Indonesia
NovelToon NovelToon
ILA ( Si Gadis Permata Biru)

ILA ( Si Gadis Permata Biru)

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Action / Fantasi / Light Novel
Popularitas:528
Nilai: 5
Nama Author: Arrosyad

Seorang santri barusaja bertemu dengan gadis mengerikan ketika menaiki bis, dia tidak jahat. tapi satu negara akan memburunya, tentu dengan sebuah tujuan. dan santri tersebut, dia akan menolong, meskipun tidak tahu apa yang akan dia hadapi selanjutnya. hidup lelaki itu akan berubah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arrosyad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pria bertongkat.

Dua puluh lima menit kemudian terasa cepat karena asyik memandangi keadaan kota Bandung raya. Kami akhirnya sampai di terminal. Dan lagi-lagi hal menarik di temukan di sini. Sebuah gedung berdiri kokoh di tengah terminal. Tak lupa bangunan-bangunan kecil di bawahnya.

*****

Terminal Lembang, Bandung.

Aku kembali memarkir motor. Mulai turun.

“Motornya akan ku tinggalkan di sini” Aku berkata. Sudah dari semalam aku pikirkan. Kunci di gital nya juga akan tetap menancap pada sepeda motor tersebut.

Ila juga turun. Dahinya mengernyit. “lah helm kita gimana? Uda punya helm, motor gak ada”

“Aku juga ada motor di rumah. Nanti aku ambil dulu untuk di bawa ke Jakarta” Balasku dengan tenang.

“ini terus mau taruh di mana?” Ila bertanya lagi. Suaranya tak kalah dengan suasana ramai terminal.

Aku berfikir sejenak. Melihat ke sembarang arah, berharap ada jawaban.

“ah iya” langsung di temukan. Aku segera melepas ranselku. Lumayan besar. Cukup untuk dua helm sekaligus. “barang-barangku pindah di tas kamu. Terus helmnya masukkan ke dalam tasku”

Ila memandangi tas ku. Mengangguk faham, dan ikut melepas tas punggung nya.

Aku membuka resleting tas. Memasukkan semua isi yang ada ke dalam tas Ila. Selepas itu langsung memasukkan dua helm. Benar perhitungan ku, satu tas cukup untuk dua helm.

“Oke siap” aku berkata mantap.

Akhirnya aku bisa segera menuju rumah. Sesuai rencana, aku juga akan langsung mengantar Ila setelah meminta izin dan mengambil motor.

Memasuki bangunan terminal, mata kami di buat tidak berkedip sedikit pun. Terminal ini bukan sekedar seperti tempat transit bis biasanya. Justru sepintas terlihat seperti tempat wisata. Banyak orang formal yang seakan menjadi biro wisata, menunjukkan sesuatu. Juga tak ke tinggalan orang berbakat yang menghibur dengan memainkan alat musik atau badut.

Ramai orang-orang lalu lalang beraktivitas, beberapa terlihat membawa koper, memanggul tas besar, bahkan ada yang masih menenteng kardus bertali. Hiruk pikuk terlihat sedikit berdesakan.

Terhitung puluhan papan hologram terlihat mengambang di langit-langit, memberi info jadwal keberangkatan bus dan tujuannya.

Aku membalik badan. Entah kenapa Ila tidak terasa berada di sampingku. Dan benar saja, Ila tidak ada di dekat ku.

Kemana anak itu. Aku mulai memutar tubuh, melirik cepat ke segala arah, mencari sosok remaja perempuan memakai jaket abu-abu tersebut.

Bisa-bisanya Ila meninggalkan ku di sini. Sialan. Awas saja kalau ketemu lagi.

“Bang” Itu suara Ila.

Aku menoleh ke arahnya. Ingin segera memarahi gadis itu tapi ku urungkan karena dia menawariku minuman botol.

Aku mengambil botol minuman tersebut. Sebalku sia-sia. Ila ternyata hanya pergi mencari minuman.

“ku kira kau pergi” ujarku mulai meneguk minuman. Eh seharusnya duduk dulu.

Ila tidak langsung membalas. Alis gadis itu menaik. Pipinya terlihat penuh, lalu mengempis seketika. “kagak lah. Mana mungkin”

Lengang. Iya yah.. Ila tidak mungkin meninggalkan ku di sini. Dia belum bertemu kakeknya.

“panik ya, di tinggal bentaran” Ila menggodaku.

Aku terbuyarkan. Ah apalah anak ini.

“kagak” balasku lugas.

Aku segera menuju kursi memanjang di pinggir, tepatnya menempel di nding. Melepas tas dan meletakkan nya di bawah. Kembali meneguk minuman.

Bangunan ini tidak tertutup. Panas dari luar tetap bisa masuk ke dalam. Pendingin udara yang ada tidak membantu banyak. Hanya mengurangi sedikit kadar panas

“Duduk Ila kalau minum” Ajak ku.

