Raina, wanita mandiri yang sudah bercerai, mencari pelarian di malam yang kelam. Di tengah kebingungan karena mabuk, ia tanpa sengaja menghabiskan malam bersama Dika—seorang mahasiswa muda tampan yang ternyata merupakan pewaris tunggal keluarga kaya raya.
Perbedaan usia, masa lalu yang kelam, serta penolakan keras dari orang tua Dika menjadi tembok tinggi yang memisahkan mereka. Namun takdir seolah punya rencana lain, menumbuhkan cinta tulus di antara dua dunia yang berbeda.
Mampukah sebuah kesalahan semalam, berubah menjadi takdir cinta yang abadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Muarofah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23
Bab 23: Penyesalan yang Datang Terlambat
Cahaya matahari pagi menyelinap lembut melalui jendela kaca yang besar, menaburkan kehangatan di seluruh ruangan yang luas itu. Di ruang tamu yang megah namun terasa begitu nyaman, Raina berdiri di samping Arkan. Angin sepoi-sepoi membelai rambutnya yang hitam legam, membuat wajahnya yang cantik tampak berseri-seri seolah disinari cahaya kemuliaan. Tidak ada lagi bayang-bayang kesedihan yang dulu sering membayangi matanya. Tidak ada lagi tatapan kosong dan penuh kepasrahan yang dulu selalu terlihat di wajahnya. Kini, di mata Raina terpancar kebahagiaan yang tulus, ketenangan yang mendalam, dan secercah harapan yang tak pernah padam.
Arkan berdiri tegak di sebelahnya, tangan kekarnya menggenggam jemari Raina dengan lembut namun erat. Sesekali ia menoleh ke arah Raina, lalu sepotong senyum tipis namun begitu hangat terukir di sudut bibirnya. Senyum yang dulu tak pernah ia tunjukkan kepada siapa pun, kini terkhusus sepenuhnya untuk wanita di sisinya. Di hadapan semua orang, mereka tampak sepasang suami istri yang diciptakan untuk satu sama lain. Serasi, menyempurnakan, dan melengkapi kekurangan satu sama lain. Kehadiran Arkan membuat Raina merasa aman, dicintai, dan dihargai — hal-hal yang dulu selama bertahun-tahun tak pernah ia rasakan.
Namun, di sudut ruangan yang agak sepi, berdiri sesosok pria yang tubuhnya tampak kaku dan hatinya terasa remuk redam seketika.
Pria itu adalah Arga.
Ia berdiri diam, terpaku di tempatnya, seolah kakinya tiba-tiba menjadi berat tak sanggup digerakkan. Matanya terpaku lekat-lekat pada sosok Raina. Dari saat ia melangkah masuk ke kediaman itu hingga detik ini, pandangannya tak pernah lepas sejenak pun dari wajah wanita yang dulu sempat menjadi istrinya sah.
Jantung Arga berdegup kencang, namun bukan karena rasa rindu yang manis. Melainkan karena rasa sakit yang luar biasa menyergap dadanya, sesak, perih, dan terasa begitu berat hingga napasnya pun terasa tertahan.
Di hadapannya, Raina tampak begitu berbeda. Wanita yang dulu selalu menunduk malu, yang selalu menahan senyum agar tidak dianggap berlebihan, yang selalu berusaha sebaik mungkin namun selalu diabaikan — kini berdiri tegak, menatap dunia dengan penuh keyakinan, dan bersinar terang bagai bintang yang tak lagi tersembunyi di balik awan gelap. Cahaya yang memancar dari dirinya bukanlah cahaya semu, melainkan cahaya kebahagiaan tulus yang lahir dari hati yang akhirnya merasa tenang dan terlindungi.
Dan Arga tahu persis siapa yang telah menyalakan cahaya itu. Bukan dirinya. Melainkan pria yang berdiri di samping Raina saat ini — Arkan.
Arga menelan ludah dengan susah payah. Rasa pahit memenuhi kerongkongannya, seolah ia baru saja menelan racun yang perlahan menyebar ke seluruh pembuluh darahnya. Ia membiarkan pandangannya menyapu wajah Raina, mencoba mencari-cari sedikit saja sisa-sisa bayang-bayang wanita yang dulu hidup bersamanya dalam satu atap. Namun semakin ia memperhatikan, semakin ia sadar betapa besar perubahan yang terjadi pada Raina.
