Indonesia
NovelToon NovelToon
AYO BERCERAI, MAS!

AYO BERCERAI, MAS!

Status: sedang berlangsung
Genre:Cerai / Romansa / Drama / Rumah Tangga
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Yehppee

"Ayo bercerai, Mas!"

kalimat itu Anna ucapkan tepat di hari ulang tahun pernikahan mereka yang ke lima.

Bukan karena hadirnya orang ketiga. Bukan pula karena Jeevan Aditya pernah mengangkat tangan kepadanya.

Anna hanya...lelah.

Lelah menjadi perempuan yang harus selalu mengalah, selalu kuat, selalu tersenyum, dan selalu memenuhi harapan orang lain hingga perlahan kehilangan dirinya sendiri.

Dan pada akhirnya ia memilih bercerai.

Namun, hidup ternyata tidak semudah itu.

Saat karirnya mulai bersinar, sebuah kejadian merenggut harga dirinya. Di saat yang sama, seorang teman SMA yang diam-diam mencintainya muncul sebagai pengacara yang siap membela. Sementara itu, seorang pria misterius berhelm hitam terus mengikuti setiap langkahnya.

Siapakah dia? Penguntit atau pelindung?

Temukan jawabannya di novel ini👋

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yehppee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB. 31, Rencana.

Seorang pria sedang memeriksa beberapa berkas ketika Anna mengetuk pintu.

"Permisi," ucap Anna sopan.

Pria itu mengangkat kepala. "Silakan masuk."

Usianya mungkin sekitar tiga puluh dua tahun, hanya terpaut dua tahun darinya. Penampilannya sederhana, mengenakan kemeja biru tua dengan tanda pengenal yang tersemat di dada.

"Saya Anna. Saya melihat ada lowongan pekerjaan." Ucap Anna sedikit gugup.

Pria itu tersenyum.

"Duduk saja, Mbak Anna."

Percakapan mereka berlangsung jauh lebih sederhana dibanding wawancara sebelumnya.

Ia menanyakan pendidikan, pengalaman, kemampuan bekerja dalam tim, serta kesediaan mengikuti jadwal shift.

Anna menjawab semuanya dengan jujur. "Saya memang belum pernah bekerja di minimarket," katanya, "Tapi saya bersedia belajar."

Pria itu membaca CV Anna sekali lagi.

"Kalau soal belajar, semua orang juga awalnya begitu."

Anna menatapnya. "Jadi...?"

Pria itu menutup CV dan lalu menatap Anna seraya tersenyum. "Saya terima."

Anna terdiam beberapa detik. "Benarkah?"

"Benar."

Untuk pertama kalinya sejak pagi, senyum Anna muncul tanpa perlu dipaksakan.

"Kapan saya mulai?" tanya Anna bersemangat.

"Besok pagi kalau bisa."

Anna menjawab semangat. "Saya bisa."

"Shift pagi. Datang sebelum jam kerja dimulai. Nanti teman-teman yang lain akan mengajari prosedurnya."

Anna mengangguk berkali-kali. "Baik. Terima kasih banyak."

Pria itu tersenyum. "Sama-sama. Selamat bergabung."

Anna keluar dari ruangan tersebut dengan langkah yang terasa jauh lebih ringan. Ia berhenti sejenak di dekat pintu minimarket.

Botol air yang tadi hampir terlupakan masih berada di tangannya. Pagi yang semula terasa seperti jalan panjang penuh penolakan, mendadak memiliki satu titik terang.

Besok ia akan bekerja.

Bukan sebagai istri seseorang.

Bukan sebagai perempuan yang harus memenuhi harapan keluarga.

...🌴🌴🌴...

Di sisi lain kota, ketika Anna sedang membawa secercah harapan baru pulang menuju rumah sewa Sherly, jarum jam di sebuah gedung perusahaan teknologi telah menunjukkan angka dua belas.

Waktu makan siang.

Rooftop perusahaan itu tampak seperti oasis kecil yang sengaja disembunyikan di antara kepungan gedung pencakar langit. Beberapa pohon di tanam di dalam pot-pot besar, daun-daunnya bergerak perlahan ditiup angin. Pot bunga berjajar di sepanjang pagar pembatas, menghadirkan warna hijau dan semburat bunga yang membuat tempat tersebut terasa jauh dari hiruk-pikuk ruang kerja.

