Mari Bercerai, Mas!

Mari Bercerai, Mas!

Bab. 1

Jam dinding di ruang makan menunjukkan pukul sebelas lewat empat puluh malam.

Rania masih duduk di kursinya sejak satu jam lalu. Lampu gantung berwarna kuning keemasan menerangi meja makan yang dipenuhi lauk kesukaan suaminya—sup iga, sambal bawang, dan ayam goreng yang tadi sore ia masak sendiri.

Semuanya sudah dingin. Sama seperti hatinya.

Suara mobil memasuki halaman rumah membuat tubuh Rania menegang. Ia refleks berdiri, membenarkan cardigan tipis yang membalut tubuhnya. Ada rasa lega yang selalu datang setiap Harsa pulang, meski akhir-akhir ini lelaki itu lebih sering membawa lelah dibanding hangat.

Pintu rumah terbuka.

Harsa masuk dengan langkah berat. Kemejanya masih melekat rapi di tubuh tinggi tegapnya. Wajah tampannya terlihat lelah, tapi tetap dingin seperti biasa.

Rania tersenyum kecil. “Mas akhirnya pulang juga.”

Harsa hanya mengangguk singkat sambil melepas jam tangan. “Belum tidur?”

“Aku nungguin Mas makan.”

Tatapan Harsa beralih sekilas ke meja makan, lalu kembali pada ponselnya yang sejak tadi menyala.

“Wulan tadi demam,” katanya tiba-tiba.

Senyum Rania memudar perlahan.

“Oh.”

“Anaknya juga rewel seharian. Mungkin masih trauma sejak ditinggal ayahnya.”

Rania diam. Lagi-lagi Wulan. Sudah hampir setahun terakhir, nama itu selalu hadir di antara mereka seperti orang ketiga yang tak terlihat.

Wulan, istri mendiang adik Harsa.

Sejak adiknya mengalami kecelekaan tahun lalu, Harsa berubah. Lelaki itu jadi lebih pendiam, lebih emosional, dan terlalu melibatkan diri dalam kehidupan Wulan dan anaknya. Awalnya Rania memahami. Ia ikut berduka. Ia ikut membantu. Tapi lama-lama, perhatian Harsa terasa tidak lagi wajar.

“Mas makan dulu aja,” ucap Rania pelan. “Aku hangatkan lagi makanannya.”

“Nggak usah. Aku udah makan di sana.”

Kalimat itu seperti tamparan kecil yang mendarat tepat di dadanya. Rania menunduk pelan.

“Oh… yaudah.”

Harsa bahkan tidak sadar raut wajah istrinya berubah kecewa. Lelaki itu masih sibuk mengetik sesuatu di ponselnya. Kemungkinan besar membalas pesan Wulan lagi.

Rania menarik napas panjang sebelum akhirnya duduk kembali.

“Aku masak dari tadi sore,” katanya lirih, lebih seperti bicara pada dirinya sendiri.

“Apa?” tanya Harsa singkat.

“Nggak.”

Hening. Rumah besar itu tiba-tiba terasa begitu asing. Dulu, Harsa selalu pulang cepat setiap tanggal ini. Mereka akan makan malam bersama, lalu lelaki itu biasanya memberi hadiah kecil meski hanya bunga atau kue sederhana.

Tapi malam ini, tidak ada ucapan. Tidak ada pelukan. Bahkan Harsa tidak ingat hari ini.

Rania menatap lilin kecil di samping kue yang sudah hampir meleleh seluruhnya. Tiga tahun pernikahan mereka. Dan suaminya lupa.

“Mas sibuk banget akhir-akhir ini,” ucap Rania akhirnya.

Harsa menghela napas pendek. “Aku capek, Rania.”

“Aku cuma ngomong.”

“Nada bicaramu kayak nyalahin aku.”

Rania tersenyum hambar. “Aku salah kalau kangen suami sendiri?”

Harsa meletakkan ponselnya sedikit keras di meja. “Aku lagi bantu keluarga adikku.”

“Aku tahu.”

“Kalau tahu, harusnya kamu ngerti.”

Kalimat itu membuat dada Rania terasa sesak.

Harusnya kamu ngerti. Selalu itu. Selalu Rania yang diminta mengerti. Mengerti kalau suaminya pulang larut. Mengerti kalau perhatian Harsa sekarang terbagi. Mengerti kalau suaminya lebih sering berada di rumah perempuan lain dibanding di rumahnya sendiri.

Padahal Rania juga butuh dimengerti.

“Aku ngerti, Mas,” katanya pelan. “Tapi aku juga istri Mas.”

“Aku nggak pernah ninggalin kewajibanku sebagai suami.”

Rania tertawa kecil. Hambar. “Kewajiban?”

Tatapan Harsa langsung berubah tajam. “Maksud kamu apa bicara begitu?”

