Aynara terpaksa menikah dengan Aksa karena perjanjian kedua kakek mereka. Pernikahan itu diikat satu syarat: jika mereka bercerai sebelum satu tahun, Aynara harus membayar denda 10 miliar, sementara Aksa akan kehilangan haknya sebagai pewaris keluarga Wicaksono.
Namun, usai janji suci diucapkan, Wicaksono mengalami kecelakaan dan terbaring koma.
Merasa tak ada lagi yang bisa mengaturnya, Aksa berkata kepada Aynara, "Pernikahan ini terjadi karena Kakek. Aku sama sekali gak suka, apalagi mencintaimu. Dunia kita beda. Mulai sekarang, kita jalani hidup masing-masing sampai tiba waktunya bercerai."
Aynara terpaksa menelan kenyataan pahit itu. Namun, takdir mengubah segalanya ketika kecelakaan merenggut nyawa Aksa.
Regan, pembelot yang sedang diburu organisasi kriminal, memanfaatkan kematian Aksa untuk menyelamatkan dirinya.
Aynara tidak pernah tahu bahwa suami yang ia benci telah mati. Dan pria yang kini hidup sebagai Aksa adalah orang asing yang akan mengubah seluruh hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35. Tak Bisa Menghindar
mjAynara langsung mengenalinya. Ia mengembuskan napas pelan. "Ya ampun..."
Riva menoleh. "Kenapa?"
Aynara memasang wajah malas. "Pagi-pagi begini, kenapa harus ketemu dia lagi?"
Riva menahan senyum. "Bukannya kamu sudah tahu kalau dia kerja di sini juga?"
"Tahu bukan berarti aku seneng ketemu sama dia."
Langlang yang kebetulan menoleh ke arah mereka akhirnya menyadari keberadaan Aynara.
Tatapan mereka bertemu.
Aynara hanya mengangguk kecil sebagai sapaan, kemudian segera mengalihkan pandangan.
Namun, Langlang justru tersenyum dan mulai melangkah mendekat.
Aynara kembali mengembuskan napas panjang. "Riv..."
"Hm?"
"Kalau aku pura-pura gak lihat dia, kira-kira ketahuan gak?"
Riva melirik Langlang yang semakin mendekat, lalu terkekeh. "Kayaknya udah terlambat deh."
Ia mengepalkan tangan, lalu mengangkatnya ke udara. "Cemungut!"
Riva mengulum senyum puas sebelum segera berjalan menuju meja resepsionis. Namun, sesekali ia masih melirik ke arah Aynara dan Langlang dengan tatapan penuh rasa ingin tahu.
Langkah Langlang semakin dekat.
Aynara hanya bisa mengusap dahinya. Hari pertama bekerja belum dimulai, tetapi ia sudah merasa akan ada masalah. Dan benar saja—
"Nara," sapa Langlang.
Aynara menoleh.
"Kamu sudah mulai kerja hari ini?" tanya Langlang.
"Iya," jawab Aynara singkat.
Langlang tersenyum kecil. "Kamu ditempatkan di bagian apa?"
"Manajemen."
Langlang mendekat satu langkah. "Posisinya?"
"Sebagai sekretaris."
"Bagus." Ada sedikit kebanggaan dalam nada suara Langlang. "Kalau aku sendiri ditempatkan sebagai management trainee."
Aynara mengangguk kecil. "Selamat."
"Terima kasih."
Sejenak mereka sama-sama diam. Langlang tampak masih ingin melanjutkan percakapan. Sementara Aynara justru terlihat semakin tidak nyaman.
"Kamu sekarang tinggal di mana?" tanya Langlang.
Aynara menatapnya sebentar. "Di apartemen."
"Apartemen?" Mata Langlang sedikit melebar. "Sendiri?"
"Enggak." Lagi-lagi jawaban Aynara singkat.
Langlang mengusap tengkuknya. "Kalau suatu saat kamu butuh bantuan—"
"Terima kasih." Aynara memotongnya dengan lembut, tetapi tegas. Ia kemudian melirik jam tangannya.
Langlang masih menatapnya, seolah ingin bertanya lebih jauh. Namun sebelum ia sempat membuka mulut, Aynara sudah lebih dulu berkata,
"Kalau begitu, aku pergi dulu. Aku harus ke bagian manajemen."
"Oh... iya." Langlang mengangguk meski wajahnya tampak sedikit kecewa.
Aynara tidak mengatakan apal-apa lagi. Ia hanya mengangguk kecil sebelum berbalik dan meninggalkan Langlang.
Dari balik meja resepsionis, Riva memerhatikan punggung Aynara yang melangkah pergi. Kemudian ia melirik Langlang.
Ekspresi pria itu masih mengikuti kepergian Aynara.
Riva menghela napas pelan. "Kayaknya yang belum move on bukan cuma perasaannya, tapi juga rasa penasarannya."
Begitu Aynara sudah beberapa langkah menjauh, Riva akhirnya angkat bicara. "Langlang."
Pria itu menoleh. "Ya, Riv?"
Riva bersandar di meja resepsionis sambil menatapnya. "Jangan terlalu kepo sama urusan mantan."
Langlang terdiam. "Aku cuma nanya."
"Ya, aku tahu." Riva tersenyum tipis. "Tapi kalian sekarang sudah punya hidup masing-masing. Dia sudah menikah, kamu juga sudah mulai bekerja. Jadi menurutku, lebih baik fokus sama kehidupan masing-masing."
