“Jadi ini wanita yang akan menjadi istri ku?” Suara nya rendah penuh cemooh. “Ayah benar benar berhasil menemukan wanita yang paling membosankan untuk ku”
Dreven Orsley Dastan, pewaris keluarga Dastan, dikenal sebagai pria kasar, pengacau, sekaligus cassanova yang tak pernah serius pada wanita mana pun. Namun, sebuah kecelakaan membuatnya harus duduk di kursi roda—tanpa sedikit pun mengubah sifat liarnya.
Sampai akhirnya, sang ayah menjodohkannya dengan Elnara Sevana, gadis dingin dan cerdik yang terkenal mampu membungkam siapa pun dengan tatapan dan kata-katanya. Ia bukan wanita yang mudah dipermainkan. Setiap serangan lawan selalu dipatahkan sebelum sempat menjadi ancaman.
Elara diminta untuk melahirkan pewaris untuk keluarga Dastan , dan sebagai gantinya Saham perusahaan.
Elara terkekeh sinis, "Sepertinya tidak adil. Bagaimana jika kesepakatannya begini. Aku rubah putramu menjadi anak anjing penurut dan hadiahnya adalah perceraian untukku. Ini terdengar menguntungkan bagiku"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Nafas Elara tersengal-sengal setelah berlari sekitar satu kilometer dari hotel, dia mulai memakai sepatunya kembali dan menetralkan dirinya.
"Huh, untungnya tak sampai telat," gumamnya lega.
"Elara?"
Elara langsung menoleh saat Leo memanggilnya.
Pria itu berdiri di dekat mobil dengan tangan terlipat di dada, alisnya sedikit berkerut melihat keadaan Elara yang tampak kelelahan.
"Kau baik-baik saja?" tanyanya sambil mendekat.
Elara mengangkat tangan, memberi isyarat bahwa dia hanya butuh beberapa detik untuk mengatur napas. "Aku baik-baik saja. Ayo pergi sebelum pemilik tanahnya berubah pikiran."
Leo mengangguk, membukakan pintu mobil untuknya. "Kau datang sendirian?" tanyanya sambil menyalakan mesin.
"Tentu saja," Elara tersenyum kecil. "Dreven pikir aku masih di toilet."
Leo menggeleng pelan. "Kau bermain dengan api, Elara."
Wanita itu menyandarkan dirinya di kursi, menatap langit malam Dubai yang berkelap-kelip di luar jendela. "Ya, tapi ini demi masa depanku. Aku tidak akan membiarkan siapa pun menghalangi."
Leo mengangguk dan mereka masuk ke dalam mobil. Jantung Elara berdetak lebih cepat, jika ini berhasil dia akan mendapatkan tiga kali lipat keuntungan dari menjual tanah nanti.
Hingga akhirnya dia bertemu dengan pria yang akan menjual tanahnya.
Elara dan Leo melangkah masuk ke dalam restoran mewah tempat pertemuan berlangsung. Aroma rempah khas Timur Tengah menyambut mereka, tetapi Elara terlalu fokus pada pria yang duduk di meja sudut dengan sikap tenang dan penuh perhitungan.
Pria itu berusia sekitar lima puluhan, dengan janggut rapi dan mata tajam yang menunjukkan bahwa dia bukan orang yang mudah dibohongi.
"Kau Elara?" tanyanya dengan bahasa Inggris beraksen kental.
Elara tersenyum tipis dan menjabat tangannya. "Benar. Terima kasih sudah meluangkan waktu."
Pria itu mengangguk sekilas sebelum akhirnya berbicara, "Jadi, Anda tertarik membeli tanah saya?"
Elara mengangguk dengan tenang. "Ya. Saya menyukai lokasinya, dan saya berpikir untuk mengembangkan sesuatu di sana."
Pria itu mengusap dagunya, tampak berpikir. "Saya sebenarnya belum terlalu berniat menjualnya. Tapi tentu saja, jika harganya cocok, saya bisa mempertimbangkannya."
Elara menyembunyikan senyum kemenangannya. Dia tahu pria ini belum menyadari potensi tanahnya yang akan meningkat tajam dalam beberapa bulan ke depan. Itu berarti, dia masih memiliki kesempatan untuk mendapatkan harga terbaik sebelum informasi ini bocor.
