"Darah yang menetes malam ini adalah saksi... bahwa Daren yang lemah telah mati."
Di balik kemegahan Kota Atlas yang berkilau, hidup Daren—seorang remaja yatim piatu yang nasibnya lebih buruk dari seekor anjing jalanan. Diadopsi sejak usia lima tahun oleh pasangan kaya raya, Deni dan Tia, Daren mengira dirinya telah menemukan sebuah keluarga. Namun, harapan kepolosannya dihancurkan oleh realita yang kejam.
Selama sepuluh tahun, rumah megah itu berubah menjadi neraka. Daren dijadikan babu tanpa upah, dihina, dan disiksa secara fisik maupun mental. Bahkan ketika tubuhnya digerogoti demam tinggi, sabetan gesper dan cambukan sapu tetap menjadi makanan sehari-harinya. Puncaknya, tuduhan palsu dari Dion—anak kandung mereka—membuat Daren disiksa hingga nyaris kehilangan nyawa hanya karena vas bunga yang pecah.
Malam itu, di bawah guyuran hujan deras Kota Atlas, Daren memilih kabur. Dia meninggalkan darahnya di lantai marmer dan bersumpah tidak akan pernah menjadi korban lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon D'syam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pesan Sang ayah
Malam merambat makin dingin di Sektor Utara Kota Atlas. Di dalam area steril fasilitas medis khusus milik Red Crows, lampu penstabil kondisi biologis memancarkan pendar kebiruan yang tenang.
Proses pemindahan adik perempuan Firman—seorang gadis kecil berusia dua belas tahun bernama Maya—berjalan dengan tingkat presisi dan kerahasiaan tinggi. Tanpa menarik perhatian publik atau media, sebuah unit ambulans lapis baja berstiker rumah sakit privat meluncur mulus membawa Maya dari bangsal kumuh rumah sakit daerah menuju ruang ICU khusus Sektor Utara.
Dr. Anthony secara pribadi memimpin tim medis untuk menangani Maya. Seluruh fasilitas pendukung kehidupan terbaik, obat-obatan tingkat tinggi dari jalur logistik internal, serta tim dokter spesialis diturunkan. Di luar pintu kamar perawatan, empat prajurit elit berseragam taktis hitam dengan senjata otomatis tersembunyi berdiri siaga selama dua puluh empat jam penuh.
Firman yang menyaksikan adiknya kini terbaring di atas tempat tidur medis yang jauh lebih nyaman dan aman, meneteskan air mata keharuan. Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun terakhir, beban berat yang menghimpit jiwanya terasa terangkat sepenuhnya.
Markas Utama Red Crows – Sector Zero
Sementara proses pengamanan Maya selesai dilakukan, operasi taktis di bawah tanah melesat tanpa hambatan.
Di dalam ruang kontrol utama, Joe duduk di depan Konsol Tiga Dimensi. Jarinya menari dengan kecepatan luar biasa di atas papan ketik holografik, melacak riwayat sinyal, frekuensi radio, dan nomor terenkripsi yang pernah menghubungi ponsel jadul milik Firman.
PING!
Layar monitor raksasa di tengah ruangan seketika memancarkan titik merah berkedip di area gudang tua pinggiran Sektor Selatan Kota Atlas.
"Ketemu," ucap Joe dengan suara datar yang memuaskan. "Sinyal telepon terenkripsi yang mengancam Firman berasal dari sebuah gudang tua bekas pabrik tekstil di Sektor Selatan. Ada sekitar lima belas sinyal gawai aktif yang berkumpul di lokasi tersebut—komplotan pengawal lapangan sang bandar."
Argus yang berdiri di samping meja granitnya menghembuskan asap cerutunya pelan. Pria penguasa bawah tanah itu menoleh pada sesosok pria berbadan tegap dengan rambut perak dan mantel tempur khusus yang berdiri di dekat pintu.
Demian.
"Kau baru saja tiba dari Eropa Timur, Demian," kata Argus, suaranya tebal dan berwibawa. "Selesaikan masalah ini. Aku tidak butuh pasukan besar. Bersihkan tempat itu dan bawakan aku pemimpin komplotan lapangan mereka hidup-hidup."
Demian menyunggingkan senyuman tipis yang sangat dingin. Dia merapikan sarung tangan taktis kulitnya, menyarungkan sepasang bilah sangkur baja di pinggang belakangnya.
"Satu orang sudah lebih dari cukup untuk menangani kecoa-kecoa itu, Tuan Argus," jawab Demian tenang.
