Xiao Yi pernah menjadi pembunuh yang ditakuti dunia. Namun sebuah konspirasi merenggut nyawanya.
Ketika membuka mata kembali, ia justru terbangun di Benua Yanlong, dalam tubuh seorang tuan muda lemah yang baru saja dikhianati tunangannya dan dibunuh sepupunya sendiri.
Semua orang menganggapnya sampah.
Mereka tidak tahu bahwa Xiao Yi yang dahulu telah mati.
Kini, di tubuh itu hidup seorang petarung yang terbiasa berjalan di antara darah dan kematian. Lebih mengejutkan lagi, Pedang Bingluan yang ikut menyebabkan kematiannya muncul kembali sebagai Jiwa Bela Diri misterius.
Dengan kehidupan kedua dan kekuatan yang seharusnya tidak dimilikinya, Xiao Yi hanya memiliki satu jawaban bagi mereka yang ingin menginjaknya lagi:
Jika dunia ini menghormati yang kuat, maka ia akan berdiri di puncaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Otna Forever, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11: Modal Pertama
Baru beberapa langkah meninggalkan kediaman, Xiao Yi melihat dua sosok yang sangat dikenalnya.
Sudut bibirnya langsung terangkat.
"Hebat. Belum tiga hari sudah bertemu lagi."
Di depan sana, Xiao Jie dan Xiao Shi sedang mengeroyok seorang anak Klan Xiao yang usianya belum lebih dari sebelas tahun.
Anak itu sudah babak belur.
Namun kedua tangannya masih menggenggam sebuah botol pil kecil dan beberapa tael perak.
"Serahkan semuanya!"
Xiao Jie menendang kakinya.
"Kalau tidak, jangan salahkan kami kalau kakimu patah!"
Anak itu menggeleng keras.
"Tidak!"
Darah mengalir tipis dari sudut bibirnya.
"Pil Penguat Tubuh ini untuk kakakku. Dia akan ikut Turnamen Generasi Muda setengah bulan lagi."
Xiao Shi mendengus.
"Memangnya itu urusan kami?"
Ia melangkah maju.
Cahaya jingga mulai muncul dari tubuhnya.
Anak kecil itu jelas ketakutan, tetapi tetap tidak melepaskan botol pilnya.
Xiao Yi mengernyit.
Dari ingatan pemilik tubuh sebelumnya, pemandangan seperti ini sebenarnya bukan hal baru.
Xiao Jie dan Xiao Shi sering menindas anggota klan yang lebih lemah.
Sumber daya kultivasi milik mereka dirampas.
Uang diambil.
Kalau ada yang berani melapor, keduanya tinggal menyebut nama Xiao Ruohan.
Tidak banyak generasi muda yang ingin mencari masalah dengan genius kesayangan klan itu.
"Kalau kau memang ingin dipukul, jangan salahkan kami!"
Sulur api terbentuk di tangan Xiao Jie.
Ia baru hendak menyerang ketika—
Buk!
Sesuatu menghantam punggungnya.
"Aduh!"
Xiao Jie berbalik dengan marah.
"Siapa yang bosan hidup—"
Kalimatnya terhenti.
Wajahnya langsung berubah.
"Xiao... Xiao Yi?"
Xiao Shi yang semula garang ikut mundur setengah langkah.
Bayangan peristiwa beberapa hari lalu masih terlalu jelas di kepala mereka.
Xiao Yi menatap keduanya.
"Tadi siapa yang bosan hidup?"
"Tidak..."
Xiao Jie buru-buru mengubah ekspresi.
"Kami cuma bercanda."
Xiao Yi bahkan malas menanggapinya.
Ia menoleh kepada anak kecil yang masih terduduk.
"Pergilah."
Anak itu tertegun.
"Eh?"
"Bawa pil dan uangmu. Jangan berdiri di sini."
Barulah anak itu sadar.
Wajahnya langsung penuh kegembiraan.
"Terima kasih, Tuan Muda Xiao Yi!"
Ia berdiri lalu berlari pergi.
Xiao Jie dan Xiao Shi hanya bisa menatap dengan wajah kesal.
Namun tak satu pun berani mengejar.
Xiao Yi kembali memandang mereka.
"Sekarang giliran urusan kita."
Keduanya membeku.
"Apa... urusan apa?"
"Utang."
Wajah Xiao Jie langsung berkedut.
"Kami sedang mengumpulkannya."
"Benar!" Xiao Shi cepat-cepat menimpali. "Kami tidak lupa."
Xiao Yi tertawa kecil.
"Kalian masih sempat merampas pil orang lain, berarti usaha mengumpulkan uang cukup santai."
Ia melangkah maju.
"Kalau begitu, biar kubantu sedikit."
Wus!
Kedua pemuda itu bahkan tidak sempat melihat gerakannya.
Bentuk Macan Tutul.
Klik!
Klik!
Jeritan langsung terdengar.
"AARGH!"
Bahu Xiao Jie dan Xiao Shi terkilir hampir bersamaan.