Rania menatap lelaki di depannya lama sekali. Ada sesuatu yang berubah dari Harsa sekarang. Sorot matanya tak lagi sehangat dulu.

“Mas sadar nggak sih…” suara Rania mulai bergetar, “akhir-akhir ini semua tentang Wulan.”

Harsa mendecakkan lidah pelan. “Kamu mulai lagi.”

“Aku cuma ngomong kenyataan.”

“Wulan itu istri almarhum adikku!”

“Aku tahu!” Rania meninggikan suara untuk pertama kalinya malam itu. “Tapi Mas terlalu ikut campur!”

Harsa berdiri mendadak. “Aku cuma bantu mereka!”

“Setiap hari?” mata Rania mulai berkaca-kaca. “Setiap saat? Bahkan di hari ulang tahun pernikahan kita pun Mas tetap pilih ada di sana!”

Untuk pertama kalinya sejak pulang, Harsa tampak tersadar.

“Ulang tahun pernikahan?”

Rania tertawa lirih, tapi air matanya jatuh. “Nah, kan? Mas lupa.”

Rahang Harsa mengeras. “Aku lagi banyak pikiran.”

“Dan aku selalu ada di urutan terakhir pikiran Mas.”

“Jangan drama Rania!”

Kalimat itu langsung menghancurkan sesuatu di hati Rania. Drama? Jadi selama ini rasa sakitnya hanya dianggap drama?

“Aku capek, Mas…” bisiknya lirih.

Harsa mengusap wajah kasar. “Aku nggak mau ribut malam-malam.”

“Tapi aku mau didengerin!” Suara Rania pecah begitu saja.

“Aku suami kamu!” bentak Harsa tiba-tiba. “Jangan pernah ngomong seolah aku laki-laki nggak bertanggung jawab!”

Rania menatap nanar ke arah suaminya. Lalu untuk pertama kali, kalimat itu keluar begitu saja dari bibirnya.

“Kalau Mas begitu khawatir sama Wulan…” napasnya bergetar, “…kenapa nggak sekalian tinggal sama dia?”

“Apa maksud ucapan kamu?”

“Aku capek terus kalah sama dia!”

Brak!

Harsa memukul meja keras sampai gelas di atasnya bergetar.

“Jaga ucapanmu, Rania!”

Tubuh Rania refleks gemetar. Selama menikah, Harsa memang keras, tapi lelaki itu tidak pernah membentaknya seperti ini.

“Aku nggak pernah mikirin Wulan kayak yang kamu tuduhkan!”

“Tapi Mas lebih perhatian sama dia dibanding aku!”

“Karena dia sendirian!”

“Aku juga sendirian Mas!” pekik Rania tanpa sadar. “Walaupun punya suami!”

Kalimat itu membuat ruangan mendadak sunyi. Dada Harsa naik turun menahan emosi. Sementara Rania mulai merasa kepalanya berdenyut hebat. Pandangan matanya perlahan kabur. Rasa nyeri itu datang lagi. Lebih sakit dari biasanya.

Rania memegang tepi meja pelan. Ada cairan mengalir dari hidungnya, darah.

Panik, Rania cepat membalikkan badan sebelum Harsa melihat. Ia mengusap darah itu dengan tangan gemetar.

“Rania?”

“Aku capek,” katanya buru-buru sambil membuang tisu penuh darah ke saku cardigan. “Aku mau tidur.”

Tanpa menunggu jawaban, Rania berjalan cepat menuju kamar. Harsa hanya berdiri diam di ruang makan dengan rahang masih mengeras. Lelaki itu tidak tahu, bahwa tubuh istrinya perlahan sedang hancur. Dan waktu yang mereka miliki mungkin tidak sebanyak yang ia kira.

“Kamu mulai membangkang Rania. Aku nggak suka itu,” gumam Harsa.

Terpopuler

Comments

say't

say't

baru eps 1 wis nambah dosa 😤 kudu mesoh² ae 🤣

2026-08-08

0

Katherina Ajawaila

Katherina Ajawaila

awal cerit yg menuju intri bikin kita kesel bacanya perempuan bsrmuka dua yg siap jd pengganti posisi Rania, gaya" nya ada pelakor serselubug😡

