Indonesia
NovelToon NovelToon
Takut Nikah

Takut Nikah

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Cintamanis / Romansa
Popularitas:758.1k
Nilai: 5
Nama Author: Yutantia 10

"Kapan nikah?"

"Udah mau 30 loh."

"Jangan pilih-pilih, nanti jadi perawan tua."

Jena muak sekali dengan semua itu. Baginya, menikah bukan kriteria kesuksesan seseorang. Mau nikah atau pun tidak, itu juga bukan urusan mereka, tapi entah kenapa, mereka suka sekali mengurusi hidupnya.

3 kali ia menjalin kasih, endingnya selalu diselingkuhi. Sahabat terbaiknya, jadi janda diusia 25 tahun karena suaminya selingkuh. Dan yang paling gong, Papa yang ia sayang dan sosok yang ia kagumi, diam-diam ternyata punya istri kedua. Lalu, laki-laki seperti apa lagi yang bisa ia percaya.

Baginya, berurusan dengan laki-laki, hanyalah cari penyakit. Entah sekarang atau nanti, pasti endingnya disakiti. Ia tak mau menikah. Kalau sendiri bisa bahagia, untuk apa berdua?

Sampai kejadian tak terduga, mempertemukanmu dia dengan Budi. Laki-laki yang humoris, dan selalu bilang. "Gak semua laki-laki kayak gitu, Mbak."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19

Kamis malam, Jena kembali datang ke lapak roti bakar milik Budi. Seperti biasa, tempat itu ramai dan di penuhi aroma sedap berbagai macam makanan. Dan yang paling tercium saat ini, adalah aroma nasi goreng Mang Udin.

"Eh, si Neng cantik datang lagi," sapa Mang Udin. "Roman-romannya emang ada sesuatu nih sama Budi."

Jena hanya membalas dengan senyuman. Ia mendekati gerobak Budi, celingukan saat tak menemukan laki-laki itu ada disana.

Sebagai gantinya, seorang anak perempuan kecil berusia sekitar sembilan tahun sedang berdiri di sana. Rambutnya dikuncir dua, mengenakan kaus sederhana dan celana panjang. Ia tampak sibuk melipat kotak roti.

“Budi mana?”

Anak itu mendongak. “Ayah sedang pergi membeli cokelat,” jawabnya polos. “Kalau mau beli, tolong tunggu sebentar.”

Jena terdiam. Ayah? Matanya menatap anak itu dari ujung kepala sampai kaki. Wajahnya sedikit mirip dengan Budi.

“Kamu...” Tatapan Jena masih tertuju pada anak itu. “Anaknya Budi?”

Gadis kecil itu mengangguk mantap.

Jena semakin syok. “Anaknya?” Ulangnya sekali lagi.

“Iya.” Gadis itu mengangguk.

Jena menelan ludah. Jangan-jangan...Budi duda? Atau... jangan-jangan punya istri tapi mengaku lajang?

"Kamu... punya Ibu?"

Gadis kecil itu mengangguk.

"Sialan si Budi, ternyata dia bangsat juga, penipu!" Kedua telapak tangan Jena terkepal. "Bisa-bisanya aku hampir tertipu dengan muka polosnya."

"Tante mau beli roti bakar? Tunggu sebentar, Ayah masih membeli coklat."

Jena mendengus, merasa sudah tak perlu lagi untuk bertemu Budi malam ini. Dia balik badan disaat bertepatan dengan Budi yang baru datang.

"Jen, kamu kesini lagi." Senyum Budi mengembang. Pria yang baru turun dari motor tersebut, tampak membawa dua keresek berukuran sedang di tangan kanannya.

"Ternyata kamu bajingan juga ya." Jena menatap tajam. "Ah, ternyata semua laki-laki sama saja."

Kening Budi mengernyit. "Maksudnya?"

"Ngakunya lajang, tapi ternyata punya anak istri."

"Ayah," panggil Alena.

Budi menoleh pada Alena yang ada di balik gerobak, dan ia langsung faham apa yang dibicarakan Jena. "Dia bukan anakku." Ia tersenyum.

Jena terdiam beberapa detik, tak bisa langsung percaya.

"Dia Alena, anak Alm. Abangku."

"Tapi kok_"

"Awalnya dulu manggil Om, tapi karena ia sering sedih karena tak punya ayah, akhirnya dia memanggilku ayah." Budi menatap Alena. "Sekarang, dia tinggal denganku dan Ibu. Mamanya Alena jadi TKW di Hongkong."

"Kamu gak bohongkan?" Jena tak bisa langsung percaya.

