Indonesia
NovelToon NovelToon
Terperangkap Dalam Cinta Pria Beristri

Terperangkap Dalam Cinta Pria Beristri

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Konflik etika / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:9.3k
Nilai: 5
Nama Author: Red_Purple

Anindya, wanita muda yang tulus dan sederhana, tanpa sengaja terjebak dalam cinta kepada Reynand — pria berwibawa yang sudah memiliki istri bernama Gisella. Di mata publik, rumah tangga mereka tampak sempurna. Namun saat kebenaran mulai terkuak satu per satu, tidak ada yang benar-benar tahu apa yang terjadi di balik pintu tertutup. Akankah Anindya pergi sebelum terlambat, atau ia akan tetap bertahan — terperangkap dalam cinta yang ternyata jauh lebih rumit dari yang ia kira?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 18

Keheningan masih menyelimuti ketiganya.

‎Reynand berdiri tegak, kedua tangannya terselip ke dalam saku celana. Pakaiannya rapi, namun aura yang di pancarkan malam ini terasa jauh lebih dingin dari biasanya.

‎‎Rangga melangkah maju setengah langkah. Ia menyadari ada sesuatu yang tidak beres pada pria di hadapannya ini.

‎‎"Pak Reynand, saya—"

‎‎"Saya belum berbicara dengan Anda, Dokter."

‎‎Suara Reynand memotong seketika. Rendah, namun cukup tegas untuk membuat Rangga terdiam di tempatnya.

‎‎Lalu tatapan itu beralih kepada Anindya — tajam, menyelidik, dan sarat akan kekecewaan.

‎‎"Masuk," ucapnya singkat, sebuah perintah yang tak dapat dibantah.

‎‎Anindya masih bingung dengan sikap Reynand yang tiba-tiba dingin, namun ia langsung mengangguk.

‎‎"Baik, Pak..." jawabnya nyaris berbisik. Ia membungkuk sopan ke arah Rangga. "Terima kasih banyak, Dokter Rangga, atas tumpangannya."

‎‎Kemudian ia berlari kecil melewati pagar, tangannya gemetar hebat saat mencoba membuka kunci pintu rumahnya.

‎Klik.

‎Pintu tertutup rapat. Kini tinggal kedua pria itu berhadapan.

‎‎Angin malam berhembus pelan, membawa ketegangan yang kian pekat.

‎‎Rangga menarik napas dalam. "Jadi Andalah Reynand Ardian." Ia menyodorkan tangan dengan sikap profesional. "Saya Rangga Adhitama."

‎‎Reynand menatap tangan itu selama dua detik. Tidak disambut.

‎‎"Terima kasih telah mengantar pulang karyawan saya," ucapnya. Nadanya tetap sopan, namun kata 'karyawan saya' diucapkan dengan penekanan yang tegas. "Namun mulai malam ini, tidak perlu Anda lakukan lagi."

‎‎Kata-kata itu terasa bagai tamparan halus.

‎‎Rangga menyipitkan mata. Senyumnya masih tersungging, namun tak lagi menyentuh pandangannya. "Saya hanya merasa khawatir. Jalanan di malam hari tidaklah aman bagi wanita yang berjalan sendirian."

‎‎Reynand mengangguk pelan, senyum tipis di bibirnya sama sekali tidak terasa hangat.

‎‎"Kekhawatiran Anda saya hargai, Dokter. Namun soal keselamatannya... biar saya yang mengurusnya."

‎‎Tanpa menunggu tanggapan, Reynand berbalik dan membuka pintu mobilnya. Sebelum masuk, ia berhenti sejenak, tanpa menoleh ke belakang.

‎‎"Ah, satu hal lagi, Dokter..." suaranya terdengar datar. "Mengenai ibunya Anindya, pastikan beliau mendapatkan perawatan serta kamar terbaik. Semua biayanya akan saya tanggung sepenuhnya."

‎‎Reynand masuk, menutup pintu mobil dengan keras. Mesin menderu pelan, lalu kendaraan itu melaju meninggalkan Rangga yang masih berdiri terpaku di bawah cahaya lampu jalan yang berpendar kekuningan.

-

-

-

Ding.

‎‎Pintu lift terbuka di lantai tiga puluh. Reynand melangkah keluar mengenakan jas hitam, wajahnya tampak datar tanpa ekspresi. Di sampingnya, Hansen berjalan sambil menopang tumpukan berkas di tangannya.

‎‎"Selamat pagi, Pak Reynand." beberapa karyawan menyapa.

