Indonesia
NovelToon NovelToon
HABISNYA CINTA SUAMIKU

HABISNYA CINTA SUAMIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami / Duda
Popularitas:12k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

Demi amanah terakhir sang kakak, Alana rela menikah dengan kakak iparnya, Gema. Namun selama enam tahun, Alana hanyalah pelengkap. Gema mengunci rapat hatinya, terjebak duka masa lalu, dan memperlakukan Alana hanya sebagai pengasuh berstatus istri. Bahkan sakit maag akut yang diderita Alana pun tak pernah Gema ketahui.

​Beruntung, Alana wanita mandiri. Pemilik toko kue besar ini bertahan murni demi sang anak sambung yang menyayanginya sebagai Bunda.

​Hingga suatu malam, pertahanan Alana runtuh bersama rasa sakit yang tak lagi bisa disembunyikan. Di saat Gema akhirnya berbalik ingin meraihnya, akankah sisa-sisa cinta Alana masih ada, atau justru sudah habis tak bersisa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

HABISNYA CINTA SUAMIKU

​Matahari perlahan tenggelam di ufuk barat, menyisakan berkas warna jingga yang lambat laun tersapu pekatnya malam. Di dalam kediaman keluarga Gema, atmosfer yang menyelimuti setiap sudut ruangan terasa jauh lebih dingin daripada udara berpendingin yang mengalir pelan.

​Suasana canggung dan tegang mendadak terasa begitu pekat, terutama di area ruang makan utama. Meja makan kayu mahoni yang megah itu telah ditata rapi oleh Bi Sastro. Berbagai hidangan lezat tersaji hangat di atas piring-piring porselen sup ayam bening favorit Tania, tumis sayuran, serta ayam panggang bumbu kecap. Namun, kehangatan makanan itu sama sekali tak mampu mencairkan hawa beku yang mengendap di sana.

​Gema duduk di ujung meja dengan kemeja kerja yang sudah berganti kaus santai. Wajahnya tampak amat lesu. Lingkaran hitam samar menghiasi matanya, sementara guratan kecemasan menempel ketat di paras tegasnya. Pria itu menyangga dahi dengan satu tangan, sementara tangan lainnya sibuk mengaduk-aduk nasi di piringnya tanpa selera.

​Di sisi sebelah kiri, duduk Tania bocah perempuan berusia enam tahun itu hanya memainkan sendoknya. Matanya yang bulat dan bening bergantian menatap piringnya, kursi kosong di hadapannya, lalu beralih menatap suaminya sang ayah yang tampak sangat linglung.

​Kursi di hadapan Tania tempat yang biasanya diisi oleh Alana dengan senyum lembut dan kehangatan malam ini tampak kosong melompong.

​"Ayah..." suara kecil Tania memecah keheningan yang sejak tadi menekan ruangan.

​Gema tersentak pelan dari lamunannya. Pria itu menatap putri kecilnya, berusaha memaksakan sebuah senyuman tipis yang justru terlihat sangat kikuk dan dipaksakan.

​"Ya, Sayang? Kenapa nasinya cuma diacak-acak? Dimakan, ya," tutur Gema halus, mencoba mengalihkan perhatian.

​Tania meletakkan sendoknya hingga berdentang pelan menyentuh porselen. Alis kecilnya bertaut rapat. "Bunda mana, Yah? Kenapa Bunda nggak turun makan malam sama kita?"

​Pertanyaan sederhana itu seketika menghantam dada Gema bagaikan hantaman benda tumpul. Pria itu meneguk ludahnya yang terasa pahit.

"Bagaimana mungkin dia menjelaskan pada putri kecilnya bahwa wanita yang sangat dia sayangi itu sedang mengunci diri di kamar akibat ulah dan keangkuhan Ayahnya sendiri?."

​"Bunda... Bunda lagi kurang enak badan, Sayang," jawab Gema parau, mencoba beralasan. "Bunda capek, jadi istirahat di kamar."

​Tania tidak langsung percaya. Anak kecil itu memiliki kepekaan yang teramat tajam. Dia mengamati raut wajah ayahnya yang penuh rasa bersalah, lalu teringat kejadian beberapa jam lalu saat dia baru pulang sekolah bersama Bi Sastro. Saat itu, dia mendengar suara banting pintu di lantai atas dan melihat ayahnya berdiri ketakutan di depan pintu kamar utama yang terkunci rapat.

​"Bunda sakit pendarahan lambung lagi ya, Yah?" tanya Tania dengan suara gemetar, matanya mulai berkaca-kaca. "Kemarin Bibi bilang Bunda sempat pingsan waktu Ayah ke luar kota. Kenapa Ayah nggak jagain Bunda? Bunda nangis ya di kamar?"

​Gema membisu total. Setiap pertanyaan jujur dari Tania bagaikan belati yang merobek dadanya tanpa ampun. Pria itu merasa amat kerdil. Bahkan anak berusia enam tahun bisa merasakan derita dan kecemasan akan kondisi Alana, sementara dirinya selama bertahun-tahun justru menjadi sumber utama air mata istrinya sendiri.

