Indonesia
NovelToon NovelToon
Aku Istrimu, Bukan Babu Mu

Aku Istrimu, Bukan Babu Mu

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Wirly Pena

perkenalkan namaku Jasmine. Usiaku 34 tahun. aku sudah menikah dan mempunyai dua orang anak yang berusia 7 tahun dan 4 tahun. Kegiatanku hanya seorang Ibu rumah tangga.
Suamiku bekerja sebagai PNS di kelurahan desa.
Simak kisahku yang begitu berat aku jalani . Hanya karena ingin mendapatkan surga dari ridho suamiku.
Tapi ternyata aku tak lebih hanya dijadikan seorang babu berkedok istri.
Simak kisah lengkapku ...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wirly Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sebuah kenyataan

Ku lajukan motor Mbak Rima menuju ke kantor Mas Rama. Misi hari ini harus selesai. Aku harus tau yang sebenarnya dilakukan Mas Rama. Meskipun pada akhirnya kebenaran itu akan membuatku hancur.

Aku melajukan motor sedikit lebih cepat. Jarak menuju kantor Mas Rama masih cukup jauh, sedangkan waktu terus berjalan. Aku takut Mas Rama sudah meninggalkan kantor dan kehilangan jejak.

Setelah menempuh perjalanan cukup jauh, akhirnya aku tiba di depan kantor Mas Rama. Suasana di depan kantornya sudah lumayan sepi, hanya tinggal beberapa kendaraan yang terparkir di depan gedung.

Aku memarkirkan motor milik Mbak Rima di seberang jalan. Aku tidak boleh sampai ketahuan. Kalau Mas Rama sampai melihatku, semuanya bisa berantakan.

Aku menatap gedung kantor dari balik kaca helm yang masih aku kenakan. Pandanganku mengamati area parkir. Hal pertama yang aku cari adalah mobil Mas Rama. Aku merasa lega ketika melihat mobilnya masih terparkir. Itu tandanya Mas Rama masih di dalam kantor.

Aku melihat layar ponselku. Pukul empat sore. Biasanya jam kerja sudah selesai. Aku menggenggam ponsel erat-erat sambil terus memperhatikan pintu utama kantor. Jantungku berdebar-debar semakin cepat. Kedua tanganku terasa dingin.

Sesekali aku menundukkan kepala ketika ada sesorang keluar dari gedung. Aku takut ada yang mengenaliku atau bahkan Mas Rama tiba-tiba melihatku.

Aku terus menunggu. Hingga akhirnya waktu menunjukkan pukul setengah lima sore. Mataku terpaku pada seseorang yang baru saja keluar gedung.

Mas Rama..

Dia berjalan menuju mobilnya. Sejenak ia melihat ponselnya lalu memasukkannya kembali ke dalam saku celananya.

Aku segera menundukkan wajah. Jangan sampai ia melihatku. Setelah Mas Rama masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesin, aku buru-buru menaiki sepeda motor.

Mobil Mas Rama mulai melaju keluar dari area parkir. Aku masih menunggu beberapa detik. Baru setelah mobilnya cukup jauh, aku menyalakan motor. Aku tidak boleh terlalu dekat. Kalau terlalu dekat, Mas Rama bisa melihatku dari kaca spion.

Aku mulai mengikuti mobil Mas Rama. Untungnya, dia tidak mengemudi terlalu cepat, jadi aku bisa mengikutinya tanpa kesulitan.

Mas Rama ternyata tidak melajukan mobilnya menuju kerumah. Justru dia berbelok menuju jalur kota. Aku tetap mengikutinya dari belakang kemanapun ia pergi.

Aku ingin semua perkataan Mbak Rima hanyalah kesalahpahaman. Aku ingin percaya bahwa Mas Rama masih menjadi suami yang selama ini ku kenal. Namun, semakin lama perjalanan ini berlangsung, semakin sulit bagiku untuk mempertahankan keyakinan itu.

Sudah 45 menit perjalanan aku membuntuti mobil Mas Rama. Hingaa akhirnya mobil Mas Rama memasuki sebuah kawasan perumahan mewah. Aku melambatkan laju motorku. Di sisi kanan kiri jalan berdiri rumah-rumah mewah dengan halaman luas. Jauh berbeda dengan rumah sederhana yang selama ini kutinggali bersama Mas Rama dan anak-anak.

Aku kembali fokus mengikuti mobil Mas Rama. Mobil itu berbelok ke kiri. Beberapa meter kemudian, mobilnya berhenti di depan sebuah rumah besar bergaya minimalis. Aku segera berhenti cukup jauh dari rumah tersebut.

Rumah itu tampak masih baru. Beberapa bagian halaman bahkan belum tertata sempurna. Ada sisa bahan bangunan di halamannya.

Setelah memarkirkan mobilnya, Mas Rama keluar dari mobil. Tak lama kemudian pintu rumah terbuka. Seorang wanita keluar. Seketika aku langsung membeku. Wanita itu adalah Vanessa, wanita yang tadi siang datang kerumahku. Wanita yang mengaku sedang mencari calon suaminya. Yang ternyata benar yang dikatakan Mbak Rima, calon suaminya itu adalah Mas Rama.

