Kirana Aruni menjadi korban atas rencana busuk ibu tirinya setelah terjebak dalam
sebuah malam kelam bersama Edgar Ganendra, pewaris tunggal Ganendra Group,
yang kehilangan kendali akibat dibius musuhnya.
Dianggap membawa aib, Aruni diusir oleh ayahnya atas hasutan ibu tirinya.
Tujuh tahun kemudian, Aruni membesarkan
putra kembarnya seorang diri. Mengetahui perjuangan sang ibu, kedua bocah jenius
itu diam-diam meretas data untuk mencari ayah kandung mereka. Hasilnya mengarah pada satu nama besar, yakni Edgar Ganendra, Presiden Direktur Ganendra Group.
Di sisi lain, Edgar tak pernah berhenti mencari wanita dari malam itu. Ia ingin menebus kesalahannya sekaligus mengungkap kebenaran yang selama ini tersembunyi, bahwa ia bukanlah pria impoten.
Saat si kembar mulai menyusun rencana untuk mempertemukan kedua orang tua mereka, masa lalu yang penuh fitnah dan luka
kembali terbuka.
Mampukah mereka menyatukan kembali keluarga yang telah lama terpisah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 29
Perjalanan menuju Terasering Sitegong disuguhi pemandangan hijau yang memanjakan mata. Jalanan berbelok dan menanjak membelah perbukitan Sukamakmur membuat udara segar perlahan menyusup masuk melalui celah kaca mobil Edgar yang dibuka sedikit.
Tak butuh waktu lama, mobil mewah itu akhirnya terparkir di area khusus. Begitu keluar dari kendaraan, hamparan terasering hijau berundak-undak berlatar belakang kabut tipis dan megahnya pegunungan langsung menyambut mereka.
"Wah! Indah sekali tempat ini, Bun!" seru Rayyan terkagum-kagum, matanya membelalak menatap pemandangan luar biasa di hadapannya.
"Iya, Kak! Udaranya dingin banget, beda sama di ruko!" Zayyan ikut berteriak girang sambil merentangkan kedua tangannya, menghirup udara segar pegunungan sepuasnya.
Edgar berjalan mendekati Aruni yang sedang merapikan rambutnya yang tertiup angin sore. Pria itu mengamati paras Aruni dari samping, di mana binar mata sang wanita tampak jauh lebih hidup dan rileks dibandingkan saat berada di dalam ruko.
"Terima kasih sudah membawaku ke sini, Aruni. Tempat ini benar-benar indah dan menenangkan," ucap Edgar lembut, suaranya hampir tenggelam oleh hembusan angin.
Aruni menoleh pelan, menyunggingkan senyum tipis yang amat manis. "Sama-sama, Tuan. Tempat ini memang selalu jadi pilihan kami kalau anak-anak sedang jenuh. Sukamakmur punya banyak tempat cantik seperti ini."
"Ayah! Bunda! Ayo cepat ke sana, kita foto-foto!" panggil Rayyan dari atas jalan setapak kayu yang membelah ladang sayur.
Edgar menyunggingkan senyum lebar. "Ayo!"
Mereka berempat menyusuri spot-spot foto menarik. Edgar tak henti-hentinya mengambil foto si kembar menggunakan ponselnya. Bahkan secara diam-diam, jemarinya beberapa kali mengarahkan kamera ke arah Aruni yang sedang tertawa lepas memperhatikan tingkah polah kedua putra mereka.
Saat berada di sebuah gardu pandang yang menghadap langsung ke lembah, si kembar tiba-tiba menarik tangan Edgar dan Aruni agar berdiri berdampingan.
"Ayah, Bunda, berdiri di sini! Zayyan yang fotoin!" seru Zayyan penuh semangat sambil memegang ponsel milik Edgar yang sudah disiapkan dalam mode kamera.
Aruni mendadak kaku. "Eh... Zayyan, tidak usah..."
"Ayo Bun, sekali saja! Mumpung kita lagi jalan-jalan bareng Ayah!" potong Rayyan cepat, ikut mendorong pelan punggung ibunya agar mendekat ke posisinya Edgar.