2026-07-20

1

Hamimah Jamal

Hamimah Jamal

aku singgah dikaryamu thor👍👍👍

2026-06-20

1

lihat semua
Episodes
1 Bab. 1
2 Bab. 2
3 Bab. 3
4 Bab. 4
5 Bab. 5
6 Bab. 6
7 Bab. 7
8 Bab. 8
9 Bab. 9
10 Bab. 10
11 Bab. 11
12 Bab. 12
13 Bab. 13
14 Bab. 14
15 Bab. 15
16 Bab. 16
17 Bab. 17
18 Bab. 18
19 Bab. 19
20 Bab. 20
21 Bab. 21
22 Bab. 22
23 Bab. 23
24 Bab. 24
25 Bab. 25
26 Bab. 26
27 Bab. 27
28 Bab. 28
29 Bab. 29
30 Bab. 30
31 Bab. 31
32 Bab. 32
33 Bab. 33
34 Bab. 34
35 Bab. 35
36 Bab. 36
37 Bab. 37
38 Bab. 38
39 Bab. 39
40 Bab. 40
41 Bab. 41
42 Bab. 42
43 Bab. 43
44 Bab. 44
45 Bab. 45
46 Bab. 46
47 Bab. 47
48 Bab. 48
49 Bab. 49
50 Bab. 50
51 Bab. 51
52 Bab. 52
53 Bab. 53
54 Bab. 54
55 Bab. 55
56 Bab. 56
57 Bab. 57
58 Bab. 58
59 Bab. 59
60 Bab. 60
61 Bab. 61
62 Bab. 62
63 Bab. 63
64 Bab. 64
65 Bab. 65
66 Bab. 66
67 Bab. 67
68 Bab. 68
69 Bab. 69
70 Bab. 70
71 Bab. 71
72 Bab. 72
73 Bab. 73
74 Bab. 74
75 Bab. 75
76 Bab. 76
77 Bab. 77
78 Bab. 78
79 Bab. 79
80 Bab. 80
81 Bab. 81
82 Bab. 82
83 Bab. 83
84 Bab. 84
85 Bab. 85
86 Bab. 86
87 Bab. 87
88 Bab. 88
89 Bab. 89
90 Bab. 90
91 Bab. 91
92 Bab. 92
93 Bab. 93
94 Bab. 94
95 Bab. 95
96 Bab. 96
97 Bab. 97
98 Bab. 98
99 Bab. 99
100 Bab. 100
101 Bab. 101
102 Bab. 102
103 Bab. 103
104 Bab. 104
105 Bab. 105
106 Promo Novel Baru “Aku Buat Suamiku Menyesal!”
107 Promosi Novel Baru “Dicampakkan Suami, Aku Jadi Pengusaha Sukses!”
Episodes

Updated 107 Episodes

1
Bab. 1
2
Bab. 2
3
Bab. 3
4
Bab. 4
5
Bab. 5
6
Bab. 6
7
Bab. 7
8
Bab. 8
9
Bab. 9
10
Bab. 10
11
Bab. 11
12
Bab. 12
13
Bab. 13
14
Bab. 14
15
Bab. 15
16
Bab. 16
17
Bab. 17
18
Bab. 18
19
Bab. 19
20
Bab. 20
21
Bab. 21
22
Bab. 22
23
Bab. 23
24
Bab. 24
25
Bab. 25
26
Bab. 26
27
Bab. 27
28
Bab. 28
29
Bab. 29
30
Bab. 30
31
Bab. 31
32
Bab. 32
33
Bab. 33
34
Bab. 34
35
Bab. 35
36
Bab. 36
37
Bab. 37
38
Bab. 38
39
Bab. 39
40
Bab. 40
41
Bab. 41
42
Bab. 42
43
Bab. 43
44
Bab. 44
45
Bab. 45
46
Bab. 46
47
Bab. 47
48
Bab. 48
49
Bab. 49
50
Bab. 50
51
Bab. 51
52
Bab. 52
53
Bab. 53
54
Bab. 54
55
Bab. 55
56
Bab. 56
57
Bab. 57
58
Bab. 58
59
Bab. 59
60
Bab. 60
61
Bab. 61
62
Bab. 62
63
Bab. 63
64
Bab. 64
65
Bab. 65
66
Bab. 66
67
Bab. 67
68
Bab. 68
69
Bab. 69
70
Bab. 70
71
Bab. 71
72
Bab. 72
73
Bab. 73
74
Bab. 74
75
Bab. 75
76
Bab. 76
77
Bab. 77
78
Bab. 78
79
Bab. 79
80
Bab. 80
81
Bab. 81
82
Bab. 82
83
Bab. 83
84
Bab. 84
85
Bab. 85
86
Bab. 86
87
Bab. 87
88
Bab. 88
89
Bab. 89
90
Bab. 90
91
Bab. 91
92
Bab. 92
93
Bab. 93
94
Bab. 94
95
Bab. 95
96
Bab. 96
97
Bab. 97
98
Bab. 98
99
Bab. 99
100
Bab. 100
101
Bab. 101
102
Bab. 102
103
Bab. 103
104
Bab. 104
105
Bab. 105
106
Promo Novel Baru “Aku Buat Suamiku Menyesal!”
107
Promosi Novel Baru “Dicampakkan Suami, Aku Jadi Pengusaha Sukses!”

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!