Indonesia
NovelToon NovelToon
Ayo Tinggalkan Papa, Nak

Ayo Tinggalkan Papa, Nak

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Selingkuh / Balas Dendam
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Mur Diyanti

Azarin mengira, setelah ia melahirkan anak, Fajar akan bersyukur dan menganggapnya istri.

Namun semua harapan itu hancur setelah ia mendengar percakapan suami dan Ibunya.

Fajar, tidak pernah menganggapnya istri. Baginya hadirnya Mia dalam hidupnya adalah aib. Dan akan membuang Mia dengan dalih kecelakaan.

Mendengarnya Azarin langsung lemas. Ia pun memutuskan untuk kabur malam itu juga, dan tidak lagi mengharapkan belas kasih Fajar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mur Diyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

kiss on the balcony

Azarin spontan menoleh, melotot yang bagi Dean cukup menggemaskan.

"Cemburu?!" seru Azarin naik satu oktaf.

Pria di depannta menahan senyumnya seraya menenggak minuman hingga tandas.

"Yaa...dari gelagatmu menunjukan kalo kamu sedang cemburu."

Azarin berdecih malas, berdiri cepat. Berbalik hendak pergi dari sana.

Namun tangannya tiba-tiba ditarik dari belakang, hingga pantatnya jatuh di pangkuan Dean.

"Tuan apa yang kamu—!"

Hening.

Azarin melotot lebar saat rahangnya tiba-tiba di tarik dan bibirnya di kecup oleh Dean.

Semakin lama, kecupan itu berubah menjadi lum*tan lembut yang memabukkan, sukses membuat sekujur tubuhnya meremang panas.

Makin melotot ia saat l*dah Dean hendak menelusup masuk. Ia dorong kuat dada Dean dari hadapannya, bangkit dari duduk.

"Kamu—!"

Ia tutup mulutnya dengan lengan seraya menunjuk Dean geram. Untuk sesaat ia lupa harus berucap apa, saking syok-nya dengan pergerakan yang tiba-tiba.

Pria itu menyeringai tipis, mengusap bibir bawahnya dengan jempol tenang.

Ia berdiri dari duduknya seraya menatap sang calon istri dengan tatapan yang sulit di mengerti.

"Maaf, aku tidak bisa menahannya."

"Maaf...maaf...kamu sudah mencuri start!"

Sial.

Kenapa saat sedang marah begini calon istriku terlihat begitu menggemaskan?!

Bukan hanya sekedar ciuman, aku jadi ingin segera menikahinya sekarang juga!

"Baiklah, apa yang harus ku bayar biar kamu merasa tenang?"

Azarin lirik pria yang begitu tenang di depannya malas, memalingkan wajah kesal.

"Gaada. Lagian aku bukan LC!"

"Pfftt!"

"Apa?!" sentak wanita itu lagi.

Dean tersenyum menggeleng, ia jalan mendekati Azarin dengan langkah tenang, membusungkan dadanya seolah memperlihatkan teritori dan kuasanya di hadapan sang calon istri.

Ia condongkan tubuhnya ke hadapan Azarin, mengsejajarkan wajahnya dengan wajah wanita yang bersemu merah itu.

"Berhenti mengujiku, Azarin. Aku sudah begitu lama menahannya."

Tubuh Azarin terpaku, seolah sulit untuk bergerak. Nafasnya tertahan sampai akhirnya Dean menegakkan kembali punggungnya.

"Ak-aku ga mengerti yang tuan maksud!" kilah Azarin, menutupi dadanya perlahan.

Dean duduk dengan tenang di kursinya, menatap langit-langit intens.

Dapat Azarin lihat jakun itu naik turun perlahan. Seperti, menahan hasrat yang sulit ia mengerti.

Dean menoleh perlahan, menatap wanitanya dengan mata sayu yang memabukkan.

"Kamu tidak tau seberapa liarnya pria perjaka matang ini bukan?"

Sepasang mata wanita itu membeliak, menatap ke tanah gugup, seketika tubuhnya memberi warning tak kasat mata.

Dean kembali menatap langit-langit malam intens.

