Orielle Celeste mati bersama bayi yang tak sempat ia lahirkan. Semua orang mengira wanita lemah yang selalu menangis itu akhirnya menyerah pada hidup. Mereka tidak tahu… Tubuhnya kini dihuni oleh Celeste Seraphina, mantan bodyguard profesional yang cerewet, dan ahli bela diri. Hal pertama yang ia lakukan setelah membuka mata bukanlah menangis. Ia menandatangani surat cerai, menghajar mantan suaminya hingga bersimbah darah, lalu meninggalkan rumah neraka itu tanpa sedikit pun penyesalan. Baginya, perceraian hanyalah awal. Namun, bahkan Celeste tidak menyangka seseorang telah menunggunya. Caspian Orion Devereux. Pria yang dijuluki sebagai villain paling berbahaya. Sosok yang bahkan dunia bawah pun enggan menyentuhnya. Tanpa banyak basa-basi, Caspian meletakkan sebuah kontrak pernikahan di hadapannya. “Menikahlah denganku.” “Sebagai gantinya, aku akan memastikan mantan suamimu… dan siapa pun yang pernah menyakitimu menerima balasan yang setimpal.” Kesepakatan yang terdengar menguntungkan. Sayangnya, bermain-main dengan seorang villain tidak pernah berakhir sederhana. Terlebih ketika pernikahan yang semula hanya sebuah kontrak perlahan berubah menjadi obsesi. Dan sang villain memutuskan bahwa wanita itu… adalah miliknya
Noh yg suka bini yg jijik liat suami pas Transmigrasi nohhhh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeje Jennifer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Acara
Caspian langsung memandu Celeste keluar dari ruang makan, tangannya tetap menempel di pinggang istrinya, jari-jarinya sesekali mengerat.
Langkah mereka menuju sayap barat mansion, melewati koridor panjang yang sunyi, hingga tiba di depan pintu kayu gelap berukir lambang Devereux—ruang kerja pribadi Caspian.
Begitu pintu tertutup dan terkunci otomatis, suasana berubah total. Ruangan itu luas, didominasi warna hitam dan abu-abu gelap, dengan meja kerja besar dari kayu eboni, rak buku tinggi, dan jendela besar yang menampilkan taman belakang. Aroma Caspian semakin kuat di sini, seolah ruangan itu sendiri adalah perpanjangan dari pria itu.
"Aku ingin mengatakan sesuatu" ucap Caspian.
"Apa? Langsung saja"
Caspian mendengus kecil melihat ekspresi wajah Celeste yang mendadak berubah masam. Pria itu berjalan mendekat, lalu melangkah ke hadapan sang istri dan berlutut sebelah kaki di atas karpet beludru, menyamakan tinggi wajahnya dengan Celeste. Tangan kasarnya terulur menggenggam jemari kecil Celeste yang berhiaskan cincin.
"Bukan ekspresi itu yang mau aku lihat, Orielle" ucap Caspian dengan nada suara yang melembut namun menyiratkan dominasi.
"Ini biasa aja ya. Cepat, mau bilang apa"
"Aku sudah menyiapkan panggung kehancuran yang lebih indah untuk mereka."
Manik abu Celeste melebar seketika, menatap lekat-lekat manik kelam suaminya yang memancarkan aura dingin seorang predator puncak. "Maksudmu...?"
"Tiga hari lagi, pesta bisnis tahunan elit kota akan diselenggarakan," lanjut Caspian, suaranya terdengar semakin berat dan penuh perhitungan. "Dan keluarga pamanmu Dimas bersama Martha—serta si bajingan Lucian bersama Viona, dipastikan akan datang menghadiri undangan tersebut."
Caspian berdiri perlahan, lalu menarik Celeste agar ikut bangkit bersamanya, membawa tubuh mungil sang istri ke dalam dekapannya yang hangat dan posesif. Dagu pria itu bersandar pas di atas puncak kepala Celeste yang dihiasi kuncir kuda buatan Chalista tadi.
"Aku sengaja membiarkan mereka berkeliaran bebas selama ini agar mereka merasa berada di atas angin," bisik Caspian tepat di telinga Celeste, napasnya yang hangat berdesir di kulit leher sang istri.
