Tolong...bagi yang hanya penasaran jangan buka bab!!!
Sultan Rafsanjani, CEO muda nan tampan, cerdas serta berasal dari keluarga kaya raya, rela menyamar menjadi pria culun dan menyembunyikan identitasnya demi mengejar gadis pujaannya.
Hingga suatu hari dirinya diminta menjadi kekasih pura-pura oleh gadis tersebut hanya untuk memberikan kado istimewa buat ulangtahun eyangnya.
Bersediakah Sultan atau dia malah memanfaatkan keadaan dan meminta menjadi kekasih sungguhan?
Ataukah justru hal lain tak terduga akan terjadi?
Ikuti kisahnya hanya di sini;
"Suami Culunku Ternyata Sang Pewaris" karya Moms TZ, bukan yang lain!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26.
Waktu terus berjalan hingga memasuki jam istirahat, tetapi di ruangan divisi audit keuangan, pemeriksaan belum juga selesai. Wajah Pak Anton kini sama sekali sudah tidak berwarna. Keringat dingin terus menetes di pelipisnya, meski ruangan itu ber-AC. Dia masih berdiri di sudut ruangan, matanya tak lepas dari berkas-berkas yang sedang diperiksa tim audit. Dokumen tambahan yang dikirim dari kantor pusat tadi benar-benar menjadi pukulan telak. Isinya adalah rincian transaksi lama yang telah direkayasa dan dia pikir sudah terkubur rapat bertahun-tahun lalu.
"Semua laporan ini tidak sesuai dengan catatan induk di kantor pusat," ucap ketua tim audit, suaranya terdengar datar sambil menunjuk barisan angka di atas kertas.
Pria itu mengangkat wajah menatap Pak Anton lekat-lekat. "Ada selisih jumlah yang cukup besar, Saudara Anton. Dan menurut data ini, selisih itu terjadi berulang kali dalam beberapa tahun terakhir, tepat sejak Anda menjabat kepala divisi di sini."
Pak Anton menelan ludah susah payah, jantungnya berdegup kencang hingga terasa sesak di dada. Dia berusaha tersenyum tipis, meski senyum itu terlihat sangat kaku dan dipaksakan. "Itu... itu pasti ada kesalahan pencatatan teknis. Bisa saja staf yang dulu salah menginput data, bukan saya. Karena saya hanya menandatangani apa yang sudah disiapkan."
Ketua tim audit menggeleng pelan, lalu menyodorkan satu berkas lain yang halamannya sudah diberi tanda. "Jangan beralasan pada staf, Saudara Anton. Di sini tertulis jelas nama Anda sebagai pihak yang memverifikasi dan menyetujui perubahan data. Ada tanda tangan dan stempel resmi Anda di setiap halamannya. Kesalahan teknis tidak mungkin terjadi secara berulang dan selalu pada jumlah yang sama persis setiap kuartal."
Pria itu terdiam, tak mampu lagi membela diri. Kata-kata seakan tertahan di tenggorokannya. Dia sadar, setiap alasan yang dilontarkan justru semakin memperjelas kesalahannya sendiri. Kakinya terasa lemas, ia terpaksa bersandar pada dinding di belakangnya agar tidak jatuh. Di benaknya, wajah Kahiyang kembali terbayang, diikuti ucapan wanita itu kemarin soal suaminya adalah orang penting di kantor pusat. Baru sekarang dia mulai sadar betapa besar kesalahan yang telah diperbuatnya dengan meremehkan wanita pendiam tersebut.
...
Sementara itu, Kahiyang dan Selbi duduk di meja makan kantin. Makanan di depan mereka hampir tak tersentuh karena rasa penasaran yang menguasai. Selbi kembali mendekatkan wajahnya, berbisik pelan agar tak didengar orang lain.
"Ayang, aku dengar dari rekan yang lewat tadi, katanya ada banyak laporan keuangan yang salah, dan semuanya berhubungan sama Pak Anton."
"Kok bisa, ya? Selama ini dia kelihatan sangat bersih dan berkuasa. Siapa yang berani mengadukan semua ini ke pusat?" imbuhnya, sambil menatap Kahiyang serius.
Kahiyang menggeleng pelan, berusaha menutupi rasa lega yang mulai menjalar di hatinya. Ia tahu persis siapa dalang di balik semua ini, tetapi tetap bersikap sewajarnya. "Mungkin memang sudah waktunya kebenaran terungkap, Sel. Karena nggak ada kejahatan yang sempurna. Pasti meninggalkan jejak walau secuil."
"Dan lagi kalau memang dia nggak bersalah, ya nggak akan ketakutan seperti itu," jawab Kahiyang pelan, berusaha seobjektif mungkin.
Ia menatap temannya dengan tenang. "Sudahlah, kita jangan kepo, ya. Biarkan tim dari pusat yang mengurus semuanya. Kita jalankan tugas kita saja seperti biasa."
