Lu Chen adalah seorang pemuda berusia dua puluhan yang hidup terasing di pinggiran Desa Qingfu. Di balik penampilannya yang sederhana sebagai peracik obat herbal yang pendiam, ia menyimpan sebuah rahasia besar dan mengerikan: garis keturunan gila yang menggabungkan tiga unsur sekaligus, yaitu darah manusia yang fana, cahaya dewa yang suci, dan kutukan siluman kegelapan.
Secara fisik, Lu Chen memiliki daya tarik yang kuat dengan garis wajah tegas, namun tubuhnya menyimpan ketidakseimbangan yang berbahaya. Matanya memiliki dua warna yang berbeda; mata sebelah kanan memancarkan cahaya keemasan yang hangat dan tenang, melambangkan sisa-sisa kekuatan dewanya, sementara mata sebelah kiri sering kali berubah menjadi ungu legam yang dingin saat emosinya tak terkendali. Di leher hingga sebagian wajahnya juga tersembunyi rajah alami berupa sulur-sulur hitam yang menandakan segel kutukan siluman purba.
Dari segi sifat dan kepribadian, Lu Chen adalah sosok yang sabar, lembut, dan sangat peduli
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8 — CERMIN NIRWANA DAN HARGA YANG HARUS DIBAYAR
Tanah hitam menghisap langkah kami. Setiap pijakan mengeluarkan suara krek... krek... seperti menginjak tulang yang sudah lapuk sepuluh ribu tahun. Udara di sini berat. Baunya belerang, darah kering, dan sesuatu yang lebih tua. Bau putus asa.
Di belakangku, napas Ibu tersengal.
Aku menoleh. Gaun abu-abu di punggungnya sudah basah oleh darah. Luka cambuk petir itu menghitam dan mengeluarkan asap tipis. Hukum Langit sedang memakannya dari dalam.
"Ibu, istirahat dulu," kataku.
"Tidak waktu." Suaranya tetap dingin, tapi aku bisa dengar getarnya. "Mereka akan menemukan jejak kita dalam satu jam."
Ia menunjuk ke depan. Di tengah lembah, di antara kabut yang semakin pekat, berdiri sebuah bangunan.
Reruntuhan.
Tiangnya patah. Atapnya runtuh. Tapi dari kejauhan, aku masih bisa melihat ukiran di gerbangnya: seekor naga dengan tiga kepala. Satu kepala manusia, satu kepala dewa, satu kepala iblis.
"Ini dia," bisik Ibu. "Kuil Iblis yang Disegel."
Bagian 1: Gerbang
Kami berdiri di depan gerbang. Tidak ada penjaga. Hanya ada dua patung iblis setinggi 3 meter, matanya kosong.
Tapi begitu aku melangkah maju, tanah bergetar.
DUAR!
Rantai hitam seukuran pohon melesat dari dalam tanah dan menahan pergelangan kakiku. Panas. Sakit.
"Jangan bergerak!" teriak Ibu. Ia mengangkat tangannya. Es putih menutupi rantai itu dan membuatnya rapuh. KRAK! Rantai itu patah.
"Ini Segel Darah," jelas Ibu cepat. "Kuil ini hanya terbuka untuk mereka yang punya darah iblis... atau yang bersedia membayar harga."
Ia menatapku. Dalam.
"Lu Chen. Di dalam sana ada Cermin Nirwana. Dengan itu kita bisa memisahkan sementara tiga darah di tubuhmu. Kau akan terlihat sebagai manusia biasa. Hukum Langit tidak akan bisa melacakmu."
"Terus masalahnya?"
Ibu memejamkan mata. "Setiap cermin butuh pantulan. Untuk memisahkanmu... cermin itu akan mengambil sesuatu darimu sebagai gantinya."
"Darah? Umur?"
"Umur," jawab Ibu pelan. "10 tahun. Sekali pakai."
Dadaku sesak. Aku baru 18 tahun.
Tapi di belakang kami, aku sudah bisa mendengar suara gemuruh. Penegak Hukum lain pasti sudah masuk ke lembah.
Aku mengepalkan tangan. "Aku bayar."
Ibu tidak menahanku. Ia hanya mengangguk sekali.
Gerbang berderit terbuka.
Bagian 2: Di Dalam Kuil
Di dalam gelap. Dingin. Dan bau.
Di tengah ruangan ada kolam kering. Dan di atas kolam itu, melayang sebuah cermin.
Bingkainya dari tulang. Kacanya hitam. Tidak memantulkan apa-apa. Bahkan tidak memantulkan kami.
"Cermin Nirwana," kata Ibu. "Cermin yang bisa melihat 'seharusnya' dari seseorang."
Ia berjalan pincang ke depan. Setiap langkah meninggalkan jejak darah.
"Berdiri di depan cermin," perintahnya. "Lepaskan kendali. Biarkan tiga darahmu bertarung."
Aku berdiri di depan cermin hitam.
Awalnya kosong. Lalu perlahan... muncul bayangan.
Bayangan pertama: Aku. Pakai jubah petani. Menanam padi di Desa Qingfu. Tersenyum. Hidup tenang.
Bayangan kedua: Aku. Pakai jubah putih. Duduk di atas awan. Mata tanpa emosi. Tangan memegang hukum.
Bayangan ketiga: Aku. Bertanduk. Bersayap hitam. Berdiri di atas gunung mayat. Tertawa.
