Bab. 5

Langkah Rania terasa ringan sekaligus kosong saat keluar dari ruang rawat jalan rumah sakit. Tangannya masih menggenggam map hasil pemeriksaan dengan erat, seolah kertas tipis itu mampu menopang tubuhnya yang perlahan runtuh.

Pendingin ruangan rumah sakit membuat kulitnya terasa dingin, tapi tidak sedingin kenyataan yang baru saja ia dengar beberapa menit lalu.

“Mungkin... beberapa bulan.”

Kalimat itu terus terngiang di kepalanya. Rania berjalan pelan melewati lorong rumah sakit yang ramai. Orang-orang berlalu-lalang di sekitarnya, beberapa ditemani pasangan, keluarga, atau sahabat.

Sedangkan dirinya, selalu sendiri.

Rania baru saja akan memesan taksi ketika langkahnya mendadak terhenti, napasnya tercekat. Di ujung lorong dekat ruang anak-anak, ia melihat sosok yang begitu dikenalnya.

Mas Harsa.

Pria itu berdiri dengan Gavin kecil di gendongannya. Bocah itu tampak pucat sambil menyandarkan kepala di pundak Harsa, sementara Wulan berdiri di samping mereka dengan wajah cemas.

Namun yang membuat dada Rania terasa seperti diremas bukanlah keberadaan mereka. Melainkan senyum Harsa, begitu hangat dan penuh perhatian.

Senyum yang dulu selalu menjadi miliknya.

“Mas…” lirih Rania tanpa sadar.

Matanya langsung memanas.

Sudah lama sekali Harsa tidak menatapnya selembut itu. Sudah lama lelaki itu tidak tersenyum tulus di depannya.

Tapi sekarang, senyum itu justru hadir untuk perempuan lain dan anaknya.

Rania menggigit bibir bawah kuat-kuat agar tangisnya tidak pecah di tempat. Dadanya sakit, sangat sakit.

Ia berdiri di sini sendirian setelah mendengar hidupnya mungkin tinggal beberapa bulan lagi, sementara suaminya malah sibuk menemani perempuan lain.

Gavin tertawa kecil saat Harsa mengusap rambutnya pelan. Wulan pun tersenyum lega melihat anaknya mulai tenang. Mereka benar-benar terlihat seperti keluarga utuh.

Harsa tampak begitu cocok berdiri di antara mereka. Seolah posisi Rania di hidup lelaki itu perlahan memang mulai tergeser.

Tangan Rania gemetar saat mengeluarkan ponselnya. Entah kenapa, tiba-tiba ia ingin sekali diingatkan kalau dirinya masih punya tempat di hati suaminya.

Jemarinya mengetik pelan.

[Mas, kamu di mana? Aku boleh minta tolong nggak?]

Rania menatap layar ponselnya penuh harap. Mungkin Harsa akan bertanya dirinya kenapa. Mungkin Harsa akan sadar istrinya sedang tidak baik-baik saja.

Drrt!

Balasan datang cepat.

Jantung Rania langsung berdegup pelan saat membuka pesan itu.

[Aku lagi ngantar Gavin ke rumah sakit. Demamnya kambuh lagi. Tadi Wulan panik banget. Aku nggak tega lihatnya. Kamu mau minta tolong apa?]

Rania diam, matanya membaca pesan itu berulang kali. Lalu perlahan, bibirnya membentuk senyum kecil yang pahit.

Tentu saja, lagi-lagi Wulan dan Gavin. Dan lagi-lagi Harsa memilih mereka. Bahkan tanpa sadar.

Air mata mulai memenuhi pelupuk matanya, tapi Rania buru-buru menghapusnya sebelum jatuh. Ia tidak mau menangis di tengah rumah sakit seperti perempuan menyedihkan.

Padahal nyatanya, ia memang menyedihkan.

Dengan tangan gemetar, Rania membalas pesan suaminya.

[Nggak jadi, Mas. Nanti aja. Salam buat Wulan. Semoga Gavin cepat sembuh. Nanti kalau sempat aku nengok dia]

Setelah itu Rania langsung mematikan layar ponselnya.