Ila menggeleng. “gak. Kita bakalan ke liatan Deket”

Aku terkesima. Aihh malu aku. Yaudah lah, bagus kalau paham mah.

Aku menyeringai pasi. “Kalau di bis nanti kita pisah ya?”

Ila sekarang yang tersentak. “yaudah dehh.. Kasih tempat cepet” Ila bergerak ingin duduk.

Aku terkejut, ceketan mencegahnya. “Ehh.. Nggak-nggak.. Kau udah bilang gamau duduk” Apa lah maksud anak ini. Kukira beneran mau stay halal.

Kami beristirahat sejenak, sambil memandangi aktivitas yang ada. Ternyata enak juga ngabisin uang untuk jalan-jalan, banyak yang tidak pernah aku lihat di sini.

“Bang. Ini kok orang tua mu belum balas ya?” Ila berkata. Memecah senggang. Gadis itu duduk di depanku menggunakan tas berisi helm.

Aku menatap Ila seketika.

Ah iya, aku lupa apa tujuanku sebenarnya. Kenapa aku sampai lupa jika memberikan pesan ke pada orang tuaku saat masih di rumah Pak Baruh.

“masa belum balas?” Tanyaku memastikan.

Ila mengangguk, meyakinkan. “Iya bang. Centang dua tapi abu abu”

Mungkin Orang tuaku terlalu sibuk bekerja. Tapi aku tetap merasa aneh karena hari sebelumnya aku sudah memastikan pulang shubuh hari ini. Mereka pasti akan mencariku, tapi kenapa tidak ada notif sedikit pun.

Aku mengamati Ila.

Gadis itu tiba-tiba cerah wajahnya. “Eh bang, ternyata kita ke Jakarta bisa pakai LRT” Ujarnya menatapku.

(Light Rail Transit)

Aku tidak langsung setuju. Sebenarnya masih ada pertimbangan yang membuatku sedikit bingung. Memutuskan harus pergi ke rumah Ila langsung atau ke rumah ku terlebih dahulu. Entah, karena Ila tadi memberi tahu jika orang tua ku belum membalas pesan, aku jadi khawatir.

“ke rumah ku dulu, gak papa?” Aku bertanya pada Ila. “kan Bogor dulu baru daerah Jakarta”

“niatannya memang gitu kok” Jawab Ila, matanya mengerjap.

Aku sedikit terkesima. “Kau serius ingin ke rumah ku?”

“iya. Kenapa emang?” Ila berkata mantap.

Gadis ini, apakah dia tidak malu? Jangan kan malu, memikirkan soal itu saja masih di pertanyakan.

Lengang. Di isi suara orang ramai, petugas berteriak, orang bernyanyi menghibur, dan anak-anak berseru gembira karena melihat Bis di luar sana.

“yaudah deh” aku akhirnya memutuskan.

Ila berseru girang. “yes. Ayo jalan-jalan lagi”

Aku berhembus melihatnya. “Hey, tetap waspada. Kita sedang berada di kota. Kau belum aman. Teknologi semakin canggih, mungkin wajah mu bisa saja terlacak sesuatu”

Ila terdiam seketika, kemudian mengangkat masker yang tersedia dari jaketnya sendiri.

Aku mulai berdiri. “stasiun nya jauh gak dari sini?”

Ila menggeleng. Ikut berdiri dan mengangkat tas ku –tas berisi helm. “ada satu stasiun tersedia di terminal ini. Tapi di tempat lain”

Aku mengambil tas ku. “yaudah ayo ke sana”

Ila membalik badan. Mulai menoleh ke segala arah, mencari sesuatu. “nah ke sana”

Mulai kembali berjalan, menerusuk di dalam ke rumunan ratusan orang. Ramai sekali, ini terminal atau bandara? Padahal bangunan tampak sangat luas di dalam. Tapi masih terlihat padat.

Beberapa menit melewati banyak hal. Toko oleh-oleh tempat membeli pasti di temukan di sembarang tempat. Sesekali ada resto kecil berisi makanan cepat saji, cafe, dan lain-lain.

“Ini tempat beli karcis bisnya di mana ya bang” Ila Tiba-tiba berkata di sampingku.

Eh, iya. Aku baru menyadarinya. Sejak awal masuk aku tidak melihat ada loket karcis untuk bis. Justru terminal ini lebih bisa di sebut mall. Banyak barang yang di jual di sini.

“paling ada di luar, kita kan belum ke halamannya” Jawab ku sembarang.

Kembali berjalan lagi. Papan hologram yang mengambang di langit memberikan informasi. Beberapa ke berangkatan bis, dan satu dua menunjukkan banyak garis yang berkelok-kelok saraf. Bukan itu maksudnya. Itu adalah peta. Adapun garis yang rumit tersebut adalah jalur.

