Damar hanya ingin satu hal dalam hidupnya, pekerjaan kantoran yang tenang, duduk di belakang meja tanpa harus berhubungan dengan banyak orang. Namun, akibat terlilit utang dan tergiur gaji fantastis, si pemuda introvert dan penakut ini malah salah menandatangani kontrak kerja gaib di agen travel misterius bernama Last Trip Express.
Tugas Damar bukanlah membawa turis biasa, melainkan menjadi tour guide untuk rombongan hantu. Dari hantu penari yang histeris, hantu bapak-bapak yang lupa meletakkan kunci brankas, hingga hantu artis yang minta dibuatkan acara fansign terakhir—Damar harus memandu mereka mengunjungi tempat-tempat bersejarah dan TKP kematian demi menyelesaikan urusan terakhir mereka sebelum berpindah ke alam selanjutnya.
Di bawah ancaman bosnya yang cantik, modis, sarkastik, dan super galak—Madam Helga—Damar harus memutar otak mengatasi kehebohan para arwah, teror dari makhluk halus jahat, dan kepanikan dirinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnnaYoung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 - Kasus Pembunuhan Berantai
Keheningan yang pekat merayap kembali di antara pilar-pilar beton bekas Pabrik Pengolahan Daging Sinar Maju. Setelah para pemburu hantu melarikan diri, rombongan arwah Armada 000 perlahan menyelesaikan prosesi napak tilas. Namun, aura dingin dan berat tak kunjung menguap dari sudut-sudut ruangan.
Sebaliknya, gumpalan hawa merah darah di sudut tengah pabrik justru semakin memadat dan membara.
Damar melangkah mendekat, memperhatikan sesosok arwah pria paruh baya yang berdiri mematung di dekat kait gantungan besi tua.
Pria itu bernama Indra.
Berbeda dengan Marlina yang meratapi ketakutannya, Indra hanya menatap kosong ke arah genangan air berkarat di lantai.
Wujud gaibnya diselimuti kabut api merah yang pekat, tanda bahaya paling mutlak dari sesosok arwah yang menahan amarah tingkat tinggi.
"Pak Indra?" panggil Damar pelan, melangkah hati-hati. "Prosesi penelusuran jejak trauma untuk blok ini sudah selesai. Kita harus kembali ke bus sebelum jam transit habis."
Indra tidak bergeming. Jarinya yang pucat dan dipenuhi noda darah gaib mengepal begitu erat hingga lengannya bergetar hebat.
"Dua belas tahun ...," ucap Indra berbisik lirih. Suaranya serak, bergema ganda bagaikan dua batu beradu di dalam sumur tua. "Dua belas tahun saya mati di tempat berdarah ini. Saya, Marlina, dan empat korban lainnya dibantai satu per satu."
"Pak ...."
"Tapi kenapa dia masih bisa tersenyum di luar sana?" Amarah Indra meledak secara mendadak.
BOM!
Hawa tekanan gaib dari tubuh Indra menghantam dinding seng di sekitarnya hingga melengkung! Beberapa pilar besi tua berguncang keras. Rombongan arwah lain di belakang Damar ikut bergejolak, terpancing oleh gelombang emosi Hendra yang membakar.
Madam Helga melangkah mendekat, kipas sutranya terlipat kaku di jemari lentiknya. "Kontrol emosimu, Jiwa Terikat," gertak Madam Helga dingin. "Kemarahan konyolmu bisa memicu ledakan energi yang melanggar batas Hukum Transmisi. Kau ingin jiwamu dileburkan oleh Dewan Gaib?"
"Biar! Biarkan saja jiwaku hancur jadi debu!" jerit Indra histeris, menatap Madam Helga dengan mata merah membara. "Kalian tau siapa yang membantai kami di sini? Di adalah Baskoro! Pria yang sekarang dikenal sebagai 'Dermawan Agung' dan pengusaha sukses di televisi! Dia yang sudah menghabisi nyawa kami, tapi dia justru hidup mewah, dipuja ribuan orang, dan dipanggil pahlawan oleh masyarakat! Di mana letak keadilan yang sebenarnya???"
