dekat kepada Lucien.
Bukan karena takut pada Kaisar. Lebih karena Eve khawatir pria di sampingnya akan melakukan sesuatu yang membuat seluruh isi tenda lari ketakutan. Untungnya Lucien masih mampu menahan diri. Beberapa detik kemudian, kepalan tangannya perlahan mengendur.
"Saya memahami kedudukan saya, Yang Mulia," jawab Lucien akhirnya. Suaranya terdengar tenang, meski Eve bisa merasakan dingin yang tersembunyi di baliknya.
"Bagus." Kaisar tersenyum puas.
Setelah percakapan tersebut selesai, Kaisar mengangguk dan secara resmi menerima laporan mengenai pengangkatan Aveline Valois. Dengan begitu, keberadaan Eve sebagai putri bungsu keluarga Valois telah diakui oleh Kekaisaran.
Bagi Eve, urusan tersebut terasa jauh lebih sederhana daripada yang dia bayangkan.
'Jadi sekarang gue resmi jadi anak Lucien?.'
Setidaknya tidak ada lagi bangsawan yang bisa dengan mudah mengatakan bahwa dirinya hanya anak asing yang kebetulan tinggal di kediaman Valois.
Lucien kemudian membungkuk singkat sebelum berbalik. Eve segera kembali menggenggam tangannya.
Mereka meninggalkan tenda utama. Begitu tirai tenda tertutup di belakang mereka, Eve baru berani mengembuskan napas panjang. Bahunya yang sejak tadi tegang perlahan turun.
'Gila.' Dia melirik Lucien dari samping.
'Baru beberapa menit sudah hampir jadi perang dingin antara Duke dan Kaisar.'
Lucien tidak menunjukkan reaksi apa pun terhadap tatapan tersebut. Dia hanya berjalan dengan langkah panjang yang membuat Eve harus mempercepat langkah kecilnya agar tidak tertinggal.
Dalam perjalanan kembali menuju tenda keluarga Valois, perhatian Eve beberapa kali teralihkan kepada para bangsawan yang berada di sekitar lapangan. Gaun-gaun berwarna cerah, pakaian formal para bangsawan pria, lambang keluarga yang terpasang pada panji-panji, serta para peserta yang sedang mempersiapkan senjata memenuhi pandangannya.
Eve berusaha mencari sang pemeran utama The rose and crown, Seraphina.
'Di mana dia?' Matanya bergerak dari satu kelompok ke kelompok lain. Namun posisi Eve yang terus berada di samping Lucien membuatnya tidak bisa bergerak bebas.
Kalau saja dia bisa berkeliling sendiri, mungkin pencariannya akan lebih mudah. Namun dengan Vins yang mengawasi dan Lucien yang berjalan di sampingnya, Eve hanya bisa menyimpan rasa penasaran tersebut.
Tidak lama kemudian, mereka tiba di tenda keluarga Valois. Berbeda dari sebelumnya, tenda tersebut sudah selesai dipasang. Tiang-tiangnya berdiri kokoh, kain berwarna gelap dengan lambang keluarga Valois terbentang rapi, sementara beberapa pelayan sibuk mengatur peralatan di sekitarnya.
Seseorang sudah menunggu di depan. Eve langsung mengenalinya.
Marquess Guzman.
Pria tua tersebut berdiri dengan pakaian bangsawan yang rapi. Begitu melihat Lucien, wajahnya langsung berubah menjadi senyum ramah. Eve justru merasakan sesuatu yang tidak menyenangkan di dalam perutnya.
'Kenapa dia ada di sini?'
Sejak pertemuan sebelumnya, Eve memang sudah tidak menyukai Marquess Guzman. Entah kenapa setiap kali pria tersebut muncul, perasaannya selalu mengatakan bahwa sesuatu yang merepotkan tidak akan jauh-jauh darinya.
Marquess Guzman melangkah maju dan membungkuk.
"Selamat datang kembali, Yang Mulia Duke," ucapnya dengan suara ramah. "Semoga pertemuan dengan Yang Mulia Kaisar berjalan lancar."
"Mm." Lucien hanya memberikan jawaban singkat.
Tatapan Marquess Guzman kemudian berpindah kepada Eve.
Senyumnya melebar, "Hai, Nona kecil," sapanya sambil membungkuk sedikit, pria itu tersenyum tapi tidak dengan matanya.
'...Gue gak suka senyum kayak begitu.'
Eve tidak menjawab terlalu banyak. Dia hanya memberikan senyum kecil seperti anak berusia empat tahun yang sedang bertemu orang dewasa.
"Hai."
"Manis sekali." Marquess Guzman tertawa kecil.
'Jangan panggil gue manis.' Eve menahan keinginan untuk memutar mata.
Marquess Guzman kemudian kembali memberikan penghormatan kepada Lucien sebelum akhirnya meninggalkan area tenda bersama beberapa orang yang mengikutinya. Eve memperhatikan punggung pria tersebut sampai menghilang di antara kerumunan.
'Pertanda buruk ini mah.'
Belum sempat Eve memikirkan lebih jauh, suara terompet terdengar dari arah lapangan utama.
Praaang!
Suara tersebut menggema ke seluruh area festival. Percakapan para bangsawan perlahan mereda. Seorang pembawa acara berdiri di atas panggung kecil yang telah disiapkan di tengah lapangan.
