Indonesia
NovelToon NovelToon
Calon Istri Nomor 33

Calon Istri Nomor 33

Status: tamat
Genre:Ibu Tiri / Tamat
Popularitas:1.7M
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

32 wanita menyerah. Vivi adalah calon istri nomor 33.

Menikah dengan duda beranak lima seharusnya menjadi solusi bagi dirinya yang divonis tak bisa punya anak sejak muda.

Namun tidak ada yang memberitahunya bahwa lima anak Pak Baskara telah bersekutu untuk mengusir setiap wanita yang mencoba menggantikan posisi ibu mereka. Akankah Vivi bertahan, atau menjadi nama berikutnya dalam daftar kegagalan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

6

Pria itu sopan. Bertanggung jawab. Tidak mempermasalahkan kondisinya yang divonis tidak bisa memiliki anak. Tidak punya kebiasaan buruk. Tidak kasar. Tidak arogan. Memang dingin, tetapi Vivi mengerti penyebabnya.

Baskara masih berduka. Masih membawa bayang-bayang istrinya yang telah meninggal. Dan entah bagaimana, itu terasa lebih manusiawi daripada menakutkan.

Malam demi malam Vivi terus memikirkan semuanya. Mencari alasan untuk berkata tidak. Mencari sesuatu yang bisa membuatnya mundur dengan yakin. Namun semakin ia mencari, semakin ia sadar bahwa ia tidak menemukannya. Yang ada hanya ketakutan. Bukan alasan. Hanya ketakutan. Takut menghadapi lima anak. Takut memasuki keluarga yang asing. Takut menjalani pernikahan dengan laki-laki yang belum dicintainya. Takut gagal. Tetapi ketakutan bukanlah jawaban. Setidaknya begitulah yang terus dikatakan semua orang kepadanya. Dan perlahan, Vivi mulai kehabisan argumen.

Suatu sore, saat duduk sendirian di kamarnya, ia memandangi layar ponsel yang menampilkan nomor Bu Mega. Sudah tiga hari wanita itu menunggu jawabannya. Vivi menatap lama. Lalu menghela napas. "Kalau memang semua orang yakin..." bisiknya pelan. Ia memejamkan mata sesaat. Membayangkan wajah ibunya yang penuh harapan. Ayahnya yang diam-diam tampak lega. Bu Mega yang begitu percaya padanya. Baskara yang menerima kondisinya tanpa banyak pertanyaan. Dan dirinya sendiri. Perempuan tiga puluh tahun yang selama ini percaya bahwa kesempatan membangun keluarga mungkin tidak akan pernah datang lagi.

Saat ini ia menyadari sesuatu.Ia sebenarnya tidak memiliki banyak alasan untuk menerima. Tetapi ia juga tidak memiliki alasan yang cukup kuat untuk menolak. Dan yang lebih berat lagi Tidak ada seorang pun di sekitarnya yang mengatakan, jangan lakukan ini. Tidak satu pun. Seratus persen orang yang ia percaya justru mendukung pernikahan itu. Seratus persen. Seolah seluruh dunia sedang menunjuk ke satu arah yang sama.

Akhirnya Vivi mengambil ponselnya. Tangannya sedikit gemetar saat mengetik pesan.

[Bu, saya sudah memutuskan. Saya bersedia menikah dengan Pak Baskara.]

Ia membaca pesan itu tiga kali. Empat kali. Lima kali. Lalu menekan tombol kirim.

Pesan terkirim. Dan dalam hitungan detik, semuanya berubah. Bukan karena ia tiba-tiba menjadi yakin. Bukan karena semua ketakutannya menghilang. Melainkan karena untuk pertama kalinya, keputusan itu tidak lagi berada di masa depan. Keputusan itu sudah dibuat.

Vivi meletakkan ponselnya perlahan. Dadanya terasa aneh. Tidak sepenuhnya bahagia. Tidak juga sedih. Lebih seperti seseorang yang baru saja melangkah ke atas kapal yang akan membawanya ke tempat yang belum pernah ia lihat. Ia tidak tahu apa yang menunggu di sana. Ia hanya tahu kapal itu sudah berangkat. Dan kini, tidak ada jalan lain selain melanjutkan perjalanan.

