“Kamu tega menghisap darah para petani miskin seperti kami! Dasar lintah!”
Tristan dilempari anggur busuk, oleh warga desanya sendiri. Truk pendingin miliknya sudah sampai di gerbang desa. Kerugian yang begitu besar akan didapatkan olehnya.
“Tapi kita sudah tanda tangan kontrak. Aku yang mengajari kalian untuk bertani anggur. Aku yang mengajari kalian bagaimana merubah lahan tandus menjadi gudang harta.”
“Persetan dengan kontrak!” Para warga desa merobek kontrak, merusak dan menjarah rumah Tristan.
Hanya karena provokasi dari tunangannya yang merupakan Putri kepala desa. Hanya karena provokasi dari bos anggur yang mengaku dari kota. Mereka tega mengkhianatinya.
Warga desa yang polos sudah tidak ada lagi. Mereka sudah serakah akan uang…
Wajahnya tersenyum, air matanya mengalir.”Gunung tandus milik warga desa sebelah. Akan aku rubah menjadi gunung harta. Saat itu jangan berlutut menyesal di hadapanku."
Warning! Nama tokoh, perusahaan maupun latar hanya fiktif, imajinasi penulis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KOHAPU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tawar Menawar
Aroma manis fermentasi yang menyengat, ini adalah hari ketiga sejak pemanenan. Satu mobil pick up memuat 1,5 ton anggur yang dikemas dalam plastik hanya berselimut terpal. Ditumpuk dan dijejal, di bawah berkeliling selama 2 hari ini.
Bukankah dapat dibayangkan apa yang akan terjadi?
Terpal dibuka, sang pedagang tiba-tiba mengerutkan keningnya. Mendekati tumpukan anggur itu, kemudian memeriksanya.
“Bagus kan kualitasnya? Ini adalah kualitas premium yang biasa masuk ke supermarket.” Hendra tersenyum penuh kemenangan.
Sang pedagang mengangkat sebelah alisnya, kemudian meraih plastik anggur yang berada di tempat paling atas. Kemudian membukanya, aroma anggur yang tercium, di plastik terdapat uap uap air. Tangkainya bahkan sudah berwarna coklat mengering.
Buah-buahan itu di bagian atasnya sudah lembek dan kehilangan kesegarannya.
“Kualitas premium Bapak pala kau?” Sang pedagang mengangkat sebelah alisnya. Kemudian kembali mendekati dagangannya sendiri, anggur yang kemarin dibelinya dari Wicaksana diperlihatkan olehnya.
“Ini baru anggur kualitas bagus, batangnya masih segar. Buah-buahnya masih begitu bulat dan bagus, tidak cacat dan lembek seperti buah kalian. Kalau saya simpan ini di lemari pendingin, satu minggu pun tidak laku masih bisa dijual. Punya kalian dua hari tidak laku maka rugi total. 15.000 per kilo, saya cuma berani ambil 10 kilo.” Sang pedagang mengangkat sebelah alisnya.
“15.000? Kamu kira gampang menanam buah anggur hingga memanennya!? Dulu ada tengkulak curang, yang bahkan mendapatkan untung besar setelah membeli 35 ribu per kg.” Suara bentakan Sumiati, warga desa yang memang ikut untuk menjual ke kota kabupaten.
Sang pedagang menggeleng pelan.”Mungkin tengkulak itu tidak waras, anggur sudah sulit diselamatkan seperti ini dibeli rp35.000 per kg. Orang itu sedang beramal, atau mungkin Kalian sedang bertemu dengan biksu yang tengah menyebarkan kebaikan.”
“Kalau tidak mau beli ya sudah! Tidak usah mengejek kami.” Hendra bersungut-sungut, kembali menutup terpal anggurnya.
Sedangkan sang pedagang, membuka kipasnya, mengayun-ayunkan kipasnya di tengah cahaya matahari pagi yang mulai terasa.
“Kalau kalian bawa keliling nanti terus tambah busuk, nanti harganya turun rp10.000 per kilo!” Kalimat yang diucapkan oleh pedagang eceran itu.
“Brengsek! Dasar penipu! Nanti anggur-anggur kami akan laku 40.000 per kilo. Kamu jangan mengemis dan memohon untuk membeli nanti!” Junita memberikan peringatan.
“Orang yang punya toko kecil sepertimu tahu apa. Kamu tidak pernah tahu kualitas, cuma tahu harga murah.” Hendra ikut-ikutan mengomel naik kembali ke mobil pick up-nya.
Sedangkan sang pedagang hanya menghela nafas, melihat iring-iringan beberapa mobil pick up itu melewati tokonya.
Benar-benar aroma manis anggur yang menyengat.
“Buah-buahan mahal kalau diperlakukan buruk ya jadi murah. Bagian bawahnya pasti sudah pecah dan hancur menjadi cairan. Ditumpuk berjejal seperti itu…benar-benar bodoh.” Gumam sang pedagang buah, matanya melirik ke arah buah yang sebelumnya dijual oleh Wicaksana.”Anak muda yang kemarin, kalau ada truk pendingin mungkin buahnya bisa jadi lebih bagus.” Gumamnya.
