Tolong...bagi yang hanya penasaran jangan buka bab!!!
Sultan Rafsanjani, CEO muda nan tampan, cerdas serta berasal dari keluarga kaya raya, rela menyamar menjadi pria culun dan menyembunyikan identitasnya demi mengejar gadis pujaannya.
Hingga suatu hari dirinya diminta menjadi kekasih pura-pura oleh gadis tersebut hanya untuk memberikan kado istimewa buat ulangtahun eyangnya.
Bersediakah Sultan atau dia malah memanfaatkan keadaan dan meminta menjadi kekasih sungguhan?
Ataukah justru hal lain tak terduga akan terjadi?
Ikuti kisahnya hanya di sini;
"Suami Culunku Ternyata Sang Pewaris" karya Moms TZ, bukan yang lain!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17.
Begitu melewati ruang tamu, langkah Kahiyang langsung melambat. Pandangannya berkeliling, memperhatikan setiap sudut hunian yang tampak begitu nyaman. Netra wanita itu terkagum-kagum melihat interior ruangan yang terlihat sederhana tetapi sangat mewah.
Sultan tersenyum melihat reaksi istrinya. "Bagaimana, apa kamu menyukainya?"
Sang istri lantas menoleh padanya dan mengangguk. "Suka banget. Aku benar-benar nggak nyangka ternyata kamu sudah menyiapkan semua ini."
"Kalau begitu, ayo ke atas lihat kamar kita," bisik Sultan sembari menarik lembut tangan istrinya menaiki tangga menuju lantai dua.
Setiba di atas, Sultan membuka pintu salah satu ruangan, "Ini kamar kita," katanya sambil mempersilakan Kahiyang masuk lebih dulu.
"Apa kamu suka? Kalau ada masih yang kurang, kamu bisa mendesainnya ulang sesuai keinginanmu," lanjutnya menambahkan.
Kahiyang melangkah masuk sambil memperhatikan seluruh isi kamar. Senyum kecil menghiasi wajahnya lalu menoleh ke arah Sultan.
"Aku suka...banget malah," ucapnya tulus.
Sultan ikut tersenyum. "Alhamdulillah, kalau kamu suka."
Kahiyang kemudian berbalik menghadap suaminya. "Makasih ya, Raf. Aku yakin kamu pasti menghabiskan tabunganmu untuk menyiapkan semua ini."
"Enggak juga," jawab Sultan santai. "Mama sama Papa membantu. Kamu tahu, kan, kalau aku ini anak satu-satunya."
Kahiyang mengangguk pelan. "Iya juga, sih. Tapi... "
Ucapannya terhenti ketika Sultan tiba-tiba mendekat. Kedua tangannya melingkar di perut Kahiyang dari belakang, menarik tubuh mungil istrinya agar bersandar pada dadanya.
"Tapi apa, hmmm?" bisiknya dekat telinga Kahiyang.
Kahiyang terdiam seraya memejamkan mata, menikmati pelukan suaminya hingga akhirnya tersenyum kecil. "Aku cuma merasa nggak enak. Tak seharusnya kamu melakukan semuanya sendiri, Raf. Kita bisa memulainya bersama-sama dari nol," ujarnya lirih.
Sultan menundukkan wajahnya, lalu menyandarkan dagu di bahu Kahiyang. "Aku suamimu, Ay. Wajar kalau aku ingin membahagiakan istriku."
Kahiyang menatap tangan Sultan yang masih melingkar erat di pinggangnya. "Kamu sudah melakukan banyak hal untukku."
Sultan tersenyum mendengar jawaban itu dan semakin mengeratkan pelukannya. "Itu karena aku mencintaimu, Ayangku. Makanya, aku ingin yang terbaik untuk istriku ini."
Kalimat itu terdengar begitu memabukkan di telinga Kahiyang. Netra wanita itu kembali terpejam menikmati kehangatan pelukan suaminya. Hatinya diselimuti kebahagiaan yang meluap, membuatnya merasa begitu dicintai dan dihargai.
Akan tetapi, di sisi lain ia berusaha bertahan. Dulu Tedy juga seperti itu bahkan lebih romantis. Namun, apa yang terjadi lelaki itu justru mengkhianatinya. Dan yang lebih membuatnya benar-benar sakit hati, wanita selingkuhannya adalah sepupunya sendiri.
...
Di lantai bawah, tampak Nyonya Kirana dan Bu Arimbi menata menu hidangan yang mereka bawa dari rumah masing-masing. Beberapa wadah makanan diletakkan di atas meja makan, sementara sebagian lainnya mulai dipindahkan ke piring saji.
"Sini, biar saya saja, Jeng," ujar Nyonya Kirana sambil meminta salah satu wadah dari tangan besannya.
"Ah, nggak usah, Mbak. Saya bisa, kok. Ini mah, kecil," jawab Bu Arimbi sembari tersenyum.
Nyonya Kirana ikut tersenyum. "Wah, ternyata besan saya ini sangat rajin, ya."
Bu Arimbi terkekeh kecil. "Kalau soal anak, kita pasti sama-sama ingin memberikan yang terbaik."
"Ah, iya benar, Jeng." Nyonya Kirana mengangguk, lalu melirik ke arah tangga. "Mereka masih belum turun juga?"
"Biarin saja, Mbak. Siapa tahu mereka sedang..." Bu Arimbi menjeda kalimatnya sejenak sambil terkikik pelan. "Tahu sendirilah kita juga pernah muda," lanjutnya berusaha menahan tawanya.
