Indonesia
NovelToon NovelToon
The Last Aether Knight: Ksatria Aura Yang Bangkit Kembali

The Last Aether Knight: Ksatria Aura Yang Bangkit Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Fantasi
Popularitas:369
Nilai: 5
Nama Author: Arian verse

Dia bukan pahlawan. Dia adalah bencana yang berjalan.

Terlahir kembali di dunia yang hancur oleh perang kuno, Arlen membawa ingatan dari kehidupan sebelumnya sebagai Aster Valerius-sang ksatria legendaris. Tapi kali ini, dia tidak terikat oleh kode kehormatan yang rapuh. Dia memiliki sesuatu yang lebih berbahaya: Aether, sumber kekuatan asli yang mampu memotong sejarah dan menghancurkan realitas itu sendiri.

Dari hutan terlarang hingga takhta dewa, Arlen akan menginjak siapa pun yang menghalanginya. Monster? Dia akan menyerap darahnya. Dewa? Dia akan meremukkan takhtanya. Manusia yang berkhianat? Dia akan mengajarkan mereka arti ketakutan sejati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arian verse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23: Perintah dari tahta

Jalan utama menuju pusat wilayah berdebu dan panjang. Di atas punggung kuda perang yang kokoh berwarna gelap, Jenderal Kaelen bergerak diam. Rombongannya yang terdiri dari dua puluh prajurit pilihan berbaris rapi di belakangnya, tidak ada satu pun yang mengeluarkan suara berlebihan. Kehadiran mereka seolah membawa serta tekanan udara yang berat bagi siapa saja yang dilewati.

Pikiran Kaelen masih tertuju pada sosok anak kecil di kedai tua itu. Selama puluhan tahun mengabdi pada Kerajaan, ia telah bertemu banyak orang—dari penjahat paling kejam hingga penyihir paling berkuasa—namun tidak pernah dia merasakan tekanan batin seberat itu hanya karena menatap sepasang mata seorang anak.

Dia tidak takut padaku, batin Kaelen bergumam dalam keheningannya. Bukan karena dia bodoh atau tidak tahu bahaya, melainkan karena dia merasa setara, bahkan lebih tinggi kedudukannya dariku. Seorang anak yang lahir di desa terpencil tidak mungkin memiliki pembawaan seperti itu kecuali... ada sesuatu yang jauh lebih besar bersembunyi di baliknya.

Kaelen menggeleng pelan, membuang keraguannya. Tugasnya adalah mematuhi perintah, bukan membiarkan perasaan batin menguasai pertimbangannya.

Sekitar sehari perjalanan dari desa itu, berdiri sebuah benteng batu kelabu yang menjulang gagah di atas bukit yang mengawasi seluruh persimpangan jalan utama wilayah utara. Itulah markas besar pengawasan wilayah. Di sana, di ruang kerja yang dingin dan tinggi, duduk seorang pria paruh baya dengan rambut memutih di pelipis mata nya namun tatapan mata yang masih tajam dan berapi-api. Itu adalah Adipati Dolken, penguasa wilayah utara yang ditunjuk langsung oleh takhta pusat.

Ketika Kaelen melangkah masuk dan memberi hormat, Adipati itu tidak segera menoleh. Ia sedang memeriksa peta besar yang terbentang di atas meja kayunya yang lebar.

"Kau kembali lebih cepat dari perkiraanku," ujar Adipati Dolken tanpa mengangkat wajahnya. Suaranya berat dan tenang. "Apakah kau menemukan sesuatu yang berharga di tanah yang dilaporkan aneh itu?"

Kaelen berdiri tegak di hadapan meja itu, kedua tangannya dikepalkan di belakang punggung.

"Aku menemukan keanehan, Yang Mulia. Bukan pada tanahnya, melainkan pada penghuninya."

Adipati Dolken akhirnya mengangkat wajah. Dia menatap bawahannya lekat-lekat.

"Ceritakan."

