Indonesia
NovelToon NovelToon
Setelah Cerai Dokter Itu Berkuasa

Setelah Cerai Dokter Itu Berkuasa

Status: tamat
Genre:Identitas Tersembunyi / Penyesalan Suami / Dokter / Tamat
Popularitas:408.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ayu Lestari

"
Lima tahun Naira menyusun kerajaan bisnis suaminya dari balik bayang, tapi lelaki itu malah memberikan undangan kongres penting kepada cinta lamanya. Lalu Dimas membatalkan janji menjemput ayahnya sendiri demi perempuan itu. Naira tidak berteriak. Ia hanya melepas cincinnya, mengajukan cerai, dan mengambil kembali seluruh aset yang ia bangun.

Keluarga Mahendra panik. Mereka tidak tahu bahwa Naira adalah putri tunggal Atmadja yang kekayaannya bisa membeli seluruh perusahaan mereka. Tepat saat segalanya kacau, Raka Wiratama muncul. Penguasa bisnis paling ditakuti itu bersumpah melindungi Naira dengan satu alasan: lima tahun lalu, perempuan itu menyelamatkan nyawanya. Dan Raka tidak pernah main-main soal utang nyawa."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 7

Bab 07

Bu Ratna benar-benar membuat keributan di rumah sakit.

Naira tahu dari pesan Maya, bukan dari Dimas. Pengacaranya mengirim potongan video dari grup staf rumah sakit yang sudah menyebar cepat. Dalam video itu, Bu Ratna berdiri di depan meja administrasi poli penyakit dalam, suara tinggi, tangan menunjuk wajah dokter muda.

"Jangan macam-macam. Saya ini ibu Dimas Mahendra. Anak saya pemilik Mahendra Health Group!"

Dokter muda itu tampak menahan sabar. "Bu, saya hanya menjelaskan bahwa obat yang Ibu minum selama ini bukan obat resep dari rumah sakit kami."

"Ya itu pasti dari menantu saya. Dia suka bikin ramuan aneh-aneh."

"Ramuan itu yang membuat keluhan Ibu stabil, Bu."

Video berhenti di sana.

Naira menutup layar ponsel.

Ia sedang duduk di ruang kerja rumah Menteng. Di depannya ada tiga tumpuk dokumen: gugatan cerai, penarikan lisensi paten, dan berkas lama Dr. Sari Anggraini yang baru berhasil dibuka Bagas dari penyimpanan ayahnya.

Semua harus diselesaikan.

Namun suara Bu Ratna di video masih tertinggal.

Menantu saya.

Aneh. Setelah semua hinaan, Bu Ratna masih memakai kata itu ketika membutuhkan sesuatu.

Pintu diketuk.

Bagas masuk. "Non, Pak Dimas datang."

Naira tidak mengangkat wajah. "Sendiri?"

"Bersama ibunya."

Naira akhirnya menatap Bagas.

Bagas tampak tidak senang, tetapi tetap menunggu perintah. Ia sudah lama bekerja pada keluarga Atmadja. Baginya, membiarkan Bu Ratna melangkah ke halaman rumah ini saja sudah terlalu murah hati.

"Suruh mereka masuk ke ruang tamu luar."

"Baik."

Ruang tamu luar berada di paviliun samping, bukan di rumah utama. Tempat itu biasa dipakai menerima orang bisnis yang belum layak melewati pintu dalam keluarga Atmadja.

Ketika Naira masuk, Dimas langsung berdiri.

Bu Ratna tetap duduk, wajahnya tegang dan marah. Tapi matanya bergerak cepat menyapu ruangan. Lantai marmer tua, lukisan asli di dinding, staf rumah yang berdiri tanpa banyak bicara. Semua itu tidak seperti bayangan Bu Ratna tentang keluarga Naira.

"Jadi ini rumah ayahmu?" tanya Bu Ratna.

"Ada yang ingin dibicarakan?" Naira duduk di sofa seberang.

Dimas menahan ibunya dengan lirikan, lalu berkata, "Mama ingin minta penjelasan soal obatnya."

Naira menatap Bu Ratna.

Bu Ratna mengangkat dagu. "Saya tidak minta tolong. Saya cuma mau tahu apa yang selama ini kamu kasih ke saya."

"Obat lambung dan antiradang yang disesuaikan dengan kondisi Ibu."

"Kamu bukan dokter."

Naira tersenyum sedikit. "Kalau begitu berhenti saja minum."

Bu Ratna langsung terdiam.

Dimas menatap Naira. "Jangan begitu."

"Kenapa? Ibumu baru saja bilang saya bukan dokter. Mengonsumsi obat dari orang yang dianggap tidak kompeten berbahaya, kan?"

