Indonesia
NovelToon NovelToon
Minta Rujuk? Maaf, Anak dari Ratu Konglomerat Sudah Lahir

Minta Rujuk? Maaf, Anak dari Ratu Konglomerat Sudah Lahir

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / CEO / Menantu Pria/matrilokal
Popularitas:60
Nilai: 5
Nama Author: Dimas Prasetyo

Di malam ulang tahun sang mertua, Raka menyiapkan satu meja penuh masakan—dan menunggu sendirian sampai dingin, karena istri, anak, dan mertuanya malah pergi ke ruang VIP mewah yang dipesan Sebastian, sang cinta lama. Malam itu juga Raka berhenti jadi "kacung": ia mengajukan cerai, pergi tanpa menuntut sepeser pun harta keluarga Prawira, dan melangkah keluar dengan kepala tegak.

Semua orang menyangka si menantu numpang itu akan merengek balik dalam 24 jam. Yang tidak mereka tahu: Raka bukan sekadar pelukis mural berbakat yang bisa membangun kerajaannya sendiri dari nol lewat siaran langsung dan ukiran—ia adalah **putra sejati yang hilang dari Dinasti Giok Adiwangsa**, keluarga konglomerat nomor satu yang mencarinya belasan tahun. Dan perempuan sederhana yang diam-diam mengejarnya? Dialah **Anindya, Sang Ratu Konglomerat Wibisana**, yang menyembunyikan kekayaan triliunan demi cinta yang ia pendam 15 tahun.

Saat Raka naik dari "menantu buangan" jadi tuan muda dinasti giok, saat setiap penghinaan dibalas dengan bukti, bakat, dan kuasa—mantan istri, mertua matrealistis, dan sang cinta lama satu per satu menyesal setengah mati. Larasati akhirnya berlutut memohon rujuk.

Tapi maaf, Bu—**anak dari Ratu Konglomerat sudah dalam kandungan, dan aku tak akan menoleh lagi.**

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dimas Prasetyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 26

Bab 26 — Si Kecil Melawan

"Reno. Jadi kamu juga ada di dalam permainan ini."

Anindya menyimpan laporan itu di kantor. Pada pagi yang sama, Raka justru menerima telepon dari tempat yang sama sekali berbeda.

TK Bintang Cemerlang.

"Pak Raka, Sasa aman," kata Bu Rina lebih dulu. "Tidak ada luka. Tapi ada perselisihan saat kegiatan menggambar. Bisakah Bapak datang?"

Raka meninggalkan pekerjaan administrasi kepada Beni dan tiba sebelum waktu pulang. Di ruang kepala sekolah, Sasa duduk dengan kedua tangan di atas lutut. Buku gambarnya terlipat pada satu sudut. Seorang anak lelaki duduk di seberang bersama ibunya.

Mata Sasa merah, tetapi ia tidak menangis.

"Ayah."

Raka berjongkok agar wajah mereka sejajar. "Ada yang sakit?"

Sasa menggeleng.

"Ada yang menyentuh badanmu?"

"Dia ambil pensil sama buku. Aku ambil lagi."

"Kamu memukul?"

"Tidak."

Ibu anak lelaki itu langsung memotong. "Anak saya bilang dia didorong. Gadis ini kasar. Dari awal saya sudah bertanya kenapa anak dengan latar belakang tidak jelas bisa masuk sekolah ini."

Bu Rina menutup map di depannya.

"Bu, kami belum menyimpulkan sebelum mendengar kedua anak dan memeriksa catatan guru."

"Apa lagi yang perlu diperiksa? Anak seperti itu pasti terbiasa berkelahi di jalan."

Tubuh Sasa mengecil. Jemarinya masuk ke bawah buku gambar, seperti hendak menyembunyikan seluruh tangannya.

Raka tidak meninggikan suara.

"Tolong jangan memberi label kepada anak di depannya," katanya.

"Saya hanya bicara fakta."

"Latar pengasuhan Sasa bukan izin untuk menghina dia. Fakta kejadian hari ini bisa diperiksa oleh sekolah."

Anak lelaki di seberang mendengus. "Dia memang anak pungut. Tidak punya Mama. Bajunya juga jelek."

Ibunya menepuk lengan anak itu, tetapi bukan untuk menghentikan. "Anak-anak hanya mengulang apa yang mereka dengar."

"Berarti orang dewasa perlu berhati-hati pada apa yang mereka ajarkan," jawab Raka.

Bu Rina meminta wali kelas masuk. Guru itu membawa kotak pensil, dua lembar catatan, dan daftar anak yang berada di sudut menggambar.

"Saya melihat bagian akhir," katanya. "Sasa memegang bukunya. Anak Ibu menarik dari sisi lain. Saat saya datang, keduanya sudah terpisah."

"Anak saya bilang dia didorong dulu," ulang sang ibu.

Bu Rina menoleh kepada Sasa. "Sasa, ceritakan dari awal. Pelan-pelan."

Sasa menarik napas kecil. Ia membuka buku yang sudutnya kusut. Pada halaman tengah terdapat gambar naga hijau dengan tiga lapisan bayangan, latihan sederhana yang diajarkan Raka dari bentuk daun dan sisik.

"Aku gambar ini. Dia bilang jelek. Terus dia bilang aku dipungut karena tidak ada yang mau."

"Lalu?"

"Dia ambil pensil biru. Aku bilang kembalikan. Dia ambil bukunya juga."

"Bagaimana kamu mengambilnya kembali?"

Sasa berdiri dan memperagakan dengan dua tangan. "Aku pegang sini. Dia tarik. Aku tarik. Terus dia jatuh duduk."

