Demi meningkatkan reputasi, Ophelia—seorang anak yatim piatu—tiba-tiba diadopsi oleh keluarga Pratama, konglomerat yang baru naik kasta. Namun bukannya kasih sayang, ia justru mendapatkan penyiksaan di rumah dan bullying di sekolah elit yang dimasukinya.
Puncaknya, Ophelia tewas secara tragis di tangan mereka.
Tetapi alam semesta memberinya kesempatan kedua. Terbangun satu tahun sebelum kematiannya, Ophelia bertekad merobohkan keluarga Pratama menggunakan senjata mematikan: rahasia-rahasia busuk yang ia ketahui dari masa depan.
Dibantu oleh seorang pewaris misterius dari keluarga ternama, kali ini Ophelia tidak akan lagi menjadi korban. Dia yang akan memegang kendali atas panggung permainan hidupnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ashe Lepidoptera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23 (Arc 1 Selesai)
Reine entah kenapa terlihat tidak suka dengan eksistensi pria itu kemudian berkata, “Kalau begitu saya permisi dulu.”
Dan dia pun pergi dari sana.
Ophelia melirik ke arah pria yang sedang menguap itu. Dia terlihat mengeluarkan sebatang rokok dari saku.
“Mau?” tawarnya.
Ophelia menggeleng. “Kak Arjuna atau Kak Arga?”
Kakak kembar Airin itu benar-benar mirip habisnya. Mereka juga memakai setelan jas yang warnanya hampir sama jadi sulit sekali untuk dibedakan.
“Arga.” Pria itu memutar mata. “Arjuna mana mau merokok begini.”
Oh.
Berarti firasat Ophelia benar. Dia pria yang menghajar pemburu itu dengan tatapan ingin membunuh.
Tapi dia terlihat normal sekarang.
“Kenapa heels-mu dilepas begitu? Kakimu lecet?”
Ophelia menatap kakinya yang tidak memakai apa-apa. “Cuma pegal, nanti kalau kembali ke aula dansa juga dipakai lagi.”
Arga yang mendengar itu hanya kembali menguap dan berjalan pergi.
Ophelia berniat untuk berterima kasih sebenarnya, mengingat dia jarang sekali bertemu dengan kakak kembar Airin tapi mungkin kak Arga punya urusan lain?
Gadis itu kembali melanjutkan jalannya sembari memegang amplop di tangan kanan dan heels di tangan kiri. Dia mencoba mengingat kembali setiap belokan, setiap lorong, setiap ruangan agar bisa kembali—
“Eh?”
“Hah?”
Dia bertemu lagi dengan kak Arga… namun kali ini mereka berpapasan.
Jangan bilang dari tadi Ophelia hanya memutar-mutar?
“Aula dansanya ada dimana ya?” ringisnya, mencoba untuk tersenyum.
Arga menghela napas sembari mengusap wajahnya. “Ikut aku. Tapi sebelum itu pakai ini dulu.”
Ophelia baru sadar kalau kak Arga membawa dua pasang sandal bulu(?) berbentuk kelinci dan hamster di tangannya. Ia diberi satu.
Apa dia pergi tadi untuk mengambil ini?
“Terima kasih,” ucapnya. Kakinya terasa jauh lebih baik daripada berjalan tanpa alas.
“Bujuk Airin untuk memakai ini juga." Kak Arga mengangkat sendal bulu itu. “Karena si Kaiser terlalu tinggi jadi dia memaksa untuk memakai heels padahal tau kakinya pasti sakit.”
Tapi kak Arga lebih tinggi lagi dari Kaiser ‘kan ya? Bahunya juga lebih lebar—dia terlihat seperti dinding jika dilihat dari belakang.
Ophelia juga mesti berterima kasih akan hal lain.
“Aku belum berterima kasih secara langsung soal kejadian tahun lalu,” mulainya. “Kalau kakak sama Kak Arjuna nggak ada, mungkin—”
“Lupakan soal itu.”
Kak Arga menghembuskan asap rokoknya. “Itu bukan sesuatu yang indah untuk diingat.”
Yah, memang sih.
“Kamu dapat hadiah lukisannya? Kenapa bisa?” tanyanya lagi. “Clue terakhirnya bahkan belum diberikan.”
Ophelia tersenyum kecil. “Keberuntungan, kurasa.”
“Bukan karena Airin memberimu bocoran?”
Kenapa dia bisa tahu?
“Airin yang memilih lukisan itu.” Arga menunjuk amplop di tangan Ophelia. “Dia bilang kalau nama lukisannya sama dengan seseorang.”
Ophelia menghela napas. Jadi itu alasan kenapa dia sampai diberi bocoran segala.
Sebenarnya selain berterima kasih, Ophelia juga ingin bertanya soal pemburu yang mengincar Airin itu. Tidak ada kabar tentangnya, sama sekali. Ophelia tidak tahu pemburu itu diserahkan kepada polisi atau kabur—tidak ada kabar apapun.
Tapi mungkin bertanya pada kak Arga adalah hal yang buruk.
Entah kenapa firasatnya bilang begitu.
Oh, aulanya mulai terlihat.
Mungkin karena orang-orang sibuk berjelajah mencari lukisan, aula dansa yang awalnya ramai terlihat lebih tenang dengan beberapa orang yang berbincang santai.
