Indonesia
NovelToon NovelToon
TAI CHU : KITAB TAKDIR

TAI CHU : KITAB TAKDIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Spectree Je

Saat semua pendekar berkumpul untuk berebut kekuasaan, seorang anak gembala datang membawa akhir dari dunia mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Spectree Je, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13 - AWAN HITAM YANG TIDAK TUNDUK PADA LANGIT

Jembatan Putus, di luar Kota Jinling. Senja sudah hampir habis.

Papan kayu lapuk yang menghubungkan dua tebing masih berderak pelan karena pertarungan barusan. Di atas papan itu, duduk seorang pria berjubah hitam bordir awan perak yang sobek setengah.

Qin Wuyu, peringkat ke-3 Paviliun Awan Hitam, julukan Awan Hitam Penutup Bintang.

Darah masih menetes dari sudut bibirnya. Kipas hitamnya yang menjadi senjatanya, yang terbuat dari tulang burung hitam dan kertas awan yang direndam 7 tahun di dalam tinta racun, kini sobek, lukisan awan hitamnya terbelah dua oleh cahaya bintang putih tadi.

Ia menatap ke ujung jembatan, ke arah Kota Jinling, di mana punggung Lu Changan — pria berwajah biasa seperti penjual tahu dengan 7 pedang kayu pendek di pinggang — baru saja hilang ditelan kabut Sungai Qinhuai. Langkah kaki Lu Changan tidak bersuara, papan kayu tidak berderak, seperti ia tidak punya berat.

Qin Wuyu tidak marah karena kalah. Di Paviliun Awan Hitam, kalah bukan aib. Aib adalah kalah tanpa tahu kenapa kalah.

Ia memegang dadanya yang terasa berat seperti ditimpa bintang. Cahaya bintang putih dari pedang kayu pertama Lu Changan, Tian Shu, masih terasa dingin di dalam meridiannya, melawan Qi awan hitamnya.

"Xing Guang... Cahaya Bintang yang sebenarnya..." gumamnya pelan, matanya yang hitam pekat tanpa putih menatap langit senja yang mulai muncul bintang pertama. "Bukan bayangan, bukan ilusi... tapi cahaya bintang sungguhan yang dipanggil turun... 7 Pendekar Jiangnan... aku meremehkan kalian..."

Ia terbatuk, darah hitam keluar. Bukan darah merah, tapi darah hitam, karena seluruh tubuh orang Paviliun Awan Hitam sudah dilatih dengan Racun Awan Hitam sejak kecil.

Jika tadi yang dilihat orang adalah Qin Wuyu kalah dengan satu tebasan, itu salah besar. Sangat salah.

Karena Qin Wuyu belum mengeluarkan jurus penuhnya yang misterius.

Di Paviliun Awan Hitam, setiap pembunuh memiliki dua kipas. Kipas luar, yang terlihat, adalah kipas kertas hitam untuk pertarungan biasa. Tapi kipas dalam, yang tersembunyi di dalam lengan baju, adalah Kipas Tulang Awan Hitam — terbuat dari tulang rusuknya sendiri yang dicabut saat umur 12 tahun dan ditempa dengan racun 7 awan.

Jurus penuh itu bernama Hei Yun Tun Xing — Awan Hitam Menelan Bintang. Jika dikeluarkan, bukan hanya satu jembatan, tapi seluruh langit di atas Jinling akan menjadi hitam selama 3 hari, dan semua orang di dalam awan itu akan melihat mimpi buruk mereka sendiri sampai mati ketakutan. Qin Wuyu tidak mengeluarkannya tadi, bukan karena tidak bisa, tapi karena...

Karena Paviliun Awan Hitam yang misterius sebenarnya tidak tunduk pada Kekaisaran.

Di luar, semua orang di Wulin mengira 36 Aliran Hitam semuanya adalah anjing milik Istana Beijing, dibayar emas oleh Kaisar Zhuo Tian untuk memburu Zhuo Fan, Yang Lie, gadis 9 Yin, dan Mu Chen.