‎‎Reynand mengangguk sekilas. Langkahnya mantap menyusuri lorong menuju ruangannya. Pandangannya tertahan sesaat di meja sekretaris.

‎‎Di sana berdiri Anindya.

‎‎Ia telah menunggu sejak tadi, mengenakan blus putih dan rok hitam, rambutnya tersusun rapi. Begitu melihat sosok itu, ia langsung membungkuk hormat secara refleks.

‎‎"Selamat pagi, Pak Reynand," ucapnya pelan dan sopan. "Selamat pagi, Pak Hansen."

‎‎Hansen tersenyum tipis. "Pagi, Anindya."

‎‎Reynand tidak menyahut. Ia terus melangkah, namun tepat dua langkah sebelum melewati meja itu, ia berhenti.

‎‎Tubuh Anindya menegang seketika. Kebingungan melanda benaknya. Mengapa berhenti? Apa ia melakukan kesalahan?

‎‎"Anindya," panggilnya, suaranya rendah.

‎‎"Y—Ya, Pak?" Anindya mendongak, wajahnya menyiratkan kebingungan sekaligus kegelisahan. Kedua tangannya meremas ujung pakaiannya dengan cemas.

‎‎Reynand menatapnya lekat sesaat, pandangannya tampak kosong, dingin, dan jauh. Kemudian ia beralih menatap Hansen.

‎‎"Hansen, pindahkan meja kerja Anindya. Lakukan sekarang juga. Masukkan ke dalam ruanganku."

‎‎Perintah itu terucap begitu saja, lugas, tanpa penjelasan apa pun.

‎‎Hansen tertegun sejenak. "E—Eh... baik, Tuan."

‎‎Anindya terpaku di tempatnya, seakan kehilangan kemampuan berpikir. Pindah ke dalam ruangan? Satu ruangan bersama bos?

‎‎"T—Tetapi Pak..." Anindya memberanikan diri menyampaikan, suaranya bergetar. "Berkas-berkas saya masih tersusun di luar..."

‎‎Reynand akhirnya menoleh sepenuhnya ke arahnya. Matanya tajam, menyelidik, namun juga tampak lelah tak terkira.

‎‎"Jika ada yang tertinggal, ambil nanti. Sekarang buatkan aku secangkir kopi. Americano, tanpa gula. Bawa ke dalam."

‎‎Sebuah perintah singkat, tak memberi ruang untuk bertanya lebih lanjut.

‎‎Ia pun melangkah masuk ke ruangannya, pintu ruangan terbuka lalu tertutup perlahan di belakangnya.

‎‎Anindya masih berdiri mematung di tempat, kebingungan yang mendalam menguasai hatinya.

‎‎Apa maksud dari semua ini? Amarah? Hukuman? Atau... pengawasan?

‎‎Hansen menepuk bahunya pelan dengan penuh pengertian. "Anindya... kerjakan dulu apa yang Tuan minta. Nanti saya yang mengurus pemindahan mejamu." Ia berbisik pelan. "Tuan Reynand... suasana hatinya memang sedang tidak baik sejak semalam."

‎‎Anindya mengangguk lemah. "B—Baik, Pak Hansen."

‎‎Ia melangkah menuju pantry dengan banyak pertanyaan dalam benaknya. Tangannya gemetar hingga cangkir keramik yang diambilnya nyaris terlepas dari genggaman. Ia meneguk ludah, berusaha menenangkan diri, namun jantungnya berpacu kencang seakan hendak meloncat keluar.

‎‎Sepuluh menit kemudian ia kembali ke depan ruangan Reynand dan mengetuk pintu itu pelan.

‎‎Tok... tok... tok...

‎‎"Masuk," suara Reynand terdengar tegas dari balik pintu.

‎Anindya mendorong pintu perlahan. Reynand duduk di balik meja kerjanya yang luas, matanya tertuju pada layar laptop, tak menoleh sedikit pun.

‎‎Anindya meletakkan cangkir kopi itu dengan sangat hati-hati.

‎‎"Kopinya Pak..." bisiknya pelan.

‎‎Tidak ada jawaban.

‎‎Ia berdiri tegak di tempat, bingung apakah hendak pergi atau tetap menunggu. Akhirnya ia melangkah mundur selangkah.

‎"Jika tidak ada perintah lain, saya kembali ke meja saya, Pak."

‎‎"Meja barumu ada di sana." Reynand menunjuk sudut ruangan dengan dagunya, di samping jendela yang besar. Di sana telah tersedia meja kerja yang lebih kecil, rapi, dengan papan nama akrilik bertuliskan: ANINDYA.