"Ada sebuah keluarga bernama Ashford. Tanah mereka yang dulunya tandus kini berubah menjadi sangat subur. Namun yang paling menarik perhatian adalah anak tunggal mereka, bernama Arlen," lapor Kaelen dengan jujur namun hati-hati. "Anak itu berusia sepuluh tahun, namun cara bicaranya, ketenangannya, dan pengetahuannya... jauh melampaui usianya. Ia juga terlihat berhubungan erat dengan seorang lelaki tua yang mengasingkan diri, yang diduga memiliki pengetahuan kuno."

Adipati Dolken berdiri perlahan dan berjalan mendekati jendela yang menghadap ke halaman luas benteng itu. Bayangannya jatuh panjang di lantai batu.

"Kau tahu sendiri, Kaelen... sejak beberapa bulan lalu, kami menerima laporan dari berbagai penjuru bahwa ada pergeseran aliran energi di wilayah utara. Benda-benda kuno yang seharusnya tertidur mulai berdenyut kembali. Dan ada jejak-jejak yang mengarah tepat ke wilayah kecil itu."

Ia berbalik perlahan menatap tajam ke arah Kaelen.

"Kerajaan tidak bisa membiarkan hal-hal yang tidak diketahui tumbuh tanpa pengawasan, apalagi jika hal itu mengandung kekuatan yang bisa mengancam keseimbangan kekuasaan. Apakah anak itu memiliki kekuatan yang bisa dimanfaatkan?"

Kaelen teringat kembali tatapan mata Arlen yang dingin dan perkataannya yang penuh peringatan.

"Kekuatannya sulit dinilai, Yang Mulia. Ia tidak memancarkan cahaya atau menggunakan sihir yang biasa kita kenal. Namun ia memiliki wibawa yang membuat orang lain segan, dan ia terlihat sangat menjaga tanah itu seolah itu adalah hak mutlaknya. Jika ia bisa dikuasai, dia mungkin akan menjadi aset hebat. Namun jika dia menentang... Anak itu bisa menjadi ancaman yang sulit diatasi."

Adipati Dolken tersenyum tipis, senyum yang tidak sampai ke matanya. Ia kembali berjalan ke mejanya dan mengambil selembar surat tertutup segel emas.

"Takhta pusat sudah mengirimkan perintah khusus. Mereka juga mendengar kabar ini. Ada kekhawatiran bahwa apa yang tersembunyi di sana berhubungan dengan warisan zaman kuno yang tidak boleh jatuh ke tangan sembarangan."

Adipati Dolken meletakkan surat itu di tepi meja.

"Kau tidak bertindak gegabah saat ini, itu sudah benar. Kita tidak tahu seberapa dalam akar yang tumbuh di sana. Mulai sekarang, pasang pengawasan ketat. Jangan ganggu mereka secara terang-terangan, tapi jangan biarkan satu hal pun yang terjadi di sana luput dari perhatian."

Adipati berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih rendah dan tegas.

"Namun ada hal lain yang harus kau ketahui. Kita bukan satu-satunya yang bergerak. Kabar yang sampai ke telingaku mengatakan bahwa orang-orang dari Lingkaran Kelam juga sudah tertuju ke tempat itu. Jika mereka bergerak lebih dulu atau jika anak itu berniat bergabung dengan mereka... kau diberi wewenang penuh untuk mengambil tindakan tegas apa pun yang diperlukan, termasuk mengamankan atau memusnahkan sumber masalahnya."

Kaelen mengangguk hormat, meskipun ada rasa berat di hatinya.

"Siap dilaksanakan, Yang Mulia."

"Pergilah. Dan ingatlah, Kaelen... di dunia ini, kekuatan yang tidak tunduk pada hukum Kerajaan adalah kekuatan yang berbahaya. Entah itu milik anak kecil atau raja besar, ia harus dikendalikan."

Saat Kaelen berjalan keluar dari ruangan itu, langkahnya berat. Ia tahu tugasnya kini jauh lebih rumit. Di satu sisi ada perintah tegas dari atasannya, namun di sisi lain dia tidak bisa melupakan sepasang mata kelabu yang menatapnya seolah menembus segala kepura-puraan kekuasaan itu.