Ada beberapa kursi panjang dari kayu, meja-meja kecil, serta bangku beton yang membentuk sudut nyaman untuk para karyawan beristirahat.

Namun, di salah satu bangku beton, seorang pria justru duduk seperti terdakwa yang sedang menunggu vonis.

Jeevan Aditya.

Kemeja kerjanya masih rapi. Lengan bajunya di gulung sampai siku, memperlihatkan kedua lengannya yang kokoh. Di tangannya terdapat sepotong sandwich yang sejak lima menit lalu hanya berpindah dari satu sisi ke sisi lainnya tanpa tujuan.

Jeevan menatap makanan itu.

Makanan tersebut seolah membalas tatapannya yang datar, perlahan ia menggigitnya. Mencoba menikmati sandwich yang dia beli beberapa waktu lalu sebelum istirahat tiba.

Jeevan mengunyahnya pelan, seperti seorang yang tidak menikmati rasa dari sandwich yang ia pesan.

Di sebelahnya, Abimanyu memperhatikan dengan tatapan heran.

Pria itu sudah mengamati sahabatnya selama beberapa menit. Awalnya ia diam karena mengira Jeevan memang sedang menikmati makan siang dengan cara yang sangat... menyedihkan.

Namun, setelah melihat Jeevan menguyah satu gigitan selama hampir satu menit, kesabarannya mulai terkikis.

"Van." Panggilnya.

"Hm," jawab Jeevan tenang.

"Kalau gak selera makan, gak usah makan." Ujarnya seraya meletakan sandwich yang hampir seperempatnya lagi.

Jeevan tetap mengunyah. "Aku selera."

Abimanyu melirik sandwich di tangan Jeevan. "Bohong."

Jeevan menelan makanannya.

"Aku tidak selera." Jawabnya pada akhirnya.

"Nah," tunjuk Abimanyu kepada sahabatnya.

"Tapi aku harus tetap makan." Jawab Jeevan tenang, lalu kembali mengigit sandwich.

Abimanyu mengerutkan kening. "Kenapa?"

"Karena tubuh memerlukan nutrisi." Jawabnya enteng.

Abimanyu menggeleng kepala makin heran. "Ya Tuhan."

Abimanyu memasukan sandwich yang tinggal seperempat di tangannya ke dalam mulut lalu mengunyahnya cepat. Ia kembali melirik sahabatnya yang kini kembali menggigit sandwich sedikit.

Abimanyu memandangi wajah sahabatnya yang sama sekali tidak menunjukkan ekspresi menikmati makanan.

"Van, kamu tuh bukan robot."

Jeevan mengunyah.

"Robot juga perlu energi." Ujarnya.

"Van."

"Hm?"

"Kalau kamu terus begini, sandwich itu yang nantinya bakal depresi."

Jeevan berhenti mengunyah, lalu menoleh kepada Abimanyu yang memperlihatkan wajah seriusnya.

"Kasihan rotinya. Dari tadi kamu tatap seperti dia punya utang." Celetuk Abimanyu.

Jeevan kembali melihat sandwich tersebut. "Aku sedang banyak pikiran." Ucapnya pada akhirnya.

"Ya. Aku tahu." Jawab Abimanyu seraya meraih sandwich lagi dari papernya.

"Kelihatan?"

"Banget. Bahkan burung di pohon sana mungkin sudah tahu." Ujar Abimanyu mencoba mencairkan suasana.

Jeevan mendongak sebentar.

Seekor burung memang sedang bertengger di salah satu dahan. Ia kembali menatap makanannya.

"Burung tidak akan mengerti masalah manusia."

Abimanyu terkekeh. "Belum tentu. Bisa saja dia lebih mengerti daripada kamu."

Jeevan menghela napas.

Abimanyu kemudian mengambil posisi lebih nyaman di kursinya. Semula ia mengira makan siang kali ini hanya akan menjadi sesi diam-diam menemani sahabatnya yang sedang patah hati.

Namun, ekspresi Jeevan berubah.

Tidak lagi sekadar murung, ada sesuatu yang sejak tadi disimpan terlalu dalam.

"Bi." Panggil Jeevan.

"Hm, Kenapa?"

"Anna mengalami depresi." Ucapnya pada akhirnya.

Abimanyu terdiam. Angin yang berhembus terasa lebih jelas daripada sebelumnya.

"Depresi?" tanya Abimanyu berulang.

Jeevan mengangguk. "Dan... ganggu kecemasan."