Langlang menunduk sebentar. "Aku cuma ingin tahu kabarnya."
"Kalau cuma sekadar tahu kabar, gak masalah." Riva mengangkat bahu. "Tapi kalau terus menggali kehidupan pribadinya, itu beda cerita."
Langlang tidak menjawab.
Riva kemudian menepuk meja resepsionis. "Sudah, sana. Jangan sampai hari pertama kerja malah sibuk mikirin mantan."
Langlang tersenyum hambar. "Iya."
Ia akhirnya berbalik dan berjalan menuju lift.
Riva memerhatikannya sampai menghilang. Kemudian ia menghela napas. "Ini dua orang kenapa sama-sama bikin susah, sih?"
Ia menggelengkan kepala sebelum kembali fokus pada pekerjaannya di meja resepsionis.
***
Hari pertama bekerja, Aynara berdiri di tengah ruangan bagian manajemen bersama Maya.
"Teman-teman, sebelum mulai bekerja, saya kenalkan dulu rekan baru kita," ujar Maya sambil tersenyum. "Ini Aynara Ayu Puspita. Mulai hari ini dia bergabung sebagai sekretaris manajemen."
Aynara mengangguk sopan. "Halo, semuanya. Saya Aynara. Mohon bantuannya selama saya bekerja di sini."
Beberapa staf perempuan tersenyum ramah dan menyambutnya.
"Selamat bergabung, Aynara."
"Kalau ada yang belum kamu pahami, jangan sungkan bertanya."
Aynara tersenyum. "Terima kasih."
Sementara itu, beberapa staf pria yang berada tidak jauh dari sana tampak saling melirik.
"Anak baru?" bisik salah seorang.
"Iya."
"Kenapa bagian manajemen dapat yang begini?"
Temannya menahan tawa. "Begini gimana?"
"Ya... cantik."
"Baru juga datang, sudah mulai."
"Memangnya salah mengakui fakta?"
Maya yang mendengar bisikan mereka langsung melirik tajam. "Kalau mulutnya masih sempat dipakai bergosip, berarti pekerjaannya kurang banyak."
Keduanya langsung pura-pura sibuk melihat layar komputer.
Aynara hanya tersenyum kecil. Ia tidak terlalu memperhatikan percakapan tersebut.
Maya kemudian menepuk ringan lengannya. "Yuk, Nara. Aku tunjukkan meja kerjamu dulu."
Aynara mengikuti Maya menuju area kerjanya. Tak lama kemudian mereka tiba di depan sebuah meja.
"Ini meja kamu." Maya menepuk ringan meja itu. "Untuk sementara kamu duduk di sini dulu. Nanti kalau ada yang perlu disesuaikan, kita atur lagi."
Aynara mengangguk sambil meletakkan tasnya. "Baik, Kak."
Maya belum sempat beranjak ketika seorang staf menghampiri mereka dan menyerahkan beberapa map. "Kak Maya, ini berkas untuk rapat direksi pagi ini."
Maya menerima map tersebut, kemudian menoleh kepada Aynara. "Kebetulan pagi ini ada rapat jajaran direksi. Kamu bantu aku menyiapkan ruang rapat, ya. Sekalian aku ajari kamu prosedur persiapannya."
Aynara langsung mengangguk. "Baik, Kak."
"Untuk hari pertama, kamu gak perlu khawatir. Ikuti saja instruksiku," ujar Maya. "Kalau ada yang belum tahu, tanya."
"Siap."
Maya menyerahkan beberapa map kepada Aynara. "Dokumen ini nanti diletakkan di depan masing-masing kursi. Yang ini untuk direksi, sedangkan yang berwarna biru untuk peserta rapat lainnya."
Aynara memerhatikan berkas-berkas tersebut dengan saksama. "Baik, Kak Maya."
Mereka kemudian berjalan menuju ruang rapat.
Setibanya di ruang rapat, Maya kembali memberikan beberapa instruksi. Aynara memerhatikannya dengan serius.
"Tenang saja. Hari pertama memang biasanya agak membingungkan. Nanti kalau sudah terbiasa, kamu bakal hafal semuanya."
"Terima kasih, Kak."
Maya tersenyum lalu kembali memeriksa daftar peserta rapat.
Sementara itu, Aynara mulai menyusun dokumen di atas meja panjang ruang rapat. Ia memastikan setiap berkas berada di tempat yang benar sebelum memeriksa kembali susunan kursi.
Tak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki dari arah pintu. Beberapa orang memasuki ruangan.
Aynara masih sibuk merapikan dokumen ketika sebuah suara yang sangat dikenalnya terdengar.
"Rapatnya sudah siap?"
Gerakan tangan Aynara langsung terhenti. Ia memejamkan mata sejenak. Suara itu...
Aksa.
...🔸🔸🔸...
..."Memulai hidup baru bukan berarti kita harus melupakan masa lalu. Terkadang, kita hanya perlu belajar melepaskannya, lalu melangkah dengan keyakinan bahwa kita mampu berdiri dengan kemampuan kita sendiri."...
..."Kadang kita berusaha menjauh dari seseorang karena mengira itu jalan terbaik. Namun hidup punya caranya sendiri untuk mempertemukan kembali dua orang yang belum selesai dengan kisahnya."...
..."Nana 17 Oktober "...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
yang berbicara depan Resepsionis dengan Karyawan?