Indonesia
NovelToon NovelToon
The Mafia’S Possession

The Mafia’S Possession

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengantin Pengganti / Roman-Angst Mafia / Cinta setelah menikah
Popularitas:9.1k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

"Jauhi suami saya!"

Teriakan melengking di sebuah kafe elit Manhattan itu meremukkan dunia Pearl Glow Hurt dalam sekejap.

Pria bertutur kata lembut yang dicintainya ternyata seorang penipu beristri. Demi menyelamatkan harga diri dari skandal yang memalu, Glow nekat membual bahwa kekasih aslinya bernama "Lean"—dan bersumpah akan mengelilingi New York untuk menemukan serta menikahi pria bernama Lean demi memvalidasi kebohongannya.

Pencarian impulsif itu membawa Glow ke sebuah bengkel kusam di Queens, memutuskannya berhadapan dengan Lean—seorang mekanik bersikap dingin yang mengintimidasi dan mengaku sebagai kanibal. Glow menganggap sosoknya hanyalah rakyat jelata bersikap sok misterius.
Namun, Glow tidak menyadari bahwa pria itu adalah Orion Leander Ashford, putra penguasa takhta kegelapan New York yang menjalankan bisnis senjata rahasia.
Ketika takdir bertabrakan di antara intrik dan bahaya, permainan nama Lean mendadak berubah menjadi pusaran cinta dan bahaya yang mengancam nyawa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#1

Aroma Biji Kopi Arabika yang disangrai sempurna bercampur manisnya vanila memenuhi udara di dalam L’Étoile, sebuah kafe kurasi kelas atas yang terselip di kawasan Upper East Side, New York.

Di luar sana, angin gugur menghempas dedaunan kering menyeberangi Fifth Avenue, sementara di balik dinding kaca tebal kedap suara, alunan musik jazz mengalun lembut. Petikan bas dan denting piano yang malas menciptakan selubung ketenangan bagi para pengunjung elit Manhattan yang sibuk dengan gawai atau obrolan berbisik.

Pearl Glow Hurt mengaduk cappuccino miliknya pelan. Gerakan jemarinya anggun, dihiasi cincin perak minimalis yang berkilau disiram cahaya lampu gantung kristal.

Di seberang meja, Angelina Hokket—sahabat karibnya sejak masa kuliah—sedang sibuk memoles lipstik merah menyala sambil sesekali melirik jam tangan berdesain klasik.

"Aku masih tidak percaya kau berhasil bertahan tiga bulan tanpa pernah mengeluh," kata Angelina sambil mengatupkan bibirnya rapat-rapat, menatap Glow dengan binar kagum. "Seorang Pearl Glow Hurt, yang biasanya menyeleksi pria seperti auditor pajak, akhirnya luluh pada seorang pria yang bertutur kata selembut mentega leleh."

Glow tersenyum tipis. Lesung pipi samar muncul di wajahnya yang bersih. "Dia berbeda, Angel. Leon bukan tipe pria Manhattan yang arogan dan sibuk memamerkan portofolio investasinya saat kencan pertama. Dia... mendengarkan. Dia tahu kapan harus bicara dan kapan harus memegang tanganku. Cara dia memanggil namaku saja sudah cukup membuat hari terburukku terasa menyenangkan."

"Leon, sang pangeran tanpa cela," goda Angelina sambil menyedot iced matcha-nya. "Jadi, kapan kau akan mengenalkannya secara resmi padaku? Aku harus memastikan dia bukan sekadar ilusi buatan otakmu yang terlalu banyak membaca novel romantis."

"Minggu ini," jawab Glow mantap. "Dia janji akan membawaku ke gala amal di Brooklyn. Katanya, ada sesuatu yang penting yang ingin dia sampaikan."

Glow menunduk, menatap busa kopi di cangkirnya dengan binar bahagia. Di dalam benaknya, bayangan pria berahang tegas dengan mata biru jernih dan suara berat yang selalu menenangkan itu berputar bagai pita film. Pria bernama Leon itu adalah pengecualian dari segala kekecewaan yang pernah mampir dalam hidupnya.

Namun, ketenangan porselen itu tidak bertahan lama.