Mungkin jalur LRT nya.

“harus nya gak jauh dari sini si..” Ila bergumam. kepalanya menoleh ke sembarang arah.

Masih mengikuti jalan nya gadis itu. Terkadang terhenti sesuatu karena suasana semakin padat.

Tiba-tiba terdengar notifikasi dari ponsel Ila. Kami berhenti sejenak, bersandar di sisi tembok.

“Ada notif dari stasiun” Ucap Ila, sambil mengetuk layar ponselnya. “wah keren. Terminal ini membuat akses ke dalam ponsel pengunjung secara otomatis. Isinya sebuah registrasi menjadi penumpang”

Aku melirik ponsel Ila. Apalah aku gak faham.

Jumlah penumpang? Isinya hanya itu. Sebelumnya ada dua pertanyaan, dan Ila sudah menjawabnya. Anak itu membalas pertanyaan tersebut dengan angka dua.

Register pun selesai. “Apalah ini, aku tidak faham” Aku bersemu.

“Yahaha. Gapapa, santri wajar kurang tau dunia luar” Ila tertawa. Mulai memasukkan ponsel ke dalam saku jaketnya.

Lanjut jalan lagi. Tidak lama kemudian akhirnya sampai di stasiun. Di bawah tanah. Sebelumnya kami menuruni tangga. Ila melihat ponsel lagi.

“nah, hoki kita” Ila menatapku. Tersenyum –kurasa itulah yang ada di balik maskernya. “Sepuluh menit lagi lokomotif nya tiba”

Hanya hitungan menit dari pusat terminal sebelumnya. Stasiun ternyata terletak di bawah tanah. Sungguh keren, aku baru pertama kali melihat lokomotif dalam pipa transparan. Orang-orang bisa masuk melewati beberapa pintu yang terdapat pada pipa tersebut.

Ke elokan stasiun jauh lebih modern dari terminal sebelumnya. Lantai terbuat dari marmer dan pualam mewah. Desain yang futuristik. Seperti dunia masa depan saja, aku melihat beberapa robot di sini, beberapa sedang melakukan pemeriksaan pada antrian penumpang, dan yang lain menjaga di sebelah pintu masuk pipa lokomotif.

Ila menepuk pundak ku. “Hey, bengong”

Lamunan ku terbuyarkan. “keren, hihi”

“Ayo daftar dulu” Ila memimpin di depanku.

Aku ikut mengantri pemeriksaan robot. Dalam hitungan detik, tibalah giliranku dan Ila. Gadis itu menaikkan ponselnya pada suatu sensor pada permukaan tubuh robot.

Seperti biasanya, aku tidak paham apa yang terjadi. Ila kembali berjalan ke depan. Tepatnya menuju tempat menunggu lokomotif. Kursi yang ada sudah penuh terpaksa kami menunggu sambil berdiri, sama seperti ke banyakan orang.

“Ini dia” Ila melihat ke dalam terowongan. Cahaya mulai ke luar dari sana, di susul lokomotif yang perlahan berhenti.

Beberapa detik senggang. Banyak orang tersita pandangan oleh lokomotif tersebut. Pintu akhirnya terbuka. Ponsel Ila seketika mendapat notif.

Ila menoleh ke arahku. “ayo masuk”

Aku mengangguk. Mulai memasuki gerbong lokomotif dengan teratur bersama penumpang lainnya.

Di saat keadaan agak berdesakan dengan penumpang lain yang ingin masuk gerbong.

“HEIII. HENTIKAN ANAK ITU!!!!” Tiba-tiba ada yang berteriak.

Aku spontan menoleh ke belakang, Ila juga. Tapi kami sudah di dalam kabin lokomotif. Seorang petugas terlihat berlari dari atas stasiun di ke jauhan.

Penumpang di luar –yang menunggu lokomotif lainnya, terenyak menatap petugas tersebut. Begitu juga penumpang yang sudah berada di dalam kabin bersama kami.

“TANGKAP GADIS BERJAKET ABU-ABU ITU. Dia BURONAN!!” Petugas itu berseru lagi.

Aku tersentak. Semua mata juga langsung tertuju pada gadis berjaket abu-abu di sampingku. Siapa lagi kalau bukan Ila. Gadis itu menatap jeri sekitar. Panik. Beberapa orang mulai saling berbisik dan menggumam sesuatu.

Petugas yang tadi berteriak hampir mendekati Lokomotif. Orang itu tersengal menyingkap padatnya penumpang yang masih menunggu di luar. Tapi beruntung semua penumpang lokomotif ini telah sempurna masuk. Pintu tertutup.

