Nadira menikah dengan Arga karena percaya bahwa laki-laki itu akan menjadi tempatnya pulang. Namun setelah menikah, ia sadar bahwa yang ia nikahi bukan hanya Arga—melainkan seluruh keluarganya.
Ibu mertua yang selalu merasa berhak mengatur kehidupan mereka. Adik ipar yang iri dan gemar mengadu domba.
Akankah Nadira tetap bersabar menghadapi sikap keluarga suaminya.Sementara Arga sang suami tak bisa bersikap tegas.Karena baginya Nadira dan keluarga sangat penting bagi hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ovelia.shin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
— PESAN DI TENGAH MALAM
Nadira masih menatap layar ponselnya.
Pesan itu belum juga ia hapus.
Jangan percaya siapa pun di rumah itu. Termasuk Arga.
Kalimat itu terus berputar di kepalanya.
Ia ingin mengabaikannya.
Namun rasa penasaran jauh lebih kuat.
Siapa yang mengirimnya?
Dan bagaimana orang itu tahu tentang gelang yang hilang?
Nadira baru saja hendak meletakkan ponselnya ketika terdengar ketukan pelan.
Tok… tok…
“Nadira?”
Suara Arga.
Nadira buru-buru mematikan layar ponselnya.
“Ya?”
“Buka pintunya.”
Nadira ragu beberapa detik sebelum akhirnya membuka.
Arga berdiri di depan pintu sambil membawa segelas air.
“Minum.”
Nadira menatap gelas itu.
“Untuk apa?”
“Kamu kelihatan pucat.”
“Aku baik-baik saja.”
Arga menghela napas.
“Kamu marah padaku?”
Nadira tersenyum tipis.
“Menurutmu?”
“Aku tahu aku salah.”
Nadira menatap wajah suaminya.
“Bagian mana?”
Arga terdiam.
“Semua?” tanyanya akhirnya.
Nadira hampir tertawa.
“Setidaknya kamu mulai sadar.”
Arga ikut tersenyum kecil.
“Aku sedang belajar.”
“Belajar apa?”
“Belajar menjadi suami yang tidak selalu membela keluarganya hanya karena mereka keluargaku.”
Nadira tidak menjawab.
Entah kenapa, ucapan sederhana itu membuat hatinya sedikit melunak.
Arga kemudian menatapnya.
“Kamu benar-benar mau pergi besok?”
Nadira mengangguk.
“Untuk sementara.”
“Aku ikut mengantarmu.”
“Tidak perlu.”
“Aku mau.”
“Arga…”
“Aku tidak akan memaksamu tinggal.”
Arga berhenti sejenak.
“Tapi aku juga tidak mau kamu pergi sambil berpikir aku tidak peduli.”
Nadira menunduk.
Ada keheningan di antara mereka.
Sebelum akhirnya Arga berkata,
“Tidurlah. Besok kita pikirkan semuanya.”
Ia berbalik.
Namun baru beberapa langkah, Nadira memanggilnya.
“Arga.”
Pria itu menoleh.
“Terima kasih.”
Arga tersenyum.
“Selamat malam.”
Setelah Arga pergi, Nadira menutup pintu.
Ia kembali melihat ponselnya.
Pesan misterius tadi masih ada.
Nadira menggigit bibir.
Ia tidak tahu apakah orang itu ingin membantunya atau justru menjebaknya.
Tetapi satu hal membuatnya semakin penasaran.
Gudang belakang.
Besok pukul sepuluh malam.
Keesokan paginya, Nadira bersiap meninggalkan rumah.
Arga benar-benar menepati perkataannya.
Ia bahkan membawa sendiri koper Nadira sampai ke mobil.
Rani yang sedang duduk di ruang tengah hanya memperhatikan mereka.
“Kak Nadira benar-benar pergi?”
Nadira berhenti.
“Untuk beberapa hari.”
Rani menunduk.
“Karena aku?”
Nadira menatapnya.
“Aku tidak bilang begitu.”
“Tapi aku tahu.”
Nadira tidak menjawab.
Rani berdiri dan mendekat.
“Maaf.”
Nadira terkejut.
Itu pertama kalinya Rani meminta maaf kepadanya.
“Maaf karena apa?”
Rani terlihat gugup.
“Karena masuk ke kamarmu malam itu.”
“Dan?”
“Dan… karena aku membuat semuanya jadi rumit.”
Nadira memperhatikannya beberapa saat.
“Kamu tahu sesuatu tentang gelang itu?”
Rani langsung menggeleng.
“Tidak.”
Jawabannya terlalu cepat.
Nadira semakin curiga.
Namun ia memilih diam.
Arga kemudian datang menghampiri.
“Ayo.”
Nadira mengangguk.
Saat mereka berjalan menuju pintu, Rani kembali memanggil.
“Kak Nadira.”
Nadira menoleh.
Rani menatapnya dengan wajah aneh.
“Jangan datang ke gudang malam ini.”
Nadira membeku.
Arga tidak mendengar karena sudah berjalan lebih dulu.
Nadira menatap Rani.
“Kamu tahu tentang gudang?”
Rani langsung pucat.
“Aku…”
Sebelum melanjutkan kalimatnya, Bu Ratih muncul dari belakang.
“Rani!”
Rani terdiam.
Nadira semakin yakin.
Ada sesuatu yang disembunyikan keluarga itu.
Tetapi ia belum tahu apa.
Dan sekarang ia memiliki satu pertanyaan baru.
Kenapa Rani tahu pesan yang seharusnya hanya diketahui olehnya?
Nadira masuk ke mobil.
Arga menyalakan mesin.
Sementara dari balik jendela rumah, Rani terus menatap mobil mereka pergi.
Tangannya mengepal erat.
Karena sebenarnya Rani tidak takut Nadira pergi.
Ia takut Nadira kembali,sebab jika Nadira menemukan apa yang ada di gudang malam ini,semuanya akan terbongkar.