Edgar yang tak mau melewatkan kesempatan emas ini memberanikan diri menggeser posisinya sedikit lebih dekat. "Cuma satu foto, Aruni. Anak-anak pasti senang," bisik Edgar pelan di dekat telinganya Aruni.
Aruni menarik napas panjang, menunduk malu dan pasrah. Rona merah mendadak menjalar di kedua pipinya saat menyadari lengan tegap Edgar kini hampir bersentuhan langsung dengan bahunya.
"Satu... dua... tiga... cheers!" teriak Zayyan girang seraya menekan tombol rana.
Di balik lensa kamera, terekam sempurna momen hangat tersebut, dimana Edgar dengan senyum tampan penuh kebanggaan, dan Aruni di sampingnya yang tersenyum malu-malu dengan pipi merona merah.
"Lihat nih, Yah! Bagus banget hasilnya!" pamer Zayyan seraya berlari menyerahkan ponsel itu kembali pada sang ayah.
Edgar menerima ponselnya dan menatap gambar di layar dengan binar mata penuh keharuman.
'Aku bersumpah, Aruni... Foto ini bukan sekadar kenangan sementara. Aku akan membawa kalian pulang ke sisiku dan menjadikan momen bahagia seperti ini ada di setiap hari kita,' batin Edgar berjanji mantap dari lubuk hatinya.
Matahari mulai merambat turun di balik bukit, memancarkan warna jingga keemasan yang hangat, melengkapi momen manis keluarga kecil yang baru saja kembali bersatu itu.
Matahari mulai tenggelam, digantikan oleh keremangan malam yang sejuk. Di jok belakang mobil mewah Edgar, Rayyan dan Zayyan sudah tertidur pulas dalam damai akibat kelelahan setelah puas bermain dan menyantap makan sore dengan sangat lahap.
Aruni memandangi kedua buah hatinya dari balik kaca spion tengah dengan tatapan penuh kasih. Di kursi pengemudi, Edgar fokus menyetir. Namun, pria tegap itu sebenarnya sedang merasa sangat gugup. Ingin rasanya ia mengutarakan seluruh isi hatinya detik ini juga, tetapi lidahnya mendadak terasa kelu.
"Aruni!" panggil Edgar memecah keheningan jalanan.
"Iya, Tuan?" jawab Aruni lembut seraya menoleh ke arahnya.
"Bisakah kau tidak memanggilku Tuan?" pinta Edgar penuh harap.
"Lantas aku harus memanggil apa?"
"Apa saja, kek... Selain embel-embel kata Tuan!" jawab Edgar mengharapkan panggilan yang lebih hangat dan manis dari wanita pujaan hatinya.
Aruni sempat berpikir sejenak, kedua bola mata cantiknya berputar indah memikirkan opsi panggilan yang cocok.
‘Apa ya? Tuan Edgar itu kalau dipikir-pikir seumuran dengan almarhum Om Yanto, adiknya Mamah...’ batin Aruni dalam hati.
"Ya sudah, kalau begitu aku panggilkan Om Edgar saja, bagaimana?" jawab Aruni polos tanpa merasa bersalah sedikit pun.
Edgar yang mendengarnya terkejut bukan main. Cengkeramannya pada kemudi sempat mengencang. "Apa?! Om...? Sejak kapan aku menikah dengan tantemu, Aruni?" protes Edgar tak terima, membuat Aruni menahan senyum geli di sampingnya.
"Tapi aku sukanya memanggil begitu... Tidak apa-apa kan kalau dipanggil Om Edgar?" goda Aruni tipis.
Edgar hanya bisa mendengus pasrah.
‘Apakah dimatanya aku setua itu sampai dipanggil Om? Baiklah, terima nasibmu saja, Edgar. Yang penting Aruni nyaman dengan panggilan itu,’ ratap Edgar dalam hati.
Aruni membuang muka ke arah jendela samping, menahan rasa geli yang menguasai dadanya.
