Terancam Drop Out karena masa studi yang di ujung tanduk, Ruby menyusul Bara --dosen pembimbingnya hingga ke pelosok desa tempat pria itu melakukan penelitian. Misinya hanya satu, acc skripsi demi menyelamatkan masa depannya.
Sebuah kesalahpahaman konyol membuat mereka dituduh melanggar adat setempat. Tanpa opsi untuk bernegosiasi, Ruby dan Bara dipaksa menikah. Dalam semalam, status Ruby berbalik 180 derajat: dari mahasiswa abadi, menjadi istri sah sang dosen.
Kejutannya tak berhenti di situ. Bara bukan sekadar dosen senior dan dingin, dia adalah duda beranak dua dan salah satu anak Bara penyandang disabilitas.
"Satu dosen dingin, plus bonus dua krucil. Mirip promo beli satu dapat tiga.”
Ruby mendongak, menatap Bara yang menatapnya. "Jadi, ibu tiri! Siapa takut? Lagipula, menghadapi bab empat Pak Bara aja saya bertahan, apalagi cuma ngadepin mereka berdua!"
“Mas, panggil saya mas Bara.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedatangan ....
Bab 27
Penerbangan pertama, menjadi pilihan Bara. Meski harus bersiap sejak pukul 3 pagi. Pikirannya tidak tenang sejak mendengar Adly dirawat. Walau dalam dua hari terakhir ia terus memantau perkembangan sang putra melalui panggilan telepon dan pesan dengan Ruby. Tanpa memberi tahu bahwa ia mempercepat kepulangannya, Bara tiba Bandara Soekarno-Hatta pukul 5 pagi, langsung menuju rumah sakit.
Menyeret koper, langkah kaki Bara bergaung pelan di koridor rumah sakit yang masih lengang. Hari ketiga Adly dirawat, dan pagi ini suasana bangsal terasa begitu hening. Bara mendorong pelan pintu kamar rawat inap kelas VIP tempat putranya berada.
Pemandangan pertama yang menyapa matanya adalah Ruby. Istrinya itu tertidur meringkuk di atas sofa panjang. Wajahnya tampak lelah. Selimut tipis membalut tubuhnya dan ponsel masih berada di genggaman, seolah siap terbangun kapan saja jika ada panggilan.
Bara melangkah mendekat, berlutut pelan di samping sofa. Ia merapikan beberapa helai rambut yang menutupi wajah Ruby, lalu mengusap pipi istrinya dengan sangat lembut. Rasa bersalah dan haru bercampur di dada Bara melihat betapa tulusnya wanita itu merawat putranya.
Suara pintu kamar mandi yang terbuka membuat Bara menoleh. Husnah keluar dari dalam kamar mandi, menuntun Adly yang langkahnya masih agak gontai menuju tempat tidur.
“Papi,” panggil Adly.
"Bara?" kaget Husnah pelan saat melihat putranya menghampiri "Kamu... udah pulang? Nggak ngabarin.”
"Bara percepat pekerjaan. Mau papi gendong?” Adly menggeleng, lalu mengambil alih tiang infusan dan mendorong pelan sambil merangkul putranya.
"Papi...." panggil Adly, matanya berbinar meski wajahnya masih sedikit pucat sudah kembali ke ranjang.
"Hm. Masih demam?” tanya Bara lirih meletakan punggung tangannya di dahi Adly, masih terasa hangat. "Gimana rasanya? Udah enggak pusing?"
Adly menggeleng pelan, lalu pandangannya beralih ke sofa. "Bunda kasihan, Pih. Semalam Bunda nggak tidur, katanya takut aku demam lagi."
Husnah yang mendengar ucapan cucunya membenarkan pernyataan itu. "Iya, ibu ajak gantian gak mau. Malah ibu, pulas. Ya udah tadi ibu suruh tidur aja. Jangan kamu bangunkan, biar dia istirahat.”
Bara menatap ibunya dan mengangguk. "Kamu baringan lagi, istirahat."
Adly mengangguk. “Boleh main hp, pih?”
Bara mengangguk. Husnah mengambilkan ponsel Adly di laci bed cabinet. “Jangan lama nanti pusing lagi.”
Bara kembali ke sofa, duduk tidak jauh dari kaki Ruby. Menatap wajah gadis itu. ingin memindahkan ke bed pendamping pasien, tapi khawatir malah terbangun.
“Hm … Bu Siti, Jelita belum makan,” gumam Ruby lirih.
Bara mendessah pelan, bahkan dalam tidur istrinya masih mengkhawatirkan Jelita. Melepas jaket dan menyampirkan di sandaran sofa lalu mengeluarkan ponsel. mengirim pesan pada bu Siti, agar memperhatikan makan dan kesehatan putrinya. Ada banyak panggilan tidak terjawab dari Nilam juga pesan, ia hanya sempat membalas sekali, menyampaikan kalau ia sedang sibuk.
Membuka room chat dengan Ruby, banyak foto kiriman di sana. Mulai dari pose biasa, lucu sampai wajah genit. Bibirnya tersenyum meyakini kalau Ruby tetap cantik dengan gaya apapun.
“Cantik, aku suka,” ucap Bara.