Apakah benar dia ancaman? batinnya bertanya-tanya. Atau mungkin... justru dialah satu-satunya yang bisa berdiri tegak di tengah kekacauan yang akan datang ini?

Sementara itu, jauh di sisi lain wilayah itu, di sebuah ruangan yang gelap dan berbau belerang, beberapa orang berdiri melingkar di sekitar meja batu. Cahaya remang dari obor menerangi wajah-wajah yang tertutup bayangan, namun sorot mata mereka memancarkan keserakahan dan ambisi yang tak terhingga.

Seorang sosok bertubuh kurus dengan jubah gelap berdiri di kepala meja. Di tangannya, ia memutar sebutir batu hitam kecil yang persis sama dengan yang ditinggalkan makhluk kekosongan itu semalam.

"Rencananya sedikit terganggu," ucapnya pelan namun dingin. "Namun setidaknya kita tahu pasti sekarang: kekuatan itu benar-benar ada, dan dijaga oleh seseorang yang mampu menghadapi makhluk panggilan kita."

Di sebelahnya berdiri seorang pria lain yang suaranya berat dan kasar.

"Jika anak itu begitu kuat, mengapa kita tidak mengirim lebih banyak kekuatan sekaligus? Kita bisa turun ke sana dan merampas apa yang kita inginkan."

Sosok di kepala meja itu menggeleng pelan.

"Kau terburu-buru. Kekuatan yang begitu besar pasti memiliki pelindung. Kita tidak tahu seberapa jauh jangkauan perlindungan itu. Kita harus membiarkan mereka bergerak lebih dulu, membiarkan mereka membuka diri. Dan lebih dari itu... Kerajaan juga sudah mengirimkan orang mereka. Biarkan mereka yang saling menguji kekuatan satu sama lain."

Ia mengangkat batu hitam itu tinggi-tinggi, membiarkan cahayanya yang redup memantul di wajahnya.

"Kita hanya perlu menunggu saat yang tepat untuk memungut hasilnya. Ingatlah tujuan utama kita: kita tidak menginginkan tanah atau kekuasaan semu seperti Kerajaan. Kita mencari kunci untuk membebaskan kekuatan yang terkurung ribuan tahun lamanya. Dan tempat itu... serta anak itu... adalah petunjuk terbesar kita."

Makluk itu menatap ke arah kegelapan di sudut ruangan.

"Kirimkan pesan kepada pengamat kita yang bersembunyi di dekat sana. Amati setiap gerak-gerik mereka. Jangan sampai ada hal kecil apa pun yang terlewat."

Kembali ke kediaman kecil keluarga Ashford, sore itu tiba dengan langit yang kemerahan indah. Arlen duduk diam di atas batu besar di puncak bukit hijau itu. Penjaga berbaring tenang di kakinya. Angin sore menerbangkan ujung rambut hitamnya, dan sorot matanya yang kelabu menatap jauh melintasi hamparan hutan dan bukit yang luas, seolah bisa melihat hingga ke benteng Adipati maupun ruang gelap para penyembah kegelapan itu.

Arlen menyadari bahwa keberadaannya kini tidak lagi rahasia. Dua kekuatan besar dunia kini sama-sama mengarahkan pandangan ke arahnya.

"Kerajaan menganggap segala sesuatu milik mereka karena mereka memegang hukum," gumam Arlen pelan pada angin yang berhembus. "Kelompok gelap mengira segala sesuatu boleh diambil karena mereka haus akan kekuatan. Keduanya sama-sama buta akan kebenaran."

Ia mengepalkan tangannya perlahan.

"Mereka bergerak, mengatur rencana, dan mengirim perintah dari jauh. Namun mereka lupa satu hal penting: tanah ini bukan milik raja, bukan pula milik mereka yang haus akan kegelapan. Tanah ini milik dirinya sendiri, dan mereka yang menjaga keseimbangannya."

Arlen berdiri tegak, menatap ke arah cakrawala yang perlahan gelap.

"Biarkan mereka datang dengan rencana mereka yang rumit. Pada akhirnya, hanya kebenaran yang berdiri tegak hingga akhir. Dan aku... akan menjadi kebenaran itu."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!