Dalam hidup Kyra, ia hanya ingin merasakan arti sebuah keluarga. Namun, keinginan sederhananya itu harus ia pendam, karena kedua orang tuanya tidak menginginkan kehadirannya yang dianggap sebagai pembawa sial.
Setelah banyaknya penderitaan, Kyra akhirnya melangkah keluar dari bayang-bayang trauma untuk menuntut balas pada orang tuanya yang telah membuangnya.
Namun, saat Kyra berhasil bertemu dan tinggal dengan kedua orang tuanya, ia justru dijadikan kambing hitam untuk menggantikan posisi sepupunya dalam sebuah pernikahan bisnis. Jebakan takdir ini justru dimanfaatkan Kyra sebagai senjata untuk menghancurkan keluarganya sendiri.
Bagaimana cerita selanjutnya? Apakah rencana balas dendam Kyra berhasil? Siapa pria yang harus Kyra nikahi? Mengapa kedua orang tua Kyra menganggap jika Kyra adalah pembawa sial?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29
Setelah makan yang diwarnai candaan hangat dari Mama Ivy, suasana rumah utama keluarga Raymond kembali terasa tenang.
Brian menggandeng tangan Kyra menuju ruang tengah yang luas, ruangan berdesain modern-klasik itu langsung menghadap ke halaman belakang berupa taman hijau yang asri dengan air mancur bergaya Eropa di tengahnya. Di hadapan mereka terhampar sofa beludru berwarna abu-abu arang yang sangat nyaman, dikelilingi lampu gantung kristal yang memancarkan cahaya hangat kekuningan.
Mama Ivy memilih untuk memisahkan diri dan kembali ke kamar untik beristirahat, membiarkan pengantin baru itu memiliki waktu pribadi untuk saling berbagi cerita.
Kyra mendudukkan dirinya di sudut sofa, menyesap perlahan teh chamomile hangat yang disiapkan pelayan beberapa saat lalu. Sementara itu, Brian duduk tepat di sampingnya, merentangkan satu lengan panjangnya di atas sandaran sofa di belakang bahu Kyra, sebuah gestur posesif yang kini sudah terbiasa diterima oleh wanita itu.
Setelah beberapa saat menikmati keheningan yang menenangkan, Brian memecah kesunyian. Suara baritonnya terdengar rendah namun jelas memecah udara sore.
"Bagaimana?" tanya Brian to the point, manik mata cokelat gelapnya menatap lurus wajah istrinya.
"Apanya?" tanya Kyra.
"Bagaimana setelah ini... apa rencanamu selanjutnya?" tanya Brian.
Kyra meletakkan cangkirnya di atas meja di hadapan mereka. Ia menarik napas dalam-dalam, merasakan aroma kayu cendana dan parfum maskulin suaminya yang menguar lembut. Tatapan matanya yang semula tenang perlahan berubah menjadi tajam, memantulkan sisa-sisa bara api dendam yang belum sepenuhnya padam.
"Keluarga Andreas selalu membanggakan nama besar dan reputasi sosial mereka di atas segalanya, bagi mereka kehormatan di hadapan para sosialita dan relasi bisnis adalah harga diri tertinggi, lebih tinggi bahkan dari anak kandung mereka sendiri," ucap Kyra, nada suaranya terdengar dingin.
Brian menyimak dengan seksama, seringai tipis terukir di sudut bibirnya dan menikmati cara berpikir istrinya yang kian tajam.
"Lalu, apa yang akan kau lakukan pada mereka?" tanya Brian penasaran.
Kyra menoleh dan membalas tatapan suaminya tanpa ragu, "Aku tidak hanya ingin membuat perusahaan mereka bangkrut secara finansial, Brian. Itu saja tidak cukup untuk melunasi puluhan tahun penderitaan yang mereka berikan padaku, aku ingin menghancurkan citra sempurna yang selama ini mati-matian mereka bangun di hadapan publik," jawab Kyra.
Kyra merapatkan jemarinya di atas pangkuan, "Aku ingin seluruh lingkaran sosial mereka, para kolega, rekan bisnis dan orang-orang terpandang yang selama ini memuja mereka, tahu siapa sebenarnya keluarga Andreas di balik topeng kemewahan itu. Aku ingin mereka merasakan bagaimana rasanya diinjak-injak, dipermalukan dan dipandang sebelah mata oleh dunia yang sangat mereka agungkan," sambungnya.
Sebuah keheningan singkat tercipta di antara keduanya, alih-alih merasa ngeri dengan ambisi balas dendam sang istri, sudut bibir Brian justru terangkat membentuk senyuman lebar, pria itu tampak terpesona. Di balik keanggunan dan kerapuhan yang sempat ia lihat di awal pertemuan mereka, tersimpan jiwa seorang ratu malam yang siap meruntuhkan kerajaan musuhnya tanpa harus mengotori tangannya sendiri secara langsung.
"Rencana yang bagus," puji Brian tulus, ia mengusap pelan puncak kepala Kyra dengan penuh kelembutan.