"Seluruh peserta Festival Berburu dimohon segera berkumpul di lapangan utama!" serunya dengan suara lantang. "Pembukaan akan segera dimulai!"
Lucien langsung bergerak.
"Ayo."
Eve menggenggam tangannya dan berjalan bersama Vins di sisi lain. Rombongan keluarga Valois menuju lapangan utama bersama para peserta dari keluarga bangsawan lainnya.
Semakin dekat, semakin banyak orang berkumpul.Di bagian depan lapangan, Kaisar sudah berdiri bersama Ratu dan kedua pangeran. Para pengawal Kekaisaran berdiri dalam barisan rapi di belakang mereka.
Eve kembali memperhatikan kedua anak laki-laki tersebut. Anak berusia sepuluh tahun berdiri tenang di sisi Kaisar. Rambut pirangnya terlihat jelas terkena cahaya matahari, sementara mata birunya bergerak mengamati kerumunan. Di sebelahnya, Putra Mahkota yang masih kecil berdiri lebih dekat kepada Ratu.
Namun suara Kaisar segera menarik perhatiannya.
"Para peserta Festival Berburu." Suara Kaisar terdengar lantang ke seluruh lapangan.
Percakapan yang tersisa langsung berhenti.
"Kalian berkumpul di sini bukan hanya untuk menunjukkan kemampuan berburu, tetapi juga untuk menguji keberanian, ketangkasan, dan kemampuan kalian bertahan di medan yang telah disiapkan."
Eve mendengarkan sambil berdiri di sisi Lucien. Tangannya masih menggenggam tangan pria tersebut, sementara Vins berdiri beberapa langkah di belakang mereka.
Kaisar melanjutkan penjelasannya mengenai aturan.
"Perburuan akan berlangsung di wilayah yang telah ditentukan oleh Kekaisaran. Setiap hasil buruan akan diperiksa dan dihitung oleh petugas yang telah ditunjuk. Jumlah dan jenis buruan akan menjadi dasar penilaian."
Beberapa peserta mulai terlihat lebih serius.
"Peserta dengan hasil buruan terbanyak akan dinyatakan sebagai pemenang."
Eve mengangkat wajah sedikit.
"Dan sebagai hadiah," lanjut Kaisar, "pemenang berhak mengajukan satu permintaan kepada Kaisar."
Kerumunan langsung dipenuhi bisikan.
'Satu permintaan?' Eve berkedip.
Hadiah tersebut jelas bukan sesuatu yang sederhana.
Kaisar mengangkat satu tangan, membuat suara di sekitar kembali mereda.
"Permintaan tersebut akan dipertimbangkan oleh Kekaisaran selama tidak bertentangan dengan hukum dan kepentingan negara."
Dia kemudian menatap seluruh peserta.
"Pemenang akan mendapatkan gelar Raja Perburuan atau Ratu Perburuan."
Beberapa bangsawan mulai tersenyum penuh ambisi.
Eve justru menatap hutan yang terbentang jauh di balik lapangan.
'Raja atau Ratu Perburuan, bisa minta apa saja kepada Kaisar...'
Kedengarannya seperti kompetisi biasa. Namun Eve tahu betul satu hal. Di dunia bangsawan, hadiah semacam itu bisa membuat seseorang memperoleh kekuasaan jauh lebih besar daripada sekadar sebuah gelar.
Kaisar kemudian menambahkan aturan terakhir.
"Festival ini tidak dibatasi oleh usia. Selama seseorang terdaftar sebagai peserta, dia memiliki hak yang sama untuk memenangkan perburuan."
Eve membeku.
Perlahan kepalanya menoleh kepada Lucien. Dia baru sadar ada satu bagian penting yang belum terpikirkan sejak awal. Festival Berburu tidak peduli apakah pesertanya orang dewasa atau anak kecil.
Dan Eve, baru berusia empat tahun.
Eve perlahan menoleh ke arah Lucien. Pria tersebut berdiri dengan tenang, seolah pengumuman Kaisar barusan sama sekali tidak memiliki hubungan dengannya.
Namun Eve mulai menghubungkan semuanya, latihan memanah selama dua hari. Joel yang terus mengajarinya cara memegang busur. Peringatan Lucien agar dia mengingat latihannya.
Dan sekarang, festival ternyata tidak memiliki batas usia.
'Jangan bilang...' Mata Eve sedikit melebar.
Dia menatap Lucien lebih lama.
'Bangs*t.' Baru sekarang Eve sadar. Lucien pasti sudah mendaftarkannya sebagai peserta sejak awal.
Pantas saja dua hari terakhir dia dipaksa berlatih meskipun tubuh kecilnya masih belum terbiasa dengan busur. Pantas Lucien mengingatkan agar dia tidak melupakan latihan ketika berada di lokasi perburuan.
Semua potongan kejadian tersebut akhirnya tersusun dengan sendirinya.
'Gue kira latihan cuma persiapan biar bisa lihat-lihat festival.' Jari Eve mengepal kecil.
'Ternyata gue disuruh ikut berburu.' Dia menatap wajah Lucien yang tetap datar.
'Papa macam apa yang mendaftarkan anak umur empat tahun ke kompetisi berburu, sih?!' Namun wajah Eve tetap polos. Bahkan dia masih menggenggam tangan Lucien dengan erat seolah tidak terjadi apa-apa.
jdi penasaran ih 😅
berjuanglah 👍