Jackly Ellesmere Zloty- dia adalah pamanku yang galak dan posesif. Tapi, dia selalu menuruti permintaanku. asal tidak bersangkutan dengan satu orang yang begitu di bencinya. yaitu.. Papa.
~BillbyImona
Tidak hanya kami.. semua orang pasti bertanya-tanya siapa sebenarnya Billby itu?
~tigabujangprancis
#family drama with romcom
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon whimsy quinn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
A Costly Mistake
Setelah menekan tombol kirim untuk pesan kasar kedua itu, Afghan menyandarkan punggungnya ke kursi dengan senyum puas.
Setelah itu ia membuka google mencari rumus yang membuatnya pusing sedari tadi.
Beberapa menit kemudian, sebuah notifikasi pop-up muncul di bagian atas layar.
Notifikasi dari Instagram: billby_IZX baru saja membagikan video.
Afghan mendengus remeh. "Bisa-bisanya habis bikin masalah, sekarang malah asyik nge-post video," gumam Afghan sinis.
Rasa penasaran bercampur kesal membuat Afghan langsung mengeklik notifikasi tersebut. Layar ponsel Vahan langsung beralih menampilkan video terbaru Billby yang bernuansa serba pink mewah dengan hujan uang seratus ribuan.
Afghan melirik angka likes dan komentar yang terus meroket dengan sangat cepat. Melihat Billby dipuja-puja oleh ribuan fansnya di saat ia, Vahan, dan Mex harus mendekam di rumah karena diskors, membuat hati Afghan semakin panas.
Tanpa memikirkan reputasi Vahan sebagai pemilik akun, Afghan langsung mengetikkan komentar ketus dan penuh sindiran di kolom komentar video tersebut.
@vahan: "Gak usah sok polos pasang muka kayak gitu di medsos. Pengadu kayak lo gak pantes dipuja-puja. Cari muka banget."
Setelah menekan tombol post, Afghan meletakkan ponsel Vahan kembali ke meja dengan kasar,
Ia menyandarkan punggungnya ke kursi dengan senyum puas, merasa sudah berhasil memberi pelajaran pada si pelapor.
Namun, senyum di wajah Afghan tidak bertahan lama.
Belum sempat ia memalingkan wajah, ponsel Vahan di atas meja tiba-tiba bergetar hebat. Tidak hanya sekali atau dua kali, tapi terus-menerus tanpa jeda layaknya mesin ketik yang rusak. Layar ponsel itu menyala terang, menampilkan rentetan pop-up notifikasi Instagram yang terjun bebas dengan kecepatan gila-gilaan.
10 balasan... 50 balasan... 100 balasan... dalam hitungan detik!
Afghan tertegun. Jantungnya mendadak mencelos. Dengan tangan yang tiba-tiba terasa dingin, ia kembali menyambar ponsel Vahan dan membuka kolom komentar. Mata Afghan membelalak sempurna sampai rasanya mau melompat keluar melihat pemandangan di layarnya.
"G-gila... ini apaan?" bisik Afghan terbata-bata.
Kolom komentar video Billby yang tadinya penuh pujian, kini berubah menjadi lautan api kemarahan. Komentar ketus yang baru saja ia ketik telah diserbu, dihujat, dan dikeroyok oleh ratusan akun fans militan Billby. Kata-kata seperti 'cowok stres', 'pansos', hingga ancaman 'dilaporkan massal' memenuhi layar. Lebih mengerikan lagi, beberapa akun asing seperti @xexe_ dan @lele_ mulai menandai akun bernama @jeje_ dengan kalimat yang bikin merinding: "beresin bang"
Muka Afghan pucat pasi. Ia tahu fans media sosial itu banyak, tapi ia sama sekali tidak menyangka kalau mereka bisa secepat dan seganas ini dalam membela Billby.
Tepat saat rasa panik mencengkeram dada Afghan, terdengar derap langkah kaki Vahan yang mulai menaiki tangga dari lantai bawah membawa nampan
berisi camilan.
Afghan langsung pura-pura kembali sibuk menatap buku matematikanya yang terbuka.
Hanya dalam hitungan detik setelah komentar dari akun @vahan itu muncul, para Billbers yang sedang memantau feed langsung menyadarinya. Mereka tidak terima idola mereka dihujat tanpa alasan yang jelas. Kolom komentar video Billby langsung berubah menjadi medan perang. Komentar akun Vahan langsung diserbu dengan ratusan balasan hujatan balik dari Billbers.
@billbers_sejati: "@vahan MAKSUD LO APAAN NYAWER COMMENT NEGATIF DI SINI?! IRI YA LO GAK BISA SEESTETIK BILLBY?!"
@pinky_girl99: "@vahan Heh cowok stres! Dateng-dateng langsung nge-hate. Kalau gak suka gak usah nonton, hush pergi sana!"
@kicau.mania: "@vahan Lu siapa sih tiba-tiba ngatain Billby pengadu? Jangan asal fitnah ya! Akun cowok kok mulutnya lemes bgt kayak cewek lemes."
@music_addict: "@vahan Gak usah sok keras bro. Akun lo sepi ya makanya numpang pansos di lapak Billby yang lagi ramai?"
@ someones_secret: "@vahan Jaga ketikan lo ya! Dedek Billby anak baik-baik, gak mungkin kayak yang lo tuduhin. Sini lo gelut sama satu fandom!"