‘Ya ampun, kenapa juga aku bisa kepikiran memanggil Tuan Edgar dengan sebutan Om? Tapi dia memang sudah tidak muda lagi, walau tidak tua juga sih!’ tawa Aruni konyol dalam batinnya.
*
*
Keesokan paginya, sebelum rombongan Edgar bertolak kembali ke Jakarta, pria itu sudah memarkirkan mobilnya di pekarangan rumah Bik Sumi sejak fajar menyingsing. Ia ingin berpamitan secara langsung kepada kedua putra dan wanita yang memenuhi seluruh rongga dadanya.
"Ayah... Nanti Ayah ke sini lagi, kan?" tanya Rayyan memeluk erat pinggang sang ayah.
"Iya, Ayah pasti ke sini lagi kan untuk bertemu dengan kami?" Zayyan ikut berhambur memeluk kaki Edgar.
Edgar berlutut, lalu mengecup pucuk kepala kedua putranya secara bergantian dengan begitu dalam. "Iya sayang, Ayah pasti akan ke sini lagi. Kalau mau, apakah kalian mau tinggal sama Ayah di Jakarta?"
Seketika Rayyan dan Zayyan saling menatap dengan binar bahagia. "Mau, Ayah! Kita mau tinggal di sana sama Ayah dan juga Bunda!" ujar Rayyan dan Zayyan serempak. Tuan Fernando yang memperhatikan momen itu dari dalam mobil mengulas senyum lebar tak sabar untuk memboyong cucu dan calon menantunya ke kediaman Ganendra.
Aruni melangkah mendekat, mencoba mencairkan impian polos anak-anaknya. "Rayyan, Zayyan... Rumah kita di sini, bukan di Jakarta. Nanti Ayah kalian pasti ke sini lagi, kalian jangan cengeng!" ujar Aruni lembut namun tegas, mengisyaratkan bahwa ia belum siap menapakkan kaki di Jakarta.
Edgar bangkit berdiri, lalu melangkah lebih rapat ke arah Aruni. Tanpa ragu, jemari hangatnya menyentuh lembut kedua bahu wanita itu.
"Jaga diri kamu baik-baik, dan aku titip anak-anak. Kalau ada apa-apa, segera hubungi nomor ponselku!" pesan Edgar menatap dalam iris mata Aruni.
"Baik, Om Edgar... Aku pasti akan menghubungi Om," balas Aruni canggung.
Mendengar sebutan Om Edgar meluncur manis dari bibir Aruni, telinga Edgar terasa kegelian. Tuan Fernando yang mendengar dari balik jendela mobil bahkan menahan tawa sampai pundaknya berguncang.
‘Hahaha... Rasakan kau Edgar, memang enak dipanggil Om!’ batin Tuan Fernando geli.
Tiba-tiba, Edgar memberanikan dirinya menarik tubuh Aruni ke dalam dekapan tegapnya. Pria itu merengkuh Aruni begitu erat, seolah tak rela mengizinkan jarak membentang di antara mereka lagi.
"Aku pasti akan sangat merindukanmu dan anak-anak... Terima kasih sudah memberikan aku kebahagiaan yang sempurna, Aruni," bisik Edgar tepat di telinganya, tulus dari lubuk hati terdalam.
Deg!
Aruni terpaku membisu. Rona merah membakar kedua pipinya. Perlahan tapi pasti, tangannya terangkat dan membalas pelukan hangat sang pengusaha.
"Selamat jalan, Om Edgar... Hati-hati di jalan. Aku dan anak-anak akan baik-baik saja di sini," bisik Aruni pelan.
Edgar menyudahi pelukannya, namun sebelum benar-benar berbalik, ia mendaratkan sebuah kecupan manis dan lembut di keningnya Aruni. Sentuhan singkat itu sukses membuat Aruni mematung seketika, dengan debaran jantung yang bergemuruh liar tak beraturan.
Bersambung...
untuk aldo, dona, nova dan david beri hukuman siksa dan mati🤭🤭🤭
puji Tuhan, hubungan Aruni dan papa kandungnya sudah membaik