Di ambang pintu ruang kerja yang setengah terbuka, Xanderion yang setia menunggu sejak tadi berdehem pelan. Pria itu buru-buru mengalihkan pandangannya ke lantai marmer, merasa dirinya terlalu terang-terangan menjadi saksi mata momen posesif sekaligus penuh aura balas dendam dari pasangan penguasa tersebut.
"Saya sudah siapkan undangannya, Tuan. Serta perancang busana terbaik untuk Nyonya Celeste besok pagi," lapor Xanderion dengan suara datar yang profesional.
Caspian mengangguk, sementara matanya tetap terpaku lekat-lekat pada wajah Celeste yang kini menyunggingkan seringai tipis penuh rencana busuk.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keesokan paginya, suasana di walk-in closet kamar mereka mendadak sibuk dan penuh warna. Tiga orang perancang busana kenamaan internasional bersama tim asistennya datang membawa puluhan gaun haute couture paling eksklusif atas perintah dari sang kepala keluarga Devereux.
Serena, yang ikut diboyong untuk membantu memilihkan, tampak takjub setengah mati melihat deretan gaun mewah berlapis kristal dan sutra impor yang berjajar rapi memenuhi ruangan pakaian tersebut.
"Ya ampun, Cele... Kamu mau pergi ke pesta bisnis atau mau dinobatkan jadi ratu sih? Semuanya kelihatan mahal banget sampe mata aku silau!" seru Serena dengan mata berbinar-binar kagum.
"Ambil juga kalo kamu mau, Sena" Serena tersenyum jahat mendengar itu. Ah Serena makin mencintai Celeste.
Celeste yang sedang keluar dari ruang ganti dengan mengenakan jubah mandi sutra, melirik sekilas deretan gaun berkilauan itu. Ia menggeleng pelan, lalu telunjuknya menunjuk mantap ke arah sebuah gaun sleeveless berwarna hitam dengan potongan asimetris, belahan tinggi di bagian paha, serta detail punggung terbuka yang elegan.
"Yang ini," ucap Celeste penuh percaya diri.
Perancang busana utama langsung mengangguk kagum, terpukau dengan pilihan sang Nyonya Muda. "Pilihan yang luar biasa, Nyonya Devereux. Potongan gaun ini akan menyempurnakan penampilan Anda malam ini."
...----------------...
Kemegahan Grand Ballroom Hotel Luxoria malam itu tampak menyilaukan mata dan mendominasi seluruh perbincangan kaum elite kota. Lampu chandelier kristal raksasa memantulkan cahaya gemerlap ke seluruh ruangan yang dipenuhi oleh para pejabat tinggi, pengusaha kaya raya, mafia berdasi, dan para sosialita papan atas yang mengenakan busana terbaik mereka.
Di tengah keriuhan pesta yang dipenuhi alunan musik klasik lembut, pintu utama ballroom mendadak tertegun hening. Bisik-bisik penasaran langsung bergemuruh di antara para tamu undangan begitu sepasang suami istri melangkah masuk melewati ambang pintu dengan aura mutlak yang langsung mencuri seluruh atensi dalam ruangan.
Caspian Orion Devereux berjalan tegap dengan setelan jas bespoke hitam tanpa cela, memancarkan pesona dingin seorang predator puncak. Di sisinya, Celeste melangkah anggun berbalut gaun hitam belahan tinggi yang membalut tubuh indahnya sempurna, membiarkan rambut hitam panjangnya digerai bebas dengan riasan tajam yang membuat siapa pun tidak bisa mengalihkan pandangan.
Di sudut ruangan, Dimas, Martha, Lucian, dan Viona yang tadinya sibuk menjilat tamu lain, seketika menoleh kaku ke arah sumber keramaian.
Seketika itu juga, warna darah di wajah mereka menguap habis. Gelas di tangan Lucian terlepas dan pecah berkeping-keping di lantai marmer, sementara tubuh Viona gemetar hebat hingga hampir ambruk ke lantai.
Malam itu menjadi penyiksaan mental paling keji seumur hidup bagi Dimas, Martha, Lucian, dan Viona.
Meskipun sekujur tubuh mereka gemetar hebat dan keringat dingin bercucuran deras membasahi pakaian pinjaman mereka, keempat orang itu tidak punya pilihan selain tetap berdiri di sudut ruangan, berpura-pura tersenyum kaku mengikuti jalannya seluruh rangkaian acara utama pesta bisnis tersebut.
