Arga Danendra, CEO muda pemegang kendali kerajaan bisnis terbesar, memiliki hati sedingin es. Dikhianati dan dicampakkan oleh wanita yang sangat dicintainya di masa lalu saat ia belum bergelimang harta, Arga kini memandang sinis semua wanita. Baginya, mereka hanyalah makhluk serakah yang memuja kekayaan.
Namun, takdir berkata lain ketika sebuah insiden penyerangan memaksanya bersembunyi di permukiman pinggiran kota. Dalam kondisi terluka parah dan kehilangan memori sementaranya, ia diselamatkan oleh Senja Kirana, gadis yatim piatu yang hidup miskin namun memiliki senyum secerah matahari. Tanpa memandang status atau harta, Senja merawat pria asing itu dengan tulus dan penuh kasih sayang. Kepolosan, keluguan, dan kehangatan Senja perlahan meruntuhkan dinding es di hati Arga, mengembalikan warna hidupnya yang telah lama sirna.
Ketika ingatan Arga kembali dan mantan kekasihnya muncul lagi demi mengincar posisi nyonya besar, sang CEO muda bersumpah akan menggunakan seluruh kekuasaannya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon achmad abdur roufur rokhim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33: Angsa Hitam di Menara Kaca dan Wajan Gosong Sang Penakluk
Matahari bersinar terik menyengat ubun-ubun di atas alun-alun kecamatan.
Tiga hari telah berlalu sejak Arga Danendra resmi menjabat sebagai "asisten dapur serabutan" di Kedai Roti Mbah Uti. Dan selama tiga hari itu pula, Raka Narendra—tangan kanan sang miliarder—mengalami krisis identitas yang luar biasa parah.
Raka duduk berjongkok di bawah pohon beringin alun-alun, mengenakan kaus oblong partai yang entah ia dapatkan dari mana, celana pendek selutut, dan sandal jepit beda warna (kiri hijau, kanan biru). Di tangannya, ia memegang es teh manis dalam plastik yang diikat karet gelang.
Ia menatap kosong ke arah ruko Mbah Uti di seberang jalan.
"Dulu aku mengatur merger perusahaan bernilai triliunan rupiah di Wall Street..." ratap Raka merana, menyedot es tehnya dengan wajah memelas. "Sekarang tugasku adalah menjaga alun-alun dari serangan ayam kampung agar tidak masuk ke kedai bosku. Tolong... siapa saja, culik aku kembali ke Jakarta."
Sementara sang asisten meratapi nasibnya, pemandangan di area dapur belakang Kedai Mbah Uti justru jauh lebih epik.
Arga Danendra, pria yang biasanya duduk di kursi kulit Italia sambil menandatangani cek miliaran rupiah, kini sedang berjongkok di depan keran air sumur. Ia mengenakan kaus hitam usang yang sudah basah kuyup oleh keringat, memperlihatkan cetakan otot perut dan dadanya yang sempurna. Di tangannya, terdapat sebuah sikat kawat dan sebongkah sabun colek.
Musuh terbesarnya hari ini bukanlah dewan direksi yang korup, melainkan sebuah wajan raksasa berwarna hitam legam yang gosong akibat kerak karamel.
"Sialan, kerak ini lebih keras kepala daripada saham Wijaya Group," geram Arga pelan, menggosok wajan itu dengan tenaga penuh hingga urat-urat di lengannya menonjol.
Senja, yang sedang memotong adonan roti di meja dapur, diam-diam melirik ke arah pria raksasa itu.
Jantung Senja berdebar tak karuan. Ia sudah berusaha sekuat tenaga untuk bersikap dingin, jutek, dan mengabaikan Arga selama tiga hari ini. Ia menyuruh pria itu melakukan pekerjaan yang paling berat dan paling kotor, berharap Arga menyerah, muak, lalu kembali ke Jakarta.
