Indonesia
NovelToon NovelToon
Syarat Dan Ketentuan Berlaku

Syarat Dan Ketentuan Berlaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / CEO
Popularitas:465
Nilai: 5
Nama Author: Lady Airen

Gwen Aditya cuma butuh kerja keras dan logika buat sukses. Urusan siapa yang naksir? Itu di luar spreadsheet-nya.

Sialnya, atasannya sendiri gak masuk kalkulasi.

Madoc Rhydian Kane—CEO Kane Group yang bikin ruang rapat sunyi—gak pernah nyangka bisa jatuh gara-gara satu manajer operasional yang rapi, blak-blakan, dan sama sekali gak keder dihadapannya.

Madoc jatuh duluan. Jatuh lebih dalam. Sementara Gwen bahkan gak sadar sedang diperhatikan, sampai seluruh kantor tahu lebih dulu.

Di antara laporan kuartalan, kopi yang selalu "kebetulan" ada di meja, dan satu papan catur, mereka belajar bahwa dua orang paling kompeten pun bisa gagap soal cinta.

Bukan sekadar "aku terima kamu", tapi tentang terus memilih satu sama lain—bahkan setelah semua syarat dan ketentuan terpenuhi.

📌 Workplace romance | Slow burn | Oblivious female lead | CEO x Manager

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lady Airen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kehujanan

Hujan turun tiba-tiba jam sembilan malam, dan Gwen baru sadar dia tertinggal rombongan begitu keluar dari toko oleh-oleh yang dia masuki sendirian sepuluh menit lalu.

Rencana awalnya sederhana: setelah makan malam di warung nasi, sebagian rombongan langsung kembali ke hotel, sementara Gwen bilang mau mampir sebentar ke toko oleh-oleh terdekat untuk beli sesuatu untuk ibunya di rumah. Reza sempat menawarkan menunggu, tapi Gwen menolak halus, bilang dia bisa jalan kaki sendiri karena jaraknya cuma sepuluh menit dari hotel.

Dia tidak memperhitungkan hujan.

Begitu keluar toko, langit yang tadi cerah sudah berubah gelap total, dan air turun deras tanpa aba-aba. Gwen berdiri di teras toko, menatap ponselnya—baterai tinggal delapan persen, dan aplikasi ojek online butuh waktu lebih lama dari biasanya untuk mencari driver di tengah hujan deras seperti ini.

Estimasi driver: 12 menit.

Dia mengetuk-ngetuk layar ponselnya, gelisah, sambil melirik jam. Sembilan lewat lima belas. Kalau dia tunggu lebih lama, baterainya bisa habis sebelum drivernya sampai.

Dia mengetik pesan cepat ke grup rombongan.

GWEN: guys sori, kehujanan di toko oleh-oleh, lagi nunggu ojek online. baterai hp mepet, kalo ilang kontak jangan panik ya

Pesan itu terkirim, tapi belum ada yang membalas—kemungkinan besar karena sebagian besar rombongan sudah sampai hotel dan sedang istirahat, tidak memantau ponsel dengan serius.

---

Madoc melihat pesan itu masuk lima menit kemudian, sedang duduk di kamar hotelnya sambil membaca ulang laporan Meridian untuk sesi terakhir retreat besok pagi.

Dia membaca pesan itu dua kali, memperhatikan detail kecil yang mungkin tidak diperhatikan orang lain—baterai mepet, hujan deras, sendirian. Kombinasi itu membuat sesuatu di dadanya terasa tidak nyaman, semacam kegelisahan yang tidak sepenuhnya bisa dia jelaskan dengan logika biasa.

Dia mengambil ponselnya, membuka aplikasi peta, mengecek lokasi toko oleh-oleh yang paling dekat dengan area warung nasi tadi. Ada dua kemungkinan toko, tapi berdasarkan arah jalan yang biasa dilewati rombongan, dia bisa menebak yang mana.

Tanpa berpikir dua kali, dia mengambil kunci mobil yang sudah dia sewa sejak hari pertama retreat—kebiasaan pribadinya untuk selalu punya kendaraan sendiri di mana pun dia pergi, alasan yang biasanya soal fleksibilitas jadwal—dan turun ke lobi hotel.

---

Gwen sudah hampir menyerah menunggu ojek online yang tidak kunjung datang—aplikasinya terus menunjukkan "mencari driver" tanpa perkembangan, kemungkinan besar karena banyak orang lain yang juga terjebak hujan dan memesan bersamaan—ketika sebuah mobil sedan hitam berhenti tepat di depan teras toko.

Kaca jendela turun, dan Madoc menyembulkan kepalanya, wajahnya basah sedikit oleh gerimis yang masuk lewat celah kaca.

"Naik," katanya, singkat.

Gwen menatapnya, kaget. "Pak? Kok bisa tau saya di sini?"

"Baca pesan di grup." Dia membuka pintu dari dalam. "Naik, keburu makin deres."

Gwen tidak sempat berpikir lebih lama, karena hujan memang sudah semakin deras, dan tawaran itu jauh lebih masuk akal daripada terus menunggu ojek online yang tidak jelas kapan datangnya. Dia berlari kecil dari teras ke mobil, basah sebagian di bahunya, lalu masuk dan menutup pintu.

"Makasih, Pak," katanya, mengatur napas, mengibaskan sedikit air dari lengannya. "Untung ada Bapak, saya udah mulai panik nungguin ojek yang gak dateng-dateng."

"Ada apa tadi? Kenapa sampai ketinggalan rombongan?"

"Mampir beli oleh-oleh buat ibu saya," jelas Gwen. "Eh gak taunya keluar toko udah ujan gede."

