"Kapan nikah?"
"Udah mau 30 loh."
"Jangan pilih-pilih, nanti jadi perawan tua."
Jena muak sekali dengan semua itu. Baginya, menikah bukan kriteria kesuksesan seseorang. Mau nikah atau pun tidak, itu juga bukan urusan mereka, tapi entah kenapa, mereka suka sekali mengurusi hidupnya.
3 kali ia menjalin kasih, endingnya selalu diselingkuhi. Sahabat terbaiknya, jadi janda diusia 25 tahun karena suaminya selingkuh. Dan yang paling gong, Papa yang ia sayang dan sosok yang ia kagumi, diam-diam ternyata punya istri kedua. Lalu, laki-laki seperti apa lagi yang bisa ia percaya.
Baginya, berurusan dengan laki-laki, hanyalah cari penyakit. Entah sekarang atau nanti, pasti endingnya disakiti. Ia tak mau menikah. Kalau sendiri bisa bahagia, untuk apa berdua?
Sampai kejadian tak terduga, mempertemukanmu dia dengan Budi. Laki-laki yang humoris, dan selalu bilang. "Gak semua laki-laki kayak gitu, Mbak."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12
Jena kesal bukan main ketika mengetahui Mamanya ternyata ikut-ikutan mendesaknya untuk makan malam bersama Angga.
Jam 6 malam, Papa dan Mamanya bahkan sudah bersiap lebih dulu, seolah malam ini adalah acara yang sangat penting untuk keluarga mereka.
Jena duduk di depan meja rias dengan wajah masam. "Aku nggak mau nikah, Mah. Titik!"
Mamanya yang sedang sibuk mengacak almari Jena, memilihkan baju, menoleh sekilas. "Coba kenalan dulu, siapa tahu cocok."
"Males."
"Jen..." Asri menatap putrinya. "Nggak semua laki-laki kayak Papa kamu."
Jena menghela nafas berat. "Tapi rata-rata, Mah."
Bu Asri kemudian mendekat, memegang kedua bahu Jena, menatap wajah putrinya di pantulan cermin. "Mama kenal Angga. Dia anaknya baik, sopan, pintar, dewasa. Insyaallah cocok sama kamu. Kenalan dulu aja, urusan nikah nanti."
Jena mendengus. "Tapi arahnya ke sana, kan? Tujuan makan malam ini ya itu, nikah."
Asri tidak menjawab, kembali ke almari untuk mengambilkan Jena baju.
Malam itu, Jena akhirnya datang. Bukan karena mau, tapi karena tak bisa menolak kalau Mamanya yang minta. Mereka berangkat bertiga menuju restoran tempat makan malam yang sudah disepakati. Formasinya sudah seperti keluarga cemara, aslinya keluarga tercemar. Tercemar virus pelakor.
Saat mereka datang, ternyata keluarga Angga sudah lebih dulu tiba. Seperti biasa, salaman, cipika cipiki, basa basi. Semua tampak semangat, kecuali Jena, ekspresi wajahnya terlalu datar. Bahkan saat Angga tersenyum padanya, ia hanya membalas dengan senyuman simpul yang terlihat dipaksakan.
Sebenarnya Angga cukup tampan. Penampilannya rapi, pembawaannya tenang, dan cara bicaranya sopan. Tidak ada yang salah. Salahnya cuma satu, tak bisa membuat hati Jena tergerak untuk sekedar ngobrol lebih jauh.
"Perjalanan ke sini lancar, Om?" tanya Angga.
"Macet dikit tadi, makanya agak telat," jawab Andika.
"Ah enggak kok, kami juga baru datang," ujar Dani, ayah Angga. "Jena, lagi sibuk apa sekarang?" tersenyum, menatap Jena.
"Masih seperti biasa Om, kerja."
"Gak mau lanjut kuliah lagi?"
"Belum ada keinginan."
"Jen, katanya kamu suka makanan Italia? Aku tahu tempat yang enak, gimana kalau kapan-kapan kita kesana?" ajak Angga, yang sepertinya sedang berusaha untuk menarik hati Jena.
"Sebenernya gak terlalu suka sih." Jena nyengir.
"Oh." Anggap tampak kecewa.
Asri menjawil lengan Jena, memberi isyarat mata agar lebih sopan.
Mereka memulai makan malam sambil mengobrol ringan, kecuali Jena, yang hanya akan bicara saat ditanya.
