Sebuah rumah yang menyimpan rahasia besar selama ratusan tahun kini mulai membuat penghuninya terganggu.
Tak hanya gangguan mistis, pemiliknya juga mulai sakit sakitan dan mulai menyadari ada yang aneh dengan rumah yang dia tinggali itu.
Akankah pemilik rumah itu berhasil memecahkan misteri di dalam rumah yang sudah puluhan tahun dia tempati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu Norman
"Nak, bapak ke pabrik teh dulu ya, katanya ada beberapa mesin yang rusak, mau bapak cek" ucap Karta
"Bapak ke sana dengan siapa?" tanya Hatta
"Dengan Restu katanya dia bisa membantu memperbaiki mesin di sana" jawab Karta dan Hatta mengangguk lega karena setidaknya ada yang mendampingi Karta.
Sampai di pabrik teh, mereka di sambut dengan banyaknya para pekerja pabrik yang terlihat kelelahan karena semalaman tidak tidur mengurus penggilingan manual secara bergantian. Bahkan ada yang tidur dan rebahan karena mereka mengantuk dan tak kuat untuk pulang ke rumah.
"Mana mesinnya Om?" tanya Restu
"Kamu kan biasanya ngurus mesin motor atau mobil, bisa tidak mengurus yang ini, Om sudah pesan yang baru tapi datangnya lama dan proses produksi tidak bisa di hentikan, kalau ini masih bisa di gunakan, jadi pabrik punya mesin lama dan baru yang masih bisa beroperasi" tanya Karta
"Insya Allah bisa, Restu juga kan sering nongkrong bareng Kak Gading, dia anak teknik mesin" jawab Restu
"Itu mesinnya" ucap Karta dan Restu segera memeriksa mesin itu dengan peralatan yang sudah di siapkan Karta dan dia bawa.
"Apa tidak ada pekerja yang khusus mengurus mesin Om?" tanya Restu memberikan kotak bekal untuk Karta.
Bekal yang dia bawa dari warung Gilang karena Gilang memberikan itu untuk makan siang Restu juga Karta di pabrik.
"Ada, tapi mereka semuanya tidak bisa memperbaikinya, katanya terlalu rumit atau mereka saja yang sudah kong kalikong dengan orang yang berniat membeli pabrik ini" jawab Karta tidak pelan sama sekali, bahkan orang orang itu bisa mendengar apa yang di katakan Karta dengan jelas.
Sebagian dari mereka menundukkan kepala karena malu dan sebagian lagi hanya mendengus kesal karena mereka sama sekali tidak peduli meski akan di pecat dari sana karena mendapatkan uang dari orang yang membayar mereka supaya merusak mesin pabrik.
"Ko gitu pa, memangnya pabrik ini akan di jual Opa Lucas?" tanya Karta
"Tidak akan pernah di jual, pabrik teh ini, rumah lahan kebun teh dan perkebunan karet itu sudah sepaket saat di beli Om, Om tidak akan menjual tempat ini meski bangkrut sekalipun karena tempat ini adalah tempat pertama yang di beli Om setelah kembali ke sini" jawab Karta
"Kalau pabrik ini di tutup, para pekerja bagaimana?" tanya Restu
"Ya mereka akan cari kerja lain, mungkin jadi buruh tani di kebun atau pindah ke kota, tapi yang pasti pabrik ini tidak akan di jual, kita tidak kekurangan uang sama sekali dan meski pabrik ini tutup, Hatta masih punya perusahaan miliknya yang lain dan masih beroperasi di pegang anak buahnya" jawab Karta
"Sayang sekali ya Om, padahal di sini sudah sama dengan di kota besar, kalau keluar dari pabrik ini belum tentu para pekerja dapat pekerjaan yang gajinya sama" ungkap Restu melirik orang orang yang sedang berpikir serius di tempat itu.