Aku anggap satu masalah selesai. Sekarang ada masalah lain. Bagaimana menghadapi respon orang-orang yang terlanjur mendengar pernyataan petugas barusan. Lokomotif mulai berjalan. Kami aman dari petugas tersebut.

Tapi..

“Hey” satu orang mendekat. Aku segera mengulur tangan di depan Ila. Menghalangi.

“kau turunkan gadis itu nanti di stasiun selanjutnya” Ucap sinis orang itu. “kami tidak mau berurusan dengan petugas menyebalkan itu. Apapun alasanmu”

Sayup-sayup kembali terdengar orang-orang membisik. Lokomotif telah memasuki terowongan. Mulai berjalan cepat.

Aku bergetar. “ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan mu” Ujarku tegas.

“Lalu apa yang ingin kau lakukan? Terserah saja, aku tidak akan menyakiti kalian di sini. Tapi yang pasti kami akan menghubungi keamanan negara. Kalian akan di ke pung di stasiun kedua” Ucap datar orang itu.

“Cuihhh” terdengar lagi dari belakang.

Aku segera memutar badan. Berjaga supaya orang itu tidak mendekat

“Fay. Kau menghianati banyak orang” hardik orang itu. “kau sekarang kotor di tangan lelaki itu”

“Selama ini kau ternyata buronan. Dan syukurlah aku tahu ketika kau hendak tertangkap. kecewaku terbayarkan” Orang lain menyambung.

Apa maksud kata orang-orang ini. Kasar sekali. Aku tidak menodai Ila. Aku tidak melirik ke arah Ila. Lebih penting berjaga daripada mempedulikan sikapnya. Tidak akan ku biarkan orang-orang ini menyentuh Ila.

Posisi siaga. Semua orang di dalam kabin menatapku dengan sinis. Tidak ada satupun orang yang duduk. Aku dan Ila berdiri di tengah mereka, semuanya menjaga jarak.

Aku menggeram. Mengepal tangan.

Terdengar suara pintu terbuka dari ujung gerbong. Sorot berpindah seketika. Seorang pria laki-laki muncul di sana. Mengenakan pakaian formal. Namun ada sesuatu yang membuatku sedikit bergidik. Orang itu membawa tongkat besi yang panjang

“Ouh, sudah aman ya? Ku kira bakal rusuh” Ucap orang itu dengan santai berjalan membelah ke rumunan. Setalah berjarak satu meter. Tongkat di tangannya menodong ke arah kami. “Sebentar lagi lokomotif akan tiba di stasiun selanjutnya. Kalian sudah tertangkap”

“Tentu tidak akan ku biarkan” Balasku galak. Mengekang suasana.

Mendengar respon tersebut, orang di depan ku tertawa pecah. Sementara penumpang lain mulai membisik mulut ke mulut, bertanya siapakah dia.

“bahkan pekerjaan menyebalkan seperti ini tidak pernah kusangka akan selesai setelah melawan orang biasa sepertimu” Pria kisaran dua puluh tahunan itu berkata. “setelah bertahun-tahun mencari sampai hampir gila, akhirnya gadis itu ada di sini. Dan sebuah keanugrahan karena aku tidak akan dipersulit siapapun”

Aku menelan ludah, sedikit kesal. Aku tahu maksud pria di depanku ini. Namun apapun itu sekaligus membenarkan fakta, dari postur tubuhnya saja sudah kelihatan jika dia pasti orang terlatih. Aku tidak bisa melawannya.

Terowongan mulai menampakkan selarik cahaya. Sedikit silau karena transisi otomatis, dari kabin mode terang menjadi redup. Hingga akhirnya kembali terang, lokomotif mulai berhenti.

Kami sampai di suatu stasiun.

Pria di depanku menurunkan tongkatnya. “keluarlah dengan rasa hormat. Kalian ditemukan oleh orang murah hati yang tidak memukul di sini”

Aku melihat ke luar jendela. Berseru tertahan. Ternyata sudah banyak petugas yang siaga di sana. Aku menatap jeri Ila. Gadis itu balik menatapku, air matanya sedikit ke luar. Mungkin dari tadi dia menahan rasa takut.

Ah bagaimana ini. Apa yang akan terjadi pada hidupku jika tertangkap karena membantu buronan melarikan diri.

Ah tidak, tidak karena dia atau buronan atau bukan, dia salah atau benar. Selama ini aku menemani gadis itu karena aku sudah terlanjur berjanji untuk melindungi nya. Memang sial. Tapi pasti ada kesempatan.

Orang pemegang tongkat tersenyum puas. Padahal belum apa-apa. Aku masih ada ide, walau nekat.

1
Marina
keran, keren bgt
Arrosyad: makasih ibu'
total 1 replies
Kiritsugu Emiya
Harus jam berapa baru bisa update ya thor? Jangan sampai terlalu malam~
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!