Abimanyu tidak langsung menjawab. Selama ini ia memang mengetahui bahwa rumah tangga Jeevan sedang bermasalah. Ia tahu perceraian itu terjadi setelah lima tahun pernikahan. Bahkan ia sendiri yang membantu Jeevan yang sangat effort ketika memintanya untuk war tiket konser Justin Bieber. Ia juga tahu Jeevan tidak pernah benar-benar menginginkan perpisahan tersebut.

Tetapi ia tidak pernah mengetahui alasan sebenarnya.

Jeevan menundukkan kepalanya. "Selama ini aku kira dia capek. Aku kira dia sedang marah, kecewa, atau mungkin sudah tidak mencintaiku lagi."

Tangannya menggenggam sandwich sedikit lebih erat.

"Ternyata bukan itu."

Abimanyu menatapnya. "Dia sakit?"

"Ya."

"Dan kalian bercerai karena itu?" tanya Abimanyu pelan.

Jeevan mengangguk. "Aku rasa ya. Anna mungkin tidak mau aku tahu soal depresinya. Aku yakin Anna ingin menyelamatkan dirinya dan juga aku...aku rasa dia merasa terlalu rusak untuk menjadi istriku."

Kalimat itu begitu pelan, tetapi terasa seperti benda berat yang dijatuhkan ke antara mereka.

Abimanyu menghela napas. "Van..."

"Aku baru tahu soal Anna belakang ini." Ujarnya hampir berbisik.

Jeevan tersenyum tipis, pahit. "Lucu ya? Aku tinggal serumah dengannya selama lima tahun, tapi aku bahkan kalau perempuan yang tidur disebelah ku setiap malam sedang berperang dengan dirinya sendiri."

Abimanyu tidak menyela.

Untuk pertama kalinya sejak mereka duduk di rooftop itu, ia melihat Jeevan bukan sebagai seorang suami yang gagal mempertahankan pernikahannya.

Melainkan seorang pria yang terlambat menyadari betapa dalam luka perempuan yang dicintainya.

"Aku mau membantunya." Ucapnya pada akhirnya.

"Bagaimana?"

Jeevan langsung menoleh. "Aku butuh bantuanmu."

Abimanyu mengangkat alis. "Bantuan apa?"

"Aku mau memperhatikan Anna. Dan aku mau...kamu carikan aku pengacara untuk menggugat lelaki brengsek yang udah buat istriku mengubur impiannya." Ucap Jeevan menggebu.

Abimanyu mengerutkan dahi. "Memperhatikan?"

"Dari jauh." Katanya.

"..."

"Aku tidak mau mengganggu kehidupannya. Aku cuma ingin memastikan dia baik-baik saja." katanya semangat.

Abimanyu menatap Jeevan selama beberapa detik.

"Jadi..." ia menunjuk dirinya sendiri. "Kamu mau aku ngikutin mantan istrimu?"

Jeevan memicingkan mata seolah tidak suka Anna di sebut dengan kata mantan istri.

"Maksudnya...istrimu?" ralat Abimanyu sebelum Jeevan memberikan ceramah panjang lebar.

"Bukan ngikutin." Sela Jeevan.

"Terus?" tanya Abimanyu seraya mengendikkan kedua bahunya.

"Memperhatikan." Jawabnya enteng.

"Van, beda istilah dong." Protes Abimanyu.

Jeevan menghela napas. "Aku gak mau dia merasa sedang diawasi. Aku hanya ingin tahu apakah dia makan dengan baik, apakah dia bekerja, apakah dia pergi ke dokter, apakah kondisinya membaik."

Abimanyu menatap sahabatnya seperti sedang memandangi seseorang yang baru saja mengusulkan membeli kapal selam untuk pergi ke warung.

"Kamu sadar gak, ide kamu ini agak gila?" protes Abimanyu.

"Aku tahu."

"Kalau Anna tahu, bagaimana? Kan kamu sendiri tahu, Anna sudah tahu wajahku." Katanya enggan.

"Aku tidak akan membiarkan dia tahu."

"Kalau ketahuan?"

"Makanya aku meminta bantuanmu." Jawab Jeevan enteng.

Abimanyu memijat pelipisnya. "Kamu ini, kenapa malah ngajak aku?"

"Karena kamu paling bisa menyamar."

Abimanyu langsung menatapnya tajam. "Aku kelihatan seperti agen rahasia?"

