Reatha terpaksa menggantikan saudara kembarnya, Raisa, yang kabur di hari pernikahan. Ia menjadi istri kontrak Azka selama satu tahun.
Azka yang masih mencintai Vania selalu bersikap dingin. Namun, Reatha tak peduli. Ia hanya ingin menyelesaikan kontrak, menerima uang yang dijanjikan orang tuanya, lalu pergi meninggalkan keluarga yang tak pernah menyayanginya.
Saat satu tahun berlalu, Reatha diam-diam pergi.
Barulah Azka mengetahui kebenaran—wanita yang selama ini menjadi istrinya bukanlah Raisa, melainkan Reatha.
Dan saat Azka sadar bahwa ia telah jatuh cinta pada wanita itu, semuanya sudah terlambat.
Reatha telah pergi. Mampukah Azka menemukannya sebelum wanita itu benar-benar menjadi milik orang lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Dua Puluh Dua
Pesawat akhirnya mendarat setelah perjalanan yang terasa cukup panjang. Begitu tanda sabuk pengaman dimatikan, Vania langsung berdiri. Ia mengambil tas tangannya tanpa banyak bicara.
Sejak tadi di dalam pesawat, wanita itu memang lebih banyak diam. Tidak ada rengekan, apalagi protes. Ia tak mau membuat Azka makin kesal.
Bahkan ketika Azka beberapa kali bertanya apakah ia ingin minum atau tidak, Vania hanya menjawab singkat. “Tidak.”
Sementara Reatha justru terlihat santai. Ia sesekali melihat keluar jendela, kemudian memainkan ponselnya. Bahkan sempat tersenyum sendiri ketika membaca sesuatu di layar.
Azka yang duduk di sampingnya hanya menggeleng kecil. “Kamu kelihatan senang sekali,” komentarnya.
Reatha menoleh. “Karena akhirnya pulang," ucapnya.
Azka mengangguk.
Namun di kursi sebelahnya, Vania langsung melirik. Senyum itu. Entah kenapa sejak tadi senyum Reatha membuatnya semakin kesal.
Begitu mereka keluar dari area bandara, Azka langsung membawa koper mereka menuju area parkir. “Kalian tunggu di sini. Aku ambil mobil," ucapnya.
Reatha mengangguk. Vania berdiri sambil memainkan tali tasnya.
Begitu Azka menjauh beberapa langkah, Vania langsung menoleh kepada Reatha.
“Kenapa kau dari tadi senyum terus?” tanya Vania dengan sedikit ketus.
Reatha mengedipkan mata dan menjawab, “Terus aku harus menangis?”
Vania mendengus. “Kau pasti senang melihat kita bertengkar,” ucapnya.
Reatha berpikir sebentar, lalu mengangguk polos. “Sedikit. Jadi ada hiburan," ucapnya dengan tersenyum.
Mata Vania langsung membesar. “Sedikit?”
“Iya.”
“Dasar!” seru Vania.
Reatha malah tersenyum santai. “Aku kan sudah bilang, aku cuma penonton.”
Vania mendengus keras, dan berkata, “Jangan senang dulu!”
Reatha menatapnya.
“Kau lihat saja. Besok Azka pasti datang ke apartemenku dan meminta maaf. Setelah itu dia akan membelikan aku apa saja yang aku mau," ucap Vania dengan percaya diri.
Reatha mengangkat alis. “Oh.”
“Kenapa? Iri?" tanya Vania.
“Kenapa iri? Aku dapat lebih," jawab Reatha.
Vania mengernyit. “Lebih?”
Reatha menunjuk dirinya sendiri. “Aku istrinya. Sebagian harta Azka itu sudah menjadi milikku.”
Vania langsung menatapnya tajam. “Dasar matre!”
Reatha tersenyum lebar.
“Apakah kamu tak berkaca, mengatakan diri sendiri!” seru Reatha
Vania membuka mulut. “Ka—”
Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, suara klakson terdengar. Azka sudah datang. Ia turun dari mobil dan membuka bagasi.
“Kalian masuk!" perintah Azka.
Reatha berjalan lebih dulu, tetapi langkahnya sedikit lambat karena kakinya masih terluka. Azka memperhatikannya.
“Pelan-pelan," ucap Azka.
Vania yang mendengar itu langsung menghela napas. Lagi- lagi dia, selalu Reatha. Azka kemudian mengambil koper mereka. Setelah semuanya masuk, ia membuka pintu depan.
“Raisa, yang duduk di depan," ucap Azka.
