Lima tahun lalu, Clara Jasmine melarikan diri dari sebuah malam penuh gairah di daratan Swiss, meninggalkan secarik pesan usang dan membawa pergi rahasia besar yang mengubah hidupnya selamanya.
Kini, Clara kembali ke Jakarta sebagai single mother yang berjuang membesarkan anak kembarnya, Ken dan Key. Namun, si kembar bukanlah balita biasa. Di balik wajah polos mereka, Ken dan Key adalah peretas cilik jenius dengan sepasang mata abu-abu yang sangat tajam.
Takdir seolah mempermainkan Clara ketika ia tak sengaja bekerja di Van Der Berg Group.
Alexio Van Der Berg, sang CEO dingin dan tak tersentuh penguasa perusahaan tersebut.
Melihat sepasang mata abu-abu yang menatapnya dengan berani, dunia Alexio berhenti berputar. Pria yang selama lima tahun nyaris gila mencari pemilik surat di dompetnya itu akhirnya menemukan buruannya.
"Lima tahun kau berlari membawa darah dagingku, Clara. Mulai hari ini, kau dan anak-anak tidak akan bisa pergi ke mana-mana lagi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17
"Tapi... T-tapi ini terlalu cepat!" cicit Clara, akhirnya menemukan suaranya yang sempat hilang. Wajahnya merona merah padam, perpaduan antara rasa canggung dan syok berat.
"Akhir pekan ini berarti tinggal dua hari lagi! Aku... aku bahkan belum menyiapkan apa pun, Alexio. Gaun, undangan, dekorasi... itu tidak mungkin!"
Olivia tertawa renyah. Wanita anggun itu melangkah mendekati Clara dan menggenggam kedua tangannya dengan erat.
"Sayangku, ini Van Der Berg. Kalau Kakek sudah bilang akhir pekan ini, maka dalam waktu kurang dari empat puluh delapan jam, seluruh vendor kelas atas di Jakarta akan bersujud untuk menyukseskan pernikahan termegah abad ini," ucapnya dengan nada santai yang justru menunjukkan betapa mengerikannya kekuasaan keluarga ini.
"Kamu tidak perlu memusingkan apa pun. Mommy yang akan mengurus semuanya! Semuanya akan sempurna."
"Benar," timpal Andries dengan senyum hangatnya. "Tugasmu hanya satu, Clara: beristirahat, memanjakan diri di spa, dan bersiap menjadi Ratu di hari pernikahanmu. Asisten Reno dan seluruh jajaran staf eksekutif perusahaan sudah kami kerahkan untuk membantu Mommy-mu sejak dari semalam."
Clara menoleh menatap Alexio, matanya memancarkan sinyal SOS, meminta sedikit penundaan. Namun, pria itu justru menatapnya dengan pandangan mengunci yang penuh gairah dan kepemilikan mutlak.
"Kau dengar itu, Calon Istriku?" bisik Alexio tepat di telinga Clara, hembusan napasnya membuat bulu kuduk wanita itu meremang hebat.
"Satu-satunya tugasku saat ini adalah memastikan kau tidak lari lagi dariku."
Sementara orang-orang dewasa sibuk menyusun takdir Clara, Ken dan Key yang sejak tadi menyimak dari sofa Chesterfield tiba-tiba bersorak.
"Yeeey! Papa dan Mama akan menikah!" seru Key, melompat-lompat kegirangan dengan mata berbinar. "Berarti nanti Key bisa mengenakan gaun princess dan Ken stelan jas dengan aksen jubah eksklusif, kan, Oma?"
"Tentu saja, Sayang!" sahut Olivia gemas.
"Oma akan mendatangkan desainer terbaik dari Milan khusus untuk kalian berdua hari ini juga!"
Ken membetulkan letak kacamatanya dengan gaya serius yang meniru persis aura Alexio.
"Keputusan yang sangat logis. Analisis Ken sudah tepat. Kalau Mama dan Papa meresmikan hubungan ini secara legal, otomatis data kependudukan Ken dan Key di catatan sipil bisa langsung diperbarui. Jadi status hukum kami sebagai pewaris sangat jelas, kan, Pa?"
Pertanyaan kelewat analitis namun polos dari Ken membuat seisi ruangan tertawa terbahak-bahak. Alexander bahkan tertawa paling keras hingga harus memegangi perutnya yang bergetar.
Clara hanya bisa menyembunyikan wajahnya yang merona di dada bidang Alexio. Segala kecemasan dan ketakutan yang menghantuinya selama lima tahun ini pupus sudah. Ia memang terjebak. Terjebak dalam pelukan pria yang paling berkuasa, terjebak dalam keluarga konglomerat dengan cara kerja yang tak masuk akal, namun yang paling penting... ia terjebak dalam rasa aman yang nyata bersama anak-anaknya.
****
****
Di belahan benua lain, suasana di dalam kediaman mewah keluarga Smith justru terasa sepanas kawah neraka.
Prang!
Sebuah vas kristal Baccarat seharga ratusan juta hancur berkeping-keping menghantam dinding marmer. Sofia Smith berdiri dengan napas memburu, dada yang naik-turun menahan amarah yang meledak-ledak.
Matanya menatap nyalang layar tablet yang menampilkan portal berita bisnis terkini. Headline utamanya sukses membuat darah Sofia mendidih: sang penguasa Van Der Berg Group tiba-tiba mengumumkan pernikahan mendadaknya akhir pekan ini.