Damar tersentak. Nama itu tidak asing. Baskoro adalah seorang pengusaha properti kenamaan yang wajahnya sering wara-wiri di papan reklame kota dan media massa karena aksi sosialnya.
Siapa sangka, di balik topeng malaikat penolong itu, berdiri seorang pembunuh berantai berdarah dingin yang membangun kekayaannya dari darah para korban di pabrik tua ini.
"Polisi menyatakan kami hilang tanpa jejak! Kasus ini ditutup dan dianggap melarikan diri dari utang!" lanjut Indra dengan rintihan yang menyayat hati. "Anak dan istriku hidup dalam penderitaan dan penghinaan selama belasan tahun, sementara pembunuh itu mendirikan yayasan atas nama kemanusiaan! Di mana keadilan untuk kami?"
"Keadilan dunia bukan urusan Last Trip Express," potong Madam Helga tanpa empati sedikit pun. "Tugas kami hanya membawa jiwamu ke garis perbatasan. Jika kau tidak bisa melepaskan dendammu, kau akan ditinggalkan di alam kekosongan selamanya."
"Kalau begitu bawa kami ke rumah Baskoro malam ini!" tuntut Indra, melayang beberapa sentimeter di atas lantai seraya menunjuk ke arah Damar. "Bawa Bus ini ke kediamannya! Kami akan mencabut nyawanya dengan tangan kami sendiri! Kami akan merobek dada manusia itu sampai dia merasakan sakit yang sama!"
"Setuju! Bawa kami ke rumah pembunuh itu!" seru arwah korban lainnya.
Lorong pabrik tua itu mendadak riuh oleh gema tuntutan balas dendam. Pendar merah dari mata puluhan hantu menyala serentak.
Atmosfer yang tadinya terkendali kini berada di ambang ledakan Arwah Anarki, sebuah kondisi di mana para hantu kehilangan kewarasan dan bertindak membabi buta.
Madam Helga mengangkat jarinya, sihir keemasan menyala terang, siap membantai dan menyegel para arwah yang hendak memberontak.
"Tahan, Madam! Jangan!" seru Damar cepat, memosisikan dirinya di tengah-tengah antara Madam Helga dan rombongan hantu yang mengamuk.
"Jangan menghentikanku, Damar!" tegas Madam Helga dengan nada tajam. "Mereka berada di ambang batas menjadi Arwah Anarki. Jika mereka menyerang manusia, seluruh agen kita akan dibekukan oleh Dewan!"
"Saya tau! Tapi membunuh Baskoro secara gaib juga bukan solusinya!" teriak Damar, mengarahkan pandangannya lurus ke mata Indra.
Indra menggeram, mendekati Damar dengan cakar gaibnya yang terentang. "Kamu manusia! Kamu pasti membela sesama manusia! Minggir dari jalan kami, Pemandu!"
"Saya tidak membela si bajingan itu!" balas Damar memotong keras, membungkam riuh suara para arwah. Damar menatap Indra tanpa rasa takut, matanya menyiratkan kepekaan emosi yang sangat dalam. "Pak Indra, dengarkan saya! Kalau kalian pergi ke rumah Baskoro malam ini dan membunuh dia ... menurut kalian apa yang akan terjadi?"
Indra tertahan sejenak, dadanya kembang kempis oleh api dendam. "Dia ... dia akan mati! Dia akan membayar mahal perbuatannya!"
"Ya, dan dia hanya akan mati sebagai pahlawan!" seru Damar lantang. "Dunia akan melihat dia mati secara misterius di atas kasurnya yang empuk! Dia akan dimakamkan secara terhormat, dipuji-puji di berita, dan dianggap sebagai pengusaha dermawan yang meninggal dengan tenang! Sementara nama kalian? Nama kalian dan puluhan korban lainnya akan tetap tercoreng sebagai orang hilang yang terlupakan!"