Vania yang sudah hendak duduk ke kursi depan langsung berhenti. “Kenapa dia di depan?” tanyanya.
Azka menatapnya seolah pertanyaan itu tidak penting. “Kakinya sakit.”
“Tapi aku juga mau duduk di depan," ujar Vania.
Azka hanya menatap Vania sebentar. “Vania," panggilnya.
“Apa?” tanya Vania.
“Jangan mulai lagi," jawab Azka.
Vania mendengus. “Ya sudah.” Dengan wajah kesal, ia masuk ke kursi belakang.
Reatha menahan senyum.
Azka melihatnya dan bertanya, “Kenapa?”
“Tidak apa-apa.”
“Kamu senyum.”
“Memang aku tidak boleh senyum?” tanya Reatha
Azka menghela napas. “Kamu aneh.”
Reatha tertawa kecil. Perjalanan menuju kota tempat tinggal mereka berlangsung cukup tenang. Vania lebih banyak diam sambil menatap keluar jendela.
Sementara Reatha dan Azka sesekali berbicara. Hanya percakapan sederhana. Tentang kakinya. Bahkan tentang koper.
Namun bagi Vania, setiap percakapan itu terasa mengganggu. Ia bahkan beberapa kali ingin menyela. Tapi tidak tahu harus berkata apa.
Sampai akhirnya mobil berhenti di depan apartemen Vania. Azka mematikan mesin.
“Kamu turunlah!" seru Azka.
Vania mengerutkan kening. “Cuma itu?”
Azka menoleh. “Maksudnya?” tanyanya.
“Kamu nggak ikut naik?” Vania balik bertanya.
“Aku capek, mau langsung istirahat," ucap Azka.
Vania terdiam. Azka turun, membuka bagasi, lalu mengambil koper milik Vania. Ia meletakkannya di dekat pintu masuk apartemen. Setelah itu Azka langsung kembali ke mobil.
Vania buru-buru mengejarnya. “Azka!” panggilnya.
Pria itu berhenti sebentar.
“Kau tak mengantarku sampai ke depan pintu apartemenku seperti biasanya?”
Azka mengusap wajahnya. “Aku tadi sudah bilang'kan kalau aku capek. Mau istirahat.”
Vania semakin tidak percaya. “Dulu kamu selalu mengantarku sampai depan pintu.”
“Sekarang aku benar-benar capek," ucap Azka.
Azka membuka pintu mobil. Vania masih berdiri di sampingnya.
“Kalau begitu .…” Ia menggigit bibir. “Apakah itu artinya kau akan tidur dengan Raisa lagi?”
Tangan Azka yang sudah memegang pintu mobil berhenti. Pria itu menarik napas dalam-dalam. Ia kemudian masuk ke dalam mobil.
Vania menatapnya penuh harap. Mungkin Azka akan menyangkal. Ia ingin Azka mengatakan kalau ia hanya ingin tidur sendirian.
Namun ternyata tidak. Azka menatap Vania dari balik kaca yang terbuka.
“Ya. Aku akan tidur dengannya," jawab Azka.
Vania langsung membeku. “Apa?”
“Aku mau tidur bareng istriku," ulang Azka.
Wajah Vania langsung berubah.
Azka bahkan menambahkan dengan santai, “Dan kami akan membuat Azka junior.”
Mata Vania membulat. “A-Azka!”
Pria itu justru tersenyum tipis. Kemudian pintu mobil ditutup.
Vania masih berdiri terpaku. Beberapa detik kemudian kaca mobil turun sedikit.
Vania langsung mendekat. “Kamu serius?” tanyanya.
Azka hanya mengangkat alis. “Kenapa?”
“Kamu benar-benar mau—”
Mobil langsung melaju meninggalkan area apartemen. Tanpa menunggu ucapan Vania selesai.
Vania berdiri di tempat. Mulutnya terbuka. Matanya menatap mobil Azka yang semakin menjauh.
“AZKA!” Teriakannya terdengar hingga beberapa orang yang berada di sekitar apartemen menoleh.
Vania menghentakkan kakinya dengan kesal. “Dasar pria menyebalkan!” serunya.
Ia menarik napas panjang. “Mau membuat Azka junior katanya!”
Wajahnya memerah karena marah sekaligus malu. Sementara itu, di dalam mobil, Reatha duduk diam di kursi depan. Ia menoleh perlahan kepada Azka. Pria itu tetap fokus menyetir. Reatha menahan senyum mengingat pertengkaran keduanya sejak dari hotel.