Tiga aku. Tiga jalan.
"Bagus," kata Ibu di belakangku. "Sekarang fokus. Pilih satu. Tekan dua yang lain."
Aku menarik napas. Aku ingin pilih yang petani. Tapi jika aku pilih itu, aku lemah. Aku akan mati.
Aku ingin pilih yang dewa. Tapi jika itu, aku bukan aku lagi.
Jadi aku pilih... tidak memilih.
"Aku mau ketiganya," kataku.
Cermin bergetar.
WUUUUNGGG...
Retakan muncul di kaca hitam itu.
"Lu Chen, apa yang kau lakukan?!" teriak Ibu. "Cermin itu tidak bisa menahan ketiganya!"
"Tidak ada pilihan lain, Ibu!" aku berteriak balik. "Jika aku buang salah satunya, aku bukan aku lagi!"
Energi di dalam tubuhku meledak. Manusia menghitung. Dewa menstabilkan. Siluman menghancurkan.
Ketiganya bertabrakan di dalam dadaku.
Cermin menjerit. Suara seperti kaca digesek tulang.
KREEEETTTT!!!
Bagian 3: Harga
Retakan semakin banyak. Dari dalam cermin keluar tangan. Bukan tanganku. Tangan hitam, kurus, berkuku panjang.
Tangan itu meraih dadaku.
Sakit.
Rasanya seperti ada yang mencabut sumsum dari tulangku.
[PERINGATAN] [SEGEL TIGA ALAM: PEMISAHAN GAGAL] [HARGA HARUS DIBAYAR: 10 TAHUN UMUR]
Angka "28" muncul di kepalaku. Lalu "27". Lalu "26".
Umurku berkurang.
"BERHENTI!" Ibu berlari. Ia menebas tangan itu dengan pedang esnya. PRAK!
Tangan itu terputus. Tapi dari cermin keluar 10 tangan lagi.
"Ibu jangan!" aku berteriak. "Lukamu!"
"Sudah kubilang aku ibumu!" teriaknya balik. "Dan ibu tidak akan biarkan anaknya mati!"
Ia berdiri di depanku. Melindungiku lagi. Tubuhnya yang sudah terluka menahan semua serangan tangan-tangan itu.
Satu. Dua. Tiga.
Darahnya kembali mengucur.
Aku tidak bisa diam. Aku tidak mau jadi beban lagi.
"JAUH!"
Aku mendorong Ibu ke belakang. Dan aku biarkan.
Aku biarkan darah siluman mengambil alih 50%.
Mata ku berubah emas vertikal. Kukuku memanjang. Dari punggungku muncul bayangan sayap.
Dan aku berteriak.
Aura hitam keemasan meledak dan menghancurkan semua tangan itu. Cermin bergetar hebat.
DUAAAAARRRR!!!
Cermin itu... pecah.
Puluhan keping kaca hitam berhamburan. Dan dari dalam pecahan itu, keluar suara.
Suara tawa.
"Akhirnya... 10.000 tahun..."
Dari tengah pecahan cermin, asap hitam mengumpul. Membentuk sesosok pria. Jubah compang-camping. Mahkota dari tulang. Matanya merah.
Raja Iblis.
Yang disegel di dalam Cermin Nirwana.
Bagian 4: Konsekuensi
Semuanya terjadi terlalu cepat.
Raja Iblis menatapku. Lalu menatap Ibu yang tergeletak.
"Menarik," katanya. Suaranya serak. "Anak dengan tiga darah. Dan seorang dewi bodoh yang mau mati demi dia."
Ia menjentikkan jari. Tubuh Ibu melayang ke arahnya.
"LEPASKAN!" aku meraung.
Aku melesat. Tapi aku terlalu lambat.
Raja Iblis menepuk dahi Ibu. "Hmm. Luka Hukum Langit. Kau akan mati dalam 3 hari jika tidak disembuhkan."
Ia tertawa. "Tapi aku baik hati. Aku akan membiarkanmu hidup. Dengan satu syarat."
Ia menatapku. "Jadilah wadahku. Biarkan aku tinggal di tubuhmu. Dan aku akan sembuhkan ibumu."
Dunia berhenti.
Pilihan. Lagi-lagi pilihan.
Biarkan Ibu mati. Atau biarkan iblis masuk ke tubuhku.
Aku menatap Ibu. Bibirnya bergerak pelan. Tidak ada suara. Tapi aku bisa membacanya.
"Jangan."
Aku mengepalkan tangan sampai berdarah.
"Enyah," kataku. Suaraku rendah. Tapi seluruh kuil bergetar. "Jangan sentuh dia."
Raja Iblis menyipit. "Kau yakin? Tanpa aku, dia mati."
"Lebih baik dia mati dengan kehormatan... daripada hidup karena aku menjadi monster."
Aku melangkah maju. Darah siluman di tubuhku mendidih.
"Jika kau mau dia... lewati aku dulu."
Raja Iblis tertawa. "Bagus. Sudah lama aku tidak bertarung."
Ia melempar tubuh Ibu ke samping. Aku menangkapnya.
"Tahan, Ibu," bisikku. "Aku janji."
Di luar kuil, suara gemuruh semakin dekat. Penegak Hukum sudah di gerbang.
Di dalam, Raja Iblis sudah siap bertarung.
Dan aku... aku hanya punya 50% kendali atas diriku sendiri.
Pertarungan di Kuil Iblis... baru saja dimulai.