Mereka terpaksa mengikuti sesi basa-basi, berdiri saat toast bersama para petinggi, hingga menyaksikan pembagian penghargaan tahunan, sembari terus menunduk dalam-dalam setiap kali bayangan tubuh tinggi besar Caspian melintas di kejauhan.
Terdengar suara dengungan pelan dari para tamu undangan yang terpesona menatap kecantikan Celeste. Mereka saling bertukar pandang, menebak bagaimana sosok yang sangat kontras itu bisa berdiri bersama.
Sebab Caspian Orion Devereux terkenal sangat tertutup soal kehidupan pribadinya. Sebelumnya, tidak pernah ada satu pun berita atau rumor yang mengaitkan sang
villain dengan seorang wanita.
Celeste saja hanya tahu Caspian punya cinta pada teman kecilnya saja waktu dia baca bukunya.
Kehadiran Celeste itu sama sekali tidak memicu kecurigaan bahwa ia adalah "istri buangan" Lucian yang lelaki gatal itu campakkan. Di mata para elit kota, perempuan di samping Caspian malam ini hanya pernah mereka lihat saat acara waktu itu.
Celeste, yang menyadari tatapan penuh teror dan keterkejutan dari arah Lucian dan Viona, menyunggingkan senyuman miring yang begitu manis namun mematikan. Ia sama sekali tidak terlihat gentar. Sebaliknya, ia menikmati setiap detik ekspresi di wajah mantan suaminya itu.
Caspian, yang merasakan pergerakan kecil di lengannya, melirik sekilas ke arah Celeste. Pria itu menyadari ke mana arah pandangan sang istri tertuju. Sudut bibir Caspian terangkat membentuk seringai tipis yang dingin.
"Menikmati pemandangannya, Nyonya Devereux?" bisik Caspian rendah, suaranya sarat akan nada menggoda yang berbahaya. Lelaki itu bahkan beberapa kali mengecup pipi Celeste tiap ada kesempatan.
Celeste mendongak, menatap iris kelam suaminya dengan binar di mata nya yang bulat.
"Sangat menikmati," balas Celeste dengan suara berbisik yang tak kalah menantang.
"Tapi pemandangan itu akan jauh lebih indah kalau kita hancurkan mereka sekarang juga."
Tangan besar Caspian yang terbalut kain jas bertekstur halus bergerak perlahan, merengkuh pinggang mungil Celeste dengan mantap namun penuh kepemilikan. Sentuhan hangat itu menembus kain gaun malam hitam yang dikenakannya, mengirimkan sengatan listrik halus yang membuat bulu kuduk Celeste meremang sejenak.
Celeste mendongakkan dagunya semakin tinggi. Ia sengaja merapatkan tubuhnya, membiarkan pinggangnya bergesekan pas dengan lengan kokoh sang suami.
Di hadapan ratusan pasang mata yang mengamati mereka dari berbagai sudut ballroom, gestur deklarasi bahwa wanita di sisi Caspian adalah milik sang penguasa yang tidak boleh diganggu.
"Tanganmu posesif ya, Suami" bisik Celeste pelan, bibirnya hampir menyentuh rahang tegas Caspian saat pria itu sedikit menundukkan kepalanya. "Takut istrimu ini diculik orang di tengah pesta atau bagaimana?"
Caspian membalas bisikan itu dengan seringai tipis yang nyaris tak terlihat oleh para tamu di sekitar mereka. "Bukan takut" jawab Caspian rendah, suaranya bariton dan memabukkan di telinga Celeste. "Tapi memastikan tidak ada lalat menjijikkan yang berani mendekati milikku."
Mata Celeste berbinar geli. Sudut bibirnya tertarik membentuk seringai maut yang sangat manis dari luar, namun penuh racun di dalamnya.
Tepat setelah serangkaian acara utama ditutup dan lampu-lampu sorot di dalam ballroom meredup secara dramatis, musik berhenti. Suasana malam yang tadinya riuh mendadak sunyi senyap.
makiiin seruuuu
aq bantu cari yx ,, trus bakal aq rawat baik2 seperti aq merawat ank2 ku,, 🤭🤭🤭🤭🤭