Namun, bukannya menyerah, Arga justru melakukan semuanya tanpa mengeluh satu patah kata pun. Pria arogan itu benar-benar menekan egonya hingga ke titik nol. Melihat keringat yang menetes dari pelipis Arga dan wajahnya yang tercoreng noda arang, pertahanan es di hati Senja perlahan mulai mencair, meski ia mati-matian menyangkalnya.
Tiba-tiba, suara dering telepon yang sangat nyaring memecah keheningan alun-alun.
Raka yang sedang berjongkok di bawah pohon beringin tersentak kaget. Ia merogoh saku celana pendeknya, mengeluarkan sebuah ponsel satelit militer berlapis titanium yang sangat kontras dengan penampilannya yang seperti gembel.
"Halo? Markas Besar Danendra Group, dengan Raka si Penjaga Ayam di sini," angkat Raka asal-asalan.
"Pak Raka!! Gawat Darurat Kode Merah!!" teriak Kepala Keamanan Danendra Group dari Jakarta, suaranya terdengar panik dan bising oleh suara keributan di latar belakang. "Nyonya Natasha! Dia menerobos masuk ke lobi VVIP membawa segerombolan wartawan hiburan! Dia menangis di depan kamera, bertingkah seolah dia masih tunangan Tuan Arga yang teraniaya, dan menuntut untuk bertemu Bos sekarang juga!"
Mata Raka seketika membelalak. Kantuk dan kemalasannya menguap tanpa sisa.
"Apa kau bilang?! Wanita ular itu berani membawa wartawan ke lobi kita?!" desis Raka, insting pembunuhnya sebagai tangan kanan kembali menyala.
"I-Iya, Pak! Dia mengancam akan menyebarkan berita bahwa Tuan Arga menelantarkannya jika tidak diizinkan naik! Kami tidak berani menggunakan kekerasan fisik di depan puluhan kamera wartawan tanpa perintah langsung dari Tuan Arga! Apa yang harus kami lakukan?!"
"Tahan dia di sana! Aku akan menyambungkan video ke Tuan Arga sekarang juga!"
Raka langsung mematikan telepon. Ia melompat dari posisinya, melempar es teh plastiknya ke sembarang arah, dan berlari sekencang-kencangnya menyeberangi jalan raya menuju kedai roti.
"BOS!! BOS ARGA!!" teriak Raka heboh, menerobos masuk ke dalam kedai dan langsung melesat ke area dapur belakang, mengabaikan Mbah Uti yang sedang tertidur di kursi goyang.
Arga yang baru saja berhasil merontokkan kerak gosong di wajannya, menoleh dengan dahi berkerut tajam. "Ada apa kau berteriak seperti orang gila? Kau membuat Senja terkejut."
Senja yang sedang memegang pisau adonan ikut menoleh, menatap Raka dengan raut bingung.
"Bos! Ini darurat tingkat neraka!" Raka menyodorkan layar tablet-nya yang sudah terhubung dengan kamera pengawas lobi utama gedung Danendra Group di Jakarta.
Di layar itu, tampak suasana lobi pualam yang megah sedang ricuh. Natasha, dengan gaun merah desainer yang mencolok, sedang menangis bombay di depan puluhan kamera wartawan. Ia bertingkah layaknya ratu yang sedang dizalimi, menyeka air mata palsunya dengan saputangan sutra.
"Arga... aku tahu kau masih marah padaku," suara isakan Natasha dari kamera lobi terdengar jelas di tablet Raka. "Tapi tolong temui aku, Sayang. Jangan buang masa lalu kita tujuh tahun yang lalu begitu saja hanya karena kesalahpahaman. Aku sudah kembali untukmu!"
Mendengar nama Natasha dan melihat wanita cantik beraura super mewah di layar itu, tubuh Senja tiba-tiba menegang. Pisau adonan di tangannya berhenti bergerak.
Itukah... Natasha? Mantan kekasihnya yang dulu membuangnya? Wanita yang membuat Arga trauma? batin Senja. Rasa rendah diri seketika menyergap dada Senja. Dibandingkan dengan wanita bergaun merah yang berkilauan itu, Senja menyadari dirinya memang tidak lebih dari sekadar pelayan lusuh berseragam celemek penuh tepung.