"Tapi, langkahmu itu tidak akan mudah. Keluarga Andreas masih memiliki beberapa koneksi lama di dunia media dan beberapa relasi nekat yang mungkin akan mencoba melawan balik," ucap Brian.
Kyra mengangguk pelan, menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa. "Aku tahu. Karena itulah... aku punya permintaan khusus untukmu, Brian," ucap Kyra.
Brian menaikkan sebelah alisnya, menunggu kalimat selanjutnya meluncur dari bibir istrinya. "Katakan. Apapun itu, akan aku berikan," balas Brian.
"Aku ingin melakukannya sendiri," ucap Kyra tegas dan menatap manik mata suaminya lekat-lekat.
"Aku ingin menyusun strategi, memainkan bidak-bidak catur ini dan melihat mereka jatuh perlahan ke dalam perangkap yang kubuat. Aku tidak ingin kau turun tangan langsung untuk menghancurkan mereka di hadapan publik," lanjut Kyra.
Brian terdiam sejenak, sorot matanya menyiratkan keberatan. Namun, melihat kilatan tekad yang begitu kuat di mata Kyra, Brian mengurungkan niatnya untuk membantah.
"Kau tidak ingin aku ikut campur?" pastikan Brian dengan nada rendah.
"Bukannya aku tidak ingin kau ikut campur sama sekali, aku ingin kau tetap di sisiku. Aku ingin kau mendukungku, menjadi benteng pelindung di belakangku dan mengawasiku dari jauh. Jika sewaktu-waktu aku membuat kesalahan atau situasi berbalik mengancamku... biarkan kau yang menarik pelatuk terakhirnya. Tapi untuk sekarang, biarkan aku yang bermain dengan mereka," jawab Kyra.
Sebuah tawa kecil lolos dari bibir Brian, pria itu menunduk dan mendekatkan wajahnya hingga hidung mereka hampir bersentuhan, membuat napas hangat beradu di udara senja itu.
"Baiklah, Nyonya Raymond. Kau memegang kendali penuh atas permainan ini, aku akan berdiri di belakangmu dan memastikan tidak ada satu pun orang yang berani melukaimu saat kau sedang bermain-main dengan mereka," bisik Brian patuh, tatapannya sarat akan pemujaan yang mendalam.
Kyra merasakan debar jantungnya kembali bergemuruh hebat, bukan karena rasa takut, melainkan karena rasa aman yang luar biasa mutlak. Di dunia yang kejam ini, ia telah menemukan sekutu terkuatnya, pria paling berbahaya di ibu kota yang kini rela menjadi bayangan setia di setiap langkah pembalasan dendamnya.
.
Sinar matahari pagi merayap masuk melalui celah tirai sutra di kamar utama mansion Raymond dan memantulkan bayangan keemasan di atas lantai marmer yang bersih, Kyra terbangun dengan tubuh yang terasa jauh lebih segar dibanding hari-hari sebelumnya.
Di sebelah sisi ranjangnya sudah kosong, Brian rupanya sudah berangkat lebih awal ke kantor pusat Raymond Group untuk mengurus beberapa urusan mendesak.
Kyra bangkit dari peraduannya dan merapikan jubah tidurnya sejenak, lalu melangkah menuju meja rias tempat ponsel pintarnya tergeletak. Hari ini, sebuah babak baru dalam hidupnya akan dimulai dendam yang selama ini membakar hatinya dalam diam kini siap dieksekusi dengan kepala dingin dan strategi yang matang.
Tanpa membuang waktu, Kyra membuka aplikasi pesan instan dan langsung mengetikkan sebuah nama kontak yang telah membantunya di balik layar beberapa waktu lalu.
Kyra: Yolla, bisa kita bertemu hari ini? Ada hal penting yang ingin aku diskusikan denganmu terkait keluarga Andreas.
Hanya berselang beberapa menit, ponsel Kyra bergetar menandakan balasan masuk.
Yolla: Tentu saja, Kyra! Aku sengaja kosongkan jadwal hari ini. Di mana kita mau ketemuan? Cafe biasa atau mau langsung ke tempat yang lebih privat?
Kyra: Tempat biasa saja, jam sepuluh nanti. Jangan sampai ada yang tahu kalau kita ketemu, ya.
Yolla: Siap! Beres, bos! Sampai ketemu nanti ya.
Membaca balasan itu, Kyra tersenyum tipis dan sama sekali tidak menaruh kecurigaan sedikit pun pada Yolla. Di matanya, Yolla adalah satu-satunya teman sekaligus orang luar yang mau membantunya mengumpulkan informasi penting mengenai kehancuran bisnis keluarga Andreas tanpa banyak bertanya.
Kyra tidak pernah tahu dan memang sengaja disembunyikan rapat-rapat oleh suaminya bahwa Yolla sebenarnya adalah salah satu anak buah kepercayaan Brian yang ditugaskan khusus untuk mengawal dan melindungi Kyra.
.
.
.
Bersambung.....
semangat balas dendam
salah sendiri ngapain doyan ngangkang sama orang yang tidak jelas 🤣🤣🤣🤭🤭🤭