Abiyasa Mahendra (28) adalah CEO muda berdingin hati yang memimpin Mahendra Group, salah satu konglomerat terbesar di tanah air. Di mata publik dan rekan bisnisnya, Yasa adalah sosok perfeksionis, rasional, dan tak tersentuh oleh urusan asmara. Namun, hidupnya yang tertata rapi lenyap seketika ketika surat wasiat mendiang kakeknya memaksanya menikahi Nadira Kirana (18), seorang siswi SMA tingkat akhir yang ceria, impulsif, dan polos.
Bagi Yasa, pernikahan ini tak lebih dari sekadar transaksi bisnis dan pemenuhan kewajiban demi mempertahankan posisinya sebagai CEO. Sementara bagi Dira, pernikahan impian yang ia bayangkan hancur berantakan saat harus berbagi atap dengan pria dewasa yang lebih mirip seperti dosen penguji daripada seorang suami.Akankah ikatan pernikahan tanpa cinta ini runtuh di tengah jalan saat Dira lulus sekolah, atau justru berubah menjadi kisah cinta sejati yang menyatukan dua peradaban yang jauh berbeda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Koo nana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17. TERUNGKAPNYA PELAKU
Suara bisik-bisik di sepanjang koridor SMA Garuda Mulia perlahan memudar begitu mobil SUV hitam milik Abiyasa membelah gerbang sekolah. Di dalam kabin mobil yang hening dan sejuk, Nadira masih terisak pelan. Kedua tangan kecilnya menutupi wajah yang memerah, sementara bahunya gemetar akibat luapan emosi yang membuncah.
Abiyasa menggeser duduknya, lalu menarik tubuh mungil Nadira ke dalam dekapannya. Pria itu menyandarkan kepala Nadira di dada tegapnya, mengusap punggung sang istri dengan ritme yang tenang dan konstan.
"Sudah... jangan menangis lagi, Nadira," bisik Abiyasa lembut di dekat telinga istrinya.
Suaranya sangat berbeda dari nada dingin nan mematikan yang baru saja ia peragakan di hadapan seluruh sekolah beberapa menit lalu.
"M-Mas Abi..." cicit Nadira di sela isakannya.
"Aku malu... Satu sekolah sekarang tahu kalau kita udah nikah. Nanti... nanti aku dipandang aneh sama temen-temen..."
Abiyasa mengecup puncak kepala Nadira dengan lama, menghirup aroma sampo buah-buahan yang selalu menjadi favoritnya. "Tidak ada yang berani memandangmu aneh, Sayang. Mereka hanya kaget karena menyadari siapa sosok yang berdiri di belakangmu."
Nadira mengangkat wajahnya yang basah oleh air mata, menatap iris mata cokelat gelap suaminya. "Tapi kan... janjinya pernikahan ini rahasia sampai aku lulus sekolah?"
"Perjanjian itu batal sejak ada orang bodoh yang berani menuduh istri saya sebagai simpanan," pangkas Abiyasa tegas, jemari tangannya yang hangat menghapus sisa bulir air mata di pipi Nadira. "Saya tidak akan membiarkan harga diri dan nama baikmu diinjak-injak hanya demi mempertahankan sebuah rahasia, Nadira."
"Mas Abi nggak takut reputasi Mahendra Group terpengaruh?" tanya Nadira polos.
Abiyasa menyunggingkan senyum tipis—sebuah senyuman penuh percaya diri yang begitu menawan. "Reputasi Mahendra Group dibangun oleh kerja keras saya, bukan oleh gosip anak sekolah. Lagipula, mengumumkan bahwa saya sudah memiliki istri secantik kamu justru peningkatan besar dalam hidup saya."
Pipi Nadira seketika merona merah mendengar gombalan percaya diri dari suaminya. Ia memukul pelan dada Abiyasa. "Mas Abi bisa aja..."
"Bisa membuatmu berhenti menangis? Tentu saja," goda Abiyasa seraya mengecup singkat bibir manis Nadira yang masih agak bergetar.
Setibanya di penthouse, kehebohan belum sepenuhnya usai. Pintu utama baru saja terbuka ketika sosok Mama Rahmi sudah berdiri di ruang tengah dengan ponsel di tangannya dan raut wajah penuh amarah.
"Abiyasa! Nadira!" seru Mama Rahmi menghampiri mereka dengan langkah cepat.