Melihat Natasha berani membuat drama murahan di kantornya, rahang Arga mengeras hingga terdengar bunyi gemeletuk gigi. Mata elangnya berkilat dipenuhi aura membunuh yang sangat pekat. Namun, saat ekor matanya menangkap raut wajah Senja yang mendadak sedih dan menunduk, kemarahan Arga berubah menjadi kepanikan.
Arga langsung melempar sikat kawatnya ke dalam ember, mencuci tangannya dengan kilat di keran, dan merampas tablet itu dari tangan Raka.
"Sambungkan audionya ke pengeras suara utama di lobi Jakarta. Sekarang," perintah Arga dengan suara bariton yang sangat rendah dan mematikan.
Raka dengan cepat menekan beberapa tombol, menghubungkan perangkat mereka secara langsung ke sistem suara surround di lobi VVIP Danendra Group yang berjarak ratusan kilometer dari desa itu.
Di Jakarta, suasana lobi yang bising oleh jepretan kamera wartawan mendadak hening ketika sebuah suara dehaman berat menggelegar dari seluruh speaker tersembunyi di langit-langit gedung.
Sebuah layar monitor raksasa di belakang meja resepsionis yang biasanya menampilkan grafik saham, tiba-tiba berkedip dan menyala.
Di layar raksasa itu, muncullah wajah Arga Danendra.
Semua orang di lobi menahan napas. Natasha langsung menghentikan tangisan palsunya dan tersenyum penuh kemenangan, mengira rencananya berhasil memancing sang CEO keluar.
Namun, detik berikutnya, seluruh wartawan dan Natasha ternganga tak percaya melihat penampilan pria nomor satu di Asia Tenggara itu.
Bukannya mengenakan jas mahal dan duduk di ruang kerja mewah, Arga di layar tampak mengenakan kaus hitam usang yang basah oleh keringat. Wajahnya yang tampan terlihat kotor oleh corengan arang hitam di dahi dan pipinya. Latar belakang video itu bukanlah dinding marmer, melainkan tumpukan karung tepung, rak kayu tua, dan sebuah keran air berlumut!
"A-Arga? Sayang? Kau... kau di mana? Kenapa kau berpenampilan seperti kuli bangunan begitu?" tanya Natasha tergagap, riasan sempurnanya gagal menutupi keterkejutannya.
Arga menatap tajam ke arah kamera tablet di tangannya, yang diproyeksikan langsung ke layar raksasa di Jakarta.
"Siapa yang mengizinkan lalat limbah ini masuk ke gedungku?" Suara Arga menggema di seluruh lobi, sedingin es abadi, tanpa sapaan, tanpa ampun.
Wajah Natasha seketika memerah padam karena dipermalukan di depan wartawan. Ia mencoba mempertahankan senyumnya yang mulai bergetar. "Arga... ini aku, Natasha. Cinta pertamamu. Aku tahu kau sedang mengujiku. Tapi tolong, mari kita bicara berdua. Jangan biarkan orang-orang melihat kita bertengkar seperti ini."
"Cinta pertama?" Arga tertawa sumbang, sebuah tawa yang merendahkan hingga ke dasar bumi. Ia sengaja menaikkan volume suaranya agar terdengar jelas tidak hanya oleh wartawan di Jakarta, tapi juga oleh gadis pembuat roti yang sedang berdiri di belakangnya.
"Kau bukan cinta pertamaku, Natasha. Kau adalah kesalahan masa remajaku yang paling menjijikkan. Kau adalah tong sampah dari masa laluku yang sudah kubakar hingga menjadi abu tujuh tahun yang lalu."
Jleb!
Wartawan di lobi mulai berbisik riuh, kamera mereka merekam setiap detik penghinaan brutal ini. Natasha mundur selangkah, air matanya kini bukan lagi air mata buaya, melainkan air mata shock dan rasa malu yang luar biasa.