Ayah dan Ibu angkatnya juga ada di sana, berbicara akrab dengan orang tua Airin.
Tapi Chelsea belum kembali kesini.
“Lia!” Airin yang awalnya berada di sisi Kaiser berlari dan memeluknya. “Aku tau pasti kamu yang dapat.”
Justru aneh kalau bukan Ophelia yang dapat.
“Lepas sepatumu, ganti pakai yang ini.” Kak Arga langsung menyodorkan sandal bulu itu pada adiknya.
Gadis itu terlihat menyipitkan mata, memandang sandal berbentuk kucing dengan sebelah mata sebelum bicara, “Nggak mau. Sandalnya nggak cocok kalau dipakai bareng gaun, nanti aku kelihatan aneh.”
“Jadi aku kelihatan aneh ya?” ujar Ophelia. “Aku juga pakai sendal yang sama habisnya.”
Airin berkedip dan langsung menunduk, melihat kaki Ophelia yang memakai sandal bulu berbentuk hamster. Tanpa pikir panjang, dia mengambil sandal di tangan kakaknya dan memakainya langsung.
“Kalau gitu kita samaan,” senyumnya.
Ophelia mengelus pucuk kepala gadis itu sembari melirik angkuh ke arah Kaiser. Hmph, lihat siapa yang jadi favoritnya Airin sekarang.
“Mereka dekat sekali ya?” Arjuna sengaja menepuk pundak Kaiser, menenangkan pemuda itu.
Kaiser menyipitkan mata. “Terlalu dekat. Airin serasa diambil dariku kalau ada dia.”
“Dari dulu anak itu ingin punya saudara perempuan habisnya.”
Melihat kembarannya yang menyalakan rokok lain, Arjuna langsung mengambil benda itu. “Jangan merokok di sini.”
“Yang lain tidak apa-apa.”
“Jangan disebelahku maksudnya.”
“Kalau begitu pergi saja sana.”
Mereka bertengkar, gumam Ophelia dalam hati. Dia menghiraukan perdebatan kedua kakak Airin dan berjalan ke arah Kaiser.
“Katanya harus kuberi padamu.”
“Memangnya dengan cara curang begini masih bisa dibilang menang?” Pemuda itu bertanya sinis.
“Aku menemukan tempatnya sendiri, tidak dibantu siapa-siapa lho.”
Kaiser menghela napas dan mengumumkan kalau pemenangnya adalah Ophelia. Gadis itu hanya bisa menatap datar ke arah para tamu lain ketika mereka kembali ke aula dansa.
Setelahnya, pesta ulang tahun yang panjang itupun akhirnya selesai.
...****************...
Ophelia menatap lembaran kertas di depannya. Itu semua adalah rencana dan analisis yang ia buat setahun kebelakang. Kertas itu juga berisi potongan ingatannya di masa lalu.
Tapi tepatnya hari ini itu semua tidak akan berguna lagi. Jika Ophelia masih hidup, besok dia akan menjalani hari tanpa tahu apa yang akan terjadi.
Gadis itu memutar pulpen di tangannya.
Dia sudah punya Airin dan Kaiser sebagai sekutu tapi rencananya untuk membuat Yelena terpojok dengan perselingkuhannya gagal total.
Menghadapi masa depan yang ia tidak tahu… apa persiapannya cukup?
“Kamu nggak tidur?” Chelsea yang memakai entah berapa lapis masker masuk ke kamarnya.
“Sebentar lagi juga pagi. Kalau tidur nanti malah pusing.”
Dan hari ini mereka harus tetap pergi sekolah.
“Kalau gitu pakai ini. Supaya matamu nggak jadi panda.” Chelsea memberikannya masker yang sama. “Ini juga. Pakai di atas masker yang ini.”
Ophelia menerima kedua benda itu dan mengikuti Chelsea yang mulai berbaring di kasurnya. Entah sejak kapan tapi kakaknya jadi sering datang kemari hanya untuk mengobrol atau memastikan Ophelia memakai skincare dengan benar.
“Ada yang terjadi?” tanya Chelsea tiba-tiba ketika Ophelia berbaring di sebelahnya. “Dari semenjak pestanya selesai kamu terus melamun.”
Gadis itu terdiam sebentar. Ia menatap langit-langit kamar yang terlihat mulai disinari cahaya pagi.
Apa Chelsea tahu kalau Yelena memiliki simpanan?
“Aku melihat Ibu bermesraan dengan seseorang di pesta. Bukan Ayah, tentunya,” gumam Ophelia, mencoba bertaruh.
“Oh.”
Reaksi Chelsea tidak seperti yang ia harapkan.
“Kamu tahu juga ternyata.”
“Aku nggak liat siapa orangnya.” Ophelia beralih duduk, membuat maskernya menjadi berantakan. “Kakak tau siapa itu?”
“Kamu nggak liat di pesta tadi dia memakai setelan yang warnanya sama dengan yang Ibu pakai?”
Ophelia mencoba mengingat-ingat. Orang yang memakai setelan coklat itu ada beberapa, tapi yang warnanya sama persis dengan yang Yelena pakai… tunggu, jangan bilang—
“Ayahnya Reine?”