"Tidak." Jawab Jeevan enteng.

"Terus?"

"Kamu kelihatan seperti orang biasa."

"Terima kasih. Pujiannya yang sangat menyentuh." Ucap Abimanyu seraya tersenyum lalu memeluk dadanya sendiri.

Jeevan akhirnya tersenyum tipis. "Tolong, Bi."

Abimanyu terdiam. Ada sesuatu dalam tatapan Jeevan yang membuat gurauan di ujung lidahnya lenyap. Sahabatnya itu tidak sedang mencari alasan untuk mengusik mantan istrinya.

Ia hanya takut.

Takut kehilangan seseorang yang baru ia pahami setelah semuanya terlambat.

"Baiklah."

Jeevan langsung menatapnya. "Serius?"

"Iya."

"Beneran?"

"Jangan bikin aku berubah pikiran, Van." Jawabnya pasrah.

"Terima kasih."

Abimanyu masih terlihat bengong.

Ia belum sempat memikirkan konsekuensinya dari keputusan barusan ketika Jeevan tiba-tiba menyodorkan sandwich yang sejak tadi ia pegang.

"Nih!"

Abimanyu menatap sandwich tersebut.

"Buat apa?"

"Aku sudah tidak selera."

Abimanyu menerima sandwich itu secara refleks. Beberapa detik kemudian, ia menatap makanan di tangannya. Lalu menatap Jeevan, lalu kembali menatap sandwich.

"Jadi selama ini..." ia menghela napas panjang. "Aku menyetujui pekerjaan gila, lalu sebagai bonus aku dapat sandwich bekas gigitan?"

Jeevan berdiri. "Jangan mubazir."

"Van!"

Jeevan sudah berjalan menjauh sambil memasukkan kedua tangannya ke saku celana. Meninggalkan Abimanyu yang duduk seorang diri, ia menatap punggung sahabatnya yang semakin menjauh.

Kemudian menunduk pada sandwich di tangannya. "Kenapa aku harus ngikutin kemauan dia?" ia menggigit sandwich itu dengan wajah kesal. "Kan di sini aku bosnya dia?"

Abimanyu mengunyah, lalu mendengus. "Dan kenapa aku yang malah mendapat tugas jadi penguntit?"

...🌴🌴🌴...

Semoga novel ini menghibur reader semua. Maaf kalau banyak kesalahan dan kurang memikat, hehe. Yehppee masih belajar.

...BERSAMBUNG...

1
Emily
wajah 4 tokoh lelaki orang yg sama
💞Putri Chania💞
lanjut Thor..sampai ada sesi penyembuhan nya ya.bagus ceritanya..
💞Putri Chania💞
ayo ana..lepaskan semuanya..semangat sembuh
Fatma Yulia
pleeasee jgn pisah ya thor, karna cinta mereka dalammmm bgt
💞Putri Chania💞
duuh ..sama" mencintai d dalam hati...sama" terluka...jd sad..tapi kesendirian juga bisa menyembuhkan luka..
Uthie
Mampir 👍
🍀 YEHPPEE 🍀: makasih, semoga betah🙏
total 1 replies
Gemuruh riuh
bagus ceritanya thor, kakak aku aja sering ngeluh sama kelakuan keluarga suaminya 👍
Gemuruh riuh
jleb banget
Gemuruh riuh
ucapan senjata para suami cuek
💞Putri Chania💞
Oalah...ternyata yg nyelamatin Anna adalah pria yg mencintainya dalam diam....spertinya makin serru nih tambah pemeran baru Thor..
💞Putri Chania💞
apakah pria itu Abimanyu..?
💞Putri Chania💞
cerita yg bagus dan banyak terjadi pada kaum hawa..yg merasa baik" saja ...pada hal..
🍀 YEHPPEE 🍀: makasih, semoga betah bacanya sampe tamat☺️
total 1 replies
💞Putri Chania💞
lanjut thor
Mymy Zizan
apa yg mau di lompatin thor... 7 bab aja masih krng, pngen lebih
💞Putri Chania💞
cerita nya bgus Thor...tidak sedikit yg mengalami kasus sperti Anna...
🍀 YEHPPEE 🍀: hai makasih udah mampir lagi 😁🙏
total 1 replies
Gemuruh riuh
elu sendiri yang bikin stres ibuuuu
Gemuruh riuh
pertanyaan horor ibu mertua 😲
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!