Indonesia
NovelToon NovelToon
Mari Bercerai, Mas!

Mari Bercerai, Mas!

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Identitas Tersembunyi / Penyesalan Keluarga / Tamat
Popularitas:2.7M
Nilai: 5
Nama Author: Senja

“Mari bercerai, Mas!”

Rania menatap lurus ke mata suaminya tanpa gentar, meski hatinya terasa hancur perlahan.

Harsa membeku. Kata cerai tak pernah ada dalam hidupnya. Baginya, Rania adalah miliknya selamanya, takdir yang tak bisa diubah siapa pun.

“Apa katamu?!”

Rania menggigit bibir, menahan sesak di dada sebelum akhirnya berkata pelan namun tegas, “Aku ingin bercerai. Aku sudah lelah menjadi istrimu!”

Selama tiga tahun pernikahan mereka, semuanya baik-baik saja. Harsa mencintainya dengan cara yang hangat. Sampai kematian sang adik mengubah segalanya.

Sejak saat itu, Harsa seolah perlahan menjauh darinya. Semua waktunya habis untuk menjaga janda adiknya dan keponakan kecil mereka. Sedangkan Rania, hanya menjadi bayangan di rumahnya sendiri.

Tak ada yang tahu, di balik senyum tenangnya, Rania sedang berjuang melawan penyakit yang mematikan.

Akankah Harsa setuju dengan perceraian itu? Ataukah Rania memilih pergi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 17

Rania memutuskan untuk memesan taksi online melalui ponselnya. Ia melangkah keluar halaman tanpa alas kaki yang mewah, hanya sepasang flatshoes sederhana yang membungkus kakinya yang dingin.

Rania berdiri di pinggir jalan yang masih sepi, memeluk tas selempangnya erat-erat seolah benda itu adalah satu-satunya pegangan yang ia miliki di dunia ini.

Tak berselang lama, sebuah mobil sedan putih berpelat hitam berhenti di depannya. Rania buru-buru membuka pintu dan masuk ke kursi belakang.

“Sesuai aplikasi ya, Nyonya? Ke Rumah Sakit Medika?” tanya sopir taksi ramah, melirik sekilas dari kaca spion tengah.

“Iya, Pak. Sesuai aplikasi,” jawab Rania lirih.

Begitu mobil mulai melaju membelah jalanan, Rania tidak lagi menoleh ke belakang untuk menatap gerbang megah rumahnya seperti yang biasa ia lakukan setiap kali hendak bepergian.

Tidak ada lagi rasa berat hati atau keinginan untuk melihat apakah suaminya sedang mengintip dari balik jendela kamar.

Karena pagi ini, Rania sudah sepenuhnya yakin, Harsa tidak akan mungkin mengejarnya.

Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya luruh satu per satu, mengalir melewati pipinya yang pucat. Rasa sesak di dadanya kian meradang, bersahut-bersahutan dengan rasa pening di kepalanya.

Rania memalingkan wajah, menatap kaca jendela yang buram oleh embun pagi, meratapi nasib pernikahannya yang hancur justru di saat fisiknya sedang tidak baik-baik saja.

Sementara itu, di halaman rumah, Harsa melangkah keluar dengan setelan kemeja kerja yang tampak sedikit kusut. Wajahnya tegang, matanya merah karena tidak tidur semalaman.

Begitu sampai di halaman, ia terkejut melihat mobil keluarga masih terparkir rapi dan sang sopir pribadi sedang sibuk mengelap kap mesin.

“Darto!” panggil Harsa dengan suara meninggi dan panik.

Pak Darto yang sedang memegang kain pembersih langsung tersentak. Ia buru-buru menaruh kainnya dan menghampiri sang majikan dengan membungkuk sopan.

“Ya, Tuan? Ada yang bisa saya bantu?”

“Dimana istriku? Kenapa kamu masih di sini?!” tanya Harsa beruntun, matanya mengedar ke sekeliling halaman yang sepi.

Harsa mengira Rania pergi ke rumah sakit menggunakan mobil keluarga bersama Darto, namun nyatanya sopir itu malah masih standby di rumah.

Pak Darto mengernyitkan dahi, tampak bingung dengan pertanyaan ketus dari majikannya.

“Lho... bukannya Tuan sendiri yang kemarin sore berpesan kepada saya? Tuan bilang, subuh ini saya disuruh bersiap-siap untuk mengantar Tuan dan mbak Wulan ke rumah sakit pusat untuk mengecek keadaan den Gavin? Makanya saya tidak berani membawa mobil ini ke mana-mana sebelum Tuan keluar.”