Paviliun Angin Hitam, Lembah Pisau Darah, Sekte Ular Hitam, Gunung Bela Diri Hitam — mereka memang anjing. Mereka dibayar 10.000 tael emas untuk satu kepala.

Tapi Paviliun Awan Hitam berbeda.

Markas mereka tidak ada yang tahu di mana. Ada yang bilang di atas awan Gunung Huangshan, ada yang bilang di dalam gua di bawah Danau Tai. Ketua Paviliun mereka, yang hanya dikenal sebagai Hei Yun Lao Ren — Kakek Awan Hitam — tidak pernah muncul di Wulin selama 20 tahun. Bahkan Kaisar Zhuo Tian belum pernah melihat wajahnya.

50 tahun lalu, Paviliun Awan Hitam pernah menjadi bagian dari Wulin Putih. Mereka adalah penjaga malam. Mereka membunuh pembunuh. Mereka adalah bayangan yang melindungi cahaya. Tapi 20 tahun lalu, setelah kejadian Lembah Pedang di mana Pangeran Zhuo Fan dijebak, Kakek Awan Hitam melihat bahwa Wulin Putih pun busuk, Istana pun busuk. Jadi ia membawa seluruh paviliunnya menghilang dan berkata:

"Mulai hari ini, Paviliun Awan Hitam tidak putih, tidak hitam. Kami adalah awan. Awan bergerak ke mana angin keuntungan bertiup. Jika Wulin Putih menguntungkan, kami putih. Jika Istana menguntungkan, kami hitam. Jika tidak ada yang menguntungkan, kami hanya menonton."

Itulah kenapa tadi Qin Wuyu menghadang Lu Changan. Bukan karena perintah Kaisar. Poster buronan Kaisar hanya alasan yang kebetulan ada.

Ia menghadang karena ia ingin tahu. Setelah 20 tahun mendengar nama 7 Pendekar Jiangnan — 7 anak muda dari Danau Tai yang disebut-sebut akan menggantikan 4 Naga Kecil — ia ingin merasakan sendiri, apakah bintang Jiangnan itu benar-benar bintang, atau hanya lentera kertas yang diterbangkan anak-anak.

Dan sekarang ia tahu. Bintang itu benar-benar bintang.

Qin Wuyu berdiri pelan. Ia mengambil kipas hitamnya yang sobek, melipatnya dengan hati-hati, memasukkannya ke dalam jubah. Lalu ia mengambil kipas kedua dari dalam lengan baju kirinya. Kipas tulang putih kehitaman, yang berbunyi seperti tulang yang bergesekan saat dibuka. Di kipas tulang itu, tidak ada lukisan awan. Hanya ada satu tulisan dengan darah hitam:

Hitam tidak sepenuhnya hitam.

Ia menatap tulisan itu, lalu tertawa pelan. Tawanya tidak seperti pembunuh. Tawanya seperti sarjana yang baru saja membaca puisi bagus.

"Lu Changan... kau bilang jika ingin menutupi Bintang Jiangnan, suruh Ketua Paviliun datang sendiri... Kau salah... Ketua Paviliun tidak akan datang untuk menutupi bintang... Ketua Paviliun akan datang untuk... melihat apakah bintang itu bisa bersinar di dalam awan hitam kami."

Ia mengibaskan kipas tulang itu sekali ke arah langit.

Awan hitam yang tadi robek oleh cahaya bintang Lu Changan, kini berkumpul kembali, tapi bukan untuk menyerang. Awan itu berkumpul, membentuk satu tulisan besar di langit senja di atas Jembatan Putus, tulisan yang hanya bisa dilihat oleh orang yang mengerti bahasa awan Paviliun Awan Hitam.

Tulisan itu berbunyi:

7 TAHUN LAGI, AWAN HITAM AKAN DATANG KE HUASHAN BUKAN SEBAGAI MUSUH.

Setelah menulis itu, Qin Wuyu batuk lagi, darah hitamnya menetes ke Sungai Qinhuai, membuat ikan-ikan di bawahnya pingsan selama sehari.

