Jika sosok Ayah akan menjadi sosok pahlawan bagi seorang anak, hal berbeda justru dirasakan oleh Elang Mahesa.
Selama dua puluh tiga tahun ia tidak tahu mengapa sosok pria yang harusnya menjadi pelita dalam hidup justru selalu merendahkannya. Tak peduli apa pun yang ia lakukan, semua selalu salah di mata sang Ayah.
Hidupnya mulai berubah ketika takdir membawanya masuk ke sebuah perusahaan Arkatama Group. Tanpa rencana, ia justru terlibat dalam konflik keluarga, perebutan perusahaan, dan ancaman yang mengincar keluarga Arkatama. Di saat yang sama, kemunculan seseorang di tengah konflik yang membawa rahasia masa lalu membuat Elang terjebak dalam dua pilihan sulit yang akan mengubah hidupnya selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FT.Zira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22.
Pagi itu, suasana ruang makan di kediaman Arkatama berubah menjadi lebih berat ketika Damar meletakkan sebuah map abu-abu di meja dan mendorongnya ke arah Ravian.
“Baca," ucap Damar singkat saat melihat tatapan bingung putranya.
Ravian mengangguk, menarik map itu mendekat, lalu membukanya. Di halaman depan tercetak nama sebuah perusahaan besar yang tentu tidak asing baginya.
Vardhana Resources.
Salah satu kelompok bisnis yang memiliki jaringan pertambangan, pengolahan bahan baku, hingga distribusi industri di beberapa wilayah. Ukuran bisnis mereka cukup besar untuk duduk sejajar dengan Arkatama.
Ravian membuka halaman berikutnya.
Proposal kerja sama pengadaan bahan baku untuk salah satu anak perusahaan Arkatama dengan nilai cukup besar.
“Ada pertemuan dengan mereka jam sebelas,” ujar Damar.
Ravian terus membaca. “Ayah ingin aku ikut?”
“Bukan ikut." sahut Damar seraya menyandarkan punggungnya. “Tapi kamu yang menangani.”
Gerakan tangan Ravian saat membuka halaman terhenti, wajahnya terangkat cepat. “Aku?”
“Kenapa wajahmu begitu?”
“Tidak. Cuma...” Ravian membalik satu halaman lagi. “Biasanya Ayah yang bertemu langsung kalau nilainya sebesar ini.”
“Itulah masalahnya," sahut Damar. “Kalau semua tetap Ayah yang kerjakan, sampai kapan kamu hanya duduk di belakang Ayah?”
Ravian kembali menatap berkas. Ada beberapa catatan merah pada halaman belakang. Keterlambatan pembayaran vendor, perselisihan kontrak, dugaan penggunaan perusahaan perantara untuk menutupi asal barang, dan beberapa persoalan hukum bahkan masih berjalan.
Dahi Ravian mengerut. “Perusahaan ini bermasalah.”
“Cukup bermasalah untuk membuat Ayah tidak ingin Arkatama terikat dengan mereka,” jawab Damar. "Kamu hanya perlu menolak tawaran mereka. Katakan 'tidak' dan selesai."
Sesederhana itu.
Namun Ravian tahu kenyataannya tidak akan sesederhana mengucapkan satu kata.
Vardhana bukan perusahaan kecil yang bisa ditolak tanpa konsekuensi hubungan bisnis. Mereka memiliki jaringan yang luas, pengaruh besar di industri, dan dipimpin oleh seseorang yang dikenal tidak menyukai penolakan.
"Jangan terlalu menekannya, Damar," Meira yang sejak tadi diam akhirnya angkat bicara, wajah yang sebelumya menunduk kini terangkat menatap sang putra. "Jika kamu merasa ini berat, katakan saja."
"Biarkan putramu belajar lebih serius mengurus perusahaan," Raksa turut membuka suara. "Jika bukan dia, siapa lagi? Ayah sudah tua, suamimu tidak bisa harus selalu menjadi orang pertama yang mengurus perusahaan."
"Tapi, Ayah-"
"Ravi tidak melakukan hal berbahaya, Meira," potong Raksa cepat sebelum Meira menyelesaikan kalimatnya. "Dia hanya perlu datang ke ruang rapat, bertemu dengannya, mengatakan 'tidak' dan selesai."
Meira terdiam. Ravian hanya menunduk dalam, lalu kemudian mengangkat wajah menatap ibu, ayah dan kakeknya secara bergantian.