Karena ia tahu, kalau terus melihat pesan itu, ia benar-benar akan menangis.

Pelan-pelan matanya kembali terangkat ke arah Harsa. Pria itu kini berjalan sambil menggendong Gavin yang mulai tertidur. Wulan berjalan di sampingnya sambil sesekali mengatakan sesuatu. Dan Harsa mendengarkan perempuan itu dengan sabar.

Rania menunduk cepat karena dadanya terasa semakin sesak. Dulu Harsa juga seperti itu padanya, dulu lelaki itu selalu mendengarkan semua ceritanya.

Sekarang bahkan untuk sarapan bersama saja Harsa tidak punya waktu.

Rania memeluk tubuhnya sendiri pelan. Berusaha menguatkan dirinya sendiri seperti biasa.

“Sabar, Rania, mungkin Gavin memang lebih membutuhkan mas Harsa dibanding kamu.”

Bukankah itu benar? Gavin masih kecil. Ia kehilangan ayahnya.

Sedangkan Rania, ia cuma kehilangan perhatian suaminya.

Harusnya ia bisa lebih dewasa. Harusnya ia bisa mengerti.

Tapi kenapa sesakit ini? Kenapa rasanya seperti sedang melihat suaminya hidup bahagia bersama keluarga lain sementara dirinya perlahan dilupakan?

Air mata akhirnya jatuh juga. Satu tetes. Lalu semakin banyak.

Rania cepat membalikkan badan sebelum Harsa melihat dirinya.

Kalau lelaki itu tahu ia ada di sini, pasti Harsa akan bertanya kenapa dirinya datang ke rumah sakit.

Dan Rania belum siap berbohong sambil menatap mata suaminya secara langsung.

Ia berjalan cepat menuju pintu keluar rumah sakit dengan langkah goyah. Pandangannya mulai kabur karena air mata yang terus mengalir.

Beberapa orang menatapnya heran saat perempuan cantik itu menangis sendirian sambil berjalan tertunduk.

“Nyonya, anda baik-baik saja?” tanya salah satu pasien.

“Ya,” balas Rania tanpa menoleh.

Namun tak ada yang tahu, bahwa perempuan itu baru saja divonis hidup beberapa bulan lagi.

Dan orang yang paling ia cintai bahkan sedang sibuk menjaga anak dari perempuan lain.

******

Malam itu tubuh Rania benar-benar terasa remuk. Sejak pulang dari rumah sakit tadi siang, ia hanya berdiam diri di kamar. Kepalanya kembali berdenyut hebat setelah terlalu lama menangis di taksi. Bahkan sampai sekarang matanya masih terasa panas dan bengkak.

Entah sudah berapa lama ia tertidur sampai akhirnya suara pintu kamar yang terbuka cukup keras membuatnya terbangun kaget.

Rania membuka mata perlahan.

Ia melihat Harsa berdiri di ambang pintu dengan wajah dingin dan rahang mengeras.

“Kenapa telepon aku nggak diangkat?” Suara pria itu terdengar tajam. “Aku nelpon kamu berkali-kali, Rania!”

Rania baru sadar ponselnya tergeletak di samping bantal dalam keadaan silent. Ada beberapa panggilan tak terjawab dari Harsa.

“Aku ketiduran, Mas…” jawabnya pelan. “Maaf.”

Namun bukannya mengerti, Harsa malah mendecakkan lidah kesal.

“Alasan.”

Hati Rania langsung terasa nyeri lagi. “Aku beneran tidur…”

“Kamu akhir-akhir ini banyak alasan.”

Rania menunduk pelan. Kalau saja Harsa tahu dirinya baru saja pulang kontrol rumah sakit. Kalau saja lelaki itu tahu tubuhnya semakin melemah setiap hari.

Tapi Rania terlalu takut mengatakan semuanya. Ia takut Harsa hanya akan merasa terbebani.

“Maaf, Mas,” ucapnya lirih lagi.

Dan lagi-lagi, hanya itu yang bisa ia katakan.

Harsa mengembuskan napas kasar sambil melepas jam tangannya. “Aku capek kalau tiap butuh kamu, kamunya malah gini.”