Dua puluh menit kemudian, di gudang tua bekas pabrik tekstil Sektor Selatan.
Hujan gerimis membasahi atap seng yang berkarat. Di dalam gudang yang remang, lima belas pria kekar bersenjata api ringan dan pemukul besi sedang duduk melingkar di atas peti kayu, tertawa-tawa seraya menghitung uang tunai dari peredaran narkotika.
BRAAAKK!
Pintu besi besar gudang itu terdorong hancur menghantam lantai beton.
Sesosok pria bertubuh tegap melangkah masuk seorang diri di bawah rintik hujan. Demian melangkah dengan tenang tanpa memperlihatkan rasa ragu sedikit pun.
"Siapa kau, Bajingan?!" bentak salah satu pengawal seraya mencabut pistol dari pinggangnya.
Demian tidak membalas dengan kata-kata. Gerakannya meluncur deras bagaikan badai salju Eropa. Sebelum pengawal pertama sempat menarik pelatuk, sangkur Demian sudah menyapu pergelangan tangannya.
SSET! CRACK! BOK!
Suara benturan tulang patah, jeritan kesakitan, dan dentuman tubuh yang dihantamkan ke dinding beton bergema nyaring secara beruntun di dalam gudang. Dalam kurun waktu kurang dari empat menit, empat belas pengawal bertubuh besar terkapar tak bernyawa di atas lantai semen bercampur darah.
Demian melangkah mendekati pria terakhir—pria paruh baya berkulit gelap yang gemetar hebat di sudut ruangan, sosok yang selama ini menelpon dan mengancam Firman.
Demian mencengkeram leher pria itu dengan satu tangan, mengangkatnya ke udara seperti menjinjing seekor anak anjing, lalu menyunggingkan senyum dinginnya.
"Tuan Argus ingin menyapamu," bisik Demian sebelum melayangkan pukulan lembut yang membuat pria itu pingsan seketika.
Malam itu juga, sang penghubung lapangan berhasil diringkus hidup-hidup dan dibawa ke kedalaman Sektor Zero untuk diperas seluruh informasinya mengenai sang bandar besar di Kota Atlas.
SMA Bintang – Pukul 12.30 WIB
Siang hari yang terik menyelimuti kawasan sekolah elit SMA Bintang. Di saat ratusan murid memadati kantin dan lapangan olahraga selama jam istirahat kedua, suasana di area rooftop (atap gedung utama) justru terasa sangat tenang dan terisolasi dari keriuhan bawah.
Angin siang bertiup sepoi-sepoi, mengibarkan kerah kemeja putih yang dikenakan oleh Daren.
Daren berdiri seorang diri di dekat pagar pembatas besi rooftop. Dia menyandarkan kedua lengannya yang kokoh di atas pagar, menatap lurus ke arah cakrawala Kota Atlas yang dipenuhi gedung-gedung tinggi. Entah ke mana Lingga pergi siang ini, Daren sama sekali tidak peduli. Keheningan tanpa celotehan tengil sahabatnya itu justru memberikan ruang bagi Daren untuk bernapas sejenak.
Daren memejamkan mata kelabunya perlahan.
Sensasi embusan angin di wajahnya mendadak menerbangkan ingatannya jauh menembus lorong waktu—kembali ke masa sepuluh tahun lalu, sebelum tragedi kecelakaan maut merenggut kedua orang tua kandungnya dan melemparnya ke neraka perbudakan keluarga Deni.
Di balik kegelapan kelopak matanya, Daren teringat pada senyuman hangat ibunya, aroma masakan rumahan yang sederhana, serta kehangatan pelukan ayahnya saat malam hari. Ayahnya adalah seorang pria yang jujur, tegap, dan berprinsip tinggi.
Daren mengingat dengan sangat jelas kalimat terakhir yang diucapkan oleh ayahnya di malam sebelum kecelakaan tragis itu terjadi:
"Daren, Anakku... Dunia ini bisa menjadi sangat kejam dan penuh dengan kepalsuan. Tapi ingat pesan Ayah... Jika suatu hari nanti ada seseorang yang tulus membantumu, mengulurkan tangannya tanpa meminta imbalan, atau berdiri di sisimu saat kau jatuh... bersumpahlah di dalam jiwamu untuk menjaganya dengan seluruh nyawamu. Jangan pernah biarkan kawan sejatimu terluka."
