Bab. 2

Rania terbangun saat jam digital di samping tempat tidur menunjukkan pukul 03.07 dini hari. Ruangan kamar masih gelap, hanya diterangi cahaya redup dari lampu tidur di sudut ruangan. Hujan turun pelan di luar sana, meninggalkan suara rintik yang samar di balik jendela kaca.

Rania mengerjap pelan. Dadanya terasa sesak lagi malam ini. Tangannya refleks meraba sisi tempat tidur di sebelahnya.

Kosong.

Rania langsung membuka mata lebih lebar.

“Mas Harsa?” panggilnya lirih.

Tidak ada jawaban. Namun beberapa detik kemudian, terdengar suara gemercik air dari kamar mandi. Rania mengembuskan napas pelan. Mungkin suaminya sedang mandi.

Ia kembali merebahkan tubuhnya, berusaha memejamkan mata lagi. Tapi entah kenapa, perasaannya tidak tenang.

Sudah beberapa minggu terakhir Harsa sering terbangun tengah malam. Kadang keluar kamar diam-diam, kadang duduk sendirian di ruang kerja sampai pagi. Dan setiap kali Rania bertanya, lelaki itu selalu menjawab singkat.

Banyak pikiran.

Rania memiringkan tubuhnya pelan. Saat itulah matanya menangkap cahaya kecil dari ponsel Harsa yang tergeletak di nakas. Layar ponsel itu menyala.

Ada pesan masuk.

Awalnya Rania tidak berniat melihat. Ia bukan tipe istri yang suka memeriksa ponsel suami. Selama tiga tahun menikah, ia selalu percaya pada Harsa.

Namun malam ini, entah kenapa hatinya terasa tidak nyaman. Tangannya bergerak pelan mengambil ponsel itu.

Notifikasi pesan masih terbuka di layar. Nama pengirimnya membuat napas Rania tercekat.

Wulan.

Jantungnya langsung berdegup lebih cepat. Dan isi pesannya…

[Terima kasih sudah datang malam-malam. Aku benar-benar nggak tahu harus minta tolong ke siapa selain kamu, Mas]

Tubuh Rania membeku. Mas Harsa datang malam-malam?

Matanya bergerak turun membaca pesan sebelumnya.

[Mas, maaf ganggu jam segini. Anakku tiba-tiba demam tinggi dan terus nangis nyari ayahnya. Bisakah kamu datang?]

Pesan itu dikirim pukul 01.12 dini hari. Rania menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Jadi, saat dirinya tertidur lelap di kamar ini, Harsa diam-diam pergi menemui Wulan tengah malam. Demi perempuan itu.

Rania menunduk pelan. Tenggorokannya terasa sakit tiba-tiba.

Lucu ya…

Suaminya sendiri bahkan jarang memeluknya akhir-akhir ini, tapi masih selalu datang kapan pun perempuan lain membutuhkan. Meski perempuan itu adalah istri mendiang adiknya sendiri.

Rania memejamkan mata kuat-kuat. Ia tahu dirinya seharusnya mengerti.

Wulan memang sendiri sekarang. Wulan kehilangan suami. Dan Wulan punya anak kecil yang masih butuh figur ayah.

Semua orang selalu bilang begitu. Termasuk Harsa.

Tapi bagaimana dengan dirinya Siapa yang peduli kalau Rania juga kehilangan suaminya perlahan?

Air mata mulai memenuhi pelupuk matanya. Cepat-cepat ia menghapusnya sebelum jatuh.

Klek!

Pintu kamar mandi terbuka. Rania buru-buru meletakkan ponsel itu kembali tepat sebelum Harsa keluar.

Lelaki itu tampak segar setelah mandi. Kaos hitam tipis melekat di tubuh tegapnya, sementara rambut basahnya diusap kasar memakai handuk.

Harsa terlihat terkejut melihat Rania sudah bangun. “Kok belum tidur?”

Rania menatapnya beberapa detik. Tatapan yang membuat Harsa sedikit mengernyit.

“Mas dari mana?”

Harsa diam sepersekian detik terlalu lama. Lalu menjawab santai, “Olahraga.”

Rania hampir tertawa mendengarnya. Olahraga? Jam tiga pagi?

“Olahraga?” ulangnya pelan.

“Iya.”

“Malam-malam begini?”

Harsa melempar handuk ke sofa kecil dekat jendela. “Aku nggak bisa tidur.”

Jawabannya terdengar biasa. Terlalu biasa. Seolah pergi diam-diam tengah malam demi perempuan lain adalah hal normal.

Rania menatap wajah suaminya lama sekali. Mencari rasa bersalah di sana. Tapi tidak ada.