Selbi mengangguk setuju, meski rasa ingin tahunya belum sepenuhnya hilang. "Iya sih. Tapi rasanya luar biasa aja. Pak Anton yang biasanya selalu marah-marah dan berkuasa, sekarang nasibnya ada di ujung tanduk. Aku jadi penasaran, besok apa dia masih ada di sini?"
Kahiyang hanya tersenyum tipis tanpa menjawab lebih lanjut. Ia kembali menyantap makanannya, berharap urusan ini benar-benar selesai hari ini juga dan ia tak perlu lagi merasa terancam.
....
Waktu terus berjalan hingga memasuki sore hari, pemeriksaan di divisi audit keuangan akhirnya selesai setelah tim audit memeriksa seluruh dokumen yang diperlukan. Satu per satu berkas dikumpulkan dan dimasukkan ke dalam map. Suasana ruangan yang sejak pagi dipenuhi ketegangan perlahan mulai mereda, tetapi wajah Pak Anton justru semakin pucat.
Dia masih berdiri di sudut ruangan dengan tubuh kaku. Sejak beberapa saat lalu, dia sudah tidak mampu memberikan alasan apa pun. Semua penjelasannya selalu terbantahkan oleh bukti yang tim audit temukan.
Ketua tim audit menutup map terakhir, lantas berdiri. "Untuk pemeriksaan hari ini sudah selesai," ucapnya tegas.
"Seluruh temuan akan kami serahkan kepada manajemen pusat untuk ditindaklanjuti. Termasuk keputusan mengenai jabatan Anda dan kemungkinan proses hukum," lanjutnya seraya menatap Pak Anton beberapa saat.
"Proses hukum?" suara Anton terdengar bergetar.
Ketua tim audit hanya mengangguk. "Benar, jika pelanggaran yang ditemukan memenuhi unsur hukum, perusahaan akan mengambil langkah sesuai ketentuan."
Setelah mengatakan itu, ketua tim audit berbalik dan memberi isyarat kepada anggota timnya untuk membawa seluruh berkas.
Pak Anton hanya bisa berdiri diam, dia benar-benar merasa tidak memiliki kendali atas apa pun.
Tak lama setelah tim audit meninggalkan ruangan, laporan hasil pemeriksaan segera diteruskan ke kantor pusat.
Ardan yang menerima laporan tersebut langsung menemui Sultan di ruangannya. Setelah mengetuk pintu dan mendapat ijin masuk pemuda itu segera membuka pintu dan melangkah masuk sambil membawa tablet yang berisi file kiriman dari tim audit.
"Maaf mengganggu, Tuan. Laporan pemeriksaan dari kantor cabang sudah masuk."
Sultan yang sedang duduk di balik meja kerjanya mengangkat wajah. "Bagaimana hasilnya?"
Ardan meletakkan tablet di atas meja. "Temuan tim audit sesuai dengan bukti yang sebelumnya sudah kita kumpulkan. Ada manipulasi laporan keuangan, perubahan data transaksi, dan beberapa penyalahgunaan wewenang yang dilakukan Anton selama menjabat."
Sultan meraih tablet tersebut dan membaca laporan di dalamnya dengan tenang.
"Tim audit juga merekomendasikan agar kasus ini ditindaklanjuti oleh manajemen pusat," sambung Ardan menambahkan.
Sultan meletakkan kembali tablet itu di atas meja kerjanya. Sorot matanya berubah dingin. "Siapkan surat pemberhentian sekarang juga! Dan untuk proses hukum terhadap Anton... serahkan berdasarkan semua bukti yang ada." Suaranya terdengar datar dan tegas.
Ardan mengangguk. "Baik, Tuan. Saya mengerti."
Ardan pun mengambil kembali tabletnya kemudian berniat meninggalkan ruangan Sultan.
"Saya akan segera mengurus semuanya, Tuan," ucapnya sambil menundukkan kepala, kemudian melangkah keluar ruangan.
Sultan hanya menganggukkan kepala, hingga pintu tertutup kembali. Beberapa saat dia terdiam, masalah Anton akhirnya akan segera berakhir. Bukan karena dirinya menggunakan kekuasaannya untuk menghukum pria itu sesuka hati, tetapi karena Anton sendiri yang meninggalkan cukup banyak bukti atas perbuatannya.
Kini, yang ada di pikiran Sultan selanjutnya, bukan lagi orang lain melainkan istrinya sendiri. Kahiyang mungkin masih belum tahu bahwa pria yang telah membuatnya merasa tidak nyaman tak akan lagi bisa menggunakan jabatan untuk merendahkan dirinya atau siapa pun.
Siap2 saja sebentar lagi akan kehilangan jabatan
ayang baru sadar kalo Rafa itu CEO, kamu aja shock apalagi nanti keluarga besar mu,🤭