Hampir pukul tujuh, saat perawat datang memeriksa suhu dan mengecek cairan infus. Bahkan Bara sudah mengelap tubuh Adly dan menggantikan piyamanya. Husnah sudah pulang, setidaknya Ruby tidak sendirian karena ada Bara.
“Sarapannya dihabiskan ya, ini ada obat minum.”
“Terima kasih, sus,” ucap Bara lalu memposisikan kepala ranjang agak naik. “Mau makan sekarang?”
“Boleh, tapi sambil nonton.”
Bara menghidupkan televisi dan menyerahkan remote pada Adly. Menggeser table bed di mana menu sarapan sudah tersedia.
“Habiskan!”
Adly mengangguk.
Rupanya Ruby terjaga karena semakin siang, suasana makin ramai. Ia menggeliat pelan. Bara menghampiri dan duduk di ujung sofa di samping kepala istrinya. Tangannya menyentuh pipi dengan lembut lalu membungkuk untuk berbisik. “Aku sudah pulang.”
Ruby perlahan membuka matanya. Pandangannya sempat mengabur sebelum akhirnya mengerjap kaget saat mendapati wajah Bara di hadapannya.
“Ck, meresahkan. Di mimpi juga hadir. Gue cip0k juga deh.”
“Boleh.”
“Eh.” Ruby memastikan pandangannya. "Mas Bara?" Ruby refleks terduduk tegak, mengucek matanya memastikan kalau pria itu benar Bara. “Kok, ada di sini? Kapan datang?”
“Tadi, setengah 6. Aku ambil penerbangan paling pagi.” Tangan Bara terulur merapikan rambut Ruby yang berantakan.
“Maksudnya ngasih kejutan, pulang nggak ngasih kabar. Jangan begitu, nanti kita terkejut beneran aja.” Ruby menoleh ke arah ranjang. “Kamu sudah ke toilet?”
Adly mengangguk dan menunjukan ibu jarinya. Sibuk menikmati sarapan.
Bara mengusap kepala Ruby. "Terima kasih ya, udah jaga Adly dengan baik selama aku enggak ada. Kamu pasti capek banget."
Ruby tersenyum tipis, rasa lelahnya mendadak menguap saat melihat Bara sudah kembali. "Sudah kewajiban kali, Adly ‘kan anak aku.”
“Kewajiban denganku, gimana?” tanya Bara sambil berbisik.
“Eh, itu ….”
“Adly, gimana hari ini, udah baikan?”
Ruby mencibir dengan kedatangan Nilam juga Sinta.
“Loh, mas Bara udah datang?” Nilam seolah mendapatkan mainan, dengan riang menghampiri. “Aku nggak bisa temani Adly, diusir sama orang yang sok tahu.” Nilam melirik Ruby dengan sinis.
Bara berdiri lalu menghampiri Sinta, bagaimanapun wanita itu pernah menjadi ibu mertuanya. Mencium tangan wanita itu.
“Bu, apa kabar?”
“Baik. Kamu kayaknya gak baik. Bisa-bisanya menikah tidak kasih kabar, mana istri kamu nggak becus ngurus anak-anak,” ujar Sinta.
Ruby melenggang menghampiri Adly, mengabaikan adegan horor karena kedatangan 2 makhluk astral.
“Sudah selesai, makannya?”
“Sudah bun. Aku mau teh manisnya.”
Ruby menyodorkan gelas teh hangat dan mengembalikan botol air mineral.
“Masa dikasih teh manis, ya nggak boleh dong,” seru Sinta. “Kamu mau buat cucu saya diabetes?”
“Tuh, mas Bara. Lihat sendiri kelakuan dia.” Nilam ikut mengompori.
“Ini yang ngasih rumah sakit, bagian dari menu pagi. Untuk menambah energi. Manisnya juga manis jambu, kok.”
“Menjawab saja, kamu.”
“Maaf, bu, jangan marahi Ruby. Apa yang dilakukan sudah tepat. Semua yang dihidangkan untuk Adly rekomendasi dokter gizi.”
Sinta mencebik lalu menghampiri Adly. “Gimana, hari ini, udah lebih baik?”
“Iya, nenda.”
“Anak baik. Nenda kalau lihat kamu dan Jelita seperti melihat Naomi. Bara juga pasti begitu.”
“Mas, udah sarapan belum? Kita sarapan yuk, aku kangen disuapin kamu,” ucap Ruby cukup telak membalas sindiran Sinta. “Adly ga pa-pa bunda tinggal sebentar?”
“Ga pa-pa, bun. Sana pih, ajak bunda makan. Selama di sini, bunda tidak selera makan, siapa tahu disuapi papi makannya banyak.”
Bara mengangguk lalu menepuk bahu Adly. “Ayo, kita makan!”
“Jangan nakal ya, nanti bunda balik lagi.” Ruby memeluk lengan Bara. “ih, kangen tau. Kalau pergi jangan lama-lama ya,” tutur Ruby saat keluar dari kamar.
Nilam merengut kesal, melempar tasnya ke sofa. "Sengaja bikin aku panas."
Terus jadi kompor mleduk bwt Bara Meldy 💪
Awas ya kamu .....🤭