"Mama baru dapat laporan dari Kepala Sekolah kalian! Siapa oknum kurang ajar yang berani nempel foto dan fitnah anak mantu Mama di mading sekolah?!"
Abiyasa menuntun Nadira duduk di sofa empuk, lalu melepaskan jas mewahnya. "Hendra sedang mengusutnya bersama tim IT dan pihak sekolah, Ma. Dalam beberapa jam pelakunya pasti ketemu."
Mama Rahmi mengelus dada, lalu duduk di samping Nadira dan merengkuh bahu gadis itu penuh kasih sayang. "Aduh, Nadira sayang... kamu nggak apa-apa, Nak? Kamu nggak disakiti sama anak-anak lain di sekolah, kan?"
Nadira menggeleng pelan seraya tersenyum tulus. "Enggak kok, Ma. Mas Abi datang tepat waktu. Mas Abi... keren banget tadi di depan semua orang."
Mama Rahmi tertawa renyah mendengar pujian mantunya, melirik Abiyasa yang berpura-pura sibuk menyesuaikan posisi jam tangannya untuk menutupi rasa salah tingkah.
"Tentu saja keren! Anak Mama kalau sudah urusan membela istrinya pasti langsung berubah jadi pahlawan," puji Mama Rahmi, lalu menatap Abiyasa serius. "Tapi Abi, setelah kejadian ini, bagaimana dengan sekolah Nadira? Ujian Nasional kan tinggal dua bulan lagi."
Abiyasa mendudukkan dirinya di samping Nadira, menggenggam jemari kecil istrinya erat-erat. "Nadira akan tetap sekolah seperti biasa. Saya sudah memerintahkan Kepala Sekolah untuk menjamin tidak ada intimidasi atau perundungan sekecil apa pun. Jika ada satu siswa saja yang mengganggu Nadira, orang tua siswa tersebut akan berurusan langsung dengan saya."
"Bagus!" sahut Mama Rahmi puas. "Ibu mertuamu ini juga siap melabrak siapa pun yang berani menyenggol mantu tercinta Mama!"
Nadira tak mampu menahan tawa kecilnya.
Kehangatan dan perlindungan yang melimpah dari Abiyasa dan Mama Rahmi melenyapkan seluruh sisa ketakutan di hatinya.
Malam harinya, ponsel Nadira bergetar tanpa henti. Puluhan pesan WhatsApp masuk dari teman-teman kelasnya, tetapi ada satu nama yang paling gigih memanggilnya: Sheila.
Dengan ragu dan rasa canggung yang tersisa, Nadira menekan tombol jawab panggilan video dari sahabatnya itu.
Wajah Sheila seketika memenuhi layar ponsel dengan mata membelalak lebar dan mulut menganga.
"NADIRA KIRANA MAHENDRAAAAA!" jerit Sheila histeris di balik layar hingga Nadira harus menjauhkan ponsel dari telinganya. "SUMPAH YA KAMU! KAMU UTANG PENJELASAN SELUAS SAMUDRA HINDIA SAMA AKU!"
"S-Sheila... pelan-pelan dong suaranya," cicit Nadira canggung.
"Gimana bisa pelan-pelan, Nad?! Satu sekolah gempar! Pak Abiyasa Mahendra—CEO raksasa yang sering masuk majalah Forbes itu—datang ke sekolah, ngancam Kepala Sekolah, terus ngakuin kamu sebagai istrinya?!" Sheila menepuk jidatnya sendiri. "Aku... aku selama ini sekelas sama Nyonya Mahendra?! Kenapa kamu nggak pernah cerita, Nad?!"
Nadira menghela napas panjang, menatap kamera ponselnya dengan pandangan serba salah. "Maaf banget ya, Sheila. Pernikahan aku sama Mas Abi itu terjadi mendadak gara-gara amanat almarhum Kakek. Mas Abi minta dirahasiain dulu biar aku bisa fokus sekolah tanpa diganggu media."
Di layar, raut wajah Sheila yang semula heboh perlahan melunak, digantikan oleh rasa takjub dan haru. "Jadi... kamu beneran udah nikah sah sama dia? Bukan simpanan kayak yang tertulis di mading gila itu?"
"Ya iyalah bukan!" sembur Nadira cepat. "Aku nikah resmi, ada buku nikah dan saksinya lengkap!"
"Gila... romantis banget sumpah," gumam Sheila dengan mata berbinar-binar. "Cara Pak Abiyasa meluk kamu tadi pagi di depan Kak Raka sama anak-anak lain... duh, cowok-cowok di sekolah langsung berasa Rembo dibanding suami kamu, Nad!"