***

Pernikahan itu akhirnya terjadi. Tidak ada gedung mewah. Tidak ada pelaminan megah. Tidak ada ribuan tamu yang datang silih berganti memberikan ucapan selamat. Semuanya berlangsung sederhana, seperti permintaan Baskara sejak awal. "Akad saja dulu," katanya waktu itu. "Yang penting sah." Dan memang hanya itu yang terjadi.

Pagi itu, di sebuah ruangan sederhana yang dipenuhi keluarga inti, akad nikah dilangsungkan dengan tenang. Vivi duduk di kamar terpisah sambil menggenggam ujung kebayanya yang sedikit bergetar. Jantungnya berdetak begitu cepat hingga ia hampir tidak mendengar apa yang dibicarakan orang-orang di luar. Sampai akhirnya suara ijab kabul terdengar. Lancar. Tegas. Satu tarikan napas. Satu jawaban.Dan dalam hitungan detik, hidupnya berubah selamanya.

Air mata ibunya langsung jatuh. Wanita itu bahkan tidak berusaha menyembunyikannya. "Alhamdulillah..." bisiknya berulang kali sambil memegang tangan suaminya.

Ayah Vivi yang biasanya pendiam tampak beberapa kali mengusap mata diam-diam. Mungkin karena lega. Mungkin karena haru. Atau mungkin karena akhirnya putri bungsunya memiliki keluarga sendiri.

Baskara memenuhi janjinya. Meski tidak mengadakan pesta besar, ia memberikan mahar yang nilainya jauh di luar dugaan Vivi. Belum lagi berbagai hadiah yang dikirimkan beberapa hari sebelum akad. Perhiasan.Perlengkapan rumah. Bahkan sebuah mobil kecil yang membuat Vivi hampir menolak menerimanya. Semua terasa berlebihan. Terlalu banyak. Terlalu besar. Seolah Baskara sedang berusaha menggantikan kemeriahan pesta dengan sesuatu yang lebih nyata.

Namun di tengah semua kebahagiaan itu, ada satu hal yang terus mengganggu pikiran Vivi. Anak-anak. Mereka tidak ada. Tidak satu pun. Sean. Yuan. Saka. Ella. Dan Lili. Kelima anak yang sebentar lagi akan menjadi bagian dari hidupnya justru tidak hadir dalam hari terpenting itu.

Awalnya Vivi mengira mereka menolak datang. Namun beberapa jam sebelum akad, ia mengetahui kenyataan yang sebenarnya. Bu Mega tidak mengizinkan mereka hadir. Sama sekali. Bahkan tidak untuk melihat dari jauh. Keputusan yang membuat semua orang terkejut. Termasuk Baskara.

"Ibu berlebihan," kata Baskara saat itu.

Namun Bu Mega tidak bergeming. "Justru karena aku tidak mau gagal lagi." Jawaban itu keluar begitu tegas. Tidak bisa dibantah. Mungkin hanya Bu Mega yang benar-benar memahami arti angka tiga puluh dua. Tiga puluh dua calon menantu. Tiga puluh dua harapan. Tiga puluh dua kegagalan. Dan sekarang Vivi adalah nomor tiga puluh tiga. Nomor yang menurut Bu Mega harus berhasil. Apa pun caranya. "Kalau mereka bertemu sekarang, mereka akan mencari cara untuk membuatnya mundur."

"Tapi mereka anak-anak."

"Justru karena mereka anak-anak." Bu Mega mengenal cucu-cucunya terlalu baik. Ia tahu Sean mampu mengatakan kalimat yang membuat orang dewasa kehilangan kepercayaan diri. Ia tahu Yuan mampu menyusun rencana yang tidak terpikirkan orang lain. Ia tahu Saka bisa menciptakan kekacauan dalam hitungan menit. Dan yang paling ia tahu Mereka berlima tidak menginginkan ibu baru. Jadi kali ini Bu Mega mengambil langkah ekstrem. Tidak ada pertemuan. Tidak ada kesempatan. Tidak ada celah. Akad harus terjadi terlebih dahulu. Setelah sah, barulah semua orang bisa berhadapan dengan kenyataan.