Dia menatap pria itu dengan santai, "Saya mengerti. Tanah itu memang menarik, tapi tentu saja, saya tidak bisa menawar terlalu tinggi untuk sesuatu yang belum pasti pengembangannya. Bagaimana jika kita bicarakan harga yang adil?"
Pria itu mengangguk, lalu menyebutkan angka yang menurutnya masuk akal. Elara berpura-pura berpikir sejenak sebelum menghela napas. "Angka itu cukup tinggi, mengingat saya masih harus melakukan banyak penyesuaian jika ingin mengembangkan proyek di sana."
Leo yang duduk di sampingnya ikut berbicara, "Kami bisa membayar dalam waktu singkat, tanpa perlu proses panjang seperti pembeli lain. Itu akan menghemat banyak waktu Anda."
Pria itu terlihat mempertimbangkan. Elara melihat peluangnya semakin besar.
"Baiklah, saya setuju."
Elara hampir tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya. Dia berhasil!
"Keputusan yang bijak," katanya dengan senyum tipis, menyembunyikan rasa puasnya.
Pria itu mengangguk. "Kita bisa lanjutkan dengan menandatangani beberapa dokumen. Saya ingin memastikan semuanya berjalan lancar."
Leo segera menyerahkan berkas yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Elara tetap menjaga ekspresinya tetap tenang, padahal dalam hatinya, dia hampir bersorak.
Setelah pria itu selesai membubuhkan beberapa tanda tangan, Elara kemudian membayar tanah itu sesuai nominal kesepakatan. Dan kemudian keluar bersama Leo dengan senyum yang merekah,
"Akhirnya semua berjalan lancar. Aku akan memberikanmu 10% keuntunganku," kata Elara dengan bersemangat.
Leo tersenyum sambil mengusap kepala Elara, "Simpan saja, aku senang membantumu."
Elara berbinar, tapi sebelum dia membalas tiba-tiba seseorang menendang Leo dengan keras. Hal itu sontak membuat Elara terkejut.
"Leo!"
Bruk! Bruk! Bang!
Elara terkejut ketika melihat tubuh Leo terhuyung ke belakang, wajahnya dihantam oleh dua orang pria bertubuh besar dengan setelan hitam—bodyguard Dreven. Di belakang mereka, Dreven duduk tenang di kursi rodanya dengan ekspresi dingin, menyaksikan adegan itu seolah menonton tontonan biasa.
"Cukup! Hentikan mereka!" Elara berteriak panik, mencoba menghentikan amukan bodyguard suaminya.
Leo tersungkur ke lantai restoran, darah mengalir dari sudut bibirnya. Para pengunjung mulai berkerumun, beberapa dari mereka mengangkat ponsel untuk merekam kejadian tersebut.
Dreven menggerakkan kursi rodanya mendekat, menatap Leo yang tergeletak dengan penuh kebencian. "Jadi ini alasanmu ingin kabur, huh?" suaranya rendah, penuh bahaya. "Kau berselingkuh dengan pria ini?"
Elara tercengang. "Apa? Kau gila?! Leo bukan—"
Tapi sebelum dia bisa menyelesaikan kalimatnya, Dreven memberi isyarat pada bodyguardnya untuk kembali memukul. Namun kali ini, Elara dengan cepat berdiri di depan Leo, menghadang mereka.
"Cukup! Kau ingin dipenjara di negara orang?!" Elara berbisik tajam, menatap Dreven dengan mata penuh amarah.
Dreven mengangkat tangannya, menghentikan bodyguardnya. Dia menatap Elara dengan sorot mata yang sulit ditebak. "Kau melindunginya?"
Leo mengusap darah di bibirnya dan menatap Dreven tajam. "Kau salah paham, brengsek."
Dreven mendengus, lalu menggerakkan kursi rodanya mendekati Leo. "Jangan sentuh istriku lagi kalau kau masih ingin hidup," katanya dengan suara dingin dan penuh ancaman.
Petugas keamanan restoran akhirnya datang, "Sir, you need to calm down."
Elara dengan cepat berdiri di antara Dreven dan Leo. "Kita pergi sekarang," katanya dengan suara dingin pada Dreven.
Dreven menatapnya tajam, tetapi akhirnya memberi isyarat pada bodyguardnya untuk mundur. Sebelum benar-benar meninggalkan tempat itu, dia menatap Leo dengan penuh kebencian.
"Kalau aku melihatmu lagi dekat dengan Elara, aku pastikan kau tidak akan bisa berjalan lagi."
