Nabila tidak pernah menyangka jika putri yang selama enam tahun ia besarkan dengan kemewahan ternyata adalah anak palsu. Darah dagingnya yang asli, Luna Wegan, diam-diam ditukar saat lahir oleh keluarga suaminya sendiri dan terpaksa hidup menderita sebagai pengemis jalanan. Takdir akhirnya mempertemukan Nabila dengan seorang gadis kecil penuh luka memar di depan mall, di mana sebuah tahi lalat di balik telinga membongkar pengkhianatan keji masa lalu. Bersama suaminya, sang CEO kejam Leon Wegan, Nabila kini siap menghancurkan siapa pun yang telah berani menyiksa putri kandung mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Ceklek.
Pintu ruang perawatan VVIP rumah sakit itu terbuka perlahan dari luar.
Leon melangkah masuk dengan setelan jas mewahnya yang terlihat sedikit kusut setelah interogasi panjang di markas.
Wajah tampan pria itu tampak sangat lelah, namun matanya langsung berbinar melihat pemandangan di depannya.
Nabila sedang duduk di tepi ranjang, menyisir rambut panjang Luna yang sudah bersih dan wangi.
Luna mengenakan gaun berwarna biru muda dengan renda putih yang sangat cantik, persis seperti putri raja.
"Kamu sudah pulang, Sayang?" sapa Nabila tersenyum manis melihat suaminya datang.
Leon mengangguk pelan dan berjalan mendekati ranjang pasien tersebut.
"Bagaimana keadaan tuan putri kecil kita hari ini?" tanya Leon menatap wajah Luna yang kini terlihat jauh lebih segar.
Luna menatap Leon dengan mata bulatnya yang jernih, lalu menoleh ke arah Nabila seolah meminta persetujuan.
Nabila mengangguk kecil memberikan semangat pada putrinya.
"Pa-Papa sudah pulang kerja?" tanya Luna dengan suara sangat pelan dan ragu-ragu.
Deg!
Langkah kaki Leon mendadak berhenti di tengah ruangan seolah ada rantai tak kasat mata yang menahannya.
Jantung CEO kejam itu berdebar dua kali lebih cepat dari biasanya mendengar panggilan suci dari mulut darah dagingnya.
"Kamu... kamu memanggilku apa tadi sayang?" tanya Leon memastikan pendengarannya tidak salah.
"Ma-Mama bilang, Paman ini papaku, ayah kandungku," jawab Luna menundukkan kepalanya karena malu.
Leon langsung berlutut di lantai tepat di samping ranjang pasien hingga celana kain mahalnya menyentuh ubin.
Dia meraih kedua tangan kecil Luna dan menciumnya berkali-kali dengan penuh kasih sayang.
"Iya anakku, Paman ini papamu. Papa kandungmu yang asli," ucap Leon dengan suara serak menahan haru.
Pria yang ditakuti oleh seluruh musuh bisnisnya di ibu kota itu kembali meneteskan air mata kebahagiaan.
"Mulai sekarang panggil Papa ya sayang? Tidak ada lagi paman atau nyonya di antara kita berdua," bujuk Leon menatap mata putrinya.
Luna tersenyum simpul melihat ketulusan dari ayah kandungnya itu.
"Iya, Papa. Luna akan panggil Papa dan Mama mulai sekarang," janji gadis kecil itu mengusap air mata di pipi Leon.
Pelukan keluarga yang tertunda enam tahun itu akhirnya kembali terjalin dengan sempurna dan sangat erat di kamar perawatan ini.
Dinding kebencian yang sempat terbangun karena Bianca di rumah itu kini benar-benar runtuh tak bersisa.
Hanya ada cinta murni dan rasa syukur yang luar biasa dari sepasang suami istri yang menemukan anak mereka kembali.
"Papa belikan banyak mainan untuk Luna hari ini. Semua boneka terbesar yang ada di mall sudah Papa borong," ucap Leon bangkit berdiri.
Asisten Budi dan beberapa pengawal masuk membawa puluhan kotak mainan mewah dari berbagai merek terkenal.
