Reyhan Mahardika adalah seorang aktor figuran gagal yang nasibnya berubah drastis setelah ia diikat oleh Sistem Pemeran Penjahat Profesional yang menjanjikan karier legendaris. Namun keberuntungan itu berubah menjadi mimpi buruk ketika setiap adegan pembunuhan yang ia perankan di depan kamera tiba-tiba terjadi di dunia nyata dengan pola yang sama persis. Publik dan polisi, termasuk Detektif Alena Prameswari yang cerdas dan dingin, mulai mencurigainya setelah sebuah video aktingnya yang terlalu realistis tersebar ke internet. Kini Reyhan harus membuktikan dirinya tidak bersalah sambil terus menjalankan misi dari sistem misterius itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Reyhan menghentikan bacaannya sejenak.
Dada Reyhan terasa sesak menyadari betapa putus asanya aktor senior ini saat itu.
"Dia pasti mencoba melapor, tapi sayangnya polisi yang dia temui adalah Darmawan," tebak Kania dengan nada geram.
"Benar, dan Darmawan justru menjual informasi itu kembali ke pihak yayasan."
"Tapi bagian yang paling penting ada di paragraf terakhir ini, Kania."
Reyhan menyorotkan senternya tepat ke arah paragraf terakhir di jurnal tersebut.
"Aku sudah menyembunyikan dokumen aslinya di tempat yang aman."
"Jika terjadi sesuatu padaku malam ini, aku hanya berharap anakku bisa memaafkanku."
"Ayah sangat menyayangimu, Gilang."
Hening.
Waktu seakan berhenti berdetak di dalam ruang ganti yang hangus tersebut.
Reyhan mematung dengan mata terbelalak menatap tulisan tangan yang mulai memudar itu.
"Gilang?" Kania memecah keheningan.
"Itu nama anak Bintang Sanjaya?"
"Kau kenal siapa Gilang itu, Reyhan?"
Pikiran Reyhan berputar sangat cepat, menggabungkan semua kepingan memori dari hari pertama sistem ini muncul.
"Pantas saja," bisik Reyhan dengan suara bergetar.
"Pantas saja semuanya terasa sangat kebetulan."
"Reyhan, bicaralah yang jelas, siapa Gilang ini?" desak Kania tidak sabar.
"Gilang adalah temanku," jawab Reyhan sambil menutup jurnal itu dengan kasar.
"Dia adalah asisten sutradara di film indie yang menawariku peran pembunuh bayaran di hari pertama."
Kania menutup mulutnya dengan kedua tangan karena terkejut.
"Temanmu sendiri?"
"Iya, Kania."
"Gilang yang meneleponku malam itu dan bilang aktor aslinya kecelakaan."
"Gilang yang punya akses penuh ke lokasi syuting."
"Gilang yang menyembunyikan kru pencahayaan bertopi hitam itu, atau bahkan mungkin dia sendiri yang memakai topi hitam itu."
Reyhan tertawa hambar, sebuah tawa yang dipenuhi rasa marah dan kecewa yang luar biasa.
"Dia yang mengatur semuanya dari awal."
"Dia menggunakan kedekatan kami untuk menjadikanku kambing hitam yang sempurna."
"Dia yang merekam video aktingku dan meniru adeganku untuk membunuh Hendra Setiawan."
Kania menyandarkan punggungnya ke dinding dengan tubuh lemas.
"Ini sangat gila."
"Pembunuh berantai yang selama ini kita kejar ternyata adalah teman dekatmu sendiri."
"Dia tidak pernah dekat denganku, Kania."
"Dia hanya memeliharaku selama bertahun-tahun untuk dijadikan boneka di hari pembalasannya," ucap Reyhan dengan nada sangat dingin.
Kemampuan Akting Psikopat di dalam diri Reyhan perlahan bangkit merespons amarah aslinya.
Matanya berubah menjadi sangat tajam dan kosong.
[Ding! Misi Investigasi Berhasil.]
[Petunjuk identitas asli pembunuh telah ditemukan.]
[Hadiah didistribusikan: Skill Observasi ditingkatkan ke Tingkat Tinggi.]
Suara desingan pengeras suara kembali menyala di dalam ruangan itu.
Ngiung.
"Kejutan yang menyenangkan, bukan?"
Suara mekanis itu terdengar lagi, tapi kali ini terdengar lebih dekat.
"Kau mengkhianatiku, Gilang," desis Reyhan ke arah pengeras suara di sudut atap.
Terdengar helaan napas dari balik pengeras suara tersebut.
"Bukan pengkhianatan, Reyhan."
"Aku menyebutnya sebagai rekrutmen paksa."
Suara mekanis itu perlahan berubah menjadi suara pria normal yang sangat familiar di telinga Reyhan.
Itu memang suara Gilang.
"Aku butuh aktor terbaik untuk memainkan peran utama di panggungku."
"Dan kau, Reyhan, adalah aktor yang paling berbakat yang pernah aku kenal."
"Kau bajingan gila," maki Reyhan dengan tangan mengepal keras.
"Kau membunuh orang-orang itu, aku tidak peduli."
"Tapi kau hampir membuatku membusuk di penjara, dan kau hampir membunuh Alena dengan bom sialan itu!"
Gilang tertawa pelan dari seberang saluran.
"Alena adalah variabel pengganggu yang harus disingkirkan, Reyhan."
"Sama seperti jurnalis wanita yang berdiri di sebelahmu itu."