Dengan kultivasi Xiao Yi yang kini sudah mencapai Alam Penempaan Tubuh Tingkat Empat, menangani keduanya bahkan lebih mudah daripada sebelumnya.
Xiao Jie memegangi lengannya.
"Dasar sampah—"
Plak!
Sebuah tamparan menghantam wajahnya.
Xiao Jie terjatuh.
Xiao Yi mengangkat alis.
"Kau mau mengulanginya?"
Xiao Shi langsung menutup mulut.
Namun Xiao Jie masih belum terima.
"Jangan terlalu sombong! Sepupu Ruohan pasti akan membalas semua ini!"
"Begitu?"
Xiao Yi membungkuk dan mengambil sebuah batu sebesar kepalan tangan.
Wajah keduanya berubah.
"Kau mau apa?"
Xiao Yi menimbang batu itu di telapak tangan.
"Aku cuma penasaran."
Ia tersenyum.
"Menurut kalian, lebih keras batu ini atau kepala kalian?"
Xiao Jie menelan ludah.
"Kau tidak akan berani!"
"Benarkah?"
Xiao Yi mengangkat batu.
"Aku bahkan menampar Xiao Ruohan di depan para tetua dan Diaken."
Tatapannya menjadi dingin.
"Kenapa aku harus takut kepada kalian?"
Batu itu meluncur.
Buk!
Meleset dari kepala Xiao Jie dan menghantam tanah di samping telinganya.
Wajah Xiao Jie langsung pucat.
"Paman Xiao!"
Ia hampir menangis.
"Ampuni kami!"
Xiao Shi ikut berteriak.
"Kami akan bayar!"
"Kapan?"
"Delapan hari!"
Xiao Yi mengambil batu lain.
"Lima hari!"
Batu masih belum dilepas.
"Tiga hari!"
Keduanya menjawab bersamaan.
"Tiga hari! Kami pasti bayar!"
Barulah Xiao Yi membuang batu tersebut.
"Bagus."
Ia menepuk tangannya.
"Tiga hari."
"Kalau sampai aku yang harus mencari kalian..."
Senyumnya menghilang.
"...lain kali bukan batu yang kubawa."
Keduanya langsung mengangguk.
Kemudian berlari seperti dikejar Binatang Roh.
Xiao Yi mendengus.
"Berani kepada yang lemah, tetapi gemetar begitu bertemu yang lebih kuat."
Di sekitar sana, beberapa anggota muda Klan Xiao memandangnya dengan ekspresi aneh.
Mereka seperti baru melihat sesuatu yang mustahil.
Xiao Yi?
Pemuda yang biasanya diam ketika dihina?
Baru saja menghajar Xiao Jie dan Xiao Shi sampai memohon ampun?
"Apa yang kalian lihat?"
Xiao Yi mengambil batu kecil lain.
Kerumunan langsung bubar.
Ia tertawa kecil lalu melanjutkan perjalanan.
Masih ada urusan yang lebih penting.
Membeli bahan obat.
Dan sebuah tungku alkimia.
***
Kota Ziyun memang bukan kota terbesar di Kabupaten Beishan, tetapi perdagangan di sini cukup berkembang.
Alasannya sederhana.
Tidak jauh dari kota terbentang Pegunungan Meteorit, wilayah luas yang dipenuhi mineral, tanaman obat, serta berbagai Binatang Roh.
Pedagang dari banyak daerah datang untuk mencari keuntungan.
Kultivator juga berdatangan.
Ada yang bekerja sebagai pengawal.
Ada yang memburu Binatang Roh.
Ada pula yang memasuki pegunungan untuk mencari bahan langka.
Karena itu, toko bahan obat bukan sesuatu yang sulit ditemukan.
Xiao Yi memilih salah satu toko terbesar di jalan utama.
Begitu masuk, seorang pelayan segera menyambut.
"Tuan Muda, apa yang Anda cari?"
"Tanaman Sulur Tanpa Hati, Bunga Delapan Kelopak, Akar Darah Merah, dan Rumput Enam Roh."
Xiao Yi berhenti sejenak.
"Dan ginseng tua."
Pelayan itu sedikit terkejut.
Bahan yang disebutkan bukan herbal biasa.
"Berapa banyak?"
"Lima bagian masing-masing."
Xiao Yi melanjutkan,
"Empat jenis pertama minimal berusia sepuluh tahun."
"Untuk ginseng, aku ingin yang berumur lebih dari seratus tahun."
Ekspresi pelayan langsung berubah.
"Ginseng seratus tahun?"
"Tak ada?"
"Ada!"
Ia buru-buru tersenyum.
"Tuan Muda tunggu sebentar."
Pelayan itu segera menuju bagian belakang toko.
***
Di ruangan belakang, ia menemui seorang lelaki tua.
"Pemilik."
"Ada apa?"
"Seorang pemuda ingin membeli lima bagian bahan untuk Pil Penguat Tubuh."
Pelayan itu ragu sebentar.
"Dia juga meminta lima ginseng berusia lebih dari seratus tahun."
