Indonesia
NovelToon NovelToon
Rafka Dan Ragam Senja

Rafka Dan Ragam Senja

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi
Popularitas:689
Nilai: 5
Nama Author: Aksara Nirmaya

Berkali-kali gagal dalam hubungan membuat ia menutup akses bagi siapapun yang mendekati bahkan datang melamarnya. Jika nenek moyangnya berkata pamali terus menerus menolak lamaran karena konon katanya tidak akan mendapatkan jodoh seumur hidup. Peduli apa dia? Toh takdir seorang manusia telah di tentukan jauh sebelum terlahir ke dunia. Begitulah pemikiran gadis pemilik nama Arunika Binar Senja.

Tapi, bagaimana jadinya jika seorang Pria yang ia kenal datang membawa serta seluruh keluarga untuk melamarnya? Tanpa rasa takut untuk di tolak, Pria tersebut justru dengan senang hati dan menerima dengan sabar syarat-syarat yang di ajukan Senja?

Apakah Senja akan kembali memulai kisah dengan Pria itu? Mampukah mereka menjalani sampai batas waktu yang telah ditentukan? Atau justru Senja Kembali gagal dalam hubungan kesekian kalinya ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Nirmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Refreshing ala Senja

Entah helaan nafas keberapa kalinya Senja keluarkan sejak pagi ini. Di dalam ruangan kerjanya ia berkutat dengan Keyboard dan Laptop yang ada di hadapannya, sesekali menerima dan menelpon orang-orang yang bersangkutan dengannya.

Hingga siang ini ia lebih banyak mengurung diri di dalam ruangan, kesibukannya yang luar biasa padatnya menyita penuh waktu bersantai barang lima menit saja. Sebagai seorang yang di percaya memegang jabatan Kepala Departemen, sudah tidak ada lagi impian bisa bersantai-santai seperti saat masih menjabat sebagai staf departemen.

Bunyi hentakan Keyboard dan denting jarum jam mengisi penuh ruangan Senja, tidak ada suara orang berbicara, tidak ada canda tawa terdengar. Sekali lagi Senja menghembuskan nafas kasar, mengusap wajah menatap penuh kemuakkan layar laptop. Dari awal dia datang hingga siang ini, bahkan hampir melupakan makan siang. Jika bukan Yara kembali membantu mengingatkannya. Tubuhnya seakan di lem kuat di atas kursi kerjanya, melarang dia untuk bangkit kecuali ada kepentingan ke departemen lain.

“Kenapa ini kerjaan semakin di kerjain semakin banyak sih?” gerutunya kesal, mengomel meski jari tetap menekan-nekan tombol Keyboard. Sesaat dia berhenti, mendengar sayup-sayup canda tawa di luar ruangannya.

Semakin mendengarnya, rasa panas di hati juga makin membara. “Iri! Aku irii, mau juga ikut gibah di luar!” rengekan yang hanya bisa di dengar diri sendiri. di bawah meja, kakinya sudah di hentak-hentakin melampiaskan kekesalan karena terkurung di dalam ruangan bersama kerjaan yang semakin menumpuk.

Dalam sekejap, Senja sudah bangkit dari kursinya ingin meninggalkan kerjaan yang persis gunung jika di gambarkan. Tapi belum sempat melangkah keluar, bisikan yang entah dari mana asalnya membisikan kalimat Senja, kalau kau pergi keluar, kerjaan mu tidak akan selesai!

Hati Senja bimbang, bisikan dari dalam hatinya benar. Bisa-bisa ia akan lembur hari ini, tapi… Sudahlah, dari pada kamu pusing dan tertekan mending keluar aja kumpul cerita-cerita di luar. Anggap refreshing lah bisikan kembali muncul. Kali ini bisikan yang sesuai dengan kemauannya.

Jangan ikuti ucapannya, Senja. Ingat kalau kamu lembur malam ini bisa jadi kau akan lembur juga besok malamnya. Ada janji mu besok! ah bisikan ini lagi, kakinya berat melangkah keluar. Di pandangnya laptop lalu mengarah keluar ruangan dengan pandangan iri. Semakin galau pula dia di buatnya. Ngelantur banget dia, Senja! Sudah keluar aja. Di mana-mana kalau mala mini lembur besok pasti ngga lembur lah. Aneh-

“Aduh berisik banget sih kalian! Pergi sana jauh-jauh. Iya aku diam nih duduk kembali, kerja!” seperti ini kah yang di sebut perang batin hingga berujung memarahi diri sendiri? dengan tersungut-sungut Senja melanjutkan kerjaannya, menepis rasa ingin keluar sekedar menyapa Yara.

Tarik nafas—hembuskan, Tarik nafas—hembuskan. Senja mengulangi sebanyak tiga kali, menenangkan pikiran menerima kenyataan bahwa ia sudah tidak bisa sebebas dulu. “Oke, mari lanjut bekerja, Senja biar ngga lembur hari ini apalagi besok!” ucapnya menyemangati, di sertai senyuman- terpaksa.