Langkah kaki dengan ketukan stiletto yang keras dan terburu-buru memecah alunan jazz. Seorang wanita dengan gaun haute couture berwarna gelap dan kacamata hitam besar mendadak berhenti tepat di samping meja mereka. Bau parfum mahal yang menyengat menutupi aroma vanila di udara.

Wanita itu melepas kacamata hitamnya dengan satu gerakan tajam, memperlihatkan tatapan penuh murka dan kilatan rasa benci yang membakar.

"Jauhi suami saya!" teriak wanita itu.

Suaranya menggema hebat, memantul di antara dinding-dinding marmer L’Étoile. Dalam hitungan detik, denting cangkir berhenti. Alunan musik jazz seolah kehilangan daya. Puluhan pasang mata pengunjung kelas atas New York—para pengusaha, politisi, dan artis lokal—seketika tertuju pada meja nomor tujuh.

Glow membeku. Sendok kecil di tangannya berdenting pelan menghantam cangkir. Ia menengadah, mendapati wanita asing yang dadanya naik-turun menahan amarah tepat di atasnya.

"Suami?" tanya Glow. Keningnya berkerut dalam, mencoba mencari logika di balik invasi mendadak ini. "Suami siapa?"

Wanita itu tertawa sinis, suara tawa yang tajam dan menyakitkan telinga. Ia maju satu langkah, menunduk hingga wajahnya hanya berjarak beberapa sentimeter dari Glow.

"Leonardo DiCaprio adalah S-U-A-M-I ku!"

DUAR!

Kata-kata itu menghantam dada Glow bagaikan ledakan granat di ruang tertutup. Pandangannya sempat kabur selama beberapa detik. Seluruh persendian tubuhnya mendadak kaku, sementara otaknya berjuang keras memproses kumpulan alfabet yang baru saja dirangkai oleh wanita di hadapannya.

Suami? Leonardo? Leonardo DiCaprio? batin Glow berulang kali. Tapi... tidak. Ini tidak mungkin.

"Kau pasti gila," bisik Glow, suaranya nyaris tenggelam oleh ketakutan yang mulai menjalar di ceruk dadanya. "Kau salah orang."

"Salah orang?" wanita itu mendengus kasar.

Dengan satu gerakan penuh drama, ia membuka tas tangan kulit buaya miliknya dan menarik seberkas amplop cokelat tebal. Tanpa ragu, ia membalikkan amplop itu dan melempar passes berkas foto ke atas meja porselen.

Foto-foto mengilap itu tersebar acak di antara cangkir kopi dan piring kue.

Foto pertama: Pria berahang tegas itu sedang merangkul wanita ini di atas kapal pesiar dengan latar belakang tebing Amalfi Coast.

Foto kedua: Pria yang sama, memakai tuksedo hitam, menggandeng wanita ini di atas karpet merah sebuah acara penghargaan bergengsi.

Foto ketiga: Pria itu—pria yang semalam mengirimkan pesan singkat bertuliskan "Selamat tidur, Baby"—sedang mencium kening wanita ini di depan sebuah rumah mewah yang megah.

Itu dia. Wajah itu, ukiran bibir itu, sorot mata hangat yang selalu membuat Glow merasa aman. Pria yang selama tiga bulan terakhir memang mengaku bernama Leon.

Dan dia adalah milik wanita lain.

Dunia Glow terasa runtuh seketika. Gravitasi New York seolah menarik tubuhnya jatuh ke dalam jurang tanpa dasar. Hatinya yang tadi dipenuhi bunga-bunga mekar kini tercabik-cabik, meninggalkan rasa perih yang melumpuhkan.

Pria bertutur kata lembut itu... adalah seorang penipu ulung. Seorang pria beristri yang menjadikan Glow sekadar persinggahan rahasia.

Angelina, yang menyadari perubahan warna wajah sahabatnya yang mendadak sepucat kertas, langsung bergeser mendekat. Tangannya yang gemetar cepat-cepat merangkul bahu Glow, mencoba menahan tubuh gadis itu agar tidak roboh dari kursi.

"Glow... tenang, bernapaslah," bisik Angelina cemas, matanya melotot menatap foto-foto di atas meja dengan rasa tidak percaya yang sama besarnya.