"Untuk apa aku bohong. Orang-orang di sini juga pada tahu kok. Atau..apa perlu aku tunjukkan KTP?" Budi tersenyum. "Dan...kamu kayaknya peduli amat sama statusku?"

"Ja, jangan salah faham. Aku bukan suka sama kamu ya."

"Aku gak bilang gitu juga." Budi menahan senyum.

"Aku cuma gak mau dekat sama suami orang, ntar dikira pelakor?"

"Emang kita dekat?" Budi malah mancing.

"Tauk ah!" Jena cemberut, melipat kedua lengan di dada.

"Sorry, sorry." Budi tersenyum tipis. "Ada apa kesini? Kangen ya?"

Jena nyengir.

"Sama roti bakar aku maksudnya," Budi terkekeh.

"Ada yang mau aku bicarain sama kamu."

Budi mengernyit. "Kayaknya penting." Ia menarik satu kursi plastik, meletakkan di samping Jena. "Duduk dulu, biar gak capek."

"Bud, aku mau minta bantuan kamu sekali lagi."

"Buat jadi pacar pura-pura lagi? Jadi CEO yang menyamar? Eh salah ya, menyamar jadi CEO." Budi terkekeh.

"Bukan." Jena menggeleng.

"Lalu?"

Jena baru membuka mulut, saat seseorang tiba-tiba berkata.

"Mas, roti bakar dua." Seorang pelanggan ibu-ibu berjalan ke depan gerobak Budi. Sepertinya ia sudah langganan, jadi tahu siapa yang jualan meski Budi tidak sedang berada di balik gerobak.

"Kamu layanin dulu aja." Jena menghela nafas pelan, kemudian duduk di kursi yang tadi diambilkan Budi. Ia memilih menunggu, karena tak mungkin pembicaraannya dilakukan sambil Budi melayani pelanggan.

Dia fikir tidak lama, tapi ternyata salah. Belum juga pembeli tadi pergi, sudah datang yang lainnya lagi, mengantri.

Ternyata Alena ada fungsinya, tidak hanya diam saja. Selain membantu menyiapkan kotak, menutup kotak dan memasukkan ke dalam keresek, ia juga menerima uang pembeli dan mengambilkan kembalian.

Budi sibuk memanggang roti, mengoleskan mentega, menaburkan meses, keju, dan cokelat. Tangannya bergerak cepat, nyaris tanpa berhenti. Jena hanya bisa duduk di kursi plastik depan gerobak sambil memperhatikan.

Budi beberapa kali ia menatap Jena yang tampak gelisah. Ia jadi penasaran, apa hal yang ingin dikatakan Jena. Gadis itu ingin minta tolong apalagi? Semoga bukan sesuatu yang aneh dan gila seperti hari itu.

Waktu terus berjalan, sampai akhirnya pelanggan habis. Jena bernafas lega, karena akhirnya dia ada waktu untuk bicara senang Budi.

“Ayah...” Alena menarik kaos Budi.

“Kenapa?”

“Ngantuk. Anterin aku pulang."

Budi menatap Jena, sungkan telah membuat gadis itu menunggu lama. “Sebentar lagi ya.”

Alena menggeleng. “Alena mau pulang, udah gak kuat."

Budi melihat jam tangannya. Sudah cukup malam, hampir jam 10, pantas Alena sudah mengantuk.

"Antar aja dia pulang dulu," ujar Jena.

“Ya sudah. Aku nitip gerobak bentar ya."

Jena mengangguk.

Budi mengambil kunci motor, lalu mengantar Alena pulang. Butuh waktu sekita 15 menit untuk sampai ke rumahnya dan balik kesini lagi.

Jena masih tetap di sana, menunggu hingga Budi kembali mengingat tujuannya datang untuk hal yang sangat penting.

Beberapa saat kemudian, Budi kembali. Namun ternyata seorang pelanggan sudah menunggu.

“Mas, roti bakar cokelat keju dua."

Budi menatap Jena.

"Gak papa." Jena mengangguk.

Budi kembali bekerja, dan lagi-lagi Jena hanya bisa menunggu.

Lima menit, sepuluh menit. Lama-kelamaan matanya terasa berat. Ia menguap, kemudian mengusap wajah.

Budi sempat meliriknya di sela-sela pekerjaannya.

Jena menguap lagi, kali ini lebih lebar. Ia sampai kasihan melihat gadis itu menahan kantuk.

“Jen.”

Jena mendongak, menatap Budi. “Hm?”

“Sorry ya."