"Benar, Jeng. Semoga segera launching Rafa junior. Nggak sabar rasanya pengin cepat nimang cucu," timpal Nyonya Kirana tampak sangat antusias.
"Saya senang sekali akhirnya anak-anak kita bisa menjadi pasangan," kata Bu Arimbi tulus, sambil menata satu piring terakhir, kemudian memandang besannya dengan senyum hangat.
Nyonya Kirana pun membalas senyumnya. "Apalagi saya, Jeng. Semoga mereka berdua bisa merajut kebahagiaan bersama."
"Aamiin...!"
Kedua besan itu kembali sibuk menata makanan, sementara dari luar terdengar suara tawa para pria yang sedang berbincang....
Tepatnya di teras samping rumah, Tuan Bahtiar, Pak Andika, Rendra, dan Akhtar duduk santai sambil menikmati minuman. Pertemuan kedua keluarga itu membuat suasana terasa hangat, meskipun sebagian besar pembicaraan masih seputar pekerjaan dan kehidupan sehari-hari.
"Bagaimana usaha Anda akhir-akhir ini, Pak Andika?" tanya Tuan Bahtiar seraya menatap besannya.
"Alhamdulillah, masih berjalan lancar. Beberapa waktu terakhir memang cukup sibuk karena ada beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan," jawab Pak Andika.
Tuan Bahtiar mengangguk. "Begitulah kalau sudah menyangkut pekerjaan. Kadang satu urusan belum selesai, yang lain sudah menunggu."
"Betul." Pak Andika terkekeh. "Apalagi kalau sudah mendekati akhir tahun, biasanya pekerjaan malah semakin banyak."
Rendra yang sejak tadi menyimak ikut angkat bicara. "Makanya saya sering bilang ke Papa, Om. Supaya jangan terlalu memaksakan diri mengerjakan semua pekerjaan sendirian."
Pak Andika langsung melirik putranya. "Kamu sendiri juga sama saja. Kalau sudah sibuk, makan pun kadang lupa."
Rendra terkekeh. "Saya masih muda, Pa. Masih kuat."
"Jangan mentang-mentang masih muda," sahut Pak Andika sambil menggeleng geli.
Akhtar yang sejak tadi diam akhirnya ikut tertawa. "Beginilah kalau mereka sudah membahas pekerjaan, Om. Tidak ada yang mau mengalah."
Tuan Bahtiar pun tertawa. "Berarti bukan cuma di keluarga saya."
"Sepertinya begitu," jawab Akhtar.
Pembicaraan terus berlanjut. Tuan Bahtiar sesekali bertanya mengenai dunia usaha yang digeluti keluarga Pak Andika, sementara Pak Andika juga menanggapi dengan bercerita secukupnya tentang kesibukan mereka.
"Kalau begitu, lain kali kita bisa ngobrol lebih panjang soal bisnis," ujar Tuan Bahtiar.
Pak Andika mengangguk. "Dengan senang hati."
...
Sementara itu, di salah satu kamar, Puspa dan Andini sedang sibuk menata barang-barang seserahan Kahiyang. Berbagai kotak dan bungkusan sudah tersusun rapi di sudut ruangan.
Puspa mengambil ponselnya, kemudian mengarahkan kamera ke deretan seserahan tersebut.
"Kak Andin, aku mau post di story WhatsApp, ah. Aku pengin tahu reaksi Cantika melihat ini," katanya sambil menahan senyum.
Andini langsung memahami maksud adik iparnya. Ia malah ikut terkekeh. "Boleh. Boleh. Kakak juga mau posting rumah mereka."
Puspa menoleh. "Serius, Kak?"
"Iya." Andini mengambil beberapa foto rumah dari sudut yang bagus. "Biar lengkap. Kamu pamer seserahan, kakak pamer rumah."
Puspa tertawa kecil. "Kalau begitu, pasti tambah panas."
"Biarin, aja," jawab Andini santai.
Puspa kemudian mengunggah foto seserahan tersebut dengan keterangan: "Wah...! Barang-barang branded semua ternyata."
Tak lama kemudian, Andini ikut mengunggah foto rumah baru Kahiyang dan Rafa dengan keterangan: "Begitu pulang dari hotel, langsung menempati rumah baru. Semoga penuh berkah dan bahagia selalu."
Keduanya saling pandang, lalu tersenyum puas.
.
.
.
Di tempat lain, Cantika yang sedang gabut, membuka WhatsApp dan melihat-lihat story yang muncul di berandanya. Sampai akhirnya, unggahan Puspa muncul di layar. Cantika mengernyit. Ia memperbesar foto tersebut, lalu membaca keterangannya. Matanya seketika membelalak.
"Ini... seserahan Kahiyang?" gumamnya tak percaya.
Jemarinya lantas menggeser layar. Unggahan berikutnya milik Andini muncul.
Foto sebuah rumah minimalis dua tingkat di kawasan Kota Modern memenuhi layar ponselnya.
Cantika terdiam, matanya terpaku pada foto tersebut. Wajahnya perlahan berubah, sementara tangannya menggenggam ponsel semakin erat. Dadanya mulai terasa panas, napasnya mulai tak beraturan. Rasa tidak percaya perlahan berganti iri dan benci.
"Nggak mungkin..." gumamnya pelan. "Dia hanya pemuda culun dan terlihat miskin. Tapi bagaimana bisa menghadiahkan rumah seperti ini?"
Siap2 saja sebentar lagi akan kehilangan jabatan
ayang baru sadar kalo Rafa itu CEO, kamu aja shock apalagi nanti keluarga besar mu,🤭