Pesan itu terukir begitu dalam di bagian terdalam jiwa Daren. Pesan yang menjadi alasan mengapa Daren begitu menjaga Lingga dan Firman, serta mengapa dia rela menembus batas malam untuk menjadi perisai bagi orang-orang yang telah diakuinya sebagai kawan.
TAP... TAP... TAP...
Suara ketukan halus sepatu di atas semen lantai rooftop mendadak memecahkan kenangan Daren.
Daren membuka matanya perlahan. Refleks insting bertahannya bekerja secara otomatis, namun Daren tidak berbalik secara mendadak karena indera pendengarannya menangkap bahwa langkah kaki itu sangat ringan, ragu-ragu, dan tanpa membawa aura permusuhan.
Sesosok siswi berseragam SMA Bintang melangkah mendekat. Siswi itu memiliki paras wajah yang sangat cantik, bersih, dengan rambut hitam panjang yang terurai lembut diterpa angin siang. Matanya yang jernih berwarna cokelat hazel memancarkan pendar kelembutan sekaligus kepedihan yang tersembunyi.
Clara.
Siswi kelas XII-B yang sangat terkenal di SMA Bintang. Rumor yang beredar di seluruh sekolah menyebutkan bahwa Clara adalah anak tunggal dari mendiang konglomerat pemilik jaringan hotel internasional. Dia adalah seorang yatim piatu yang ditinggali warisan aset kekayaan yang rumornya sangat melimpah—bahkan cukup untuk menghidupinya hingga lima keturunan tanpa harus bekerja seumur hidup.
Namun, di balik kekayaannya yang fantastis, Clara sangat berbeda dari anak-anak kaya lainnya di sekolah itu. Dia hidup sangat sederhana, selalu tersenyum ramah pada siapa saja, menggunakan transportasi umum atau sepeda listrik ke sekolah, dan tidak pernah sekalipun menyombongkan hartanya. Sifatnya yang anggun dan apa adanya membuat Clara dihormati oleh hampir seluruh murid dan guru.
Clara menghentikan langkahnya tiga meter di belakang Daren. Tangannya meremas pelan tali tas kecilnya, matanya menatap punggung tegap Daren dengan binar kerinduan yang sangat mendalam.
"Daren..." panggil Clara dengan suara yang sangat lembut, hampir terdengar seperti bisikan di tengah hembusan angin rooftop.
Daren membalikkan badannya perlahan. Dia menyandarkan punggungnya di pagar besi, menatap Clara dengan pandangan mata kelabunya yang tenang dan membeku.
"Ya?" sahut Daren pendek.
Clara melangkah maju dua langkah lagi, menatap wajah tampan Daren dengan ketelitian yang luar biasa. Garis rahangnya yang tegas, alis tebalnya, serta sepasang mata kelabu yang dingin itu...
"Apakah... apakah ini benar-benar kau?" tanya Clara dengan suara yang mulai bergetar pelan. Air mata tipis menggenang di pelupuk matanya. "Daren... Daren yang dulu?"
Daren menaikan sebelah alisnya. "Maksudmu?"
"Teman masa kecilku..." kata Clara seraya menunjuk dadanya sendiri dengan jemari yang gemetar. "Sepuluh tahun lalu... di taman perumahan lama sebelum kecelakaan itu... Kita selalu bermain bersama. Kau adalah anak laki-laki yang sangat ceria, selalu tersenyum, dan selalu melindungiku saat anak-anak lain menggangguku. Namamu Daren... dan matamu berwarna kelabu sama persis seperti ini."
Clara mengulurkan tangannya sedikit, seolah ingin menyentuh wajah Daren, namun dia menahannya di udara. "Saat aku mendengar ada murid baru bernama Daren Ardiansyah yang pindah ke sekolah ini... aku terus berdo'a bahwa itu adalah kau. Tapi... kenapa tatapan matamu begitu dingin? Kenapa senyuman ceriamu hilang?"
Daren menatap Clara secara datar. Di dalam ingatan Daren, masa kecilnya sebelum usia lima tahun telah sepenuhnya diputus dan terkubur oleh penderitaan sepuluh tahun di rumah Deni serta tempaan keras enam tahun di Red Crows. Nama Clara atau bayangan tentang seorang anak perempuan di taman masa kecilnya... tidak tersisa sedikit pun di dalam benaknya.
"Kau salah orang," jawab Daren dingin, suaranya tebal tanpa riak emosi. "Aku tidak pernah kenal denganmu, dan aku tidak ingat pernah memiliki teman masa kecil bernama Clara."