‎‎Anindya terbelalak. "Hah? Sudah... sudah dipindahkan, Pak?"

‎‎Reynand menatapnya sepenuhnya saat itu. Wajahnya tetap datar.

‎‎"Keberatan?"

‎‎Anindya menggeleng cepat, kebingungan dan kegelisahan bercampur menjadi satu. "T—Tidak, Pak. Hanya... saya tidak paham kenapa tiba-tiba meja saya harus dipindahkan ke dalam ruangan."

‎‎"Tidak perlu dipahami," ucapnya singkat seraya meneguk kopinya yang masih mengepul. "Duduk. Mulai hari ini, semua jadwal dan berkas penting disampaikan langsung dari sini."

‎‎Anindya berjalan menuju meja barunya dengan langkah yang terasa berat. Ia duduk di sana, kursinya menghadap tepat ke arah meja kerja Reynand, jarak di antara mereka tak lebih dari tiga meter.

‎‎Seharian penuh ia akan berada dalam pengawasan pria itu.

‎‎Reynand kembali menatap layar laptopnya, namun sebelum mulai mengetik, ia berucap pelan, begitu pelan hingga nyaris tak terdengar.

‎"Dan Anindya..."

‎‎Anindya langsung menoleh. "Ya, Pak?"

‎‎"Jangan biarkan orang lain mengantarmu pulang lagi." Ada jeda sejenak. "Itu adalah tugasku."

Jantung Anindya seakan berhenti berdetak, lalu berpacu kencang seketika. Ia menelan ludah, menarik napas dalam, lalu memberanikan diri berdiri dari kursinya.

‎‎"Mohon maaf, Pak..." Anindya memberanikan diri menatapnya lekat, suaranya bergetar namun teguh. "Untuk hal-hal di luar jam kerja... itu adalah urusan pribadi saya."

‎Ruangan mendadak hening. Hanya suara pendingin ruangan yang berhembus pelan, seolah ikut menahan napas.

‎‎Reynand menutup penutup laptopnya perlahan, bunyi klik itu terdengar nyaring di keheningan. Kini ia menoleh sepenuhnya. Tatapannya tajam, gelap, namun di kedalamannya ada sesuatu yang bergejolak, bukan sekedar amarah.

‎‎"Kau yakin?" tanyanya rendah, berat.

‎‎Anindya menelan ludah, jantungnya berpacu kencang, tapi ia mengangguk. "Y—Ya, Pak. Saya sangat menghargai perhatian Bapak. Tetapi... saya sudah dewasa. Saya sanggup menjaga diri sendiri di luar kantor."

‎‎Reynand menyandarkan punggungnya, kedua tangannya bertaut erat di meja. Urat di pergelangan tangannya sedikit menonjol. Senyum tipis yang terukir di bibirnya sama sekali tak menyentuh matanya.

‎‎"Benar," ucapnya pelan, seakan berbicara pada dirinya sendiri. "Di luar kantor memang urusan pribadi."

‎‎Ia berhenti sejenak, menarik napas dalam, lalu menatapnya lekat-lekat, seakan ingin mengatakan sesuatu yang jauh lebih jujur, tapi tertahan di kerongkongan.

‎‎"Tetapi Anindya... kau lupa satu hal."

‎‎Alisnya bertaut. "Apa maksudnya, Pak?"

‎‎Reynand berdiri perlahan, melangkah mengelilingi meja hingga berdiri tepat di hadapannya. Aura yang ia pancarkan bukan sekedar kekuasaan, melainkan kegelisahan yang tak mampu ia sembunyikan sepenuhnya.

‎‎"Kau bukan sekedar karyawan biasa," suaranya rendah, menekan setiap kata. "Kau adalah sekretarisku. Wajah yang selalu berdiri di sampingku. Bayanganmu pulang terlambat, diantar pria lain... itu bukan sekedar urusanmu."

‎‎Ia berhenti, menelan ludah. Hampir saja ia berkata: Itu menyakiti hatiku.

‎"Foto itu bisa tersebar," potongnya akhirnya, memilih alasan yang paling aman. "Berita 'Sekretaris Direktur Utama Pulang Bersama Dokter' bisa menjadi bahan pembicaraan orang-orang. Dan aku... aku tidak sanggup melihat namamu dicampuradukkan begitu saja."

‎‎Jari telunjuknya menunjuk kartu identitas yang tergantung di leher Anindya.

‎"Selama kamu masih memakai ini... maka apa yang terjadi padamu, juga menyangkutku."

