Alya adalah Ratu mafia yang memimpin sebuah organisasi Order Tabir Hitam dengan nama First Order.
Tapi sayangnya ia mencintai pria kantor biasa saat ia sering menjelajahi tempat yang akan menjadi misinya.
Dan saat itulah ia memutuskan untuk keluar dari dunia hitam dan membuang mahkotanya ke dalam lumpur demi bisa menjalani hidup bahagia bersama sang suami.
Sayangnya pernikahan itu tidak berlangsung lama, mertua tidak menyukainya, dan suaminya menikah dengan manager di tempat kerjanya.
Pembalasan di mulai, Alya kembali mengambil mahkotanya dan menjadi Ratu Mafia kembali dan membawa putri kecilnya menjadi orang ternama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21
Rumah Lastri, adalah salah satu bawahan Alya yang terletak di pinggiran kota yang tenang.
Tempat itu terasa seperti benteng bagi Alisya.
Setelah mencium kening putrinya dan memastikan anak itu sudah terlelap di pelukan Lastri, Alya perlahan menutup pintu kamar.
Suasana tiba-tiba menjadi dingin. Alya mengeluarkan ponselnya, mengetik satu pesan singkat, dan menghilang ke dalam bayang-bayang malam.
...*******...
Sementara itu, di markas tua Black Cobra, suasana jauh dari kata tenang. Bau mesiu dan asap rokok murahan memenuhi gudang besar yang lembap itu.
Andi, yang wajahnya tampak pucat pasi, sedang menatap layar ponselnya dengan tangan gemetar.
"Kenapa, Andi? Kau terlihat seperti baru melihat hantu," ejek ketua geng Black Cobra yang sedang membersihkan laras senjatanya.
Andi menyerahkan ponselnya. Pria itu membaca pesan singkat yang masuk tadi.
Wajahnya yang semula angkuh mendadak kaku. Senjata di tangannya terlepas, jatuh ke lantai dengan dentuman keras.
"Kau... kau bilang targetmu hanya seorang ibu rumah tangga biasa?" suara ketua geng itu tercekat.
"Dia... dia adalah mantan istriku... kaki sudah menikah 5 tahun, tidak ada kejanggalan sedikit pun, tapi dia bilang dia alah black rose!" Andi mulai panik, mundur beberapa langkah.
"Bodoh! Kau membangkitkan The Black Rose first Order!" maki ketua geng itu. "Cepat, siapkan kendaraan! Kita harus pergi dari sini sekarang juga!"
Namun, terlambat.
Suara dentuman keras terdengar saat pintu baja gudang itu jebol, bukan oleh ledakan, melainkan oleh sebuah mobil SUV hitam yang menerjang masuk dengan kecepatan tinggi.
Mobil itu berhenti tepat di tengah gudang, membelah barisan lima belas orang bersenjata yang panik.
Mesin mobil mati. Keheningan yang mencekam menyelimuti gudang.
Pintu pengemudi terbuka. Alya keluar dengan langkah tenang. Ia tidak mengenakan jaket kulit atau perlengkapan tempur, hanya setelan blazer hitam kasual yang menonjolkan aura dingin dan mematikan.
"Di mana dia?" suara Alya bergema, dingin dan datar, namun mampu menghentikan napas semua orang di ruangan itu.
Lima belas pria bersenjata itu mengangkat senjata mereka, namun jemari mereka gemetar.
Mereka tidak menghadapi seorang wanita; mereka menghadapi sebuah fenomena yang selama satu dekade terakhir hanya menjadi mitos menakutkan di dunia bawah tanah.
"Tembak dia!" teriak Andi dari balik punggung para pengawal.
Peluru melesat, namun Alya bergerak dengan kecepatan yang tak masuk akal.
Ia merunduk, memutar tubuhnya, dan dalam sekejap sudah berada di balik salah satu pengawal.
Alya memaku tubuhnya di balik pilar beton yang retak. Napasnya teratur, meski jantungnya berdegup kencang di balik rompi anti-pelurunya.
Di depannya, selusin anggota sindikat "Black Cobra" sedang bergerak maju dengan formasi rapi, senjata laras panjang mereka menyapu setiap bayangan di gudang itu.
Duar!
Satu peluru menghantam pilar tepat di samping kepala Alya, mengirimkan serpihan beton ke udara.
"Dia di sana! Hancurkan!" teriak suara bariton yang berat, pemimpin unit Cobra.
Alya tidak membuang waktu. Dia menarik pin granat asap yang tersisa di sabuknya dan melemparkannya ke sisi kiri.
Begitu asap putih tebal meledak, Alya melakukan manuver yang berisiko. Dia meluncur keluar dari balik pilar, bukan untuk lari, melainkan untuk menyerang.
Dua tembakan yang pas dari pistol berperedam miliknya menembak ke arah tersebut. Dua anggota Cobra jatuh seketika.
Suasana mendadak menjadi neraka. Black Cobra membalas dengan membabi buta. Desingan peluru merobek udara, memicu percikan api saat logam bertemu logam.