"Seperti hal-nya hewan yang memiliki masa estrus. Aku juga memilikinya."

Kening Azarin mengerut, "Estrus? Apa itu?"

Dean tersenyum smirk. Ia berdiri perlahan, meraih tangan Azarin dalam genggamannya, mengajaknya berhenti.

"Bagus jika kau tidak tahu. Dan tidak usah tahu."

Azarin tertegun, berdiri sedikit oyong akibat gaun bawahnya terinjak. Seraya mengikuti langkah Dean masuk.

"Tapi aku penasaran, Tuan."

"Jangan."

"Kenapa?"

"Kubilang jangan."

"Aku cari di google aja."

"Maka kau yang ku makan."

Dan...seterusnya obrolan singkat mereka yang terus terjalin.

Dari balkon hotel, hingga kembali ke ballroom.

Azarin terus menguji, sementara Dean terus menahan.

Untungnya Dean masih bisa mengontrolnya, dan mengantarkan Azarin pulang tanpa terjadi hal yang tidak diinginkan.

"Langsung tidur, mengerti?" tekan Dean sesampainya mereka di rumah Azarin.

Wanita itu tersenyum mengangguk, menggenggam kedua tangan Dean lembut.

"Makasih tuan untuk hari ini."

Dean elus pucuk kepala Azarin lembut, merunduk mengsejajarkan wajah dengan Azarin.

CUP!

Cukup lama Dean mengecup kening Azarin, lalu menegakkan punggungnya kembali perlahan.

"Selamat malam, semestaku. Jika ada apa-apa kabari aku."

Yang dibalas anggukan kecil Azarin.

"Gamau mampir dulu?"

Dean refleks telan ludah, menatap jarum jam di pergelangan tangannya.

"Apa kamu tidak khawatir mengajak pria lajang sepertiku masuk ke rumah di jam segini?"

Kening Azarin mengerut kecil. Menggeleng lemah.

Ia benar-benar tak mengerti maksud Dean sebenarnya.

"Kenapa harus khawatir? Kan hanya mampir sebentar. Lagian masih jam 11."

Dean memejam kuat, rahangnya mengetat, urat lehernya sampai naik ke rahang.

Pria itu tersenyum tipis, menatap Azarin intens.

Ia tak mengerti entah Azarin memang dasarnya polos, atau pura-pura polos.

Namun entah mengapa, Dean jadi sedikit ingin menggodanya.

Ia melangkah maju ke arah Azarin. Sukses membuat wanita itu menegang, refleks mundur.

"Ap-apa?" gagapnya.

Dean menarik sudut bibirnya tipis, menatap lekat manik mata yang mulai tegang di bawahnya.

"Bukankah kau tadi menginginkanku mampir? Aku akan masuk sekarang."

Azarin mengangguk saja. Namun apa yang Dean ucapkan, dan apa yang pria itu lakukan berbeda.

Padahal Azarin sudah membuka pintu. Namun bukannya masuk, Dean malah semakin maju ke arahnya. Memepet tubuh Azarin hingga mentok pada tembok.

"Tu-tuan...apa yang anda lakukan?!"

Untuk sesaat Azarin menyesal telah menawarkan pada Dean.

Azarin tidak polos. Dia tau, namun karena sudah lama tidak berurusan dengan lelaki, otak-nya jadi suka loading sedikit tentang hal gituan.

"Kenapa? Kau takut? Bukankah kau tadi senang menggodaku?" bisik Dean merunduk, mengsejajarkan wajahnya dengan wajah Azarin.

Azarin melotot menatap wajah Dean yang begitu lekat dan dekat itu. Hendak memalingkan wajah, namun tangan kekar Dean segera menahannya.

"Tuan, sepertinya anda salah paham deh." gagap Azarin, terkekeh gugup.

Dean semakin mendekatkan wajahnya, "Benarkan?" bahkan hidung mereka nyaris bersentuhan.

Dapat Dean rasakan nafas Dayana menyapu halus wajahnya.

Bulu kuduk di lehernya relfeks menegang. Ada desiran aneh yang mencuat di dalam sana, yang ingin sekali mendapatkan sesuatu yang diinginkan dari lama.