Deg!

Harsa bagai dihantam batu besar tepat di dadanya. Ia memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut sangat nyeri.

Ia benar-benar lupa.

Otaknya yang carut-marut karena ancaman cerai Rania semalam membuat semua memorinya tentang Wulan dan Gavin sempat menguap.

Harsa baru ingat bahwa dirinyalah yang menyuruh Darto mengosongkan jadwal pagi ini demi anak adiknya itu.

“Sial...” umpat Harsa pelan, merutuki kebodohannya sendiri.

Namun, ego dan rasa gengsinya yang tinggi membuat ia enggan terlihat bersalah di depan karyawannya.

Harsa langsung melemparkan kesalahan itu pada Pak Darto.

“Harusnya kamu lebih mementingkan istriku, Darto! Kamu kan tahu Rania sedang tidak sehat belakangan ini! Urusan Wulan dan Gavin, biar aku sendiri yang mengaturnya nanti!”

Pak Darto yang tidak tahu apa-apa hanya bisa menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

Wajah paruh bayanya nampak serba salah dan ketakutan melihat sang majikan yang mendadak murka.

“M–maaf, Tuan... sudah terlanjur. Nyonya Rania tadi sudah pergi. Apa perlu saya kejar nyonya Rania sekarang menggunakan mobil ini? Mumpung taksinya sepertinya belum jalan terlalu jauh di ujung gang,” tawar Pak Darto sigap, bersiap mengambil kunci mobil di sakunya.

Harsa terdiam sejenak.

Bayangan tatapan mata Rania yang teramat dingin dan ketus di ruang tamu tadi subuh kembali terlintas di benaknya.

Kalimat perceraian itu seolah berbisik kembali di telinganya, menyisakan rasa sesak yang asing. Harsa tahu, jika ia mengejar Rania sekarang dengan emosi yang sama-sama memuncak, mereka hanya akan berakhir dengan perdebatan yang jauh lebih hebat di pinggir jalan.

Harsa mengembuskan napas kasar, membuang muka dengan gusar.

“Nggak usah! Tidak perlu dikejar!”

“Lalu... kita bagaimana, Tuan?” tanya Pak Darto ragu-ragu.

“Langsung ke tempat Wulan saja sekarang. Siapkan mobilnya,” titah Harsa mutlak, memutus rantai keraguannya.

Harsa langsung membuka pintu penumpang depan dan masuk ke dalam mobil dengan gerakan kasar, menyandarkan punggungnya dengan sisa amarah yang bergejolak.

Pak Darto tidak berani membantah lagi. Ia buru-buru masuk ke kursi kemudi, menyalakan mesin, dan segera memacu mobil keluar dari gerbang, menuju kediaman Wulan.

Di dalam mobil yang melaju berlawanan arah dengan taksi Rania, Harsa mengepalkan tangannya kuat-kuat di atas pangkuan.

Ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa keputusannya tidak mengejar Rania adalah hal yang benar demi menenangkan ego mereka masing-masing.

Jauh di lubuk hatinya yang terdalam, sebuah rasa bersalah yang amat pekat mulai mengikis ketenangannya.

“Rania hanya sedang menguji kesabaranku! Dia kan cinta mati padaku. Nanti juga dia baik lagi dan perhatian seperti biasa,” batin Harsa penuh percaya diri.

.

.

Sesampainya di depan rumah sederhana bernuansa asri itu, pintu terbuka.

Bocah laki-laki berusia lima tahun langsung berlari riang ke halaman begitu melihat mobil Harsa berhenti.

“Papa Harsa!” teriak Gavin sembari berlari kencang ke arah pria yang baru saja turun dari mobil.

“Gavin, jangan lari-lari, Sayang. Nanti kamu jatuh,” ucap Wulan lembut, melangkah keluar menyusul putranya dengan senyum manis yang menenangkan.

Gavin langsung memeluk kaki Harsa erat.

“Gavin kangen Papa!”

Harsa tersenyum tipis, lalu berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan Gavin.

“Paman juga kangen Gavin. Gimana kondisimu? Masih pusing badannya?” tanya Harsa sembari menyentuh kening Gavin dengan punggung tangannya.

Gavin mengangguk manja.

“Masih sedikit, Pa. Hari ini kita jadi ke dokter, kan?”