Tapi, tidak sampai lima menit. Wajahnya mulai menyusut kusut layaknya lap kaki di rumahnya, jangan lupakan gerutuan yang hanya bisa ia ucapkan dalam hati.

Drrt—drrtt

Senja menahan nafas, Lelah harus menerima telpon yang entah dari siapa dan keluhan apalagi yang akan di terimanya sebentar lagi. Tatapan nyalang ia tujukan pada hp khusus kerjanya. Bukan, getaran itu bukan berasal dari hp kerjanya. Lantas? Mata senja beralih menatap hp yang di duga asal getaran tersebut, hp pribadinya.

Di raihnya hp itu, melihat siapa yang menelpon di jam kerja seperti ini. Karena setau Senja, keluarga dan sahabatnya sudah sangat hapal tabiatnya yang enggan di hubungi Ketika masih jam kerja.

Rafka, yang menelponnya Rafka. tapi bukan itu yang menjadi titik pusatnya. Melainkan panggilan itu adalah Video Call, bukan telpon biasa. Dan—di kantor? Apa ini?

“Jawab apa biarin aja ya? Nanti alasan aja sibuk hp di tinggal di meja” monolognya mencari alasan yang tepat. Definisi lain di mulut lain pergerakan tubuh. Jarinya dengan lancang menggeser ikon menerima telpon itu dan—muncul lah wajah Rafka di seberang sana.

‘Hai’ memulai pembiraan dengan sapaan santai, Rafka menampilkan wajah yang lembut menatap Senja yang jelas masih syok atas pengkhianatan jarinya sendiri. ‘Ganggu ya?’

Iya ganggu! Ngga tau orang lagi sibuk apa! Itu batin Senja, lantas bagaimana dengan mulut nya bicara sekarang? “Huh? ngga, ngga aman aja. Tumben nelpon?” tawa garing Senja di lengkapi gestur kaku gadis itu tidak langsung mendapatkan kepercayaan Rafka. Pria itu peka oleh apapun yang di lakukan Senja.

‘Maaf ganggu ya’ kata Maaf Rafka membuatnya terserang rasa bersalah. Toh ia bisa nganggap ini refreshing yang gagal di lakukan tadi kan? “Ngga, ngapain minta maaf sih? Baru istirahat?” ujarnya bertanya, pasalnya di seberang sana Rafka sepaket nasi kotak yang hendak pria itu makan.

‘Iya, baru istirahat’ jawabnya jujur apa adanya, bukan kah sebuah hubungan diperlukan keterbukaan satu sama lain? Di liriknya jam di pojok kanan laptop. Setengah tiga gumam nya sangat pelan.

“Jadi kamu telpon aku cuma buat lihatin kamu makan?” pertanyaan yang mengandung sindiran halus Senja di respon kekehan pelan Rafka.

‘Salah satunya itu. Tapi ada yang utama kok. Temanku mau kenalan sama kamu, ngga papa? Dia sudah ngerengek dan ngga henti ngikutin aku seharian ini’ gentian, sekarang Senja lah yang tertawa pelan meski ia masih tak paham. Bukankah sudah ketemu kemarin di Rumah Sakit?

‘Kemarin dia ngga ikut jenguk di RS, kalian belum bertemu’ seakan tau kebingungan Senja. Tanpa di minta Rafka sudah menjelasknnya, peka sekali.

“Bentar, aku pakai Earphone, dulu” sadar jika ini merupakan ranah kantor, yang mana dinding diam saja bisa mendadak bersuara dan menyebarkan kesemua karyawan yang ada di Gedung ini. Ia hanya menyelamatkan keduanya, hubungan seperti ini cukup sensitif jika sampai ke telinga atasannya.

Rafka sendiri paham maksud Senja, peraturan seperti ini bukan hanya terjadi di tempat Senja bernaung, bahkan ada yang lebih parah dari peraturan Senja. ‘Sudah?’ gadis tunagan Rafka mengangguk mantap.

“Mana teman kamu?”

‘Ada, dia lagi ambil minum. Sebentar ya’ Senja mengiyakan, sembari menunggu dia mencuri-curi waktu buat melanjutkan pekerjaannya begitu juga Rafka yang menyuapkan nasi penuh hikmat.

Sayup-sayup Senja mendengar suara pria memanggil Rafka, mirip menagih janji ‘Mana? Kamu bilang hubungin calonmu itu’ suara itu langsung di sambut malas oleh Rafka. tidak lama muncul seorang laki-laki masuk frame layar.

‘Kamu berisik banget sih! Tuh liat’ Senja dapat melihat wajah kesal Rafka, mungkin karena temannya bicaranya persis teriakan. ‘Wih.. Neng Geulis’ Plakk ‘Calonku, ngga usah kamu goda-goda gitu!’