Dulu, di matanya selalu terselip kesedihan yang tak pernah diucapkan. Dulu, senyumnya selalu terlihat berat dan tak sepenuhnya tulus. Dulu, setiap kali mereka berpapasan, Raina selalu berusaha menyapa dengan lembut, namun ia — Arga — selalu memalingkan wajah dengan dingin, membiarkan wanita itu menelan rasa kecewanya sendirian.
Dan kini, saat ia melihat Raina tersenyum lepas tanpa beban, saat ia melihat tatapan mata Raina yang penuh kasih sayang dan kepercayaan kepada pria lain di sisinya, saat ia melihat bagaimana Arkan memperlakukan Raina dengan penuh penghormatan dan perhatian yang tak terbagi... Arga merasa seolah tangannya sendiri telah meremas jantungnya hingga hancur berkeping-keping.
Aku yang dulu memilikinya. Aku yang menyia-nyiakannya. Dan sekarang... dia bersinar, tapi bukan untukku.
Pikiran itu menghujam tajam ke dalam benaknya, berulang kali, tanpa ampun. Rasa penyesalan yang selama ini coba ia tolak, yang selama ini ia sembunyikan dengan berbagai alasan, kini meledak seketika menelan seluruh kesadarannya. Penyesalan yang begitu besar, begitu mendalam, hingga membuatnya hampir tak sanggup berdiri di atas kakinya sendiri.
Ia baru menyadari sekarang. Bahwa wanita yang dulu ia anggap remeh, yang dulu ia abaikan seenaknya, ternyata adalah harta paling berharga yang pernah dimiliki oleh siapa pun. Bahwa kebaikan Raina, kesabaran Raina, dan ketulusan cintanya yang dulu ia anggap biasa saja, ternyata adalah hal yang tak ternilai harganya — hal yang tak akan pernah ia temukan lagi pada wanita mana pun.
Arga menarik napas panjang, mencoba menenangkan gejolak perasaannya yang tak menentu. Tangan yang ia genggam erat di sisi tubuhnya tampak sedikit gemetar. Ia tahu, kehadirannya di sini mungkin tidak diharapkan oleh siapa pun. Ia tahu, kedatangannya mungkin hanya akan mengganggu kebahagiaan yang kini sedang dinikmati oleh Raina. Namun ia tetap datang. Bukan untuk meminta kembali apa yang sudah bukan haknya. Bukan pula untuk menuntut sesuatu yang tak pantas ia tuntut.
Ia datang hanya untuk satu hal: untuk mengakui kesalahannya. Untuk meminta maaf. Untuk menatap mata wanita itu dan mengucapkan kata-kata yang seharusnya ia ucapkan sejak lama, namun tak pernah sempat ia sampaikan.
Raina yang sedari tadi tak menyadari kehadirannya, perlahan memalingkan wajah. Tatapannya bertemu dengan pandangan Arga.
Seketika itu juga, senyum di wajah Raina perlahan memudar. Tidak berubah menjadi kebencian, tidak pula menjadi ketakutan. Ia hanya menatap Arga dengan tenang. Tenang, seolah menatap seseorang yang sudah lama berlalu dari hidupnya — seseorang yang kini tak lagi memiliki arti apa pun selain sekadar kenangan masa lalu.
Namun ketenangan Raina justru semakin menyakiti hati Arga. Dulu, saat ia menatap Raina, mata wanita itu selalu penuh harap. Selalu ada keinginan agar ia sedikit saja memperhatikannya. Namun sekarang, tatapan itu kosong. Bukan penuh amarah, melainkan penuh ketidakterikatan. Seolah-olah Arga hanyalah orang asing yang baru pertama kali ia temui.
Dan itulah yang paling menyakiti hatinya.
Raina melepaskan genggaman tangan Arkan perlahan, lalu melangkah maju beberapa langkah hingga berdiri berhadapan dengan Arga. Jarak mereka tidak terlalu jauh, cukup untuk saling melihat wajah dengan jelas.
"Arga..." panggil Raina pelan. Suaranya tenang, tidak ada nada marah, tidak pula nada kebencian. "Apa maksud kedatanganmu?"