Harsa malah terlihat kesal karena ditanyai.

“Kenapa lihat aku kayak gitu?”

Rania tersenyum kecil. Senyum yang lebih mirip menahan hancur.

“Nggak apa-apa.”

“Kalau ada yang mau ngomong, ngomong aja.” Nada bicara Harsa mulai dingin.

Selalu begitu.

Belakangan ini, sedikit saja Rania bertanya, lelaki itu langsung emosi.

“Aku cuma heran aja,” kata Rania pelan. “Mas rajin banget olahraga sekarang.”

Harsa menghela napas kasar.

“Kamu mau nuduh apa?”

Rania tercekat. Padahal ia bahkan belum mengatakan apa-apa. Tapi Harsa sudah langsung marah. Hatinya terasa makin sakit.

“Aku nggak nuduh.”

“Rania, aku capek.” Harsa mulai meninggikan suara. “Jangan bikin masalah jam segini.”

Kalimat itu membuat dada Rania seperti diremas. Lagi-lagi dirinya yang dianggap sumber masalah.

Padahal yang ia inginkan cuma sedikit perhatian.

“Aku cuma tanya, Mas.”

“Dan nada kamu nyebelin.”

Air mata Rania hampir jatuh lagi. Ia menunduk cepat sebelum Harsa melihat. Dulu lelaki itu tidak seperti ini. Dulu Harsa akan menariknya ke pelukan kalau ia terlihat sedih. Dulu Harsa selalu mencium keningnya sebelum tidur.

Dulu…

Sebelum Wulan hadir terlalu jauh di kehidupan mereka.

“Mas sering ke sana?” tanya Rania lirih.

Harsa langsung menatap tajam.

“Kemana maksud kamu?”

“Rumah Wulan.”

“Aku cuma bantu mereka.”

“Jam satu malam?”

Hening.

Rahang Harsa mulai mengeras.

“Sudah kubilang, jangan mulai lagi.”

“Aku nggak mulai apa-apa…” suara Rania bergetar. “Aku cuma pengen tahu kenapa akhir-akhir ini Mas selalu ada buat dia, tapi nggak pernah ada buat aku.”

“Karena Wulan butuh bantuan!”

“Aku juga butuh suamiku…” Kalimat itu keluar begitu pelan.

Tapi cukup membuat suasana mendadak sunyi.

Untuk sesaat, Harsa terlihat kehilangan kata-kata. Namun hanya sesaat.

“Jangan egois, Rania.”

Deg.

Hati Rania benar-benar terasa runtuh kali ini.

Egois? Jadi meminta perhatian suami sendiri sekarang dianggap egois?

“Aku egois?” bisiknya lirih.

Harsa mengusap wajah frustrasi.

“Aku udah kehilangan adik aku. Jangan bikin aku harus mikirin hal nggak penting juga. Semua yang aku lakukan demi Gavin!”

Hal nggak penting?

Rania menatap kosong ke arah suaminya. Ternyata, dirinya sudah menjadi hal tidak penting dalam hidup Harsa.

Air mata akhirnya jatuh juga. Namun Harsa bahkan tidak mendekat. Tidak memeluk, tidak meminta maaf.

Lelaki itu hanya menghela napas panjang seolah lelah menghadapi dirinya. Dan malam itu, untuk pertama kalinya, Rania sadar. Suaminya mungkin masih tinggal satu rumah dengannya. Tapi hati Harsa sudah lama pergi entah ke mana.

“Aku mau tidur!” Harsa berbaring membelakangi Rania.

Sementara Rania, hanya menahan isak tangis sebelum turun dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi.

Terpopuler

Comments

Anifa

Anifa

baru baca masih skip2 soal nya nggak suka drama perlebai lebaian, nanti bacanya fokus aja pas udah minta cerai 🤣

2026-07-06

0

tinie

tinie

aku walau tak ada orang ketiga
TPI sering diam diam menangis ,bantal basah bukan karna keringat TPI air mata

2026-05-19

0

Susilawati

Susilawati

bodoh banget kalo Rania masih bertahan dgn situasi seperti ini, itu nama nya menyiksa diri sendiri