Kata-kata yang keluar dari mulut Daren terasa bagaikan jarum halus yang menusuk dada Clara.
Clara merapatkan bibirnya, menundukkan kepalanya tipis. Rasa sedih yang mendalam mengalir di dalam hatinya. Namun, ketika Clara menengadah kembali dan menatap lurus ke dalam manik mata kelabu Daren, di lubuk hatinya yang paling dalam... sebuah keyakinan mutlak yang tidak dapat digoyahkan menegaskan bahwa pria tegap bersikap dingin di hadapannya ini... murni adalah sahabat masa kecilnya yang sangat dia rindukan.
"Mungkin kau lupa... atau mungkin ada hal buruk yang mengubahmu," bisik Clara lembut dengan senyuman kecil yang tulus di balik air matanya. "Tapi aku yakin... di balik sikap dinginmu ini, kau adalah Daren yang sama."
BRAAAK!
Pintu akses rooftop mendadak terdorong terbuka lebar dengan suara yang sangat bising.
"OIIII! WAH, WAH, WAH! ADA DRAMA PERCINTAAN APA INI DI ATAS ATAP?!"
Siapa lagi jika bukan Lingga. Pria tengil itu melangkah masuk dengan kaleng minuman soda di tangannya, kacamata hitamnya dipasang miring di dahi. Lingga membelalakkan matanya lebar-lehar saat melihat Daren berdiri berduaan dengan Clara—siswi paling idaman dan paling kaya di SMA Bintang.
Lingga melompat-lompat kecil dengan gaya hebohnya yang sangat menggebu-gebu.
"Astaga, Daren!" seru Lingga seraya menunjuk-nunjuk Daren dengan gaya godaan konyol. "Baru juga kemarin bikin heboh merontokkan gigi Reno, sekarang lu udah bisa menyudutkan Nona Muda Clara di rooftop?! Lu pakai pelet jenis apa, Bro?! Bagi-bagi rahasianya dong!"
Daren hanya menghela napas pendek, menatap Lingga dengan pandangan acuh tak acuh tanpa membalas godaan konyol tersebut. Dia sudah sangat kebal dengan kelakuan sahabatnya itu.
Sementara Clara hanya meringis pelan, mengusap sudut matanya yang basah seraya tersenyum canggung melihat tingkah ajaib Lingga yang merusak suasana emosional mereka.
"Aku... aku kembali ke kelas dulu," pamit Clara pelan pada Daren, memberikan senyuman lembut sebelum melangkah melewati Lingga menuju pintu turun.
Sementara itu, di lantai bawah di sepanjang koridor gedung utama...
Beberapa murid yang sedang berdiri di dekat jendela luar melirik ke arah rooftop. Mereka melihat momen saat Clara berdiri berduaan dengan Daren, disusul kedatangan Lingga. Dalam hitungan menit, bisik-bisik dan rumor baru seketika menyebar cepat bagaikan api di seluruh penjuru SMA Bintang: Murid baru paling berbahaya, Daren, sedang mengincar dan mendekati Clara!
Sepuluh menit kemudian, di koridor lantai dua dekat tangga utama.
Clara melangkah sendirian menyusuri koridor untuk kembali ke kelasnya di XII-B. Tas kecilnya digendong di bahu.
SSET!
Mendadak, dari balik persimpangan tangga, tiga orang siswi melangkah keluar memblokir jalan Clara. Siswi di barisan depan—seorang siswi bernama Siska yang dikenal sebagai mantan pacar Reno sekaligus ketua geng siswi populer di sekolah—menatap Clara dengan pandangan mata yang dipenuhi rasa iri, marah, dan dengki.
Siska melipat kedua tangannya di dada, melangkah mendekati Clara dengan gaya angkuh.
"Hei, Clara!" bentak Siska dengan suara melengking jengkel. "Berani-beraninya ya kau mendekati Daren di rooftop tadi?!"
Clara menghentikan langkahnya, menatap Siska dengan tenang. "Aku hanya bicara padanya, Siska. Tidak ada masalah, kan?"
"Masalah besar, Gatal!" maki Siska, wajahnya memerah padam karena terbakar cemburu atas rumor yang beredar. "Kau harus tahu diri! Daren itu milikku! Dia pindah ke sekolah ini dan menghajar Reno murni karena dia menyukaiku dan ingin menarik perhatianku! Kau cuma anak yatim piatu sok polos yang tidak ada apa-apanya dibanding aku!"