"A-Arga... teganya kau berbicara seperti itu padaku?!" jerit Natasha histeris, topeng malaikatnya mulai retak. "Aku tahu kau menyembunyikan pelayan miskin di suatu tempat! Kau melakukan ini hanya untuk membuatku cemburu, kan?! Pria sekelas dirimu tidak mungkin mencintai gadis gembel rendahan!"
Mendengar Senja dihina sebagai 'gadis gembel rendahan', mata Arga yang tadinya hanya dingin, kini berubah menjadi sorot pembunuh berdarah dingin. Urat-urat di lehernya menonjol.
"Tutup mulut kotor penuh racunmu itu, Natasha," geram Arga, suaranya sangat pelan namun auranya bisa dirasakan hingga menembus layar. "Wanita yang kau sebut pelayan itu memiliki harga diri yang jauh lebih mahal dari seluruh nyawamu dan seluruh tas mewahmu yang kau beli dengan melacurkan diri pada pria tua di Eropa."
Semua orang di lobi Jakarta tersentak kaget. Fakta kebangkrutan dan perceraian Natasha dengan pria tua itu dibongkar tanpa ampun di depan pers nasional! Karir sosialita Natasha hancur seketika.
"Kepala Keamanan!" perintah Arga mutlak.
Di Jakarta, pria berseragam hitam langsung berdiri tegap menghadap layar. "Siap, Tuan!"
"Seret wanita itu keluar dari gedungku sekarang juga. Buang dia ke trotoar jalan. Jika dia, atau siapa pun dari keluarganya, berani menginjakkan kaki dalam radius satu kilometer dari aset Danendra Group... patahkan kedua kakinya dan lempar ke penjara dengan tuduhan pencemaran nama baik. Dan pastikan seluruh saluran televisi menyiarkan wajah jeleknya ini sebagai penipu kelas kakap."
"S-Siap, Tuan Arga!"
Natasha menjerit histeris. "TIDAK!! ARGA, KAU TIDAK BISA MELAKUKAN INI PADAKU! ARGA!!"
Dua orang petugas keamanan bertubuh raksasa langsung mencengkeram lengan Natasha tanpa belas kasihan, menyeret wanita yang sedang meronta dan memaki-maki itu keluar dari lobi, diiringi kilatan blitz kamera wartawan yang mengerubunginya layaknya semut pada gula.
Arga tidak peduli. Ia langsung menekan tombol merah, memutuskan panggilan video tersebut secara sepihak.
Suasana di area dapur belakang Kedai Mbah Uti mendadak hening. Hanya terdengar suara gemericik air dari keran yang setengah terbuka.
Raka menelan ludah, pelan-pelan mundur teratur dan menyelinap keluar dari dapur menuju alun-alun, tahu bahwa ini adalah momen yang tidak boleh ia ganggu.
Arga meletakkan tablet itu ke atas meja kayu dengan perlahan. Ia menarik napas panjang, menetralkan detak jantungnya, dan menekan kembali aura Tiran yang sempat lepas kendali.
Pria raksasa itu kemudian membalikkan badannya perlahan, menatap Senja yang masih berdiri kaku di depan meja adonan.
Senja menatap Arga dengan pandangan yang sulit diartikan. Gadis itu baru saja menyaksikan secara langsung—untuk pertama kalinya—bagaimana Arga menghancurkan masa lalunya tanpa keraguan sedikit pun demi membela kehormatan Senja. Arga baru saja membuang wanita secantik dan sekaya Natasha bagaikan membuang kantong sampah beracun.
Dan untuk pertama kalinya, Senja bisa melihat dengan sangat jelas... bahwa Arga Danendra tidak sedang mempermainkannya. Ketakutan Arga kehilangan dirinya adalah nyata. Cinta pria itu, seburuk apa pun cara penyampaiannya di masa lalu, adalah murni dan tidak tergoyahkan.
"Senja..." Arga memecah keheningan. Suaranya kembali berubah menjadi bariton yang sangat lembut, rapuh, dan penuh harap.
