Indonesia
NovelToon NovelToon
JANJI ULAR PUTIH (IKRAR ABADI)

JANJI ULAR PUTIH (IKRAR ABADI)

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime / Cinta Seiring Waktu / Penyelamat
Popularitas:222
Nilai: 5
Nama Author: Aksara Handini

Lian Yue terbangun tanpa ingatan dan segera menyadari dirinya bukan manusia biasa. Di sisi lain, Shen Rui adalah pemburu siluman yang sejak kecil diajarkan untuk membunuh Ular Putih.

Namun saat mereka bertemu, keduanya justru merasa seolah pernah saling mengenal.

Sedikit demi sedikit, terungkap bahwa selama seribu tahun mereka selalu dipertemukan, jatuh cinta, lalu dipisahkan oleh kematian.

Kini Lian Yue dan Shen Rui harus memilih: tunduk pada kutukan lama, atau melawan takdir demi satu kehidupan bersama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33: SOSOK LING SU

Pendar merah berdarah yang memancar dari Dinding Memori Terlarang perlahan memudar, berganti dengan kilatan cahaya keemasan yang teramat menyilaukan di ujung lorong bawah tanah. Udara dingin berbau belerang di dasar Puncak Tianjian mendadak sirna, tersapu oleh hawa menekan yang begitu murni, suci, namun tak berbelas kasih—hawa keberadaan entitas Alam Langit.

Di ujung lorong, di atas sebuah altar batu melayang yang dikelilingi oleh ribuan benang takdir keemasan, berdiri sesosok perempuan.

Ia mengenakan gaun megah berwarna putih pualam bersulamkan garis-garis emas murni yang tak tersentuh debu bumi. Wajahnya begitu jelita bagai pualam tanpa cela, namun matanya yang berwarna emas jernih tampak sepenuhnya hampa—tanpa emosi, tanpa rasa kasihan, bagaikan patung batu yang dihidupkan oleh hukum langit.

"Ling Su..." bisik Lian Yue. Tanda bulan sabit di lengan dan dadanya berdenyut hebat, menyebarkan rasa perih yang begitu pekat hingga tubuhnya sedikit limbung.

Shen Rui dengan sigap menopang pinggang Lian Yue, menyalurkan qi hangatnya seraya mengarahkan mata Pedang Zhaoyang lurus ke arah sosok perempuan di atas altar.

Perempuan itu melangkah turun melayang, ubin batu di bawah kakinya tidak tersentuh sedikit pun. Sepasang mata emasnya menatap Shen Rui dan Lian Yue dengan dingin.

"Seribu tahun..." suara Ling Su mengalun bagai dentang lonceng perunggu yang bergema dari kedalaman langit malam. Merdu, namun membekukan jiwa. "Jiwa manusia yang terikat pada iblis ular ini masih belum juga tersadar dari kebodohannya."

"Siapa kau sesungguhnya?!" bentak Qing Luo murka, mengacungkan belati beracunnya. "Kau yang mengatur benang takdir keji ini bersama Xuan He?!"

Ling Su bahkan tidak menoleh ke arah Qing Luo. Dengusan tipis keluar dari bibirnya yang kemerahan. Hanya dengan satu kibasan lengan gaunnya, gelombang angin hukum langit meledak, menghempaskan Qing Luo hingga menghantam dinding batu gua dengan keras.

"Qing Luo!" seru Lian Yue khawatir.

Shen Rui melangkah maju dua tindak, berdiri menjulang menjadi benteng pelindung di depan Lian Yue. "Jawab pertanyaan itu! Siapa kau dan apa hubunganmu dengan hukum langit serta kebohongan Paviliun Tianjian?!"

Ling Su menatap Shen Rui, ada sekelumit kepahitan yang melintas sangat cepat di balik netra emasnya sebelum kembali membeku.

"Aku adalah Penjaga Hukum Takdir dari Alam Langit," ujar Ling Su datar. "Dan tugas utama yang diemban oleh Hukum Langit adalah memastikan bahwa keteraturan alam tidak dirusak oleh cinta terlarang antara manusia dan siluman."

Ling Su mengangkat tangannya. Di atas telapak tangannya, terbentang benang takdir emas yang menghubungkan bayangan jiwa Shen Rui dan Lian Yue—benang yang di sepanjang jalurnya tampak menghitam dan terciprat darah dari tiga kehidupan masa lalu.

"Cinta kalian adalah sebuah anomali yang mengancam Keseimbangan Kuno," lanjut Ling Su tanpa keraguan. "Xuan He tua itu hanyalah alat kecil berjiwa rakus yang kumanfaatkan. Ia mendirikan Paviliun Tianjian dan mengeksploitasi esensi jiwa Ular Putih demi keabadiannya, sementara aku... aku memanfaatkan ketamakannya untuk memastikan jiwa Ular Putih milik Lian Yue terpecah dan tak pernah bisa bangkit sepenuhnya."

Kata-kata Ling Su jatuh bagaikan tebasan es di dada Shen Rui dan Lian Yue.

Bukan hanya Paviliun Tianjian yang mengkhianati mereka, melainkan hukum Alam Langit itu sendiri yang merancang siklus penderitaan ini sejak awal. Kematian berulang Lian Yue di tangan Shen Rui bukanlah ketidaksengajaan, melainkan skenario kejam yang ditulis oleh Penguasa Takdir demi memusnahkan cinta terlarang mereka.