Siska mengacungkan jarinya ke wajah Clara, mengaku-ngaku secara berlebihan atas hal yang sama sekali tidak pernah terjadi.
Clara menggelengkan kepalanya pelan. "Daren tidak pernah menyukaimu, Siska. Jangan membuat kebohongan sendiri."
"Kurang ajar kau!" jerit Siska histeris karena perkataan Clara menembus gengsinya.
Dengan rasa amarah yang memuncak, Siska mengayunkan tangan kanannya ke udara dengan kencang, berniat mendaratkan tamparan keras ke wajah cantik Clara!
SSET!
Tamparan itu tidak pernah menyentuh kulit Clara.
STAP!
Sebuah tangan yang sangat kokoh, tegap, dan sekeras catut baja muncul secara instan dari arah belakang Clara, mencengkeram pergelangan tangan Siska tepat di udara. Cengkeraman itu begitu kuat hingga membuat gerakan tangan Siska terhenti total dalam seperseribu detik.
Siska tersentak kaget. Clara membalikkan badannya dengan mata terbelalak.
Di belakang Clara, berdiri Daren.
Tinggi badannya yang menjulang menutupi tubuh Clara di belakangnya bagaikan sebuah benteng baja yang tak tertembus. Kemeja sekolah putih Daren berdesir diterpa angin koridor, dan sepasang mata kelabunya menatap Siska dengan kilatan intimidasi membunuh yang begitu pekat.
Tato kanji vertikal Akuma no Urami di leher kanan Daren mengintip tajam di balik kerah kemejanya.
"Da... Daren?!" jerit Siska dengan suara gemetar ketakutan, rasa sakit dari pergelangan tangannya yang dicengkeram kencang mulai membuat jari-jarinya mati rasa.
Daren tidak melepaskan cengkeramannya. Dia memiringkan kepalanya sedikit, menatap Siska dengan nada suara yang sangat rendah, tebal, dan membekukan seluruh darah di koridor tersebut.
"Siapa yang memberimu izin menyentuhnya?" bisik Daren dingin, suaranya mengandung ancaman kematian murni. "Dan sejak kapan... seekor serangga sepertimu berani mengaku-ngaku bahwa aku menyukaimu?"
Siska gemetar hebat dari ujung rambut hingga ujung kaki. Wajah angkuhnya seketika hancur berkeping-keping, digantikan oleh rasa takut yang luar biasa dahsyat. "Ma... Maaf, Daren... Aku... Aku bercanda... Tolong lepaskan!"
Daren menghempaskan tangan Siska secara kasar ke samping.
BUM!
Daya hempasan tangan Daren membuat Siska terdorong mundur tiga langkah hingga tersungkur jatuh ke atas lantai koridor dengan posisi yang sangat memalukan di depan dua rekannya.
Di belakang Daren, Lingga yang melangkah santai seraya memegang kaleng sodanya seketika meledak dalam tawa ejekan yang luar biasa puas!
"HAHAHAHAHAHAHA!" Lingga tertawa terbahak-bahak seraya menunjuk-nunjuk Siska yang terkapar di lantai. "Makanya Mbak! Jangan kebiasaan kebingungan halusinasi tinggi! Muka pas-pasan gaya langit, ngaku-ngaku disukai Daren! Ompong kayak si Reno baru tahu rasa lu nanti! Hahaha!"
Ejekan pedas dari Lingga dan tatapan membunuh dari Daren membuat Siska dan dua rekannya menangis ketakutan. Mereka bergegas bangkit, berlari kencang menyusuri koridor untuk melarikan diri tanpa berani menoleh lagi.
Koridor kembali hening.
Clara menengadah, menatap punggung tegap Daren yang berdiri kokoh di depannya. Rasa hangat yang sangat besar mengalir di dalam dadanya. Pelindungan Daren yang spontan dan tanpa ragu ini... persis sama dengan janji dan perlindungan sahabat masa kecilnya di masa lalu.
Daren membalikkan badannya perlahan. Dia menatap Clara secara datar, tanpa menguraikan kata-kata romantis murahan.
"Jangan biarkan orang lain menyentuhmu lagi," ucap Daren pendek, suaranya tebal dan dingin, namun mengandung ketegasan perlindungan yang tak tergoyahkan.
Daren merapikan kerah kemejanya, lalu melangkah lebar mendahului mereka menyusuri koridor.
Sesuai dengan sumpah dan pesan mendiang ayahnya... Daren telah mulai berdiri sebagai perisai bagi orang-orang yang ditakdirkan berada di sekeliling jiwanya.