Rania menggigit bibir bawahnya. Lucu sekali. Suaminya bilang capek mencari dirinya? Padahal akhir-akhir ini justru Rania yang terus merasa ditinggalkan.

“Aku tadi—”

“Nggak usah dibahas lagi,” potong Harsa cepat.

Lelaki itu berjalan masuk ke dalam kamar tanpa benar-benar memperhatikan wajah pucat istrinya.

“Ada hal lain yang lebih penting. Besok mama datang,” lanjut Harsa sambil membuka lemari. “Beliau mau nginep beberapa hari di sini. Jadi tolong siapin kamar tamu.”

“Baik, Mas.” Jawabannya begitu pelan. Begitu patuh tanpa ada bantahan.

Dan itu justru membuat Harsa berhenti beberapa detik. Biasanya Rania akan bertanya jam kedatangan mamanya, makanan kesukaan beliau, atau hal-hal kecil lain dengan antusias.

Tapi malam ini, istrinya terlalu diam.

Rania kembali merebahkan tubuh ke atas ranjang perlahan. Ia memunggungi Harsa sambil menarik selimut sampai ke bahu.

“Mau tidur lagi?” tanyanya datar.

“Iya, Mas.”

“Apa kamu sakit?”

Pertanyaan sederhana itu hampir membuat Rania menangis. Karena akhirnya Harsa sadar dirinya tidak baik-baik saja.

Namun sebelum sempat berharap lebih, lelaki itu kembali bicara, “Jangan sampai mama lihat kamu malas-malasan terus.”

Harapan kecil itu langsung hancur seketika. Rania memejamkan mata kuat-kuat.

“Iya, Mas.”

Harsa mengernyit pelan melihat punggung istrinya yang tampak begitu kecil malam ini. Ada apa sebenarnya? Kenapa Rania tiba-tiba berubah diam?

Biasanya perempuan itu akan cerewet, manja, atau marah kalau diabaikan. Tapi sekarang, Rania justru seperti kehilangan tenaga untuk mempertahankan apa pun.

Dan anehnya, hal itu membuat dada Harsa terasa sedikit tidak nyaman.

Terpopuler

Comments

Katherina Ajawaila

Katherina Ajawaila

Rania bego itu nya Derita tiada akhir, kalau di pendam sendiri, jgn takut biar di bonus dokter hitungan menit umur mu,kalau Tuhan blng blm waktu nya jgn takut tdk ada yg mustahil jika yg kuasa sdh bertindak, tapi nangis utk Hasra, rugi amat, cantik" ko eooo🤑

2026-07-21

0

say't

say't

kalo jd rania mending cerai sdh tau selamax akan sendiri kan sm saja mati sendirian meski nanti ada jo yg akan mengurus smuanya.prcuma bertahan toh akan salah mulu bhkan loe menjelang ajal

2026-08-08

0

MamDeyh

MamDeyh

Lagi-lagi ktm cewek karakter nya bodoh naif lemah..