Dean belai lembut pipi Azarin dari rahang hingga ke dagu, menarik dagunya mendongak.

Dean tatap intens bibir ranum yang memerah di bawahnya. Refleks merunduk, menjulurkan l*dahnya tepat ke b*bir Azarin.

Namun belum sempat bersentuhan. Suara dari belakang mereka menghentikan langkah berani Dean.

"Sedang apa kalian?"

Dean dan Azarin membulat. Refleks saling menjauh.

Azarin rapihkan sedikit gaun dan rambutnya gugup.

Ternyata itu Naya.

Ia berdiri di depan teras kontrakan Azarin dengan Mia yang tertidur di gendongannya.

Naya tatap keduanya melongo. Sementara Azarin gugup setengah mati.

"Ng-Ngga papa!" seru Azarin kikuk, segera berlari menghampiri sahabatnya.

Ia raih tubuh Mia di pelukan Naya cepat.

"Maaf yah, jadi ngerepotin kamu."

Bukannya menjawab. Naya justru semakin intens menatapnya. Membuat Azarin gugup.

Naya tatap Azarin dan Dean bergantian.

"Kalian....sedang tidak marahan kan?"

"Ahh mana mungkin!" jawab Azarin tiba-tiba, terkekeh kecil, "Ta-tadi Tuan Dean hanya mengambil daun kering di rambutku, hihi."

Yang dibalas anggukan tenang pria itu.

Dean lantas berjalan mendekati Azarin. Meraih tubuh Mia yang tertidur itu pelan.

"Biar aku yang membawanya ke dalam. Tolong tunjukkan jalannya."

Azarin mengangguk cepat, "Ba-baiklah." mengekor di belakang Dean masuk ke dalam.

Sementara Naya masih di landa tanda tanya besar sepeninggalan mereka, mengelus dagunya perlahan.

"Bentar....keknya ada yang salah deh."

1
Adinda
hidupmu rumit banget naya, kalau suamimu belum mampu ngontrak dulu,uangnya dikumpulkan keburu nanti suamimu diambil pelakor
Adinda
tapi salah naya juga sih kalau suamimu gak mampu setidaknya kamu juga membantu jangan langsung minta rumah
Adinda
fajar sama naya aja
Adinda
mimpi saja kau fajar kalau mau azarin balik sama kamu,tidak akan pernah mau azarin balik sama kau fajar
Adinda
bawa semuanya rin, enak banget ginjalmu diambil,kamu mau dicerain anakmu mau dibawa kepanti
Dokkan Battle
BACOT GOBLOK
Ma Em
Azarin kalau tdk mau Dean seperti fajar makanya rubah penampilan Azarin dan hrs pede jgn merasa rendah diri , kalau Azarin merasa selalu rendah diri tdk berubah jadi wanita yg elegan dan penuh percaya diri pasti Dean akan semakin cinta pada Azarin .
Dynhz: kasih tau makee😭🤣
total 1 replies
𝐈𝐬𝐭𝐲 𝟏💋
lanjuut thor
Dynhz: siap😍
total 1 replies
𝐈𝐬𝐭𝐲 𝟏💋
udah nikah aja ma Dean, dari pada nanti di ganggu terus sama fajar ...
lanjuut thor.....
Dynhz: siap kakak😍
total 1 replies
𝐈𝐬𝐭𝐲 𝟏💋
nah udah tau kan sifat asli istri baru mu..😂😂
𝐈𝐬𝐭𝐲 𝟏💋
paling bagus emang cerai saja dan buktikan kalo kamu bisa tanpa suami ...
𝐈𝐬𝐭𝐲 𝟏💋
nyesek bgt bacanya...
Ma Em
Azarin jgn sampai kamu kena bujuk rayu fajar biarkan fajar menyesal karena itu pilihan fajar sendiri , semoga Azarin selalu bahagia bersama Mia sang putri tercinta dan semoga Azarin berjodoh dgn Dean 🤲.
Dokkan Battle: kalau ajarin rujuk fiks dia sakit mental
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!