Glow menatap lembaran foto itu tanpa berkedip. Air mata mulai menumpuk di pelupuk matanya, panas dan mendesak untuk tumpah. Namun, di tengah gemuruh keputusasaan dan rasa malu yang meluap, sesuatu di dalam diri Pearl Glow Hurt mendadak berseru gila.

Tidak. Tidak di sini. Tidak di depan wanita ini. Tidak di depan orang-orang berjas rapi yang sedang menontonku seperti sirkus.

Glow menarik napas panjang, menahannya di dada selama tiga detik, lalu menghembuskannya perlahan.

Serta-merta, kehangatan dan kerapuhan di wajahnya luntur. Matanya yang berkaca-kaca secara ajaib meredup, berganti dengan tatapan dingin, datar, dan sangat polos. Sebuah topeng sempurna yang ditempa dari rasa gengsi tingkat tinggi.

Glow menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, melipat tangan di dada dengan keanggunan yang dipaksakan.

"Kau... istrinya Leon?" suara tercekat itu akhirnya lolos dari bibir Glow, namun nadanya kini terdengar sangat asing. Tenang dan agak meremehkan.

Istri Leonardo menyilangkan tangan, tersenyum penuh kemenangan. "Ya! Jadi sekarang kau tahu, Jalang kecil, berhentilah mengganggu rumah tangga orang lain sebelum aku menghancurkanmu!"

Glow menatap wanita itu dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan menilai yang sangat menyebalkan. Ia lalu menggelengkan kepala pelan, mendesah seolah baru saja menghadapi seorang anak kecil yang tantrum.

"Kau salah orang, Sialan," ucap Glow dengan artikulasi yang sangat jelas dan percaya diri yang melonjak drastis. "Aku tidak mengenal pria bernama 'Leon' atau 'Leonardo' di dalam hidupku. Aku Tidak mengenal Pria di foto itu, tapi kekasihku bernama Lean. L-E-A-N. Kau salah orang!"

Pernyataan itu keluar begitu lancar dari mulut Glow, tanpa ada keraguan sedikit pun di matanya.

Di sampingnya, Angelina membeku. Tangannya yang berada di bahu Glow perlahan terlepas. Angelina cepat-cepat menutupi mulutnya sendiri dengan kedua tangan, menahan jeritan keheranan yang hampir meluncur bebas.

Astaga, Tuhan... batin Angelina terperangah. Jiwa aktris kelas Oscar yang tersembunyi di dalam jiwa sahabatku sedang beraksi. Dia benar-benar sedang membual demi menyelamatkan mukanya!

Istri Leonardo tertegun. Senyum keberhasilannya memudar, berganti dengan rasa tidak percaya saat melihat betapa tenangnya reaksi wanita muda di hadapannya.

"Kau... kau bercanda?" gagap wanita itu. "Foto ini jelas-jelas dirinya! Dia bersamamu di Central Park minggu lalu!"

"Seseorang bisa memiliki tujuh kembaran di dunia ini, Nyonya," pangkas Glow santai, lalu mengetuk-ngetuk jemarinya di atas meja.

"Kekasihku Lean adalah seorang pengusaha independen yang sangat setia dan tidak punya waktu untuk naik kapal pesiar di Amalfi. Jadi, tolong rapikan sampah foto-fotomu ini dari mejaku sebelum aku memanggil keamanan karena tuduhan pencemaran nama baik."

Selama beberapa detik, hening kembali menguasai area tersebut. Wanita bergaun mahal itu menatap Glow dengan mata membelalak, mencoba mencari celah kebohongan di wajah Glow. Namun, topeng kepalsuan yang dipasang Glow terlalu solid.

Dengan napas memburu karena tersulut emosi yang tidak mendapatkan reaksi sesuai ekspektasi, wanita itu menepis foto-foto di atas meja, menyambarnya asal-asalan, lalu memasukkannya kembali ke dalam tas.

"Tidak tahu malu!" hardik wanita itu dingin, suaranya bergetar menahan malu karena kini justru dialah yang terlihat seperti orang gila di mata para pengunjung.

Wanita itu berbalik dengan kibasan gaun yang dramatis, melangkah lebar meninggalkan kafe L’Étoile dengan ketukan stiletto yang memburu.

Begitu pintu kaca kafe tertutup rapat dan sosial wanita itu menghilang di balik kerumunan pejalan kaki Fifth Avenue, benteng pertahanan Pearl Glow Hurt runtuh seketika.