"Wah! Boneka beruangnya besar sekali, Papa! Lebih besar dari badanku!" seru Luna turun dari ranjang dan memeluk boneka raksasa itu.
Melihat tawa bahagia putrinya, Leon dan Nabila ikut tersenyum lega.
Trauma psikologis anak ini perlahan mulai terkikis oleh kasih sayang yang berlimpah dari kedua orang tua kandungnya.
"Asisten Budi, bagaimana laporan tentang wanita tua bangka itu?" bisik Leon menjauh sedikit dari istri dan anaknya.
Asisten Budi mendekat dan memberikan sebuah tablet komputer bersampul kulit hitam.
"Semua perusahaan atas nama Rosalina Wegan beroperasi di bidang properti dan tambang batu bara, Tuan," lapor Asisten Budi pelan.
"Kami sudah menemukan beberapa kelemahan fatal di rantai pasokan tambangnya," lanjutnya menunjuk grafik di layar.
Leon menyeringai kejam melihat data-data kelemahan bisnis tantenya tersebut.
"Bagus. Beli semua saham perusahaan pemasok alat beratnya besok pagi. Putus semua kontrak pengirimannya!" perintah Leon tanpa ampun.
"Saya juga ingin kau menyuap semua mandor tambangnya untuk mogok kerja mulai lusa," tambah Leon memberikan instruksi mematikan.
Asisten Budi mencatat semua perintah itu dengan cepat tanpa ada keraguan sedikit pun.
"Siap, Tuan Besar! Dalam tiga hari ke depan, perusahaan tambang Rosalina akan lumpuh total," janji pria berbaju hitam itu.
"Itu baru permulaan dari kehancuran bertahap yang akan kuberikan padanya," gumam Leon mematikan layar tablet.
"Aku akan membuatnya bangkrut perlahan sampai dia datang mengemis di kakiku," desis sang CEO dengan aura membunuh.
Sementara Leon sedang merencanakan kehancuran tantenya, di sebuah persimpangan jalan protokol ibu kota, Bianca sedang menangis keras.
Anak palsu yang sudah diusir itu kini duduk di pinggir jalan raya dengan gaun sutra yang sangat kotor dan lusuh.
Panas terik matahari siang membakar kulit putihnya yang biasa dilindungi oleh tabir surya mahal.
"Air... aku haus sekali, Papa," rintih Bianca memegangi lehernya yang terasa sangat kering.
Tidak ada satu pun penjual minuman yang mau memberinya air gratis melihat penampilannya yang seperti gembel pemarah.
Tiba-tiba, seorang anak laki-laki berpakaian kumal menghampiri Bianca.
"Hei gembel baru! Ini wilayahku, menyingkir dari sini!" bentak anak laki-laki itu mendorong tubuh Bianca.
Bruk!
Bianca jatuh terduduk di aspal yang panas dan menatap tajam anak pengemis itu.
"Berani-beraninya kau menyentuhku! Aku anak CEO Wegan Group! Papaku bisa membunuhmu!" teriak Bianca bangkit berdiri membalas dorongan.
Plak!
Anak laki-laki itu tidak terima didorong dan langsung menampar pipi Bianca dengan sangat keras.
"Banyak gaya kau gembel! Kalau kau anak CEO kenapa baju kau kotor dan bau busuk begitu?!" ejek anak laki-laki itu tertawa meremehkan.
"Minggir atau kupukul pakai kayu ini!" ancamnya mengayunkan ranting pohon.
Bianca yang tidak pernah dipukul seumur hidupnya langsung menangis ketakutan memegangi pipinya yang merah.
"Kau jahat! Aku akan adukan ke Papa! Papa pasti akan memotong tanganmu!" ancam Bianca sambil berlari menjauh dari persimpangan itu.
Anak palsu itu terus berlari menyusuri trotoar jalan raya dengan air mata berlinang.
Ego dan kesombongan yang dia banggakan selama ini ternyata sama sekali tidak berguna di jalanan keras ini.
baru mulai baca
Cerita nya bagus banget