2026-05-16

0

lihat semua
Episodes
1 Bab. 1
2 Bab. 2
3 Bab. 3
4 Bab. 4
5 Bab. 5
6 Bab. 6
7 Bab. 7
8 Bab. 8
9 Bab. 9
10 Bab. 10
11 Bab. 11
12 Bab. 12
13 Bab. 13
14 Bab. 14
15 Bab. 15
16 Bab. 16
17 Bab. 17
18 Bab. 18
19 Bab. 19
20 Bab. 20
21 Bab. 21
22 Bab. 22
23 Bab. 23
24 Bab. 24
25 Bab. 25
26 Bab. 26
27 Bab. 27
28 Bab. 28
29 Bab. 29
30 Bab. 30
31 Bab. 31
32 Bab. 32
33 Bab. 33
34 Bab. 34
35 Bab. 35
36 Bab. 36
37 Bab. 37
38 Bab. 38
39 Bab. 39
40 Bab. 40
41 Bab. 41
42 Bab. 42
43 Bab. 43
44 Bab. 44
45 Bab. 45
46 Bab. 46
47 Bab. 47
48 Bab. 48
49 Bab. 49
50 Bab. 50
51 Bab. 51
52 Bab. 52
53 Bab. 53
54 Bab. 54
55 Bab. 55
56 Bab. 56
57 Bab. 57
58 Bab. 58
59 Bab. 59
60 Bab. 60
61 Bab. 61
62 Bab. 62
63 Bab. 63
64 Bab. 64
65 Bab. 65
66 Bab. 66
67 Bab. 67
68 Bab. 68
69 Bab. 69
70 Bab. 70
71 Bab. 71
72 Bab. 72
73 Bab. 73
74 Bab. 74
75 Bab. 75
76 Bab. 76
77 Bab. 77
78 Bab. 78
79 Bab. 79
80 Bab. 80
81 Bab. 81
82 Bab. 82
83 Bab. 83
84 Bab. 84
85 Bab. 85
86 Bab. 86
87 Bab. 87
88 Bab. 88
89 Bab. 89
90 Bab. 90
91 Bab. 91
92 Bab. 92
93 Bab. 93
94 Bab. 94
95 Bab. 95
96 Bab. 96
97 Bab. 97
98 Bab. 98
99 Bab. 99
100 Bab. 100
101 Bab. 101
102 Bab. 102
103 Bab. 103
104 Bab. 104
105 Bab. 105
106 Promo Novel Baru “Aku Buat Suamiku Menyesal!”
107 Promosi Novel Baru “Dicampakkan Suami, Aku Jadi Pengusaha Sukses!”
Episodes

Updated 107 Episodes

1
Bab. 1
2
Bab. 2
3
Bab. 3
4
Bab. 4
5
Bab. 5
6
Bab. 6
7
Bab. 7
8
Bab. 8
9
Bab. 9
10
Bab. 10
11
Bab. 11
12
Bab. 12
13
Bab. 13
14
Bab. 14
15
Bab. 15
16
Bab. 16
17
Bab. 17
18
Bab. 18
19
Bab. 19
20
Bab. 20
21
Bab. 21
22
Bab. 22
23
Bab. 23
24
Bab. 24
25
Bab. 25
26
Bab. 26
27
Bab. 27
28
Bab. 28
29
Bab. 29
30
Bab. 30
31
Bab. 31
32
Bab. 32
33
Bab. 33
34
Bab. 34
35
Bab. 35
36
Bab. 36
37
Bab. 37
38
Bab. 38
39
Bab. 39
40
Bab. 40
41
Bab. 41
42
Bab. 42
43
Bab. 43
44
Bab. 44
45
Bab. 45
46
Bab. 46
47
Bab. 47
48
Bab. 48
49
Bab. 49
50
Bab. 50
51
Bab. 51
52
Bab. 52
53
Bab. 53
54
Bab. 54
55
Bab. 55
56
Bab. 56
57
Bab. 57
58
Bab. 58
59
Bab. 59
60
Bab. 60
61
Bab. 61
62
Bab. 62
63
Bab. 63
64
Bab. 64
65
Bab. 65
66
Bab. 66
67
Bab. 67
68
Bab. 68
69
Bab. 69
70
Bab. 70
71
Bab. 71
72
Bab. 72
73
Bab. 73
74
Bab. 74
75
Bab. 75
76
Bab. 76
77
Bab. 77
78
Bab. 78
79
Bab. 79
80
Bab. 80
81
Bab. 81
82
Bab. 82
83
Bab. 83
84
Bab. 84
85
Bab. 85
86
Bab. 86
87
Bab. 87
88
Bab. 88
89
Bab. 89
90
Bab. 90
91
Bab. 91
92
Bab. 92
93
Bab. 93
94
Bab. 94
95
Bab. 95
96
Bab. 96
97
Bab. 97
98
Bab. 98
99
Bab. 99
100
Bab. 100
101
Bab. 101
102
Bab. 102
103
Bab. 103
104
Bab. 104
105
Bab. 105
106
Promo Novel Baru “Aku Buat Suamiku Menyesal!”
107
Promosi Novel Baru “Dicampakkan Suami, Aku Jadi Pengusaha Sukses!”

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!