Bahu tegaknya meluruh. Postur tubuhnya yang anggun melemas. Air mata yang sejak tadi ditahannya sekuat tenaga akhirnya pecah, meleleh cepat melewati pipinya, merusak riasan tipis yang dipakainya pagi ini.

"Glow..." Angelina langsung menggeser kursinya merapat, memeluk sahabatnya erat-erat.

"L-Leo... suami orang?" bisik Glow dengan suara yang terputus-putus oleh isak tangis. Matanya yang berkaca-kaca menatap Angelina dengan pandangan hampa. "Dia... dia sudah punya istri, Angelina? Dia membohongiku selama ini?"

"Ssst... sudah, jangan menangis di sini. Kita pergi dari sini sekarang, ya?" puji Angelina panik, sambil mengusap punggung Glow dan menyodorkan beberapa lembar tisu.

Glow mengambil tisu itu, menyapu air matanya dengan kasar. Rasa sedih yang mendalam di dalam dadanya perlahan terdesak oleh gelombang amarah yang membakar. Rasa malu diintimidasi di depan publik, rasa dikhianati oleh pria yang dipercayainya, dan kenyataan bahwa ia baru saja menjadi "wanita simpanan" tanpa disadari, membuat pikirannya berputar liar.

"Rasanya aku ingin jadi orang gila selama 24 jam!" seru Glow tiba-tiba. Suaranya agak keras, membuat beberapa pengunjung yang belum berpaling kembali melirik ke arah mereka.

"Glow, pelankan suaramu—"

"Ini terlalu memalukan, Angelina!" potong Glow, dadanya naik-turun menahan emosi yang meluap-luap. Ia mengepalkan tangannya di atas meja. "Pria yang selama ini bertutur kata lembut, yang selalu membawakanku bunga kaktus kecil, yang bilang aku adalah satu-satunya... ternyata punya istri bergaun Chanel?! Huh, beraninya bajingan itu mempermainkanku!"

Angelina mengangguk cepat, menyetujui setiap kata yang keluar dari mulut sahabatnya. "Benar! Dia bajingan kelas atas! Pria brengsek yang pantas ditarik ke neraka!"

"Angelina," Glow menatap sahabatnya lurus-lurus. Matanya yang basah kini memancarkan tekad aneh yang berbahaya. "Aku ingin menjadi diriku sendiri mulai hari ini. Aku tidak mau lagi jadi gadis polos yang gampang dibodohi oleh kata-kata manis!"

"Ya! Kau harus begitu!" dukung Angelina antusias. "Kau harus melupakan bangsat sialan bernama Leonardo itu! Jadilah dirimu sendiri tanpa harus mengorbankan perasaanmu lagi untuk pria mana pun!"

Glow diam sejenak. Ia menarik napas dalam-dalam, mengusap sisa air mata di pipinya hingga bersih. Sebuah pemikiran impulsif, gila, dan sama sekali tidak masuk akal mendadak melintas di kepalanya—sebuah mekanisme pertahanan diri dari trauma pengkhianatan yang baru saja dialaminya.

"Aku akan menikah," ucap Glow tegas.

Angelina tersenyum lega. "Bagus! Suatu hari nanti, kalau kau sudah siap—"

"Tapi harus dengan pria yang bernama Lean. Titik."

Kata-kata itu terucap dengan begitu mantap dari bibir Glow.

Deg.

Senyum di wajah Angelina seketika membeku. Matanya membelalak sempurna, menatap Glow seolah sahabatnya itu baru saja bicara dalam bahasa asing yang tidak dikenal.

"A-apa?" Gagap Angelina. "Glow, kau dengar sendiri wanita tadi bilang apa? Dan Nama 'Lean' itu tidak ada! Dan Lupakan Leonardo si bajingan yang membodohimu!"

"Ada," tegas Glow dengan ekspresi sangat serius, tanpa ada keraguan sedikit pun. "Di kota besar seperti New York ini, tidak mungkin tidak ada pria bernama Lean. Aku sudah terlanjur bilang ke wanita gila tadi kalau kekasihku bernama Lean. Aku tidak mau harga diriku terinjak-injak! Aku akan memvalidasi kebohonganku!"