Kini kenyataan itu telah tiba. Vivi resmi menjadi istri Baskara. Resmi menjadi ibu tiri lima anak. Meski ironisnya, sampai detik itu ia bahkan belum pernah berbicara satu kata pun dengan mereka.

Sore harinya, ketika para tamu mulai pulang dan rumah kembali sepi, Vivi duduk sendirian di kamar pengantin sederhana yang disiapkan sementara. Di jari manisnya telah melingkar cincin pernikahan. Di atas meja terletak buku nikah yang masih terasa asing untuk disentuh. Ia membuka halaman pertama. Membaca namanya. Membaca nama Baskara. Suami. Istri. Dua kata yang kini resmi terikat pada mereka. Namun entah kenapa, yang terlintas di benaknya justru lima nama lain. Sean. Yuan. Saka. Ella. Lili. Anak-anak yang belum pernah ia temui. Anak-anak yang bahkan tidak hadir saat ayah mereka menikah.

Untuk pertama kalinya sejak akad selesai, Vivi merasakan ketakutan yang sesungguhnya. Bukan tentang menjadi istri Baskara. Melainkan tentang apa yang menunggunya ketika ia membuka pintu rumah itu nanti. Karena pernikahan telah berhasil dilangsungkan. Tetapi peperangan yang sebenarnya baru akan dimulai.

1
Aleendra
bagus
Kustri
jadi.... vivi udh gk ngajar lg ato gmn
kt'a mau diserahin yayasan?
Kustri
apa gk punya art, rumah segede gitu, anak sebyk itu? 🤔
klo gk punya berarti bas pelit! 🤮
Ira arif
ngilangin duit milyaran berani, sekarang kepepet bawa2 nama Alina... pret banget lah
Ira arif
gengsian, ujung-ujungnya vivi juga yang nolongin
Ira arif
malah Sean yang peka
Ira arif
bukannya kamar baru, lemari baru.... kenapa masih nyempil barang punya Alina
Ira arif
yaelah... kagak diskusi main mutusin aja
Ira arif
lha yang punya bu mega kok disuruh manut alina
Ira arif
tapi yang dibantu ngelunjak
Ira arif
ini serius horang kaya tapi gak punya ART sama sekali? atau gak masuk cerita aja? kayaknya semua2 vivi yang kerjakan
Ira arif
ini ponakan anaknya helda? pantesan dia julid ke vivi, takut gak dibiayai lagi kali ya. Terus nenek ema bukannya masih hidup?
Kustri
baskoro usia 32 klo gk salah, trus saka anak paling besar usia 10th🤔 berarti bas nikah usia 22th, mgkin stlh lulus kuliah lgsg nikah trus pnya anak yaa🤭
Kustri
lily paling kecil umur brp?
pas vivi dateng stlh akad lily digendong pembantu, ini ngomong ky udh umur 10th lbh🤔🤔🤔
Kustri
vi, saranqu... pasang foto pengantin kalian spy sadar klo kau ibu'a skrg😂
Kustri
eh, dr sinta👊kau bohong ya, bertahun"... kasian vivi, apa maksudmu menyembunyikan kenyataan klo vivi normal, hah!
Sakura
😂😂😂😂😂begitulah kalau menikah dengan orang yang belum selesai dengan masa lalu nya. Dan parahnya lagi keluarga masa lalu termasuk serakah dan ga tau diri. semasa hidup anak dijadikan tulang punggung sampai sudah mati pun masih harus menafkahi secara tidak langsung.
Ira arif
penasaran sama alasan si tante bikin diagnosa palsu, jahat banget lho ini
Ira arif
sering banget ya pola kalimatnya bukan karena... bukan karena... melainkan...
macam AI 🤭
Ira arif
beli aja sih, susah amat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!