Vanessa berjalan menghampiri Mas Rama dengan wajah penuh kebahagiaan. Kemudian tanpa ragu, ia langsung memeluknya. Pelukan yang begitu mesra. Melihat pemandangan itu, aku menutup mulutku dengan tangan, tubuhku terasa lemas, air mataku langsung menggenang. Sakit sekali rasanya melihat pemandangan itu, hancur berkeping-keping perasaanku saat ini. Begitu teganya Mas Rama menghianatiku. Laki-laki yang selama sepuluh tahun menjadi tempatku menggantungkan harapan. Kini aku melihatnya berpelukan mesra dengan wanita lain.

Aku buru-buru mengeluarkan ponsel dari dalam tas. Dengan tangan gemetar aku segera memotret mereka. Aku harus memiliki bukti. Air mataku jatuh semakin deras. Dadaku terasa sesak seperti dihimpit sesuatu yang sangat berat.

Foto ini akan aku jadikan bukti penghianatan mereka.

Hati ku benar-benar hancur. Rasanya ingin sekali aku berlari menghampiri dan melabrak mereka melampiaskan seluruh sakit dan kemarahanku. Ingin sekali rasanya melayangkan tamparan ke wajah mereka berdua. Wajah-wajah penghianat.

Namun aku harus bisa menahan diri. Aku tidak boleh gegabah. Kalau aku datang dan membuat keributan sekarang, apa yang akan aku dapat?

Mungkin mereka justru akan memutarbalikkan keadaan dan membuatku terlihat seperti perempuan yang tidak bisa mengendalikan emosi. Aku harus mengumpulkan bukti terlebih dahulu. Aku ingin membuat mas Rama jera dan menyesal.

Tubuhku terasa semakin lemas. Kakiku bahkan mulai gemetar. Aku turun dari motor dan duduk di tanah di samping motor. Air mataku kembali jatuh.

Aku menatap layar ponsel. Aku ingin menghubungi Mbak Rima. Ingin sekali segera memberitahunya. Dengan jari yang masih gemetar, aku menekan tombol panggil. Dan tak lama panggilan di angkat.

" Assalamualaikum, iya, Mbak Jasmine?" Ucap Mbak Rima di seberang telepon.

Aku diam. Aku tidak sanggup untuk berkata-kata. Yang keluar justru suara isak tangisku.

"Istighfar, Mbak. Aku tahu ini pasti sangat berat buat Mbak. Tapi Mbak harus kuat. Aku yakin Mbak bisa mengahadapi ini semua. Sekarang Mbak Jasmine dimana? Aku jemput sekarang, ya? Aldi dan Aira juga aku ajak, karena dirumah tidak ada orang." Ucap Mbak Rima lagi dengan nada yang terdengar khawatir.

Aku segera menggeleng meskipun Mbak Rima tidak melihatnya. Aku berusaha mengeluarkan suara di tengah isak tangisku yang tak tertahankan.

"Jangan, Mbak. Aku masih bisa pulang sendiri. Terimakasih banyak, ya mbak karena sudah membukakan mataku. Mbak Rima benar, selama ini aku hanya menjadi wanita bodoh yang sama sekali tidak tau kebusukan Mas Rama." Ucap ku lirih.

"Jangan menyalahkan diri sendiri, Mbak. Yang salah adalah orang yang selama ini berbohong kepada Mbak Jasmine. sekarang tenangkan pikiran dan hati Mbak dulu. Mbak harus kuat demi Aldi dan Aira. Setelah agak tenang, Mbak pulangnya hati-hati, ya." Kata Mbak Rima terdengar lembut.

"Iya Mbak. Sekali lagi terimakasih. Assalamualaikum."

"Walaikumsallam."

Panggilan pun berakhir. Air mataku terus saja mengalir tanpa bisa ku kendalikan. Sementara itu, dari kejauhan, aku melihat Mas Rama dan Vanessa bergandengan tangan berjalan masuk ke dalam rumah mewah tersebut. Pemandangan itu terasa seperti pukulan keras tepat di dadaku.

Selama ini aku berusaha mempertahankan rumah tanggaku mati-matian. Namun, Mas Rama justru malah membangun kehidupan lain di belakangku. Tanganku mengepal. Untuk pertama kalinya, rasa takut kehilangan Mas Rama kini perlahan mulai berubah menjadi kekecewaan dan kemarahan.

Hari ini aku memang menangis. Tapi dari tangisan ini aku akan menjadi lebih kuat dari sebelumnya.

...****************...

Terimakasih sudah membaca..

Jangan lupa follow, yaa 😘

1
partini
habis masuk lobang si jalang masuk lobang istri,,apa ga takut jas banyak penyakit takut kena penyakit kelamin
Wirly Pena: Ikuti terus episode selanjutnya ya kak 😄
total 1 replies
Anonim
Lemah banget jadi cewe ,
Wirly Pena: jangan lupa, ikutin terus ceritanya, ya kak ☺️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!