Bu Ratna meremas tas di pangkuannya. "Kamu sengaja mau membuat saya sakit."

"Saya justru membuat Ibu tidak perlu operasi selama tiga tahun."

Kata itu jatuh tenang.

Bu Ratna menatapnya tajam, tetapi tidak bisa segera membalas.

Dimas duduk perlahan. "Naira, dokter bilang formula itu... sangat khusus."

"Iya."

"Dia bilang kalau harus dibuat oleh laboratorium resmi, biayanya bisa ratusan juta per bulan."

"Mungkin."

"Dan untuk migrainku?"

Naira menatapnya. "Lebih mahal."

Dimas memucat.

Bu Ratna berbisik, "Tidak mungkin."

"Ibu boleh tanya dokter spesialis mana pun." Naira menyilangkan tangan di pangkuan. "Selama ini saya menyesuaikan dosis berdasarkan hasil lab Ibu. Saya juga mengirim sampel ke laboratorium terdaftar agar aman. Semua catatan ada."

Dimas tampak benar-benar kehilangan kata.

Selama ini, setiap kali Naira datang membawa sup, kapsul, atau teh pahit, ia hanya bertanya, "Berapa lama lagi?" atau "Bisa tidak jangan bau?" Ia tidak pernah bertanya apa isinya. Tidak pernah bertanya bagaimana Naira mendapatkannya. Tidak pernah bertanya kenapa rasa sakitnya bisa hilang lebih cepat setelah minum itu.

Ia menerima semuanya seperti menerima air putih.

Bu Ratna menatap Naira dengan wajah kaku. "Kalau memang kamu mampu, kenapa tidak bilang?"

"Agar Ibu tidak merasa berutang."

"Saya tidak pernah minta!"

"Tapi Ibu menerima."

Bu Ratna bangkit. "Dimas, kita pulang. Mama tidak sudi duduk di sini dihina."

Naira ikut berdiri. "Maya akan mengirim daftar biaya medis yang selama ini saya tanggung. Saya tidak akan menagih semuanya. Anggap saja selesai sebagai bagian dari masa pernikahan."

Dimas langsung berkata, "Tidak perlu. Aku bayar."

"Kamu tidak akan sanggup kalau dihitung penuh."

Kalimat itu bukan hinaan. Justru karena datar, ia terasa lebih berat.

Dimas tersinggung. "Kamu pikir aku miskin?"

"Tidak. Aku pikir kamu belum pernah melihat harga sebenarnya dari hidup yang kamu anggap murah."

Bu Ratna menunjuk Naira, wajahnya merah. "Kamu akan menyesal. Tidak ada perempuan bercerai yang mudah hidupnya. Apalagi perempuan sombong yang melawan suami."

Naira menatapnya lama.

"Saya lebih takut tetap menjadi perempuan yang mati pelan-pelan di rumah Ibu."

Bu Ratna seperti kehabisan udara.

Dimas berdiri di antara mereka. "Cukup."

"Iya," kata Naira. "Cukup."

Ia memberi isyarat kepada Bagas.

Bagas membuka pintu.

Itu bukan undangan.

Itu pengusiran yang sangat sopan.

Dimas menatap Naira. "Kamu benar-benar tidak mau pulang?"

"Aku sudah pulang."

Ia tidak mengatakan ke mana.

Dimas mengerti.

Rumah Mahendra tidak lagi menjadi rumahnya.

Bu Ratna keluar lebih dulu dengan langkah keras. Dimas menyusul, tetapi sebelum melewati pintu, ia berhenti.

"Naira."

Ia tidak menjawab.

"Kalau aku sakit..."

Kalimat itu belum selesai, tapi Naira sudah tahu ujungnya.

Dulu, ia akan panik. Dulu, sakit Dimas seperti alarm yang membuat semua amarahnya padam.

Sekarang ia hanya berkata, "Pergi ke dokter."

Dimas menatapnya seolah tidak percaya.

"Kamu dokterku."

"Bukan lagi."

Pintu tertutup.

Di luar paviliun, Bu Ratna sudah masuk mobil dengan wajah gelap. Dimas berdiri sebentar di halaman. Ia melihat rumah Menteng itu, orang-orang yang menjaga setiap sudut, dan pintu yang baru saja tertutup di depannya.

Untuk pertama kalinya, ia merasa menjadi tamu yang tidak diinginkan.

Di dalam, Naira kembali ke ruang kerja.

Ia membuka dokumen ibunya. Halaman pertama berisi daftar sampel pasien uji klinik yang dulu disebut hilang. Di bagian bawah, ada catatan tangan Dr. Sari.

Jika data ini sampai padaku, berarti mereka sudah bergerak.

Naira menyentuh tulisan itu.