"Sheila, ih! Malu tahu!" pekik Nadira dengan pipi memerah.
"Eh, terus gimana soal pelakunya? Sudah ketemu belum siapa yang nempel foto fitnah itu?" tanya Sheila penasaran.
"Mas Abi lagi urus di ruang kerja sama Mas Hendra," jawab Nadira pelan.
"Semoga pelakunya dihukum berat, Nad! Bikin emosi aja!" cerocos Sheila. "Yaudah deh, Nyonya Besar, aku matiin dulu panggilannya. Besok di sekolah aku siap jadi pengawal pribadi kamu!"
"Makasih ya, Sheila. Kamu emang sahabat terbaik aku," ujar Nadira tulus sebelum mengakhiri panggilan.
Pukul sebelas malam, Abiyasa melangkah masuk ke dalam kamar utama. Pria itu sudah melepas dasi dan menggulung lengan kemejanya.
Wajahnya tampak sedikit lelah, namun matanya memancarkan ketegasan yang tak tergoyahkan.
Nadira yang sedang duduk menyandar di kepala ranjang membaca buku pelajaran langsung menegakkan duduknya. "Mas Abi... gimana? Pelakunya sudah ketemu?"
Abiyasa berjalan mengitari tempat tidur, lalu mendudukkan dirinya di samping Nadira. Pria itu menarik napas panjang seraya menggenggam tangan istrinya.
"Sudah," jawab Abiyasa pendek. "Rekaman CCTV koridor belakang menunjukkan bahwa yang menempelkan foto dan tulisan itu adalah salah satu siswi kelas 12 IPS... atas perintah dari Clara."
Nadira terperanjat, matanya membelalak kaget. "Clara?! Mantan pacar Mas Abi yang ketemu di restoran waktu itu?!"
"Benar," sahut Abiyasa dengan nada suara yang mendadak berubah sangat dingin. "Dia menyogok siswi tersebut untuk menyebarkan fitnah itu di sekolahmu dengan harapan bisa menghancurkan reputasimu dan membuat kita berpisah."
Nadira terdiam, dadanya berdesir oleh rasa tak percaya. Ia tak menyangka rasa dendam dan cemburu dari masa lalu Abiyasa bisa berniat sejahat itu untuk menjatuhkannya.
"Terus... Mas Abi mau ngapain ke Clara?" tanya Nadira cemas.
Abiyasa menatap mata Nadira, lalu mengecup punggung tangan kecil istrinya dengan sangat lembut. "Tim hukum Mahendra Group sudah melayangkan gugatan pidana atas pencemaran nama baik dan perundungan cyber malam ini juga. Keluarga Clara yang memiliki bisnis investasi juga sudah saya putuskan seluruh kontrak kerjasamanya."
Nadira menelan ludah mendengar ketegasan hukuman dari suaminya. "Mas... apa itu nggak terlalu kejam?"
Abiyasa menggeleng pelan. Ia memajukan tubuhnya, merangkul pinggang mungil Nadira dan menarik gadis itu ke dalam dekapannya di atas kasur.
"Tidak ada kata 'kejam' untuk siapa pun yang mencoba merusak kebahagiaan dan melukai istri saya, Nadira," bisik Abiyasa sangat dalam di leher Nadira, memberikan rasa aman yang mutlak.
"Siapa pun yang menyentuhmu, harus bersiap menghadapi konsekuensinya."
Nadira menyandarkan kepalanya di dada bidang Abiyasa, menyerap setiap kehangatan dan rasa cinta yang mengalir dari tubuh pria itu. Rasa cemas dan takut akibat skandal sekolah menguap sepenuhnya dari hatinya.
"Makasih ya, Mas Abi..." bisik Nadira lembut seraya melingkarkan tangannya di pinggang Abiyasa. "Udah selalu jadi pelindung aku."
Abiyasa tersenyum hangat di dalam kegelapan malam, merengkuh tubuh mungil istrinya erat-erat seraya mengecup puncak kepalanya.
,
"Selamanya, Nyonya Mahendra. Selamanya."
Malam itu, di bawah perlindungan mutlak sang CEO, ujian besar pertama dalam pernikahan mereka telah berhasil dilalui, meninggalkan ikatan cinta yang kian kokoh dan tak tergoyahkan oleh rintangan apa pun di masa depan.