​"Tania..." Gema mengulurkan tangan mencoba mengusap kepala putrinya, namun Tania justru sedikit menarik tubuhnya ke belakang.

​"Ayah jahat ya sama Bunda?" bisik Tania pelan namun sangat menohok. Air mata kecil mulai menetes di pipinya yang tembam. "Waktu di kuburan Mama Kirana juga Ayah selalu marahin Bunda... Padahal Bunda yang selalu nemenin Tania, Bunda yang selalu peluk Tania kalau Tania kangen Mama. Kenapa Ayah selalu bikin Bunda sedih?"

​Tangisan pelan Tania memecah pertahanan diri Gema. Pria itu menunduk dalam-dalam, mengusap wajahnya yang terasa panas. Kebenaran yang terlontar dari mulut putri tunggalnya itu benar-benar melumpuhkan seluruh egonya.

​Bi Sastro yang berdiri tak jauh dari meja makan hanya bisa menghela napas panjang dengan mata berkaca-kaca. Dia menghampiri Tania pelan-pelan, mengusap punggung bocah kecil itu.

​"Non Tania... makan dulu ya, Nak. Nanti Bi Sastro yang antarkan makanan khusus untuk Bunda ke kamar," bujuk Bi Sastro lembut.

​"Tania mau makan kalau sama Bunda!" tolak Tania pelan seraya menyapu air matanya. Dia menatap ayahnya dengan tatapan penuh keprihatinan. "Ayah udah minta maaf sama Bunda belum?"

​Gema mendongak, menatap Tania dengan tatapan penuh keputusasaan. "Ayah... Ayah sudah ketuk pintunya dari tadi sore, Tania. Tapi Bunda belum mau buka pintu."

​Tania berdiri dari kursinya. "Bunda itu bukan cuma mau diketuk pintunya, Ayah. Bunda itu capek..."

​Bocah kecil itu melangkah meninggalkan meja makan, berjalan menuju tangga untuk naik ke lantai atas. Tania berniat menunggu di depan kamar Bundanya, menunjukkan rasa khawatirnya dengan caranya sendiri.

​Gema tetap terduduk di meja makan yang dingin itu. Piringnya yang penuh makanan sama sekali tak tersentuh. Otaknya berputar keras, diliputi kebingungan yang teramat sangat. Selama ini, Gema adalah seorang pemimpin yang mahir memecahkan masalah rumit di dunia bisnis, sanggup bernegosiasi dengan investor mana pun, dan selalu memegang kendali atas setiap situasi.

​Namun malam ini, di hadapan pintu kamar istrinya sendiri, Gema merasa sama sekali tak berdaya.

​Pria itu berdiri perlahan, melangkah berat menaiki anak tangga menuju lantai dua. Di lorong yang redup, dia melihat Tania duduk bersandar di depan pintu kamar Alana yang masih terkunci rapat. Bocah kecil itu membawa boneka beruang kesayangannya, mendekapkan telinganya di daun pintu.

​"Bunda... ini Tania..." panggil bocah itu pelan dari balik pintu. "Bunda sudah makan belum? Jangan sakit lagi ya, Bunda... Tania takut."

​Tidak ada jawaban suara dari dalam, namun beberapa saat kemudian, terdengar pergerakan pelan di dalam kamar. Suara selot kunci yang diputar perlahan menggemari di lorong sunyi tersebut.

​Pintu jati itu terbuka sedikit. Alana berdiri di sana dengan gaun rumahan yang longgar. Wajahnya tampak pucat dan matanya sedikit sembap, tetapi tatapannya melebut seketika saat melihat Tania duduk di lantai.

​"Tania..." bisik Alana lembut. Dia berlutut, merengkuh tubuh kecil Tania ke dalam pelukannya dengan erat.

​"Bunda..." Tania membalas pelukan Alana rapat-rapat, menyembunyikan wajahnya di perpotongan leher Alana. "Bunda jangan pergi ya... Tania sayang sama Bunda."

​Alana memejamkan mata, menahan air mata barunya agar tidak jatuh di depan anak itu. "Bunda nggak kemana-mana, Sayang. Bunda cuma capek. Yuk, masuk... tidur sama Bunda di dalam ya?"

​Gema melangkah mendekat, matanya menatap Alana dengan penuh binar harapan dan rasa permohonan yang teramat sangat. "Alana..." panggilnya parau. "Kamu harus makan dulu. Saya suruh Bi Sastro bawakan sup hangat ke atas ya?"

​Alana memapah Tania berdiri. Tatapannya saat beralih menatap Gema seketika berubah menjadi dingin, datar, dan berjarak seolah pria di hadapannya adalah sesosok orang asing yang tidak berarti.

​"Tidak usah, Mas," jawab Alana singkat tanpa nada emosi sedikit pun. "Saya sudah minta Bi Sastro bawakan roti tadi. Saya mau istirahat sama Tania."

​Alana membawa Tania masuk ke dalam kamar, lalu perlahan menarik kembali gagang pintu. Sebelum pintu kembali rapat, Gema menahan pinggiran pintu dengan telapak tangannya.