Senja tertegun mendengarkan protesan tak terima Rafka. sepertinya mereka berteman lama. Terbukti dengan gaya dan cara mereka berinteraksi satu sama lain. ‘Kenalin, dia Viki. Temanku, Nja. Dan ini, dia Calonku! Arunika’ lamunan singkat Senja buyar mendapati suara Rafka memperkenalkan mereka.

“Halo, Viki? Salam kenal” Sambut Senja menyambung perkenalan singkat Rafka. ‘Wah pantas aja di sembunyiin Rafka!’ balas Viki sewot. Lihatlah seringai menjengkel kan Rafka itu.

‘Kapan-kapan kumpul lah, aku bawa cewe ku’ Ide Viki bisa saja mereka ia kan, tapi tergantung Rafka gimana lagi. Dan kesibukan mereka pastinya.

‘Apa? Jangan bilang kamu ngga mau?’ tanya Viki penuh siasat. Wajah Rafka menunjukkan ketidak setujuan yang kentara sekali terlihat. ‘Bukan ngga mau, tapi jadwal kita jarang kemu libur bareng! Belum menyesuaikan sama mereka lagi’ Jawaban yang berisi penjelasan bijak Rafka sepertinya cukup membuat Viki mengerti.

‘Bisa! Kalau kita shift pagi kan bisa jalan malam.’ Ah buang jauh-jauh harapan mengertinya Viki. ‘Iyakan, Mba Arunika?’

“Huh?” bersamaan itu, ketukan pintu ruangan kerja Senja terdengar “Sebentar, ada karyawan” Pinta Senja meminta kedua pria itu diam barang sejenak.

“Masuk!” suara dengan intonasi tegas mendapatkan hasil, pintu itu terbuka. Menampilkan Yara.

“Mba Aru. Besok meeting buat Ulang tahun Perusahaan, ya?” ujarnya memastikan kalau atasannya ini sudah mengetahui. Tapi nihil, Senja mengerutkan kening bingung. “Ngga tau, Mba?” tanya nya sontak mendapatkan gelengan kepala.

“Aru-aru, dari pagi sibuk di depan laptop giliran soal begini ngga tau. Itu di grup sudah di sebar loh” Yara memandang heran sudah tidak bisa berkata-kata. Senja sendiri mengabaikan Yara dan segera membuka grup. Benar, ada informasi yang di sebar sepuluh menit yang lalu.

Senja cengengesan kembali menatap Yara “Ya maaf, aku sibuk ngga buka group jadinya. Tapikan ada kamu. Makasi loh.” Yara memandang malas. Tangannya terulur menyerahkan Selembar dokumen.

“Bantu Approval ya, Ru. Pengajuan” Senja menerima nya, membaca singkat setelah menemukan pointnya baru lah ia menandatangani. Sehabis itu Yara pamit pergi.

Baru akan bernapas lega, ketukan pintu kembali terdengar. Kali ini dari kepala Departemen lain. “Mba Aru. Perihal karyawan atas nama Sofia. Sebelumnya dia sudah MCU, ternyata hasil pemeriksaannya ada yang tidak sesuai. Ini bagaimana?”

“Memangnya yang tidak sesuai apa, Mas?” Pria itu duduk di kursi depan meja Senja. “Tekanan darahnya tinggi. Tapi setelah dia periksa di rumah sakit berbeda tekanan darahnya normal. Ngga sesuai sama hasil pemeriksaan itu”

Sekarang Senja mengangguk paham. “Ini sering terjadi sih, Mas. Begini saja bantu tanyakan pada saat melakukan pemeriksaan dia bertepatan kurang tidur, atau mungkin tegang? Itu bisa memicu tekanan darah melonjak naik”

Tampak kepala department itu mengerti “Tapi ini harus MCU ulang atau gimana?” tanya nya lagi.

“Nah kalau itu cukup konsultasi aja lagi sama Dokter, Mas. Atau kalau mau, pemeriksaan di tekanan darah itu saja. Tapi pastikan dia bisa mengontrol dirinya, jangan begadang juga” Pria tersebut mengangguk, setelah puas bertanya ia bergegas pergi.

Senja, memastikan keadaan aman. Ia beralih ke layar Hp yang masih menampilkan wajah Rafka dan wajah binar Viki. ‘keren, macam ibu Boss’ celetuknya, Senja tertawa menanggapi. ‘Dan kamu ganggu jam kerja dia!’ dengus Rafka mengingatkan. Lagi Senja tertawa, setidaknya mereka cukup mengiburnya dan melupakan kegundahan hati karena berdiam diri di dalam ruangan ini.

Note:

Kalau penyampaian ku tentang MCU ada yang lainnya keliru mohon bantuannya untuk koreksi yaa, karena aku juga masih perlu banyak-banyak belajar tentang hal seperti inii 🤗🤗

1
Senja Susanti
sama namanya seperti namaku
Aksara Nirmaya: hihii halooo kak Senjaa🤗
total 1 replies
Irma Nsyah
semangat nulisnya 😘
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!