"Kamu mendorong badannya?"

"Tidak. Tanganku pegang buku."

Anak lelaki itu mulai gelisah.

Sasa menunjuk sudut atas ruang kelas melalui jendela kaca. "Kamera lihat. Bu Guru bilang kamera bukan buat ditonton anak-anak, tapi orang besar bisa periksa kalau ada masalah."

Beberapa orang tua yang menunggu di lorong saling pandang. Kalimatnya sederhana, tetapi urutannya jelas.

"Dan aku bukan barang yang dipungut," lanjut Sasa. Suaranya sempat bergetar. "Ayah lihat aku, terus Ayah pilih jaga aku. Banyak orang lihat Ayah gambar. Ayahku pelukis hebat. Tapi kalau Ayah tidak terkenal juga tetap Ayah."

Raka merasakan sesuatu mengencang di dadanya.

Bu Rina tidak memutar CCTV di depan kerumunan. Ia membawa kedua wali ke ruang administrasi tertutup, menunjukkan bagian yang relevan tanpa menyebarkan salinan, didampingi petugas sekolah yang berwenang.

Rekaman memperlihatkan anak lelaki itu mengambil pensil biru, mengejek pakaian Sasa, merampas buku, lalu kehilangan keseimbangan ketika Sasa menarik bukunya kembali. Tidak ada dorongan ke tubuh. Tidak ada pukulan.

Mereka kembali ke ruang kepala sekolah.

"Hasil pemeriksaan sesuai keterangan Sasa," kata Bu Rina. "Anak Ibu mengambil barang, mengucapkan hinaan, dan jatuh saat berebut buku. Sasa tidak memukul atau mendorong tubuhnya."

Wajah sang ibu menegang. "Jadi sekolah memihak karena ayahnya membuat mural?"

"Tidak. Justru karena itu kami memakai catatan guru dan rekaman, bukan hubungan dengan orang tua."

Bu Rina menetapkan langkah pendidikan untuk kedua anak. Anak lelaki itu harus mengembalikan pensil, meminta maaf dengan kalimat yang ia pahami, dan mengikuti pendampingan guru tentang batas barang milik teman. Sasa juga diajarkan untuk memanggil guru sebelum menarik barang kembali bila situasi dapat membuat seseorang jatuh.

"Kenapa Sasa ikut dinasihati?" protes Raka tidak datang.

Ia justru mengangguk. "Aturannya adil."

Ibu anak lelaki itu berdiri. "Anak saya tidak perlu dipermalukan seperti penjahat."

"Tidak ada yang menyebut dia penjahat," kata Raka. "Dia anak kecil yang melakukan kesalahan dan masih bisa belajar. Tapi mohon ajari juga bahwa uang, pakaian, dan keluarga bukan alasan untuk merendahkan orang."

"Anda mengajari saya?"

"Saya meminta Ibu berhenti mengajari anak Ibu menghina anak lain."

Suasana di lorong hening. Dua orang tua menunduk, menyembunyikan anggukan.

Anak lelaki itu akhirnya meletakkan pensil biru di meja.

"Maaf ambil buku," katanya lirih.

Sasa menatapnya, lalu menerima pensil. "Jangan bilang aku tidak pantas sekolah."

Anak itu mengangguk.

Bu Rina mencatat penyelesaian kejadian dan jadwal pemantauan. Tidak ada unggahan media sosial, tidak ada nama anak disebar, dan tidak ada orang tua yang diizinkan membawa pulang salinan rekaman.

Di perjalanan pulang, Sasa lebih diam dari biasanya. Ia menggenggam buku gambar di dada sampai tiba di bawah pohon dekat kontrakan.

"Ayah."

"Hm?"

"Aku benar dipilih?"

Raka berjongkok. "Benar."

"Kalau suratnya belum jadi?"

Pertanyaan itu membuat Raka terdiam sesaat. Sasa mungkin tidak memahami pengadilan atau syarat pengangkatan anak, tetapi ia memahami bahwa petugas masih datang memeriksa rumah.

"Surat resmi kita memang belum selesai," kata Raka jujur. "Sekarang Ayah menjaga Sasa dengan izin dan aturan dari Dinas. Tapi waktu Ayah memutuskan terus datang, menyiapkan rumah, dan belajar jadi orang tua, itu pilihan Ayah sendiri."

"Jadi aku anak yang Ayah pilih?"

"Iya. Anak yang Ayah pilih untuk dijaga dan disayangi."

Sasa menempelkan dahinya ke bahu Raka.

"Aku juga pilih Ayah."

Malamnya, ia merapikan sudut buku dengan selotip. Naga hijau itu kembali terlihat utuh, meski bekas lipatan belum hilang.

Sebelum tidur, Sasa mengangkat satu jari dengan serius.

"Ayah, nanti aku mau jadi orang yang bisa bilang bukti. Seperti Ayah."

Raka tersenyum, lalu menarik selimut sampai ke bahunya.

"Boleh. Tapi orang yang suka bukti juga harus tahu kapan minta bantuan."

"Seperti panggil Bu Guru?"

"Tepat."

Sasa memejamkan mata dengan puas.

Raka duduk di sisi ranjang lebih lama. Secara hati, pilihan mereka sudah jelas.

Namun agar tak seorang pun kelak dapat mencabut rasa aman itu dengan satu cap atau satu gugatan, Sasa masih membutuhkan proses pengangkatan anak yang sah—dan Raka yang kini lajang belum memenuhi syarat untuk menutupnya sendirian.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!