"Kau memanipulasi ingatan dan tanganku untuk membunuh perempuan yang kucintai..." suara Shen Rui merendah, bergetar oleh amarah yang membakar seluruh meridian jiwanya. Lidah api perak keemasan meledak dari bilah Pedang Zhaoyang.

"Cinta?" Ling Su tertawa dingin, sebuah tawa tanpa kehangatan. "Di hadapan Hukum Langit, cinta hanyalah debu yang mengacaukan siklus. Malam ini, di hari ke-49, siklus ini harus ditutup selamanya."

Pendar merah berdarah yang memancar dari Dinding Memori Terlarang perlahan memudar, berganti dengan kilatan cahaya keemasan yang teramat menyilaukan di ujung lorong bawah tanah. Udara dingin berbau belerang di dasar Puncak Tianjian mendadak sirna, tersapu oleh hawa menekan yang begitu murni, suci, namun tak berbelas kasih—hawa keberadaan entitas Alam Langit.

Di ujung lorong, di atas sebuah altar batu melayang yang dikelilingi oleh ribuan benang takdir keemasan, berdiri sesosok perempuan.

Ia mengenakan gaun megah berwarna putih pualam bersulamkan garis-garis emas murni yang tak tersentuh debu bumi. Wajahnya begitu jelita bagai pualam tanpa cela, namun matanya yang berwarna emas jernih tampak sepenuhnya hampa—tanpa emosi, tanpa rasa kasihan, bagaikan patung batu yang dihidupkan oleh hukum langit.

"Ling Su..." bisik Lian Yue. Tanda bulan sabit di lengan dan dadanya berdenyut hebat, menyebarkan rasa perih yang begitu pekat hingga tubuhnya sedikit limbung.

Shen Rui dengan sigap menopang pinggang Lian Yue, menyalurkan qi hangatnya seraya mengarahkan mata Pedang Zhaoyang lurus ke arah sosok perempuan di atas altar.

Perempuan itu melangkah turun melayang, ubin batu di bawah kakinya tidak tersentuh sedikit pun. Sepasang mata emasnya menatap Shen Rui dan Lian Yue dengan dingin.

"Seribu tahun..." suara Ling Su mengalun bagai dentang lonceng perunggu yang bergema dari kedalaman langit malam. Merdu, namun membekukan jiwa. "Jiwa manusia yang terikat pada iblis ular ini masih belum juga tersadar dari kebodohannya."

"Siapa kau sesungguhnya?!" bentak Qing Luo murka, mengacungkan belati beracunnya. "Kau yang mengatur benang takdir keji ini bersama Xuan He?!"

Ling Su bahkan tidak menoleh ke arah Qing Luo. Dengusan tipis keluar dari bibirnya yang kemerahan. Hanya dengan satu kibasan lengan gaunnya, gelombang angin hukum langit meledak, menghempaskan Qing Luo hingga menghantam dinding batu gua dengan keras.

"Qing Luo!" seru Lian Yue khawatir.

Shen Rui melangkah maju dua tindak, berdiri menjulang menjadi benteng pelindung di depan Lian Yue. "Jawab pertanyaan itu! Siapa kau dan apa hubunganmu dengan hukum langit serta kebohongan Paviliun Tianjian?!"

Ling Su menatap Shen Rui, ada sekelumit kepahitan yang melintas sangat cepat di balik netra emasnya sebelum kembali membeku.

"Aku adalah Penjaga Hukum Takdir dari Alam Langit," ujar Ling Su datar. "Dan tugas utama yang diemban oleh Hukum Langit adalah memastikan bahwa keteraturan alam tidak dirusak oleh cinta terlarang antara manusia dan siluman."

Ling Su mengangkat tangannya. Di atas telapak tangannya, terbentang benang takdir emas yang menghubungkan bayangan jiwa Shen Rui dan Lian Yue—benang yang di sepanjang jalurnya tampak menghitam dan terciprat darah dari tiga kehidupan masa lalu.

"Cinta kalian adalah sebuah anomali yang mengancam Keseimbangan Kuno," lanjut Ling Su tanpa keraguan. "Xuan He tua itu hanyalah alat kecil berjiwa rakus yang kumanfaatkan. Ia mendirikan Paviliun Tianjian dan mengeksploitasi esensi jiwa Ular Putih demi keabadiannya, sementara aku... aku memanfaatkan ketamakannya untuk memastikan jiwa Ular Putih milik Lian Yue terpecah dan tak pernah bisa bangkit sepenuhnya."

Kata-kata Ling Su jatuh bagaikan tebasan es di dada Shen Rui dan Lian Yue.

Bukan hanya Paviliun Tianjian yang mengkhianati mereka, melainkan hukum Alam Langit itu sendiri yang merancang siklus penderitaan ini sejak awal. Kematian berulang Lian Yue di tangan Shen Rui bukanlah ketidaksengajaan, melainkan skenario kejam yang ditulis oleh Penguasa Takdir demi memusnahkan cinta terlarang mereka.

"Kau memanipulasi ingatan dan tanganku untuk membunuh perempuan yang kucintai..." suara Shen Rui merendah, bergetar oleh amarah yang membakar seluruh meridian jiwanya. Lidah api perak keemasan meledak dari bilah Pedang Zhaoyang.

"Cinta?" Ling Su tertawa dingin, sebuah tawa tanpa kehangatan. "Di hadapan Hukum Langit, cinta hanyalah debu yang mengacaukan siklus. Malam ini, di hari ke-49, siklus ini harus ditutup selamanya."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!