Madoc mengangguk, menyalakan mobil, mengarahkan ke jalan menuju hotel. "Lain kali kalau mau mampir sendiri, kabarin dulu ke rombongan, biar ada yang nunggu."

"Iya, Pak. Maaf ngerepotin."

"Gak ngerepotin," katanya, cepat, "namanya juga tanggung jawab atasan. Peserta retreat kan tanggung jawab saya semua selama di sini."

Kalimat itu keluar lebih cepat dari yang dia rencanakan, dan begitu keluar, terdengar lebih formal dan defensif dari yang seharusnya perlu untuk sekadar menjelaskan kenapa dia repot-repot datang menjemput sendirian, di tengah hujan, tanpa menyuruh sopir atau meminta bantuan orang lain.

---

Gwen menerima jawaban itu apa adanya, tidak menangkap nada defensif di baliknya. Baginya, itu memang masuk akal—tanggung jawab atasan terhadap timnya, terutama dalam acara resmi perusahaan seperti retreat ini. Dia bahkan merasa sedikit terharu dengan perhatian itu, meski menganggapnya sebagai bentuk profesionalisme, bukan sesuatu yang lebih personal.

"Bapak baik banget," katanya, jujur, "sampai jemput sendiri segala. Padahal bisa aja nyuruh sopir hotel."

"Sopir hotel lagi ada tugas lain," kata Madoc, alasan yang sebenarnya tidak sepenuhnya benar—dia tidak pernah mengecek apakah sopir hotel sedang bertugas atau tidak, hanya langsung mengambil mobil sendiri tanpa berpikir opsi lain sama sekali. "Lagian saya emang lagi gak sibuk."

"Ya tetep aja, makasih, Pak. Beneran."

Madoc mengangguk, fokus menyetir di jalan yang mulai licin karena hujan, tidak menambahkan komentar lebih lanjut.

---

Perjalanan sepuluh menit itu terasa jauh lebih lama dari yang seharusnya, diisi keheningan yang berbeda dari keheningan nyaman di perjalanan Cipularang beberapa hari lalu.

Gwen menikmati keheningan itu apa adanya—setelah kejadian panik menunggu ojek di tengah hujan, dia cukup senang bisa duduk diam sebentar, mengeringkan diri dari basah kecil di lengannya, sambil melihat jalanan Bandung yang basah terpantul lampu-lampu toko yang masih buka.

Tapi bagi Madoc, keheningan itu terasa berat.

Dia mencuri pandang sesekali ke arah Gwen yang duduk di sampingnya, rambutnya sedikit basah di ujung, cara dia menyandarkan kepala ke jendela dengan tenang setelah kepanikan tadi mereda. Ada dorongan aneh untuk mengatakan sesuatu—apa saja—tapi setiap kali dia mencoba membuka mulut, kata-kata yang muncul di kepalanya terasa terlalu personal untuk situasi ini, terlalu jauh dari topik kerja yang biasa jadi zona amannya.

Kamu gak apa-apa?

Saya khawatir tadi.

Untung saya cek pesan itu tepat waktu.

Semua kalimat itu terasa terlalu jujur, terlalu dekat dengan sesuatu yang belum siap dia akui, bahkan pada dirinya sendiri. Jadi dia memilih diam, fokus menyetir, membiarkan hujan yang mengetuk kaca jadi satu-satunya suara yang mengisi mobil itu.

"Bapak kenapa diem terus?" tanya Gwen akhirnya, memecah keheningan, lebih karena penasaran daripada curiga. "Capek?"

"Enggak," jawab Madoc, cepat. "Cuma... fokus nyetir. Jalanan licin."

Alasan itu masuk akal, dan Gwen menerimanya tanpa pertanyaan lebih lanjut, kembali menatap jalanan di luar jendela.

Madoc menghela napas pelan, nyaris tidak terdengar, merasa lega sekaligus kesal pada dirinya sendiri karena tidak bisa menemukan kata-kata sesederhana yang biasanya mudah dia ucapkan di rapat mana pun—padahal yang dia hadapi sekarang cuma satu orang, duduk satu meter darinya, dalam mobil yang sama, dengan hujan sebagai satu-satunya saksi dari keheningan yang terasa jauh lebih berat baginya daripada yang seharusnya untuk sekadar perjalanan sepuluh menit.

---

Mereka sampai di hotel tanpa insiden lain. Gwen membuka pintu, turun dari mobil, lalu menoleh sebentar sebelum masuk.

"Makasih beneran, Pak," katanya, tersenyum tulus. "Kalau Bapak gak jemput, mungkin saya masih di teras toko itu sampai sekarang."

"Sama-sama," kata Madoc, mencoba terdengar sewajar mungkin. "Istirahat, besok masih ada sesi terakhir."

"Siap, Pak. Selamat malam."

Dia berjalan masuk ke lobi hotel, meninggalkan Madoc yang masih duduk di mobil beberapa detik lebih lama dari yang perlu, menatap pintu kaca yang baru saja tertutup di belakangnya.

Dia mematikan mesin mobil, tapi tidak langsung turun. Kepalanya bersandar sebentar ke jok, mata terpejam, mencoba memahami kenapa dia bisa sebegitu panik cuma karena satu pesan singkat di grup, kenapa dia bisa langsung meninggalkan laporan pentingnya begitu saja untuk menjemput seseorang yang sebenarnya bisa saja menunggu ojek online sampai datang.

Tanggung jawab atasan, dia mengulang alasan itu dalam kepalanya, mencoba meyakinkan dirinya sendiri.

Tapi bahkan bagi dirinya sendiri, alasan itu terasa semakin tipis setiap kali dia mengucapkannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!