"Akan kulakukan," ucap Ravian.
.
.
.
"Untuk apa kau datang kemari?"
Pertanyaan itu meluncur begitu tajam dari mulut Bram sesaat setelah ia membuka pintu rumahnya dan mendapati Elang sudah berdiri di depan pintu.
"Ingin menertawakanku?" sambungnya.
Angin pagi yang berhembus pelan harusnya terasa sejuk saat menerpa kulit, namun setiap penekanan kata yang Bram keluarkan membuat pagi itu terasa lebih panas dari seharusnya.
Amarah di wajah Bram tampak masih segar atas kejadian yang membuat posisinya di Arkatama Industrial dinonaktifkan sementara meski hari itu sudah berlalu.
"Kau pasti senang melihatku berdiri seperti seorang penjahat di depan semua orang kan?"
Elang masih diam saat Bram kembali berbicara. Wajahnya tetap tenang, kedua tangannya perlahan masuk ke saku celana tanpa melepaskan pandangan dari sang ayah.
Sesaat, Elang mengarahkan pandangan ke belakang tubuh Bram, memastikan ibunya tidak segera keluar. Pagi ini, ia sengaja datang untuk melihat keadaan ayahnya sebelum berangkat bekerja, namun justru mendapatkan sambutan tak bersahabat dari ayahnya.
"Sudah selesai bicara?" tanya Elang setelah menunggu namun tidak mendengar ayahnya berbicara lagi.
Bibir Bram bergetar, kedua tangannya terkepal erat di sisi tubuh. Ia ingin mengeluarkan semua kekesalannya, tetapi entah mengapa kini terasa sulit setelah rahasia yang sudah ia kunci rapat terbuka. Seiring waktu, sosok Elang menjadi lebih mirip seperti Damar saat masih muda dulu. Tenang, tidak ragu, dan memiliki tatapan yang mampu membuat lawan bicaranya bungkam.
Sementara dirinya? Nyalinya bahkan langsung menciut jika ia berhadapan dengan orang yang lebih berkuasa.
"Jika yang kamu maksud adalah aku ingin menghancurkanmu waktu itu, aku tidak perlu menunggu laporan Daneswara." Elang maju selangkah lebih dekat, membuat wajah Bram memucat.
"Aku memiliki sesuatu yang jauh lebih berbahaya dari itu," lanjut Elang merendahkan suaranya.
Tubuh Bram menegang, segera menangkap apa maksudnya.
"Tapi, aku tidak akan menggunakan itu. Dan..." Elang kembali maju, membuat refleks Bram memundurkan tubuhnya. "Aku tidak percaya dengan laporan itu."
Bram terperangah, netranya menatap lekat manik putranya lebih lama. Namun, belum sempat ia membuka suara, wajah tenang Elang berubah dalam hitungan detik menjadi sumringah.
"Ibu..."
Tanpa mempedulikan akan reaksi ayahnya, Elang berjalan melewati ayahnya begitu saja saat netranya menangkap sosok sang ibu yang baru saja muncul. Ketenangan yang sebelumnya ia pasang runtuh begitu saja, merangkul bahu sang ibu dan menuntun ibunya ke ruang makan.
"Pagi ini aku makan masakan Ibu ya? Kemarin aku lupa membeli bahan makanan," ujar Elang dengan senyum lebar.
"Dasar." Radinka mengacak gemas rambut putranya. "Kenapa kamu tidak pulang saja dan kembali ke rumah kalau begitu?"
Radinka menghela napas panjang. "Rumah ini sepi kalau tidak ada kamu."
"Ayolah, Ibu... Aku kan sudah lebih sering pulang untuk melihat keadaan, Ibu," sahut Elang. "Lagipula, rumah yang kusewa cukup nyaman."
Radinka mendesah lelah, merasa percuma jika ia membujuk putranya ketika suaminya sendiri masih belum mengubah perilakunya.
Beberapa langkah di belakang mereka, Bram menatap interaksi manis antara istri dan putranya dengan tatapan nanar. Pandangannya mengunci sosok Elang lebih lama, orang yang ia sakiti selama dua puluh tiga tahun justru menjadi satu-satunya orang yang tidak percaya bahwa ia tidak bersalah.
. . .
. . .
To be continued...
tp kebenaran gx mungkin akan tertidur trus ,,
suatu saat kebenaran tu akan terbangun dr tidur ny ,,
kalo kebenaran udh terungkap apa km msh akan bertindak seperti ini????