“Enggak, gak papa."

Melihat Jena yang rela menunggunya seperti ini, Budi jadi semakin penasaran, sebenarnya apa yang ingin Jena bicarakan? Sepenting apa sampai rela menahan kantuk.

Budi mulai tidak tega melihat Jena terus menunggu.

Dan untuk pertama kalinya malam itu, ia benar-benar ingin segera menyelesaikan semua pesanan agar bisa mendengar apa yang sebenarnya dibutuhkan perempuan itu.

"Maaf Pak, sudah habis." Budi terpaksa berbohong meski sebenarnya masih ada sekitar 4 roti lagi yang belum dibakar."

"Oh, habis ya Mas?"

"Iya. Ini terakhir." Budi sedang memanggang roti saat ini.

Mendengar itu, Jena langsung tersenyum. Akhirnya...

Setelah menyerahkannya roti bakar pada pelanggan, Budi menghampiri Jena, menarik kursi, duduk di dekatnya. "Apa yang ingin kamu bicarakan?"

"Bud, aku butuh bantuan kamu." Wajah Jena tampak sangat serius.

"Bantuan apa?"

"Sabtu malam, kamu libur ya. Ikut aku ke rumah."

1
aisyah
tapi aku nggak kasihan, gimana dong 🤭🤣
Oma Gavin
akhirnya juwita sudah memanen karma nya tinggal tunggu waktu mati saja sayang nya belum tobat habis ini pasti naura diajak ikut andhika bikin jena marah dan ngga mau lagi ketemu ayah nya
Putusri Martini
ceritanys menarik 👍👍
Sugiharti Rusli
apalagi dia sudah bercerai dari mama Asri, paling yang akan terganggu si Jena kan si Naura punya perasaan lain sama Budi
Sugiharti Rusli
meski bukan putri kandungnya, tapi Naura dirawat sejak lahir oleh Andika
Sugiharti Rusli
tapi sepertinya kalo si Juwita akhirnya berumur pendek sèpertinya Andika akan mengajak tinggal bersamanya lagi
Sugiharti Rusli
ternyata si Naura masih memiliki kakek-nenek dari pihak ibunya, jadi dia ga sendirian juga yah
Sugiharti Rusli
memang sih sebuŕuk apapun si Juwita bagi orang lain, di mata anak" nya mereka tetap sayang padanya,,,
L i l y ⁿʲᵘˢ⋆⃝🌈💦
Kasihan juga Juwi...mungkin Naura ikut dgn Andika
Eli Rahma
HIV
Opi Sofiyanti
kupikir pancreas tuh cm buat cowok.. 🤭🤭
Aidil Kenzie Zie
karma bagi pelakor 😡😡😡
ntar Naura ikut Andika jangan sampai Dia juga jadi pelakor dalam Rumah Tangga Jena😡😡😡
Agus Tina
Aku kok nggak kas8han sama Juwita, ayo Andika saidara2 Juwita yg sudah kau tolong masukan mereka ke perusahaan sama sekalintidak mau menolong Juwita, itu karma buat Juwita. Tp mauku buat mereka melakukan kesalahan thor habis itu airih Jena pecat mereka
🌷Vnyjkb🌷
over alkohol pas LC tu,
🌷Vnyjkb🌷
susuknya lompat🤭😜😜
Diana Fitri.N
semangat kak semangat up nya 🥰
Kar Genjreng
kebanyakan diet makan kurma kali ya jadinya sakitnya gitu,,,,, saudaranya pada ga mau dekat lagi karena Juwita sudah hidupnya tidak seperti dulu,,,,ketika hidupnya bergelimang. mirip semut ngerubungi seperti gula,,, begitu sudah tak berdaya dan kismin. pada menjauh takut ketularan miskin,,,,maka jangan terlalu
bangga karena bnyak saudara. atau teman kala senang kala susah menjauh 🤔😮
ryuka
kasian ga kasian diihh tapi mungkin ini karmu juwita
Asih Rahmadhani Bohara
kasian banget sbnrnya sama Jena.. padahal udh jelas2 Naura bukan anaknya. msh aja peduli sampai skrg.. udh d khianati juwita berkali2.. msih aja ada rasa iba.. udh cocok banget bu asri mnta cerai
ɴɪɴɢ_ɴɵɴɢ
yaa pasti karena selama ini juwita sombong dan tak perduli sama keluarga nya. makanya saat juwita sakit, mereka ganti tak perduli dengan keadaan juwita. sekarang baru tahu kan? gimana rasanya di abaikan juwita...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!