@billby_fanbase: "@vahan Laporkan massal aja akun ini guys! Akun provokator gak jelas, bikin kotor lapak Billby aja!"
@xexe_: "Eh @vahan, "apa maksudnya?? Seakan-akan Lo kenal billby.. apa Lo anak paradise? Wah, siap siap tinggal nama @jeje_: liat nih"
@lele_: "Wah, ada cowok kurang kerjaan nih @xelin_officially. Sini dek @vahan, kalau punya masalah ngomong langsung sama tantenya, gak usah sok jagoan ngetik kasar di kolom komentar anak kecil! @jeje_: mau diapain enak nya?"
@rerex_: @jeje_: beresin bang. Anak paradise kayak nya.
Afghan yang diam-diam mengintip notifikasi dari layar ponsel Vahan yang terus menyala tentu tidak pernah tahu sebuah fakta krusial. Akun-akun seperti @xexe_, @lele_, dan @rerex_ bukanlah netizen biasa. Mereka adalah barisan pelindung utama Billby di dunia nyata alias keluarganya sendiri.
Akun @xexe_ sebenarnya milik Xelin, @lele_ milik Levi, dan @rerex_ digerakkan oleh Rexon.
Di dunia nyata, mereka adalah orang-orang berpengaruh yang akun aslinya sudah terverifikasi centang biru.
Namun, karena identitas Billby sebagai bagian dari keluarga mereka masih disembunyikan rapat-rapat dari publik, mereka terpaksa turun gunung menggunakan akun-akun fake tersebut demi memantau sekaligus melesatkan perlindungan tingkat tinggi untuk si bungsu kesayangan.
Sekali saja ada yang berani menyentuh Billby, tamat sudah riwayatnya
•••
"Nih, minum dulu. Otak lo berdua kayaknya butuh yang dingin-dingin biar gak stres mikirin skors," ujar Vahan santai seraya melangkah masuk ke kamar sembari meletakkan nampan berisi tiga kaleng soda dan camilan di atas meja.
Afghan buru-buru menutup buku matematikanya, mencoba bersikap senormal mungkin. Sementara Mex yang sejak tadi asyik rebahan di kasur Vahan langsung bangkit dengan mata berbinar. "Wah, tahu aja lo Han kalau gue lagi sekarat!"
Vahan hanya mendengus, lalu tangannya bergerak meraih ponselnya yang tergeletak di samping buku belajar. Namun, baru saja jemarinya menyentuh layar, ponsel tersebut bergetar tanpa henti. Layarnya berkedip gila-gilaan, menampilkan ratusan notifikasi Instagram yang masuk seperti air air terjun
Alis Vahan bertaut.
Akun pribadinya yang biasanya sepi seperti kuburan tiba-kira meledak. Dengan cepat, ia membuka aplikasi tersebut.
Mata Vahan membelalak sempurna saat melihat namanya di-tag di ratusan komentar bernada murka. Dan yang membuat darahnya langsung berdesir hebat adalah ketika ia melihat sebuah komentar atas nama akunnya sendiri, bertengger di postingan video terbaru Billby:
@vahan: "Gak usah sok polos pasang muka kayak gitu di medsos. Pengadu kayak lo gak pantes dipuja-puja. Cari muka banget."
Rahang Vahan mengeras.
Di ruangan ini, hanya ada satu orang yang ia curigai memegang ponselnya tadi.
Vahan menoleh lambat, menatap Afghan dengan tatapan mata yang begitu tajam dan menusuk. "Ghan... lo apa-apaan?!" bentak Vahan dengan suara rendah yang terdengar sangat mengerikan.
Afghan tersentak. Ia mencoba tertawa renyah walau keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. "Kenapa, Han? Gue cuma bantu lo ngasih pelajaran ke si pelapor itu. Lagian gara-gara dia kita kan diskors—"
"BACOT LO, ANJING!"
Maki Vahan kasar, membuat Mex yang baru saja mau membuka kaleng sodanya langsung meloncat kaget. Ini kali pertama seorang Vahan, si murid teladan yang dikenal selalu tenang dan paling anti berkata kasar, berteriak sekencang itu sampai urat lehernya menonjol.
"Gue gak pernah nyuruh lo nyentuh HP gue, apalagi ngetik komentar sampah kayak gini! Lo tahu apa yang udah lo perbuat, hah?!" napas Vahan memburu, matanya memerah menatap Afghan penuh amarah. "Keluar lo dari kamar gue. KELUAR!"
"Han, tapi gue—"
"GUE BILANG KELUAR, AFGHAN! SEKARANG!" Vahan menunjuk pintu kamarnya dengan tegas. Auranya begitu pekat hingga membuat nyali Afghan ciut seketika. Tanpa berani membantah lagi, Afghan segera berjalan cepat keluar dari kamar
Mex yang masih kebingungan dengan situasi mencekam itu ikut berdiri dengan kikuk. "Eh, Han... santai dulu, Han. Ada masalah apa sih sebenarnya—"
"Lo juga, Mex! Keluar dari kamar gue! Gue mau sendiri!" potong Vahan, menyapu bersih semua orang dari kamarnya. Saking marahnya, ia tidak peduli lagi pada Mex yang sebenarnya tidak tahu apa-apa.
"I-iya, Han, oke, gue balik. Lo tenangin diri dulu ya," sahut Mex panik, langsung terbirit-birit menyusul Afghan keluar sebelum menjadi sasaran amukan Vahan selanjutnya.
Brak!