Jena mengaduk minumannya sambil menghela napas dalam hati.
Ya ampun... belum setengah jam, udah bosan begini.
Dia mulai membayangkan kalau Angga benar-benar menjadi suaminya. Mereka sama-sama sibuk.
Bangun pagi, sarapan, berangkat kerja, pulang, makan malam, tidur. Besok begitu lagi, terus begitu. Hidupnya betul-betul akan terasa, anyep.
Jena langsung menggeleng dalam hati. Ah, nggak! Pokoknya aku nggak mau nikah.
Angga memang terlihat baik. Tapi siapa yang bisa menjamin? Bisa saja sekarang dia sopan karena sedang ingin mendapatkan hati Jena. Bisa saja setelah menikah, sifat aslinya keluar.
Jena pernah mendengar terlalu banyak cerita tentang laki-laki yang berubah setelah menikah. Laki-laki itu nggak bisa dinilai dari tampangnya. Apalagi cuma dari makan malam satu kali.
Sementara itu, di ujung meja, Papa Jena dan Papa Angga justru terlihat jauh lebih bersemangat. Mereka bahkan sudah membuka pembicaraan soal bisnis.
"Kalau kerja sama ini jadi, distribusinya bisa kita perluas sampai luar negeri," ujar Dani.
Papa Jena mengangguk. "Saya juga berpikir begitu."
Mereka terus membahas soal angka, pasar, distribusi, proyek baru, membuat Jena muak. Sebenarnya acara makan malam ini untuk perjodohan atau rapat bisnis?
Jena malah merasa seperti sedang duduk di tengah sebuah transaksi.
Jangan-jangan...Tatapannya berpindah dari Papanya kepada Papa Angga. Gue sedang dijadikan alat tukar bisnis?
"Kalau anak-anak kita juga cocok," kata Dani tiba-tiba sambil tersenyum. "Hubungan bisnis kita tentu akan semakin kuat."
Jena langsung meletakkan sendoknya.
KLANG!
Suara sendok membentur piring membuat semua orang menoleh.
Jena tersenyum tipis. "Maaf."
Tapi dalam hati, darahnya sudah mendidih. Kapan acara ini segera berakhir, ia sudah muak. Sebenarnya Papanya benar-benar ingin melihat ia menikah, atau ingin memperbesar kerajaan bisnisnya?
Gue ini anak atau bagian dari proposal kerja sama?
Jena melirik Angga. Laki-laki itu tampak tenang, bahkan sesekali ikut nimbrung membahas bisnis. Sepertinya Angga tidak keberatan dengan perjodohan ini.
Kalau semua orang di meja ini sudah punya rencana tentang hidupnya, Jena tahu satu hal. Ia harus menggagalkan rencana itu.
...----------------...
Malam belum terlalu larut ketika seorang gadis cantik menghentikan motornya tepat di depan gerobak roti bakar milik Budi. Begitu melepas helm, wajahnya langsung terlihat ceria.
"Kak Budi!"
Budi yang sedang menyiapkan pesanan pelanggan, menoleh.
"Eh, Naura."
Gadis itu adalah pelanggan setianya sejak beberapa tahun lalu. Dulu, ketika masih SMP, Budi pernah menjadi pengajar ekstrakurikuler Paskibra di sekolahnya. Dan sekarang, gadis itu sudah SMA.
"Seperti biasa?" tanya Budi.
Naura mengangguk. "Macha-tiramisu."
"Siap."
Naura duduk di kursi plastik di depan gerobak sambil memperhatikan Budi yang sedang membuat pesanan orang lain.
"Kak..."
"Hmm?"
"Sekarang paskib di SMA nggak seru."
Budi melirik sekilas. "Kenapa?"
"Nggak ada Kak Budi."
Budi terkekeh. "Jangan gitu. Kamu tetap harus semangat."
Naura mengerucutkan bibir. "Males. Mana pelatihnya galak banget, dari TNI."
Budi mengoleskan margarin ke permukaan roti. "Tegas kali ya, bukan galak."
"Beneran galak orangnya, mana gak ada cakep-cakepnya, gak kayak Kak Budi."
Budi kembali terkekeh. "Latihan yang rajin. Siapa tahu tahun depan, kamu kepilih jadi yang bawa baki bendera di Istana Negara." Dulu semasa SMA, Budi salah satu anggota paskibra pengibar bendera di istana negara. Ia punya sertifikat, dan menggunakan itu untuk melamar jadi pelatih paskibra.