Pria yang baru saja mengguncang dunia hiburan dan bisnis ibukota itu, kini mengangkat kedua tangannya yang masih dipenuhi busa sabun colek dan noda hitam arang. Ia menatap wajah Senja dengan raut memelas yang persis seperti anak anjing yang takut dibuang.
"Wajannya sudah bersih... dan pancinya sudah kugosok semua sampai mengilap," ucap Arga dengan nada yang sangat polos, membuang jauh-jauh sisa keangkuhannya. Ia mengerjap beberapa kali. "Cuacanya panas sekali... Boleh... boleh aku minta air minum segelas? Tolong, jangan usir aku."
Melihat kontras yang sangat tidak masuk akal ini—seorang CEO kejam yang baru saja memusnahkan musuhnya di layar raksasa, kini merengek meminta segelas air putih sambil memamerkan wajah belepotan arang—pertahanan es di hati Senja yang terakhir, akhirnya benar-benar hancur lebur.
Gadis itu tidak sanggup lagi menahan tawanya.
Sebuah tawa kecil, renyah, dan sangat merdu meluncur dari bibir Senja. Air matanya menetes, namun kali ini bukan air mata kepedihan, melainkan air mata kelegaan yang luar biasa.
Arga terpaku menatap senyuman itu. Jantungnya seakan berhenti berdetak. Itu adalah senyuman pertama yang Senja berikan padanya sejak malam mengerikan di hotel bulan lalu. Senyuman yang mengisyaratkan bahwa dinding batu itu telah runtuh.
Senja meletakkan pisau adonannya, mengambil sebuah gelas plastik, mengisinya dengan air putih dingin dari teko, lalu melangkah mendekati Arga.
"Kau ini benar-benar pria paling bodoh, keras kepala, dan menyebalkan yang pernah kukenal, Tuan Arga Danendra," omel Senja pelan, namun nadanya tidak lagi tajam, melainkan terdengar seperti omelan penuh kasih sayang.
Senja menyodorkan gelas air itu ke depan dada Arga. "Minumlah. Setelah itu, bilas wajahmu. Kerak arang itu membuatmu terlihat seperti preman pasar yang habis dikeroyok massa."
Arga menerima gelas itu dengan tangan bergetar, seolah ia baru saja menerima cawan suci dari surga. Ia menatap Senja dengan binar kebahagiaan yang nyaris meledakkan dadanya.
"Aku akan mencuci piring seumur hidupku jika itu bisa membuatmu terus tersenyum padaku seperti ini, Bidadari," bisik Arga tulus, sebelum meneguk air putih itu dengan rakus, mengalirkan kehidupan baru ke dalam jiwanya yang sempat mati.
[Pesan Author:]
(Ada kepuasan tersendiri melihat sang angsa hitam yang arogan akhirnya ditumbangkan oleh karma yang diciptakannya sendiri. Natasha datang dengan delusi bahwa masa lalu bisa ditukar dengan masa depan, tanpa menyadari bahwa bagi seorang pria sejati, wanita yang menemani di saat ia berdarah-darah tidak akan pernah bisa digantikan oleh wanita yang meninggalkannya di saat ia miskin.
Adegan wajan gosong ini bukan sekadar komedi; ini adalah simbolisme yang sangat kuat. Arga rela mengotori tangannya dan menanggalkan kesombongannya demi membuktikan bahwa cintanya pada Senja tidak bergantung pada harta atau takhta. Dan Senja, gadis dengan hati seluas samudra itu, pada akhirnya memilih untuk memaafkan. Ia sadar, memaafkan bukan berarti membenarkan kebohongan masa lalu, tetapi memberikan kesempatan bagi dua jiwa yang terluka untuk menyembuhkan satu sama lain dengan cara yang lebih benar. Cinta tidak selalu datang dalam bentuk kereta kencana; terkadang, ia datang dalam wujud pria belepotan arang yang rela berlutut menggosok wajan demi segelas air dari tangan orang yang ia cintai.)