Arga menatap wajah Raina lekat-lekat, seolah ingin mengingat setiap inci wajah itu dengan baik. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Saat ia membuka mulutnya untuk berbicara, suaranya terdengar serak dan berat, seolah ada beban besar yang menahan setiap kata yang keluar dari kerongkongannya.
"Raina..." suaranya bergetar pelan. "Aku datang... hanya untuk meminta maaf."
Raina terdiam sejenak, menatapnya tanpa mengalihkan pandangan. "Meminta maaf?" tanyanya pelan. "Untuk apa? Semua yang terjadi di antara kita... sudah berlalu, Arga. Sudah selesai."
"Bagimu mungkin sudah selesai," sahut Arga dengan suara yang semakin terdengar penuh kepedihan. "Tapi bagiku... semuanya baru saja terasa nyata. Baru saat aku melihatmu berdiri di sini, bahagia, dicintai... baru saat itulah aku sadar betapa besar kesalahan yang pernah kuperbuat kepadamu."
Arga menundukkan kepalanya sejenak, mencoba menahan rasa sesak yang kembali menyergap dadanya. Lalu perlahan, ia kembali menatap mata Raina dengan pandangan yang penuh penyesalan tulus.
"Dulu, saat kau masih bersamaku..." ucapnya pelan namun jelas, "aku buta. Aku tidak pernah menyadari betapa beruntungnya aku memilikimu. Kau selalu ada, selalu sabar, selalu tulus. Kau memberikan seluruh hatimu kepadaku, tanpa pamrih, tanpa syarat. Tapi bagaimana aku memperlakukanmu?"
Arga terdiam sejenak, lalu melanjutkan dengan suara yang semakin berat dan penuh penyesalan.
"Aku mengabaikanmu. Aku membiarkanmu menunggu tanpa kepastian. Aku membiarkan hatimu terluka berkali-kali, hingga akhirnya kau memilih pergi. Saat kau pergi, aku sempat berpikir... kau akan kembali. Bahwa kau takkan pernah mampu meninggalkanku. Aku terlalu sombong, terlalu egois, hingga aku lupa bahwa kesabaran seseorang ada batasnya. Bahwa cinta yang tak pernah dihargai, lama-lama akan habis dan mati."
Suara Arga pecah pelan. Matanya yang sedari tadi berusaha tegar, kini mulai berkaca-kaca. Ia menatap Raina dengan pandangan yang penuh kepedihan dan ketulusan yang tak bisa dipalsukan.
"Hingga hari ini... saat aku melihatmu berdiri di sini, berseri-seri, begitu dicintai dan dilindungi oleh pria yang mampu memberikanmu segalanya yang tak pernah bisa kuberikan... baru aku sadar sepenuhnya. Bahwa aku telah menyia-nyiakan hal terbaik yang pernah terjadi dalam hidupku. Bahwa aku telah membiarkan wanita sebaik kau pergi begitu saja, tanpa pernah sekalipun aku mengucapkan terima kasih, tanpa pernah sekalipun aku memintamu menetap."
Air mata penyesalan akhirnya jatuh membasahi pipi Arga. Ia tidak malu menangis. Karena air mata inilah satu-satunya bukti betapa dalam penyesalannya.
"Aku tidak datang untuk memintamu kembali, Raina. Aku tahu... itu mustahil. Dan aku tahu... aku tidak pantas untuk itu. Aku datang hanya untuk mengatakan... bahwa aku menyesal. Aku menyesal telah menyakitimu. Aku menyesal tidak pernah menghargaimu. Aku menyesal... baru menyadari betapa berharganya dirimu saat kau sudah menjadi milik orang lain."
Arga menarik napas panjang, lalu menatap Raina dengan tulus.
"Terima kasih... untuk semua kebaikan yang pernah kau berikan kepadaku. Maafkan aku... karena baru mampu mengucapkan kata ini saat semuanya sudah terlambat. Dan... semoga kau selalu bahagia, Raina. Meski bukan bersamaku... semoga kebahagiaan ini tak pernah lagi hilang darimu."
Raina mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut Arga dengan tenang. Ia melihat air mata yang jatuh dari mata pria itu. Ia mendengar ketulusan yang tersirat di setiap ucapannya. Hatinya sempat bergetar pelan, namun bukan karena rindu atau keinginan untuk kembali. Melainkan karena ia menyadari satu hal: penyesalan memang selalu datang paling akhir.