Ia melayang, kakinya tidak menginjak papan kayu lagi, tapi benar-benar berjalan di atas awan hitam tipis yang ia buat sendiri, menuju ke arah yang berlawanan dari Lu Changan — menuju ke tempat yang lebih gelap, tempat di mana Paviliun Awan Hitam bersembunyi.

Di dalam hatinya, ia berkata:

Lu Changan, kau menang hari ini karena aku hanya mengeluarkan 7 bagian kekuatanku. Jika aku mengeluarkan 10 bagian, dengan Kipas Tulang Awan Hitam dan jurus Hei Yun Tun Xing, kau dengan satu bintang Tian Shu belum tentu bisa mengimbangiku. Mungkin kita akan seri, mungkin jembatan ini akan hancur dan kita berdua jatuh ke Sungai Qinhuai dan mati tenggelam bersama seperti dua bebek bodoh.

Dan jika kita mati bersama, bukankah itu juga puisi yang bagus? Bintang dan Awan jatuh bersama.

7 tahun lagi, Lu Changan. Di Huashan. Aku akan membawa kipas tulangku yang utuh. Kau bawa 7 bintangmu yang utuh. Kita lihat, siapa yang menutupi siapa. Dan saat itu, aku akan memberitahumu rahasia mengapa Paviliun Awan Hitam tidak tunduk pada Kekaisaran.

Karena kami sedang mencari orang yang sama dengan kalian. Zhuo Fan. Pangeran yang mati 15 tahun lalu. Tapi kami mencarinya bukan untuk membunuhnya. Kami mencarinya untuk... mengembalikan sesuatu yang ia titipkan pada kami 15 tahun lalu, sebelum ia masuk ke Lembah Pedang.

Angin Sungai Qinhuai bertiup, menghapus tulisan awan hitam di langit.

Jembatan Putus kembali sepi. Hanya ada papan kayu lapuk yang retak dan noda darah hitam yang perlahan-lahan menghilang tertiup angin.

Sementara itu, jauh di Danau Dongting, di Sarang Pengemis.

Mu Chen bersin keras.

"Hacim!"

Hong Wei Jun yang sedang menghitung ayam panggang menatapnya.

"Bocah goni, kau masuk angin? Atau ada orang yang membicarakanmu?"

Mu Chen mengusap hidungnya, memeluk kitab Tai Chu yang dibungkus goni.

"Tidak tahu, Guru. Tiba-tiba merasa... seperti ada awan hitam lewat di atas kepala, tapi awan itu... tidak jahat."

Hong Wei Jun tertawa, melemparkan paha ayam padanya.

"Makan! Jangan memikirkan awan hitam! Pikirkan bagaimana cara membuat naga sombongmu tidak menyesal lagi! Besok, 8 Tetua 9 Kantung akan mengujimu! Jika kau gagal, kau akan disuruh mengemis di Kota Junshan selama 1 tahun tanpa boleh memakai kitab emasmu!"

Mu Chen hampir tersedak ayam.

Dan di langit di atas Danau Dongting, entah kebetulan atau tidak, ada sepotong kecil awan hitam yang lewat pelan, berbentuk seperti kipas yang sobek, lalu hilang tertiup angin timur menuju Jiangnan.

1
Dhewa Iblis
Next....
Dhewa Iblis
Laaaannnjjuuutt...
Dhewa Iblis
Laaaannnjjuuttt...
Dhewa Iblis
Next...
Dhewa Iblis
Laaaannnjjjuuuttt....
Dhewa Iblis
Nice...
Dhewa Iblis
Next...
Dhewa Iblis
Laaaannnjjjuuuttt....
Dhewa Iblis
Nice...
Dhewa Iblis
Laaaaannnjjuuttt..
Dhewa Iblis
Next...
Dhewa Iblis
Laaaannnjjuutt...
Dhewa Iblis
Nice....
Dhewa Iblis
Laaaannnjjuutt...
Dhewa Iblis
Next...
Dhewa Iblis
Next....
Dhewa Iblis
Nice....
Dhewa Iblis
Maaaannnttaapp..
Dhewa Iblis
Next...
Dhewa Iblis
Laaaannnjjuutt...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!