Angelina memegang pelipisnya yang mendadak berdenyut nyeri. "Kau sudah gila. Kau benar-benar sudah gila karena syok!"

"Aku tidak gila, Angelina. Ini soal prinsip dan pembalasan dendam pada alam semesta," ujar Glow sambil berdiri dari kursinya, merapikan tas tangannya, dan menegakkan punggungnya kembali. "Aku akan mencari pria bernama Lean, membuatnya jatuh cinta padaku, dan menikah dengannya. Hanya dengan begitu, kebohonganku di kafe ini menjadi kebenaran sejarah!"

Angelina mengusap wajahnya dengan kasar, merasa dunia di sekitarnya mendadak hilang akal. "Lalu di mana aku harus mencarinya, Sialan?! New York ini dihuni oleh delapan juta orang!"

Glow melangkah menuju pintu keluar kafe dengan gaya anggun yang tak tergoyahkan, seolah baru saja memenangkan sebuah penghargaan, lalu menoleh sedikit ke arah Angelina yang masih berdiri melongo di dekat meja.

"Tentu saja dengan berkeliling seluruh kota."

...----------------...

...Happy reading 🦋 🌷...

Sebelum Baca Ini boleh baca Dulu 'My Ashford Side'

Tapi boleh Langsung baca Cerita ini 🥰

1
Astrid Kucrit
gek sat set pria kanibal 🤣🤣
Astrid Kucrit: wkwkwkwowk 😂😂
total 2 replies
Astrid Kucrit
geli nggak glow 🤣🤣
Rosdianah 🌷: hahah 🤣
total 1 replies
Astrid Kucrit
jangan khawatir glow,suamimu sangat mencintaimu
Astrid Kucrit
seru nihh
Astrid Kucrit
hajar le 😂😂
Astrid Kucrit
siap2 pisah kamar 😂
Rosdianah 🌷: wkwkkw🤣
total 1 replies
Yusry Ajay
makin dag dig dug bacanya...keren Thor /Good/
Rosdianah 🌷: Ma'aciww kak 🫶
total 1 replies
Yusry Ajay
hu... semangat 2 kk Thor 💪💪💪🤗
Rosdianah 🌷: uhuuuuuiii ma'aciww 🥳
total 1 replies
Astrid Kucrit
di hajar kamu glow 🤣🤣
Astrid Kucrit
selamat berbuka puasa 🤣🤣
Rosdianah 🌷: wkwkw 🤣
total 1 replies
Yusry Ajay
gpp up dikit kk..yg penting tetap semangat 💪 berkarya 🤗🤗
Rosdianah 🌷: Ma'aciww kak 🫶
total 1 replies
Bu Dewi
hari ini gak update tah kak..? bolak balik liat tapi belum ada update an/Smile//Smile//Smile/
pdhl penasaran ama kelanjutannya😍😍😍
Rosdianah 🌷: huhu author minta maaf ya kak 🙏🏻 author sedikit sibuk dunia nyata hari ini. besok up banyak 🫠
total 1 replies
Nita Nita
pada hal gampang buat glow tau siapa lean 😎
Rosdianah 🌷: wkwkw 🤭
total 1 replies
Hotmayanti Yanti
kayak Mr and Mrs Smith Thor😜😜😜
Rosdianah 🌷: ow iya kak, wkwk🤭
total 3 replies
Bu Dewi
update lagi dunkz kak😍😍😍😍😍
Rosdianah 🌷: siap kak🫶
total 1 replies
Nita Nita
Glow bkn bisa nembak ya
safaana
cerita othor emang gak pernah gagal meskipun ada sedikit typo tapi ke tutup sama jln ceritanya semangat Thor semoga sehat selalu
Rosdianah 🌷: Ma'aciww banget kak🫶
total 1 replies
safaana
aku penasaran itu Leon Ama kakaknya di banting kemana Thor,,gak ada jejak
Rosdianah 🌷: nanti di bab selanjutnya kak 🙏🏻
total 1 replies
Yusry Ajay
semangat 2 up Thor 💪💪
Rosdianah 🌷: Ma'aciww kak🫶
total 1 replies
Yusry Ajay
keren bgt🤗🤗orion...
Rosdianah 🌷: anak siapa itu🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!