Kania langsung panik mendengar namanya disebut.
"Reyhan, dia bisa melihat kita!" seru Kania ketakutan.
"Tentu saja aku bisa melihat kalian."
"Kalian sedang berdiri di atas panggungku."
"Sekarang, keluarlah dari ruang ganti itu dan kembali ke auditorium utama."
"Sudah saatnya kita bertatap muka secara langsung sebagai dua orang aktor yang sesungguhnya."
Klik.
Pengeras suara itu mati kembali.
Reyhan memasukkan jurnal Bintang Sanjaya ke dalam tas ransel Kania.
"Ayo kita keluar, Kania."
"Dan tetaplah berada tepat di belakangku, apa pun yang terjadi nanti."
Kania mengangguk dengan cepat, seluruh keberanian jurnalistiknya sudah menguap entah ke mana.
Mereka berdua berjalan kembali melewati lorong sempit yang gelap itu menuju panggung utama.
Udara di dalam teater terasa semakin dingin dan berat.
Saat mereka tiba di atas panggung utama, lampu sorot kembali menyala dengan sangat terang.
Namun kali ini, ada seseorang yang duduk di kursi barisan paling depan di bangku penonton.
Pria itu mengenakan setelan jas putih yang sangat rapi.
Di tangannya terdapat sebuah topeng hitam polos yang baru saja ia lepas dari wajahnya.
Wajah pria itu terlihat sangat tenang dan tampan, namun matanya memancarkan kegilaan yang dalam.
Itu adalah Gilang.
"Selamat datang di babak akhir, kawan lama," sapa Gilang sambil tersenyum lebar.
Reyhan berdiri di tepi panggung, menatap mantan temannya itu dengan pandangan membunuh.
"Pertunjukanmu sudah selesai, Gilang."
"Polisi mungkin belum tahu, tapi aku sudah memegang semua rahasiamu sekarang."
Gilang berdiri dari kursinya dan berjalan perlahan menaiki tangga panggung.
"Rahasia? Ah, kau maksud buku harian ayahku itu?"
"Aku sengaja menaruhnya di sana agar kau bisa membacanya, Reyhan."
"Aku ingin kau mengerti kenapa aku melakukan semua ini."
"Aku mengerti kau ingin balas dendam," jawab Reyhan tajam.
"Tapi yang tidak aku mengerti adalah kenapa kau harus menghancurkan hidupku untuk mencapai tujuanmu?"
Gilang menghentikan langkahnya beberapa meter di depan Reyhan.
"Karena aku tidak bisa menghukum mereka dengan caraku sendiri."
"Aku ini pengecut, Reyhan."
"Tapi kau... sejak malam syuting pertama itu, aku melihat monster yang tertidur di dalam dirimu."
"Kau punya aura pembunuh sejati yang bahkan aku sendiri tidak memilikinya."
Gilang merentangkan kedua tangannya dengan gaya dramatis.
"Dan lihatlah dirimu sekarang, Reyhan."
"Kau bukan lagi figuran rendahan yang menangis karena kelaparan."
"Kau adalah Sang Penerus Keadilan."
"Kau adalah pahlawan yang dipuja oleh jutaan rakyat negeri ini!"
"Harusnya kau berterima kasih padaku!" teriak Gilang dengan urat leher yang menonjol.
Reyhan mendengus pelan dan melangkah maju satu langkah.
"Aku tidak pernah minta dijadikan pahlawan oleh seorang psikopat."
"Dan sekarang, aku akan memastikan kau masuk ke dalam penjara yang sama dengan para pejabat kotor itu."
Tiba-tiba, suara tepuk tangan lambat terdengar dari arah pintu masuk auditorium.
Prok. Prok. Prok.
"Drama yang sangat menyentuh hati."
Seorang wanita berjalan santai memasuki ruangan dengan pistol teracung ke depan.
Itu adalah Alena, dan ia terlihat sangat kacau dengan kemeja yang robek dan sedikit noda darah di pelipisnya.
"Alena? Bagaimana kau bisa sampai ke sini?" tanya Reyhan terkejut.
"Bukannya kau sedang diinterogasi di Mabes Polri?"
Alena tersenyum sinis sambil terus mengarahkan senjatanya ke arah Gilang.
"Aku sempat menghajar dua petugas Propam sebelum mereka menahanku ke sel."
"Dan aku melacak sinyal GPS dari ponsel Kania."
Alena menatap Gilang dengan pandangan penuh kebencian.
"Jadi ini dia sutradara gilanya."
"Angkat tanganmu ke atas, Gilang, atau aku akan menembak kepalamu sekarang juga."
Gilang tidak terlihat panik sama sekali melihat kedatangan Alena.
Ia justru tersenyum semakin lebar.
"Detektif Alena, kedatanganmu benar-benar menyempurnakan naskahku malam ini."
"Tapi sayangnya, kau sedikit terlambat."
Gilang mengeluarkan sebuah remote kontrol kecil dari saku jasnya.
"Apa yang kau pegang itu?!" bentak Alena sambil bersiap menarik pelatuk.
"Hanya pengatur waktu kecil," jawab Gilang santai.
"Gedung ini sudah kupasangi bahan peledak C4 di seluruh pilar utamanya."
"Dan jika aku menekan tombol ini, kita semua akan terkubur di bawah reruntuhan Teater Harapan."
Jantung Reyhan, Alena, dan Kania langsung berhenti berdetak sesaat.
Permainan gila ini ternyata benar-benar belum berakhir.