Kata-kata Damar menghantam kesadaran Indra bagaikan cambukan keras. Pria arwah itu mematung di udara, wujud gaibnya bergetar pelan.
"Kalian mau mati dua kali?" lanjut Damar dengan suara yang melunak namun berbobot. "Apa kalian mau dendam kalian terbalas hanya dengan kematian instan yang tak membongkar busuknya manusia itu? Itu bukan keadilan, Pak Indra. Itu hanya pemuasan emosi sesaat yang akan membuat jiwa kalian makin terkutuk di alam sana!"
"Lalu kami harus bagaimana?" jerit Marlina dari barisan belakang, air mata kebiruan menetes dari matanya. "Hukum manusia sudah melupakan kami! Tidak ada bukti yang tersisa di pabrik ini!"
Damar menarik napas panjang. Ia memegang jam saku Chrono-Compass di saku kemejanya yang berdetik lembut, lalu melirik ke arah Madam Helga yang menatapnya dengan raut wajah penuh teka-teki.
"Ada cara yang lebih adil," kata Damar dengan nada mantap dan penuh keyakinan. "Cara yang akan membuat topeng malaikat Baskoro hancur di depan seluruh dunia. Kita tidak akan menghilangkan nyawanya menggunakan cara hantu, tapi kita akan buat dia membusuk di dalam penjara, dihina oleh seluruh masyarakat, dan nama baik kalian dipulihkan secara terhormat."
Indra menatap Damar dengan keraguan yang membuncah. "Bagaimana mungkin? Polisi tidak akan mendengarkan suara hantu."
"Polisi memang tidak bisa mendengar suara hantu," Damar menyengir tipis, matanya memercikkan taktik cerdik. "Tapi polisi sangat percaya pada bukti fisik yang mendadak 'terungkap' di tempat dan waktu yang tepat. Saya punya rencana ... tapi saya butuh bantuan dari kalian semua. Dan ...," Damar berbalik menatap sang atasan, "... saya butuh sedikit fleksibilitas sihir dari Madam Helga."
Madam Helga menyipitkan matanya yang indah, mengibaskan syal bulu hitamnya seraya terkekeh dingin. "Kau melibatkan pemilik agen dalam rencana tidak berpendidikanmu lagi, Damar?"
"Ini bukan cuma soal tur, Madam," ujar Damar pelan namun tegas. "Ini soal menyelesaikan poin itinerary paling berat dari rombongan ini. Kalau kita berhasil memberikan keadilan yang sempurna untuk mereka ... tingkat kepuasan tur Armada 000 akan mencapai nilai tertinggi yang pernah ada."
Madam Helga diam sejenak. Ia memandangi Damar, lalu melirik ke arah puluhan arwah yang kini menatap pemandu muda itu dengan secercah harapan yang belum pernah ada sebelumnya. Keangkuhan di wajah Madam Helga perlahan luluh, digantikan oleh senyuman tipis nan misterius di balik kipas sutranya.
"Sepuluh menit," kata Madam Helga pelan. "Kutata sihir pemicu ilusi. Jika rencanamu gagal dan kita ditangkap oleh Dewan Gaib, kau yang akan kubawa ke neraka pertama kali, Damar."
Damar tersenyum lega, lalu berbalik menghadap rombongan arwah yang kini tenang sepenuhnya. "Rekan-Rekan sekalian ... pasang sabuk pengaman jiwa kalian. Kita akan membuat pembunuh berantai itu membayar semua dosanya malam ini."
judulnya gantii yaa 🤔
ada kesempatan ke 2 untuk menuntaskan urusan dunia
pasti tak kan ada arwah gentayangan
😂
mangkane ndak usah rahasiaan kepada keluarga pak tedjo yg belom mnjdi bejo ..krn penyesalan harta warisan yg tak sampai ke anak nya
tour kemana kita yakk
ngga ngompol di tempat
😂😂
serreemmm bgt