“Jadi, dong. Paman yang akan antar kamu ke sana sekarang. Ayo, langsung naik ke mobil,” ajak Harsa sembari menuntun Gavin menuju pintu belakang yang sudah dibukakan oleh Pak Darto.

Wulan yang berjalan di belakang mereka pun ikut menyusul mendekat.

Langkahnya melambat saat menatap wajah Harsa yang nampak lelah dan kurang istirahat.

“Em... Mas Harsa,” panggil Wulan ragu-ragu.

Harsa menoleh. “Ada apa, Wulan?”

“Maaf ya, Mas... Lagi-lagi aku merepotkanmu begini,” ucap Wulan, mendadak memasang raut wajah sedih yang teramat bersalah.

“Jujur, aku nggak enak sama mbak Rania. Dia nggak apa-apa, kan, kalau Mas antar aku dan Gavin hari ini? Aku takut mbak Rania salah paham lagi.”

Harsa seketika terdiam. Kalimat Wulan laksana pisau yang mengorek kembali luka semalam.

Ingatan tentang bagaimana Rania menatapnya penuh benci, mengusirnya, hingga berkata ketus memintanya pergi menemani Gavin kembali berputar di kepala. Dada Harsa terasa sangat sesak.

“Nggak. Dia nggak marah,” jawab Harsa.

Tanpa menunggu balasan Wulan, ia langsung berbalik dan masuk ke dalam mobil lebih dulu.

Sebenarnya, Wulan sempat mendengar sayup-sayup suara pertengkaran hebat dan bentakan Harsa di balik telepon tadi subuh.

Rasanya ia ingin bertanya lebih jauh tentang apa yang terjadi, namun ia menahan diri karena takut dinilai terlalu ikut campur dalam urusan rumah tangga orang lain.

1
Dini
bener" ceritamu menguras emosi pembaca thor'semangat thor 👍 💪
Senja: Hehe makasih kk
total 1 replies
Dini
ini gambaran d dunia nyata pun pelakor lbh unggul 😄
Dini
bagus rania aku setuju👍👍 udah fisik sakit bathin jg sakit'mending lepas salah satu fokus buat ksehatan
Dini
baru baca udh ikut ngaheng ni otak'lanjut thor 👍🤣
Ika Yanti Unyil
seneng banget ketika rania bisa hidup dan bahagia bersama dokter jo.apalagi dikasih anak kembar sepasang.setelah mendapatkan perlakuan yg menyakitkan pada rumah tangga sebelumnya.awal2 membaca bener2 bikin nyesek.rania wanita kuat.
terus semangat berkarya thor ❤️🥰❤️🥰
hariyoo: mampir kk hehe ke chat story aku dong jadilah pembacaku kak /Frown/
total 1 replies
enungdedy
maaf..bukan nya dibab2 sbelumnya ktanya usaha harsa disokong sm keluarga rania krn papa rania melihat harsa punya potensi makanya keluarga rania mau membantu usaha harsa
koq skg critanya mlah beda
Lesmana
berkat elu , nenek tua 😤😤 emosi dah gw
Ernawati
aku bacanya jam 02:13 tgl 20 Agustus 3026
Wahyu Arfyanti
papa rania beraeti founder ya,kan pemilik,..klo ceo bukan pemilik.klo ga salah ya.🙏
oss
Kan udah pernah ketemu mamanya di toko perhiasan, masa si wulan lupa
Nur Aulia
peran utamanya terlalu lemah lembut
Senja: Sesuai tema kakak, yg bada ada KETIKA ISTRI PENDIAMKU BERUBAH BAR BAR
total 1 replies
Gembul Mbulz
gimana seh... Bagas kan eng dokter hebat kangker🤨😒🤨😒
Erna Fkpg
bagus Rania jangan jd sosok yg lemah jadilah sosok wanita yg kuat dan td mudah ditindas
Gembul Mbulz
wis.... meninggoy si Gavin.😕😕
Gembul Mbulz
sepertinya itu Wulan dan Gavin,yg secara gak mau hidup miskin. 🤣🤭
Rini Marwanti manurung
saya sh tim yg ngikutin apa kata author aja.. menikmati semua karya para author.. gk pake ekspektasi2an..😊
Senja: heheh makasih kk
total 1 replies
Dewa Nara
jangan lupa posis mereka difoto ya Rania
Dewa Nara
rasain tuh Wulan, kamu terlalu lancang dan berani
Dewa Nara
katanya Harsa peka, kalau Harsa memang peka, jauh2 hari harusnya sudah tau Rania sakit
Dewa Nara
semangat, Rania 💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!