‎‎Kata-katanya terasa bagai tamparan halus yang menyadarkan sekaligus melukai.

‎‎Wajah Anindya seketika pucat. Matanya berkaca-kaca. Ia kalah, bukan oleh kekuasaan, melainkan oleh kenyataan yang tak pernah ia pikirkan.

‎‎"S—Saya mengerti, Pak..." bisiknya, suaranya nyaris hilang. "Maaf... saya sungguh tidak memikirkan sejauh itu."

‎‎Reynand menatapnya, ingin sekali berkata: Aku cemburu. Aku tidak suka melihatmu dekat dengan pria lain. Tapi kata-kata itu tertahan jauh di dadanya. Sebagai gantinya ia hanya mengangguk pelan, suaranya melunak sedikit, tak lagi setajam tadi.

‎‎"Itulah sebabnya aku mengingatkanmu," ucapnya pelan, matanya tak beranjak dari wajah Anindya. "Bukan sekedar nama baik perusahaan... aku hanya ingin kamu terlindungi."

‎‎Ia berbalik perlahan, kembali ke kursinya, seakan menjauhkan diri sebelum ia mengatakan sesuatu yang tak bisa ditarik kembali.

‎‎"Sudah... kembali bekerja," ucapnya tanpa menoleh, menyembunyikan wajahnya di balik layar.

‎‎Anindya menatap punggungnya yang tegap namun tampak tegang. Hatinya bingung, di balik ketegasan itu, ia merasakan sesuatu yang lain. Sesuatu yang jauh lebih lembut, dan jauh lebih berbahaya.‎ 

-

-

-

Bersambung...

1
〈⎳ FT. Zira
erai kan gak harus kedua belah pihak setuju
〈⎳ FT. Zira
ancamanya aja yg gak efisien🤧
〈⎳ FT. Zira
sebutannya tetep pelakor ya walau mereka saling suka dan terjebak keadaan.. mulut netizen kan emng paling bener🤧🤧
〈⎳ FT. Zira
Rey sih gak bakal mundur nin
Bunda HB
bu lady yg trhormat ank mu tdr dgn pria lain yg bernama Gavin .di namakan istri gatal...makanya di cerai sama suami nya 😅😅
🔥Violetta🔥: Astaga 🤣🤣 lady Gaga 🤭🤣✌️
total 1 replies
Fay
Kutunggu lanjutannya thor biar semangat ku kasi vote deh💪💪
🔥Violetta🔥: Wah terimakasih banyak kakak 🙏😘
total 1 replies
〈⎳ FT. Zira
ehh... gak bisa komen.. lagi revisi katanya🤧🤧🤧
〈⎳ FT. Zira
dirimu punya hak apa nglarang, suami bukan/Slight//Slight/
〈⎳ FT. Zira
anakmu yg nyosor duluan loh nyonyaaa
〈⎳ FT. Zira
sengaja banget ngasih terapi jantung yak🤧
🍓ADIRA🍓
Ayooo cari tau Rey... 🧐
🍓ADIRA🍓
sepertinya si binik sama kekasih gelapnya 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
yg salah y statusnya Reynand 🤣🤣🤣
🍓ADIRA🍓
MBOK YA JANGAN LANGSUNG PLAK TOH BUK 😎 TANYA DULU BAEK-BAEK GTU LOH 😠
🍓ADIRA🍓
iya iya yg lgi lope lope dah /Heart/🤣🤣
🍓ADIRA🍓
Terbawa perasaan sesaat??? plis deh ya buk 😎 Reynand itu bukan anak 17 tahun lagi loh 🙂‍↔️🙂‍↔️🙂‍↔️
🍓ADIRA🍓
maap sya klarifikasi y nyonya... anakmu itu loh yg demen ambil kesempatan dalam kesempitan dluan 😂😂😂🤣🤣🤣🤣
🍓ADIRA🍓
kwkwkwk calon besan tak boleh galak^ loh NyoMar 😂😂😂
kymlove...
beresin dulu aja ray hubungan mu sama gisella... cari taulah tentang gisella biar kamu tau keburukkan gisella, jadi jika beneran cerai km punya alasan yg kuat. untuk menggugat... biar semua tidak menyalahkan anindya jadi pihak ketiga terus...
kymlove...
hadeh.... udah ketebak pasti bakalan nyalahin nindya.... tapi ibuuuu..... kalau nindya pergi siapa. yang bakalan nanggung pengobatan mu!!!! mbok ya tolong jangan cuma lihat jeleknya aja!!! emang anak ibuuu jg mau terjebak sm. suami orang!!!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!