Lelaki tua itu mengangkat kepala.
"Ginseng seratus tahun?"
"Ya."
Ia terdiam beberapa saat.
Barang tersebut sebenarnya sedang ia kumpulkan untuk kebutuhan alkimianya sendiri.
Namun setelah berpikir, ia berkata,
"Jual."
Pelayan itu terkejut.
"Tapi bukankah itu—"
"Beri diskon juga."
Kali ini pelayan benar-benar bingung.
Toko mereka hampir tidak pernah memberikan potongan harga.
Namun ia tidak berani membantah.
"Baik."
***
Tak lama kemudian, semua bahan sudah tersusun di depan Xiao Yi.
"Tuan Muda, total harga normalnya lima ratus tael."
Pelayan itu tersenyum.
"Namun pemilik memberikan potongan tiga puluh persen. Jadi Anda cukup membayar tiga ratus lima puluh tael."
Xiao Yi mengangkat alis.
"Diskon?"
Ia sudah memperkirakan harganya sebelumnya.
Empat bahan pertama merupakan komponen utama Pil Penguat Tubuh.
Sedangkan ginseng seratus tahun dibutuhkan untuk formula Pil Pemurnian Tubuh Sembilan Putaran.
Harga lima ratus tael memang wajar.
Justru potongan besar itu yang terasa aneh.
Namun Xiao Yi tidak menolak.
Kalau orang lain ingin memberinya harga murah, untuk apa dipermasalahkan?
"Aku juga membutuhkan tungku."
"Tentu."
Pelayan itu langsung membawanya ke bagian lain.
Ada tiga tungku dipajang.
"Ini Tungku Baja, lima puluh tael."
Ia menunjuk tungku kedua.
"Yang ini Tungku Emas. Dibuat sendiri oleh pemilik toko kami. Harganya dua ratus tael."
Kemudian yang terakhir.
"Dan ini Tungku Tiga Misteri."
Nada suaranya langsung terdengar bangga.
"Harta terbaik toko kami. Harganya delapan ratus tael."
Xiao Yi mengamati ketiganya.
Tungku pertama terlalu kasar.
Tungku ketiga memang bagus, bahkan Alkemis Tingkat Satu di Klan Xiao banyak menggunakan tungku dengan kualitas serupa.
Masalahnya hanya satu.
Mahal.
Ia belum memiliki uang sebanyak itu.
"Tungku Emas."
Xiao Yi menunjuk pilihan kedua.
"Ambil yang itu."
Pelayan tersenyum lebar.
"Tentu. Potongan harga yang sama tetap berlaku."
Setelah membayar, Xiao Yi memasukkan seluruh bahan dan tungku ke dalam Kantong Penyimpanan.
Lalu meninggalkan toko.
***
Begitu ia pergi, pemilik toko keluar dari ruangan belakang.
Matanya mengikuti punggung Xiao Yi dari kejauhan.
Pelayan tadi mendekat.
"Pemilik, saya masih tidak mengerti."
"Lima ginseng itu bukankah hendak Anda gunakan untuk mencoba menerobos menjadi Alkemis Tingkat Dua?"
"Kenapa malah dijual murah kepadanya?"
Lelaki tua itu tersenyum tipis.
"Kau hanya melihat harga barang."
"Lalu?"
"Tanaman Sulur Tanpa Hati, Bunga Delapan Kelopak, Akar Darah Merah, dan Rumput Enam Roh adalah bahan Pil Penguat Tubuh."
Pelayan mengangguk.
"Itu saya tahu."
"Tapi ginseng berusia seratus tahun bukan bagian dari formula tersebut."
Tatapan lelaki tua itu berubah serius.
"Artinya, pemuda itu mungkin sedang menyiapkan lebih dari satu jenis pil."
Pelayan tampak terkejut.
"Anda menduga dia seorang alkemis?"
"Kalau bukan dia, berarti ada alkemis di belakangnya."
Lelaki tua itu menyipitkan mata.
"Seseorang yang membutuhkan ginseng seratus tahun untuk pemurnian kemungkinan besar bukan Alkemis Tingkat Satu biasa."
"Bisa jadi Tingkat Dua."
"Bahkan..."
Ia berhenti.
"Tingkat Tiga."
Pelayan itu langsung menarik napas.
Di seluruh Kota Ziyun, Alkemis Tingkat Tiga dapat dihitung dengan jari.
"Mulai sekarang," kata pemilik toko, "kalau pemuda itu datang lagi, perlakukan dengan baik."
"Jangan mempersulitnya."
"Kalau bisa..."
Senyumnya semakin dalam.
"...buat dia ingin kembali ke toko kita."
Sementara itu, Xiao Yi yang sudah berjalan jauh sama sekali tidak mengetahui bahwa satu pembelian sederhana telah membuat seseorang salah menebak identitasnya.
Ia hanya memikirkan satu hal.
Di dalam Kantong Penyimpanannya kini sudah ada tungku.
Bahan juga lengkap.
Berikutnya...
adalah percobaan alkimia pertamanya.
......................
Bersambung...