Tapi pedagang eceran bukankah selalu seperti itu? Kalau ada yang murah, buat apa beli yang mahal.
“Nanti kalau mobil pick up-nya balik lagi, mungkin aku tawar rp12.500 per kg.” Suara tawa sang pedagang terdengar. Anggur malah dibawa berkeliling dengan kendaraan seperti itu bahkan ditumpuk dan dijejal.
***
“Dasar pedagang serakah. Anggur kita malah ditawar rp15.000 per kg. Dia tidak tahu apa kalau ini adalah anggur Red globe, ukuran besarnya, warna buah, semuanya sempurna. Biasanya selalu masuk ke supermarket supermarket besar. Sekarang malah ditawar 15.000 per kg daftar orang miskin. Tidak tahu kualitas.” Komat kamit Junita mengomel.
“Orang miskin memang seperti itu. Sabar ya…kita akan menemukan pembeli. Harganya pasti 40.000 sampai 45.000 per kg. Orang yang tidak bisa menerima ini dan bilang tidak laku, hanya orang udik.” Hendra menghela nafas, sekali bertemu dengan pedagang penipu. Kedua kali, pasti akan bertemu dengan pembeli yang lebih baik.
Pada akhirnya dirinya menghentikan mobil pick up-nya di depan kios buah kedua.
“Pagi Koh! Mau beli anggur? Anggur segar dari desa Makmur kualitas premium. Ini biasanya dibawa ke swalayan-swalayan dan supermarket besar.” Ucap Hendra penuh senyuman, menawarkan pada seorang pria tua pemilik kios buah.
“Berapa harganya? Mahal tidak? Kalau mahal saya tidak beli.” Pria tua itu masih sibuk menata buah dagangannya.
“Murah…kualitas premium cuma rp40.000 per kg.” Hendra menawarkan, merangkul bahu pria tua itu.
“You tipu-tipu ya? 40.000/kg, anak muda yang lewat kemarin cuma jual rp30.000, kualitasnya oke punya. Saya kemarin jual rp50.000 laku!” Pria tua sipit itu menetap tidak suka ke arahnya.
“Koh…ini beda. Red globe yang biasa ada di supermarket. Sini-sini biar saya tunjukkan.” Hendra membujuk, pria tua itu pada akhirnya bangkit tempatnya duduk, kemudian mendekati mobil pick up itu.
Aroma manis dari anggur yang sudah sedikit terfermentasi, membuat pria tua itu mengerutkan keningnya. Sudah berbisnis buah sejak bertahun-tahun lalu, jadi pengalamannya sudah lumayan banyak.
Benar saja, setelah terpal dibuka. Anggur anggur yang bertumpuk itu terlihat. Membuat mata sipit pria tua itu menjadi terbuka lebar.
“Bagaimana kualitas buahnya Koh! Bagus kan? Ini dipanen langsung dari desa Makmur! Buahnya besar-besar, beda dengan yang ada di pasaran.” Hendra berusaha meyakinkan.
“I…ini…” pria tua itu terbata-bata.
“40.000 per kg, pasti harga yang wajar kan? Ada harga ada kualitas.” Hendra menepuk bahu sang pria tua.
“Rp35.000 2 kilo, itu saya sudah beramal. Ini buah memang kualitasnya oke punya, tapi sudah disimpan lama, ditumpuk seperti cucian bekas. Kalau you mau segitu jual, kalau tidak dijual lah ke tempat lain.” Mata pria tua itu kembali sipit, melangkah kembali ke toko buah kecil miliknya.
“Koh! Janganlah tawar semurah itu. Rp35.000 per kilo, itu sudah harga paling murah.” Hendra kembali meyakinkan.
“You keliling-keliling dulu lah. Nanti kalau buahnya tambah busuk saya tawar paling rp10.000.” jawaban dari pria tua itu malah kembali duduk santai di toko kecil miliknya. Menata toko buahnya yang baru saja buka.
Pria tua yang mulai kedatangan banyak pelanggan. Toko buahnya terlihat lumayan ramai, tapi orangnya pelit setengah mati. Motto hidupnya seperti hanya cuan dan cuan.
“Ditawar berapa?” Tanya Junita mendekat.
“17.500 per kg.” Jawaban dari Hendra kembali menghela nafasnya.
“Ternyata banyak pedagang penipu di sini. Ayo kita coba untuk keliling lagi. Nanti kalau laku rp40.000, lalu semuanya habis ingat janjimu untuk belikan aku gelang emas baru.” Junita mengedipkan sebelah matanya.
Ketika Hendra naik ke mobil pick up, samar pria tua di toko buah itu, terdengar bergumam.
“40.000 per kilo…orang muda zaman sekarang banyak mimpi basahnya…”
mimpi basah🫣
Suka gitu author mah, setengah² ngasih clue na teh 😄
pedagangpun menolak
dah busuuuuuk 🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣
setelah diliat ternyata 😒😒
hadeeeeh
eh..salah Deng sekarang mah udh google berjalan yaa🫣🤣🤣
😁😁😁