Dulu, saat hatinya hancur berkeping-keping, saat ia menahan tangis sendirian di dalam kamar yang sepi, saat ia berharap Arga akan datang dan memintanya tetap tinggal... pria itu tidak pernah datang. Kata maaf yang dulu begitu ia harapkan, baru terucap sekarang — saat hatinya sudah sembuh, saat ia sudah menemukan kebahagiaannya yang baru.
Raina menarik napas pelan, lalu berkata dengan lembut namun tegas.
"Arga... terima kasih atas ucapan maafmu. Dulu, memang... aku sangat menantikan kata-kata ini darimu. Dulu, aku berharap kau akan menyadari keberadaanku sebelum aku benar-benar pergi. Tapi saat itu tak pernah datang. Dan kini... meski kau mengucapkannya dengan tulus, waktu sudah tak bisa aku putar kembali."
Raina menatapnya lekat-lekat, lalu melanjutkan dengan suara yang penuh kedamaian.
"Aku sudah memaafkanmu, Arga. Bukan karena kau memintanya hari ini... melainkan karena aku tak ingin lagi membawa beban masa lalu ke dalam hidupku yang baru. Aku memaafkanmu agar aku bisa tenang. Agar aku bisa melangkah jauh tanpa terbelenggu oleh rasa sakit yang pernah kau berikan."
Ia berhenti sejenak, lalu tersenyum tipis — senyum yang tulus namun tak lagi memiliki makna apa pun bagi Arga.
"Tapi maaf... hatiku sudah menjadi milik orang lain sepenuhnya. Dan aku bahagia, Arga. Sangat bahagia. Semoga kau juga bisa menemukan kebahagiaanmu sendiri. Dan semoga... kelak kau tak lagi menyia-nyiakan orang yang tulus menyayangimu."
Kata-kata Raina terucap begitu lembut, namun terasa begitu tegas dan tak terbantahkan. Arga mengangguk pelan, air matanya kembali jatuh. Ia tahu, jawaban itu sudah ia duga sebelumnya. Namun mendengarnya langsung dari mulut Raina, tetap saja terasa seperti pisau yang menyayat hatinya.
Ia menatap Arkan yang sedari tadi berdiri tenang di belakang Raina, menatapnya dengan pandangan yang tenang namun penuh wibawa. Pandangan yang seakan berkata: Kau sudah melepaskannya. Dan sekarang, biarkan aku yang menjaganya.
Arga menghela napas panjang, lalu melangkah mundur perlahan.
"Terima kasih, Raina..." ucapnya pelan, seakan berbisik pada angin. "Terima kasih sudah memaafkanku. Dan selamat... semoga kau selalu bahagia."
Dengan langkah yang berat dan hati yang penuh penyesalan, Arga berbalik dan melangkah pergi. Ia tahu, pertemuan ini adalah pertemuan terakhir mereka sebagai dua orang yang pernah memiliki ikatan. Mulai saat ini, Raina benar-benar bukan lagi miliknya. Dan ia harus menerima kenyataan pahit itu seumur hidupnya.
Saat Arga melangkah keluar meninggalkan kediaman itu, angin sepoi-sepoi kembali membelai wajah Raina. Arkan melangkah mendekat, lalu kembali menggenggam jemari wanita itu dengan lembut. Raina menoleh, lalu menatap wajah pria di hadapannya. Di mata Arkan, ia hanya melihat ketulusan, kasih sayang, dan keinginan untuk menjaganya seumur hidup.
Raina tersenyum, lalu menyandarkan kepalanya di dada bidang pria itu. Ia tahu, masa lalu telah berlalu. Penyesalan Arga memang datang terlambat, namun itu bukan urusannya lagi. Yang penting sekarang adalah ia telah menemukan tempat paling nyaman untuk berpulang. Tempat di mana ia dihargai, dicintai, dan dijaga sepenuh hati.
Dan di pelukan Arkan, Raina menutup matanya perlahan. Bersyukur... bahwa meski harus melewati jalan yang berliku dan penuh duri, akhirnya ia tiba juga di tempat yang tepat. Di tempat di mana ia takkan pernah disia-siakan lagi.