2026-07-11

0

lihat semua
Episodes
1 Bab. 1
2 Bab. 2
3 Bab. 3
4 Bab. 4
5 Bab. 5
6 Bab. 6
7 Bab. 7
8 Bab. 8
9 Bab. 9
10 Bab. 10
11 Bab. 11
12 Bab. 12
13 Bab. 13
14 Bab. 14
15 Bab. 15
16 Bab. 16
17 Bab. 17
18 Bab. 18
19 Bab. 19
20 Bab. 20
21 Bab. 21
22 Bab. 22
23 Bab. 23
24 Bab. 24
25 Bab. 25
26 Bab. 26
27 Bab. 27
28 Bab. 28
29 Bab. 29
30 Bab. 30
31 Bab. 31
32 Bab. 32
33 Bab. 33
34 Bab. 34
35 Bab. 35
36 Bab. 36
37 Bab. 37
38 Bab. 38
39 Bab. 39
40 Bab. 40
41 Bab. 41
42 Bab. 42
43 Bab. 43
44 Bab. 44
45 Bab. 45
46 Bab. 46
47 Bab. 47
48 Bab. 48
49 Bab. 49
50 Bab. 50
51 Bab. 51
52 Bab. 52
53 Bab. 53
54 Bab. 54
55 Bab. 55
56 Bab. 56
57 Bab. 57
58 Bab. 58
59 Bab. 59
60 Bab. 60
61 Bab. 61
62 Bab. 62
63 Bab. 63
64 Bab. 64
65 Bab. 65
66 Bab. 66
67 Bab. 67
68 Bab. 68
69 Bab. 69
70 Bab. 70
71 Bab. 71
72 Bab. 72
73 Bab. 73
74 Bab. 74
75 Bab. 75
76 Bab. 76
77 Bab. 77
78 Bab. 78
79 Bab. 79
80 Bab. 80
81 Bab. 81
82 Bab. 82
83 Bab. 83
84 Bab. 84
85 Bab. 85
86 Bab. 86
87 Bab. 87
88 Bab. 88
89 Bab. 89
90 Bab. 90
91 Bab. 91
92 Bab. 92
93 Bab. 93
94 Bab. 94
95 Bab. 95
96 Bab. 96
97 Bab. 97
98 Bab. 98
99 Bab. 99
100 Bab. 100
101 Bab. 101
102 Bab. 102
103 Bab. 103
104 Bab. 104
105 Bab. 105
106 Promo Novel Baru “Aku Buat Suamiku Menyesal!”
107 Promosi Novel Baru “Dicampakkan Suami, Aku Jadi Pengusaha Sukses!”
Episodes

Updated 107 Episodes

1
Bab. 1
2
Bab. 2
3
Bab. 3
4
Bab. 4
5
Bab. 5
6
Bab. 6
7
Bab. 7
8
Bab. 8
9
Bab. 9
10
Bab. 10
11
Bab. 11
12
Bab. 12
13
Bab. 13
14
Bab. 14
15
Bab. 15
16
Bab. 16
17
Bab. 17
18
Bab. 18
19
Bab. 19
20
Bab. 20
21
Bab. 21
22
Bab. 22
23
Bab. 23
24
Bab. 24
25
Bab. 25
26
Bab. 26
27
Bab. 27
28
Bab. 28
29
Bab. 29
30
Bab. 30
31
Bab. 31
32
Bab. 32
33
Bab. 33
34
Bab. 34
35
Bab. 35
36
Bab. 36
37
Bab. 37
38
Bab. 38
39
Bab. 39
40
Bab. 40
41
Bab. 41
42
Bab. 42
43
Bab. 43
44
Bab. 44
45
Bab. 45
46
Bab. 46
47
Bab. 47
48
Bab. 48
49
Bab. 49
50
Bab. 50
51
Bab. 51
52
Bab. 52
53
Bab. 53
54
Bab. 54
55
Bab. 55
56
Bab. 56
57
Bab. 57
58
Bab. 58
59
Bab. 59
60
Bab. 60
61
Bab. 61
62
Bab. 62
63
Bab. 63
64
Bab. 64
65
Bab. 65
66
Bab. 66
67
Bab. 67
68
Bab. 68
69
Bab. 69
70
Bab. 70
71
Bab. 71
72
Bab. 72
73
Bab. 73
74
Bab. 74
75
Bab. 75
76
Bab. 76
77
Bab. 77
78
Bab. 78
79
Bab. 79
80
Bab. 80
81
Bab. 81
82
Bab. 82
83
Bab. 83
84
Bab. 84
85
Bab. 85
86
Bab. 86
87
Bab. 87
88
Bab. 88
89
Bab. 89
90
Bab. 90
91
Bab. 91
92
Bab. 92
93
Bab. 93
94
Bab. 94
95
Bab. 95
96
Bab. 96
97
Bab. 97
98
Bab. 98
99
Bab. 99
100
Bab. 100
101
Bab. 101
102
Bab. 102
103
Bab. 103
104
Bab. 104
105
Bab. 105
106
Promo Novel Baru “Aku Buat Suamiku Menyesal!”
107
Promosi Novel Baru “Dicampakkan Suami, Aku Jadi Pengusaha Sukses!”

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!