Ponselnya bergetar.

Pesan dari nomor Raka.

Keluarga Mahendra keluar dari rumahmu dengan wajah buruk. Mau kubuat mereka tidak kembali?

Naira menatap layar.

Lalu mengetik.

Jangan ikut campur.

Balasan datang cepat.

Aku tidak ikut campur. Aku menawarkan jasa.

Naira menahan napas, kesal entah kenapa.

Ia membalas.

Jasamu ditolak.

Di gedung Wiratama, Raka membaca pesan itu dan tersenyum untuk pertama kali hari itu.

Hanif yang berdiri di dekat meja hampir menjatuhkan berkas.

"Pak?"

Raka meletakkan ponsel.

"Siapkan tim hukum."

"Untuk keluarga Mahendra?"

"Bukan." Raka mengambil foto lama dari laci, foto buram pos medis perbatasan. "Untuk siapa pun yang menyentuh arsip Dr. Sari Anggraini."

Hanif menunduk. "Baik."

Raka menatap foto itu lama.

Perempuan di foto tidak terlihat jelas. Hanya punggungnya, jas medis penuh noda, dan tangan yang menekan luka seseorang.

Tangan yang sama baru saja menolak semua bantuannya.

Raka menyukai itu lebih dari yang seharusnya.

Di rumah Mahendra, Bu Ratna tidak tidur sampai larut.

Ia membuka lemari obat, mencari botol-botol kecil yang dulu selalu disusun Naira berdasarkan jam minum. Label tulisan tangan Naira masih menempel di beberapa botol lama.

Pagi, setelah makan.

Malam, jika nyeri.

Jangan dicampur kopi.

Bu Ratna memegang satu botol kosong, lalu melemparkannya ke tempat sampah.

"Sok penting," gumamnya.

Tapi ketika rasa panas di perutnya naik, ia menatap tempat sampah itu lagi.

Vina berdiri di pintu kamar. "Ma, mau aku telepon Kak Naira?"

"Jangan sebut nama dia."

"Tapi kalau obat Mama..."

"Dimas akan urus."

Di kamar lain, Dimas mendengar suara ibunya, mendengar rumah yang biasanya diatur Naira mulai kehilangan ritmenya. Ia baru sadar betapa sunyinya rumah tanpa langkah Naira di dapur.

Di meja makan, makan malam datang dari restoran. Rasanya mahal, tapi Bu Ratna hanya menyendok dua kali.

"Tidak seenak biasanya," gumam Vina.

Dimas menatap kotak makanan itu. Tidak ada yang menyebut nama Naira, tetapi semua orang sedang memakan ketiadaannya.

1
say't
busyet nih clara sdh tdr sm siapa ja y 🤪 kok berani skl
Sumiyatun Martoyo
iya. ini sudah dilewati
say't
kalo aq jd naira aq racun ni 3 org menjijikkn 🤪
Tuti irfan
seru cerita nya , ak suka ceritanya TDK melulu tentang romansa Ceo penuh intrik dan misteri 😍😍👍👍👍
Katherina Ajawaila
mending pakai topeng langsung aja Dimas, cabut 5 hurup
Katherina Ajawaila
makin seru aja thour, cara dan ibunya sama ja penjahat berkedok mana ada ibu mau membunuh anak nya sendiri. dasar pelakor ngk mutu
Debbie Teguh
seru banget!
Katherina Ajawaila
Clara kamu itu ibarat anak ayam yg BB aru netes jgn sombong di pites juga modar. Dimas mau di andalan, Domas aja parasit yg ngumpet di kaki rok Naira 🫣
Katherina Ajawaila
maka nya jd Suami harus bisa adil kalau sdh brani melangkah kedepan, dasar nya aja kere, mau sombong kacang lupa kulit nya, kalau smua di tarik sm Naira, jadi apa parasit
Katherina Ajawaila
kere tapi belagu, biasa parasit
Ken L
kenapa cerita diulang2 ya...supaya kelihatan isi bab ceritanya penuh?
Abie Mas
raka love naira
Heni Setiyaningsih
heran ya,pemili perusahaan kok gk mau beli rumah sendiri,gk malu apa numpang dirumah calon mantan istri 🤭
Wahyu Kasep
jalan ceritanya bagus menarik tegang tapi sepi pembaca gak ada yang komentar
Nengs
bagus cerita wlpun harus benar2 paham
yuqana
bagus banget novelnya 😍😍😍🥰🥰🥰
Dewa Nara
astagaaaaa... pengulangan lagiiiii
Dewa Nara
kok ada pengulangan lagi 🤭
Dewa Nara
ada pengulangan alinea Thor
Dewa Nara
wah ceritanya bukan hanya masalah rumah tangga nih 😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!