Kemudian dia meraih tangan Elara, menariknya untuk pergi. Dengan bantuan bodyguardnya, Dreven membelah kerumunan itu dengan tatapan dingin.
Elara menghela nafas, tapi tidak masalah karena urusannya telah selesai. Tapi cengkraman tangan Dreven membuatnya sedikit meringis. Seberapa kuat pria itu meskipun lumpuh?
"Dreven, lepaskan. Kau menyakitiku," ujar Elara dengan suara tertahan.
Namun Dreven tak mengendurkan cengkeramannya. Wajahnya tetap dingin, rahangnya mengeras, dan sorot matanya tajam saat menatap lurus ke depan.
Begitu mereka sampai di parkiran yang lebih sepi, Dreven akhirnya berhenti dan melepaskan tangan Elara dengan kasar. "Apa kau pikir aku bodoh?" suaranya rendah namun penuh emosi yang tertahan.
Elara mengusap pergelangan tangannya yang memerah. "Aku tidak tahu apa yang kau maksud."
Dreven tertawa sinis. "Kau kabur dari ku untuk bertemu pria lain di belakangku?!"
Elara mendengus. "Leo bukan pria lain, dia—"
"Bukan pria lain? Lalu apa?" Dreven menggerakkan kursi rodanya mendekat, menatap Elara dengan tatapan tajam dari bawah. "Jangan bilang kau jatuh cinta padanya."
Elara menatapnya tajam. "Aku tidak punya kewajiban menjelaskan apapun padamu."
Dreven mengepalkan tangannya, menahan diri agar tidak menghancurkan sesuatu. "Aku suamimu, Elara."
Elara terkekeh sinis. "Hanya di atas kertas."
Dreven tiba-tiba mendorong kursi rodanya lebih dekat, memojokkan Elara ke pintu mobil. "Kau pikir aku akan membiarkan istriku berkeliaran dengan pria lain begitu saja?" suaranya rendah, hampir seperti bisikan.
Elara menelan ludah, tapi tak ingin terlihat lemah. "Kau sendiri bermain dengan banyak wanita, kenapa aku tidak boleh?"
Dreven menatapnya dalam diam. Hanya butuh satu detik sebelum tangannya terangkat, mencengkeram dagu Elara. "Karena aku tidak akan membiarkanmu."
Tatapan mereka terkunci dalam ketegangan yang semakin memanas.
"Kau terlihat seperti pria posesif, padahal sejak awal aku bukan milikmu. Jadi menyingkirlah!"
Dreven menatap tajam Elara, "Kau ingin berceraikan? Akan aku penuhi!" Serunya dengan keras.
Elara yang mendengar itu jelas terkejut, "A-apa?"
"Setengah tahun, kau harus jadi istriku setengah tahun. Bukan hanya di atas kertas, tapi penuhi kewajibanmu sebagai istriku selama setengah tahun. Setelah itu aku akan membebaskanmu!"
Elara terdiam. Kata-kata Dreven menggeja di kepalanya. Setengah tahun?
"Kau bercanda, kan?" tanyanya, mencoba memastikan.
Dreven tersenyum miring. "Aku tidak pernah bercanda soal ini."
Elara diam-diam memperhitungkan, hanya dalam setengah tahun dia bisa bebas tanpa repot mengatur apapun. Tapi.. menjadi istri sesungguhnya? Berarti dia harus memenuhi urusan ranjang?
"Kita tes kesehatan dulu, baru aku mempertimbangkannya," kata Elara dengan datar. Dia memiliki alasan untuk itu, dia tak ingin tertular penyakit karena berhubungan dengan pria yang jelas tak setia itu.
Dreven menaikkan satu alisnya, lalu terkekeh kecil. "Kau pikir aku pria seperti apa?"
Elara menyilangkan tangan di depan dadanya, menatapnya dengan dingin. "Seorang playboy yang mencium wanita lain sebagai salam? Ya, aku pikir kau seperti itu."
Dreven mendekatkan kursi rodanya, menurunkan suaranya. "Aku memang bukan pria baik, tapi aku tidak sembarangan."
Elara tak terpengaruh. "Kau setuju atau tidak?"
Bersambung
karaktermu ini duduk di kursi roda loh. kurang-kurangi memakai kalimat yang merepresentasikan bahwa dia bisa berjalan dong. biar ga cacat logika./Frown/