Karta dan Restu bisa melihat tatapan penyesalan dari wajah mereka, Karta benar, kalau pabrik di tutup mereka tidak akan punya pekerjaan lain, di tambah para buruh pemetik teh juga pasti akan kehilangan pekerjaan mereka, jadi mereka mulai sadar dan tidak akan menyia nyiakan apa yang sudah Tuhan berikan pada mereka.
"Sepertinya berhasil Om" bisik Restu
"Semoga saja, Om tidak mau kalau sampai mereka terjebak orang orang licik itu, kasihan mereka kalau tidak dapat pekerjaan yang layak, lagipula meskipun tidak ada manusia yang kerja di sini, pabrik bisa pakai mesin dan Om akan ambil warga luar kampung kerja di sini" jawab Karta
"Om apa disini ada kantin? Raka mau es krim" tanya Raka anak Restu yang sekarang sudah lulus kuliah S2 dan bekerja sebagai teknisi di sebuah perusahaan di Jakarta, tapi Raka sedang pulang karena dia rindu dengan keluarga dan kebetulan sedang libur.
"Ada, di ujung ruangan ini, kamu keluar dari sini dan belok ke kiri, pak Alwi tolong antar Raka, dia sepertinya kepanasan karena membantu Restu" jawab Karta
"Baik pak" jawab salah seorang karyawan kepercayaan Karta.
"Kalau kak Gading ada di sini akan lebih gampang" ungkap Restu
"Tapi kamu dan Raka juga bisa kan" ucap Karta
"Insya Allah bisa" jawabnya
Dua jam mereka memperbaiki mesin itu di bantu para penanggung jawab mesin di pabrik yang sudah mulai sadar, akhirnya beberapa mesin sudah kembali menyala, bahkan para pekerja juga terlihat senang karena mereka tidak akan kehilangan pekerjaan.
"Kamu lihat apa?" tanya Restu karena Raka terus melihat ke arah jendela.
"Sosok hantu pohon itu terus mengintip, apa tidak sebaiknya kita hampiri dia?" tanya Raka
"Hampiri saja, dia mungkin punya keluhan" celetuk Karta yang matanya masih terpejam karena tadi Karta tertidur di lantai.
"Di kira dokter kali dia mau menyampaikan keluhan" gerutu Restu
"Dokter hantu" jawab Raka
"Kalau begitu nanti pulang dari sini kita temui dia" jawab Restu dan Raka setuju.
Karta mengangguk pada Caringin yang masih di depan jendela, setelah melihat anggukan Karta, barulah Caringin pergi karena dia percaya Karta akan menghampirinya nanti.
"Pa, pulang yuk, kan mesinnya sudah menyala" ajak Raka menepuk pundak Restu
"Ayo, papa juga sudah rindu mama kamu" jawab Restu langsung di tatap datar Raka.
"Anak anak tidak kamu rindukan?" tanya Karta
"Rindu juga, tapi lebih rindu emaknya" jawab Restu terkekeh.
Karta juga memilih untuk pulang, tapi di perjalanan dia mampir ke rumah Tama terlebih dahulu untuk mengambil koper Jessica yang sekarang akan tinggal di rumah Karta sementara.
"Itu mereka sedang apa ya?" gumam Karta saat dia sudah sampai di depan gerbang rumah Tama dan melihat beberapa orang sedang menanam sesuatu di seberang hutan.
"Sudah biasa kalau di sini den, mereka itu adalah anak buah dukun Norman, pasti sedang buang jin ke dalam hutan itu" jawab penjaga gerbang
"Buat merinding, ayo masuk" ajak Karta masih melihat orang orang itu, sampai matanya tak sengaja bertatapan dengan Norman yang menyeringai ke arahnya.
Bruk.
"Astagfirullah juragan!" pekik penjaga gerbang yang tadi sudah masuk dan langsung keluar untuk membantu Karta yang tiba tiba pingsan dan tertimpa motor yang dia bawa.
"Kenapa juragan Karta tiba tiba pingsan?" tanya penjaga satu.
"Mungkin juragan Karta kesambet" jawab satu lagi.
ma'af thor mau nanya itu nyonya meneer sudah berdiri sejak taun berapa🤭🤭🤭