"Kayaknya aku gak mau ikut paskibra lagi."
"Kok gitu?" Budi melirik sekilas.
"Gak semangat. Andai aja Kak Budi yang ngelatih, pasti aku lebih semangat." Ia membuang nafas berat.
Budi hanya geleng-geleng.
"Kak Budi kenapa sih, nggak pernah balas WA aku?"
Gerakan tangan Budi sempat berhenti, melirik Naura, lalu kembali sibuk memanggang roti. "Kak Budi sibuk."
"Emang sesibuk apa sampai nggak bisa balas sama sekali?"
Budi tertawa kecil. "Siang Kak Budi ngojek. Sore kadang ngelatih paskibra. Malam jualan roti bakar. Kurang sibuk gimana coba?"
Naura menghela napas. "Kak Budi nggak mau kerja kantoran? Kalau mau, nanti aku bilangin Papaku."
Budi menoleh. "Papa kamu?"
"Iya. Papaku punya perusahaan besar."
Budi tersenyum geli. "Kak Budi cuma lulusan SMA."
"Gampang." Naura mengatakannya dengan begitu santai. "Kalau ada orang dalam, semua bisa diatur."
Budi tertawa. "Itu gak fair buat yang lainnya. Makasih atas tawarannya, tapi Kak Budi lebih nyaman kayak gini."
Senyum Naura langsung menghilang. Ia tampak kecewa. "Kenapa sih, Kak? Padahal kalau kerja di perusahaan Papa, hidup Kak Budi bisa lebih enak."
Budi tidak menjawab, ia menyerahkan roti bakar pada pelanggan, lalu lanjut membuatkan pesanan Naura. Beberapa menit kemudian, roti bakar pesanan Naura sudah siap.
"Nih." Budi menyerahkannya kepada Naura.
Naura menerima sambil berdiri. "Makasih, Kak." Ia lalu menyerahkan uangnya. "Kembaliannya ambil aja."
"Makasih. Hati-hati kalau bawa motor." Budi menatap motor matic yang terparkir di depan gerobaknya. "Belum punya SIM, kan?"
Naura nyengir. "Hehehe...Sebenarnya juga belum dibolehin sama Papa."
"Terus?"
"Hari ini Papa nggak ada di rumah, jadi aku bisa bawa motor."
Budi menggeleng-gelengkan kepala. "Anak zaman sekarang."
Ia melihat jam tangannya. "Cepetan pulang, udah malam. Nanti kalau Papa kamu pulang duluan, kamu bisa kena marah."
Naura justru santai. "Papa nggak pulang."
"Lho?"
"Pulang ke istri tuanya."
Budi langsung terdiam. Tangannya yang sedang membereskan alat panggang berhenti.
"Papaku punya istri dua."
Budi mengerjapkan mata. Beberapa detik ia masih mencerna informasi itu.
"Banyak banget bininya, Neng." Celetuk Mang Udin, penjual nasi goreng di sebelah Budi yang tak sengaja mendengarkan.
Naura tertawa kecil.
"Bapak aja udah duda hampir sepuluh tahun, belum laku sampai sekarang."
Budi menutup mulut dengan telapak tangan, tertawa cekikikan.
"Bapak kurang modal." Naura tertawa.
"Ya elah, padahal sehari bisa dapat untung bersih 500 ribu, masa masih kurang buat belanja sehari? Ups!" Buru-buru Mang Udin menutup mulut, mengedarkan pandangan ke sekitar. "Semoga gak kedengaran petugas sensus. Bisa-bisa, masuk desil 11 nanti."
"Mentoknya cuma 10, Pak." Naura ngakak.
Budi menggeleng sambil tersenyum. "Udah, pulang sana."
Naura memakai helmnya. Sebelum menyalakan motor, ia sempat menatap Budi.
"Kak Budi..."
"Hmm?"
"Jangan lupa balas WA aku."
Budi tersenyum. "Iya, iya."
Naura akhirnya pergi.
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
sekarang di kasih kesempatan tidak akan di sia sia kan ,,,batasnya jam 7. Jena Budiman akan berubah jadi pangeran makanya jangan bermain dengan Pria niat baik
😄👍
pernikahan bukan permainan...