"Sialan! Siapa jalang beruntung yang berhasil menjeratnya?!" jerit Sofia frustrasi, mengusap kasar rambut pirangnya yang tertata blow-dry sempurna.
Selama lima tahun terakhir, Sofia telah menghalalkan segala cara untuk menarik perhatian Alexio. Ia memanfaatkan koneksi keluarganya, menggelontorkan miliaran rupiah di berbagai pesta lelang elit, bahkan sengaja memotong jalur bisnis kompetitor hanya agar bisa bertegur sapa dengan pria berwibawa nan sedingin es itu.
Namun, jangankan disentuh, dilirik pun ia tidak pernah! Dan sekarang, dewa bisnis itu tiba-tiba di kabarkan akan menikah?!
Di tengah amarahnya yang memuncak, sekretaris pribadi Tuan Smith melangkah masuk dengan sangat berhati-hati ke ruang keluarga.
Pria berseragam rapi itu membawa sebuah amplop eksklusif berbahan beludru hitam pekat, disegel dengan lilin emas tebal berlambang coat of arms keluarga Van Der Berg.
"Nona Sofia, maaf mengganggu. Tuan Besar sedang ada pertemuan di luar, tapi baru saja ada kurir khusus yang mengantarkan undangan ini langsung dari kantor pusat Van Der Berg Group," lapor sang sekretaris seraya menunduk hormat, tak berani menatap wajah majikannya yang sedang murka.
Tanpa basa-basi, Sofia langsung menyambar undangan itu. Tangannya gemetar saat mematahkan segel lilin emas tersebut. Matanya dengan rakus menyisir deretan kalimat undangan VVIP yang tercetak timbul dengan tinta emas.
Namun, saat pandangannya jatuh pada nama mempelai wanita yang bersanding sejajar dengan nama Alexio Van Der Berg, tenggorokan Sofia seketika tercekik. Ia menelan ludah dengan susah payah. Jantungnya seolah berhenti berdetak selama beberapa detik yang menyiksa.
*...dengan penuh suka cita, mengundang Anda ke acara pernikahan Alexio Van Der Berg & Clara Jasmine...*
"Clara Jasmine."
Sofia mematung. Matanya membelalak ngeri menatap dua kata itu. Tangannya yang memegang undangan tersebut mendadak sedingin es. Ia mengais-ngais bagian dalam amplop, mencari selembar foto pre-wedding atau gambar siluet, namun nihil.
Desain undangan itu sangat arogan dalam keminimalisannya, hanya kaligrafi indah tanpa satu pun foto mempelai.
"Tidak... ini pasti cuma kebetulan!" desis Sofia dengan suara bergetar, menggelengkan kepalanya keras-keras bak orang gila.
Ia menepis kuat-kuat memori yang berlari liar pada sosok Clara, adik angkat yang dulu tinggal menumpang di keluarganya. Gadis yang selalu ia jadikan pelayan, ia tindas, ia hina, dan akhirnya menghilang tanpa jejak dari keluarga Smith lima tahun lalu.
"Nama Clara Jasmine itu pasaran! Pasti ada ribuan wanita bernama Clara! di dunia ini!" batin Sofia, mensugesti dirinya sendiri dengan senyum sinis yang dipaksakan.
Ia kembali mengingat saat adik angkatnya itu kabur dari kediaman Smith. Wanita itu tidak membawa barang berharga, tidak punya koneksi, tidak punya ijazah sarjana. Sofia mendengus meremehkan. Mana mungkin anak pungut yang tak punya siapa-siapa itu bisa bersanding dengan dewa penguasa sekelas Tuan Muda Van Der Berg?
"Anak pungut itu pasti sedang menderita di luar sana. Menjadi pelayan toko, tukang cuci piring, atau mungkin wanita malam, untuk bertahan hidup!" gumam Sofia sinis, melipat tangannya di dada untuk mengurangi gemetar di tubuhnya.
"Atau mungkin... dia sudah membusuk dan mati kelaparan di jalanan. Ya, dia pasti sudah mati!"
Meski ia merapalkan kalimat beracun itu berulang kali, firasat buruk tetap merayap dan mencengkeram lambungnya. Sofia menggenggam undangan itu hingga beludrunya kusut.
"Aku harus terbang segara ke Indonesia besok untuk memastikan langsung pernikahan itu," desis Sofia, matanya menyipit memancarkan kedengkian murni.
"Aku akan melihat sendiri siapa wanita bernama Clara Jasmine ini. Jika dia hanya wanita rendahan aku akan memastikan hidupnya hancur dan menjadi bahan tertawaan di pestanya sendiri! Dan di saat itu juga aku akan menggantikan posisinya sebagai Nyonya muda Van Der Berg sesungguhnya."
Bersambung...
semoga cepat hamil lg agar keluarga Alexio semakin ramai 💪💪💪💪🥰🥰🥰🥰🥰
semangat up thourr,, slalu setia menunggu 💪💪💪🥰🥰🥰🥰🔥🔥🔥
semangat thourr,, sehat slalu dan murah rezeki nya Aamiiin 🤲🤲🤲💪💪💪🥰🥰🥰🥰🔥🔥🔥🔥🔥