​"Alana, tolong..." suara Gema terdengar gemetar, keputusasaan merayapi matanya yang memerah. "Kasih saya kesempatan untuk bicara. Tolong beri tahu saya... apa yang harus saya lakukan supaya kamu mau memaafkan saya?"

​Alana menatap tangan Gema yang menahan pintu, lalu mengalihkan pandangan lurus ke mata pria itu.

​"Yang perlu Mas lakukan adalah memberi saya ruang," bisik Alana dingin namun tegas. "Jangan paksa saya bicara saat saya sedang tidak ingin menatap wajah Mas. Tolong lepaskan tangannya, Mas Gema."

​Gema membeku. Perlahan tapi pasti, jemarinya terkulai lemas dari pinggiran pintu. Dia tidak punya keberanian lagi untuk menahan.

​Pintu kamar itu kembali tertutup rapat di depan wajahnya, disusul bunyi klik kunci dari dalam.

​Gema berdiri terpaku di lorong lantai dua yang dingin dan sepi. Pria itu menyandarkan punggungnya pada dinding di luar kamar Alana, lalu perlahan meluruh duduk di lantai dingin persis seperti yang dilakukan Tania tadi. Malam terasa begitu panjang dan membeku. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Gema merasakan keputusasaan yang begitu nyata berada di rumahnya sendiri, namun kehilangan kehangatan dari wanita yang tanpa dia sadari telah menjadi pusat dari kehidupannya.

1
aku
al, bisalah ya kaburnya yg gk terdeteksi gt 😌 klo msh disitu2 aja yo sm aja 😌
sutiasih kasih
tpi smua ktulusan dN ksih sayangmu tak dihargai dan tak berrti di mata suami jga keluarganya ... jga ibumu alana...🙄🙄🙄
sutiasih kasih
kabur tuh yg jauh alana.... minimal kabur ya keluar kota... ato keluar pulau...
Lee Mba Young
Kabur cm semeter Dari rumah buat apa. ya gk move on.

kabur sekalian kluar pulau, buka hidup baru. Tania Ada bpk nya ngapain di pikirin.

sebenere yg buat sulit itu bukan melupan Tania tp Alana yg bucin ma Gema mkne gk bisa pergi jauh, di siksa taunan mau mau saja. alasan Tania.
Lee Mba Young
kabur cm ngekost, kabur kok nanggung banget. gk niat.

kl niat pergi luar pulau naik kapal biar gk di lacak. mobil di jual. trus nnti buka toko lagi tmpat lain. itu br Jos gandos.
Mundri Astuti
kedeketan Alana ...
Lee Mba Young: kabur cm segitu, nanggung banget 😄
total 1 replies
Elina thea
next....
Sri Widiyarti
nyesek banget 😭😭😭
Sasikarin Sasikarin
kok g greget Thor 2 bab ini 🙏
Ma Em
Bagus Alana keputusan Alana sdh benar jgn menyiksa diri sendiri hanya untuk membahagiakan orang lain lbh baik Alana cari kebahagiaan Alana sendiri , semoga Alana dapat pengganti gema lelaki baik yg mencintai dan menyayangi Alana 🤲🤲.
Arieee
mantap alana💪💪💪💪💪👍👍👍👍👍👍
Sri Widiyarti
nyesek banget Alana 😭 semoga author kasih pasangan hidup yang memuliakan Alana ...
Zhafran Althaf
good job alana
Lee Mba Young
eleh paling nnti juga balikan🤣. soale yg bucin Alana nya nnti dng alasan Tania pasti balikan.
Chintya Ananda
bagus alana pergilah dan raihlah kebahagiaanmu...lanjut thor💪💪
Lee Mba Young: nnti pling juga balikan, biasanya bgitu sih 🤣.
total 1 replies
sutiasih kasih
telatttt gema....
kmana aja km 6 th ini🤔🤔🤔
sutiasih kasih
bukan tiba" dodol.....
justru alana sdh sangat siap melepas org" yg tak tau diri.....
sutiasih kasih
keren g tuh......
brtahun lamanya brtahan dlm ksakitan.... akhirnya mmbuat kputusan yg bkal mnnghuncangkn jiwa suami egois dan tak tau diri😅😅
Elina thea
akhirnya Alana membuat keputusan yg benar👍... please Alana setelah ini kamu harus lebih berani kalo di rendahkan ibumu atau orang lain,jangan mudah luluh sampai rujuk lagi kayak cerita kebanyakan yah...
Susi Susanti: ini judul nya mesti di balik🤭
total 1 replies
Elina thea
memang mikirnya harusnya kesana alana...buat apa mempertahankan pernikahan dgn alasan anak kalo diri sendiri udah sakit,sakit secara fisik masih bisa ke dokter untuk bisa sembuh...tapi batin dan jiwa yg sakit,sekalipun bibir berucap sudah ikhlas dan memberikan kesempatan kedua belum tentu bisa sembuh meski dalam waktu yg panjang,karna sakit batin yg tidak terlihat justru akan slalu di ingat dan akan jadi bayangan di dalam pernikahan...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!