Larasati dipaksa menikah demi menyelamatkan keluarganya, namun tiga tahun kesetiaannya dibalas dengan pengusiran saat wanita idaman suaminya kembali. Tanpa mereka tahu, Larasati bukan wanita lemah yang mereka kira. Saat identitas aslinya terbongkar, kini giliran mereka yang memohon belas kasihannya—tapi Larasati tak akan pernah kembali ke masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Niclia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1 — Saat Dia Berjalan Pergi Tanpa Menoleh
Pelan banget kakinya melangkah keluar pintu itu. Pelan sekali, seakan setiap langkahnya berat, padahal yang berat sebenarnya adalah hatiku yang tertinggal sendirian di ruangan itu. Rumah yang selama bertahun-tahun kuanggap tempat pulang yang paling nyaman, tempat di mana aku kira aku akan menua bersama orang yang kucintai, ternyata pada akhirnya cuma jadi tempat di mana hatiku hancur berkeping-keping, sehancur-hancurnya.
Dia cuma berdiri sebentar, menatapku dengan wajah yang datar sekali, tak ada sedikit pun ragu atau sedih di matanya. Lalu ucapannya terdengar begitu tenang, begitu mudah diucapkan, seakan kita tidak pernah berbagi tawa dan air mata selama bertahun-tahun ini. "Kita sudahi saja semuanya," katanya begitu. Dan setelah itu dia berbalik, melangkah pergi, tak menoleh ke belakang walau satu kali pun. Seakan semua janji yang pernah diucapkannya dulu itu tak pernah ada, seakan semua pengorbanan yang kuberikan selama ini tak pernah ada harganya sedikit pun di matanya.
Aku berdiri terpaku di tempat itu, menatap pintu yang perlahan tertutup rapat meninggalkanku sendirian. Air mata mulai jatuh pelan di pipiku, tapi aku tak berusaha menyekanya. Hatiku terasa sakit sekali, sakit yang tak bisa diucapkan dengan kata-kata mana pun. Bertahun-tahun aku mendahulukan keinginannya di atas keinginanku sendiri. Bertahun-tahun aku menyesuaikan langkahku mengikuti langkahnya, menata hariku sesuai keperluannya, melupakan mimpi-mimpiku sendiri demi bisa melihatnya tersenyum. Aku sabar saat dia sulit, aku setia saat dia belum punya apa-apa, aku menemani saat tak ada orang lain yang mau berdiri di sisinya. Dan saat dia sudah berdiri tegak, saat semuanya mulai berjalan baik, barulah aku tahu — di saat itulah aku mulai tak lagi berharga di matanya.
Lama aku berdiri diam di sana, tak tahu harus melangkah ke mana, harus berkata apa, harus berbuat apa. Semua yang kubangun perlahan selama bertahun-tahun rasanya runtuh seketika dalam sekejap mata. Namun di tengah rasa sedih yang luar biasa itu, perlahan muncul satu hal kecil di hatiku. Kalau dia begitu mudah melepaskanku, berarti aku tak perlu memohon agar dia kembali. Kalau dia begitu mudah melupakan semua kebaikan yang pernah kuberi, berarti hatinyalah yang tak pantas memilikiku. Kalau dia berani pergi meninggalkanku, berarti aku tak perlu takut berdiri sendirian. Karena ternyata selama ini aku yang selalu menemaninya berjalan, dan bukannya sebaliknya. Selama ini aku yang selalu memegang tangannya agar tak tersesat, padahal aku sendiri pun tak pernah diajak berjalan bersamanya menuju mimpinya.
Perlahan aku mengusap air mataku. Napas kuhela sedalam-dalamnya, lalu kubuang perlahan keluar. Ya, hari ini hatiku memang sakit, dan memang berat rasanya. Tapi aku masih berdiri di atas kedua kakiku sendiri. Aku masih bisa bernapas. Aku masih punya tangan yang kuat untuk bekerja. Aku masih punya akal sehat untuk berpikir. Dan yang paling penting, aku masih punya diriku sendiri — diriku yang selama ini sering kulupakan demi menyenangkan hatinya. Kalau dia mau pergi, biarlah pergi. Aku tak akan mengejar, tak akan memohon, tak akan menahan langkahnya. Karena aku baru sadar satu hal yang sangat penting: aku tak akan pernah bisa kehilangan diriku sendiri. Selama aku masih ada bersama diriku sendiri, aku tak pernah benar-benar sendirian. Dan dari detik ini juga, aku berjanji dalam hati — tak akan lagi aku menggantungkan bahagiaku pada orang yang begitu mudah melepaskanku. Mulai hari ini, aku berjalan dengan kakiku sendiri. Arahku ke mana pun hatiku bawa, dan tak ada lagi yang bisa mengatur langkahku selain kehendak hatiku sendiri. Biarlah dia pergi. Karena sesungguhnya bukan aku yang ditinggalkan, melainkan dia yang kehilangan seseorang yang takkan pernah ditemuinya lagi seumur hidupnya. Dan aku? Aku baru saja mulai mengenal siapa diriku sebenarnya.