Indonesia
NovelToon NovelToon
Azmira Yang Tak Pernah Diinginkan

Azmira Yang Tak Pernah Diinginkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Anak Genius
Popularitas:18.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ayumarhumah

Azmira, gadis kecil berusia sepuluh tahun, tumbuh dalam keterbatasan bersama ibunya.
Meski hidup serba kekurangan, Mira tidak pernah mau dikasihani. Ia memilih bekerja demi membantu ibunya, selalu ceria, dan berusaha menjadi anak yang kuat.
Namun, Mira tidak pernah tahu bahwa sejak kelahirannya, ada seseorang yang menganggap kehadirannya sebagai sebuah kesalahan.
Siapa yang tidak menginginkan Mira? Dan mengapa?

Nantikan kelanjutannya hanya di Manga Toon

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keteguhan seorang Azmira

Shasa begitu bahagia hari itu. Setelah sekian lama hanya bisa mendengar kabar tentang ibunya, akhirnya ia bisa bertemu juga dengan perempuan yang begitu dirindukannya.

Walaupun hanya sebentar, bagi Shasa waktu beberapa jam bersama sang ibu terasa sangat berharga.

Ibunya harus kembali bekerja menemani majikannya yang sedang berlibur di sebuah vila. Namun sebelum perempuan itu pergi, ia sempat memeluk Shasa erat-erat dan berpesan agar putrinya tetap rajin sekolah.

Shasa mengangguk berkali-kali.

"Iya, Bu."

"Jangan nakal."

Shasa terkekeh kecil.

"Shasa kan nggak nakal."

Ibunya ikut tersenyum, lalu mengusap rambut putrinya.

Mira yang berdiri tidak jauh dari mereka hanya tersenyum melihatnya. Setelah ibunya pergi, Shasa masih berdiri beberapa saat sambil memperhatikan kendaraan yang membawa majikan ibunya menjauh.

"Kak Shasa." Panggilan Mira membuatnya menoleh.

"Iya?"

"Kalau kamu masih mau di sini, temani Mira jualan saja."

Shasa langsung mengangguk. "Mau!"

Mira tersenyum lebar. Akhirnya kedua gadis kecil itu berjalan menyusuri area sekitar vila sambil membawa dagangan Mira.

Hari itu entah mengapa terasa berbeda. Mungkin karena hati Shasa sedang bahagia setelah bertemu ibunya. Atau mungkin karena sejak awal Mira memang membawa semangat yang berbeda.

Setiap kali Mira menawarkan dagangannya, anak itu selalu melakukannya dengan senyum yang begitu ramah.

"Cangcimennya, Bu. Masih segar."

"Pak, mau beli? Dua ribu saja."

Tidak sedikit orang yang akhirnya tertarik. Ada yang membeli satu. Ada yang membeli dua. Bahkan beberapa orang yang awalnya hanya melihat akhirnya ikut membeli setelah mendengar Mira menawarkan dagangannya dengan penuh semangat.

Shasa sampai beberapa kali terkekeh melihat sahabatnya. "Mira, kamu cocok jadi pedagang."

Mira tertawa. "Kalau dagangan Mira laku terus, Mira bisa kaya."

"Kamu mau jadi orang kaya?"

Mira mengangguk mantap. "Mira mau kaya Kak."

"Untuk apa?"

Mira terdiam sebentar. Kemudian senyumnya kembali muncul. "Supaya Ibu nggak susah lagi."

Jawaban itu membuat Shasa terdiam. Ia tahu betul bagaimana kehidupan sahabatnya. Mira bukan anak yang hidup serba berkecukupan. Namun anehnya, hampir tidak pernah sekali pun ia mengeluh.

Sore semakin dekat. Langit yang sejak siang berwarna biru perlahan berubah menjadi jingga. Tanpa mereka sadari, waktu sudah berlalu begitu cepat.

Mereka akhirnya memutuskan untuk berhenti berjualan. Mira duduk di samping ibunya sambil mengeluarkan uang hasil dagangan dari dalam wadah kecil.

Rani yang sejak tadi menunggu mereka pulang langsung tersenyum ketika melihat uang yang mereka bawa.

"Ramai?"

Mira mengangguk penuh semangat. "Ramai sekali, Bu!"

Shasa ikut duduk di samping Mira. "Hari ini banyak yang beli karena Mira yang jualan."

Rani terkekeh kecil. "Memangnya kenapa kalau Mira yang jualan?"

"Mira pintar menawarkan dagangan."

Mira langsung membusungkan dada. "Aku memang pintar."

Shasa tertawa. Rani pun ikut tersenyum.

Sudah beberapa hari terakhir dagangan Rani tidak terlalu laku. Namun hari ini hasil yang mereka dapatkan jauh lebih banyak. Mira dan Rani kemudian mulai menghitung uang tersebut bersama-sama.

Satu lembar.

Dua lembar.

Beberapa keping uang receh. Mira menghitungnya dengan teliti, lalu kembali menghitung dari awal untuk memastikan tidak ada yang salah.

"Bu..."

"Iya?"

Mira menatap uang di tangannya. "Kalau jualan kita ramai terus seperti ini, Mira yakin bisa jadi dokter nanti."

Rani terdiam. Senyumnya perlahan berubah.

Ada sesuatu yang menyentuh hatinya setiap kali mendengar putrinya berbicara tentang cita-cita itu.

"Kenapa tiba-tiba ngomong begitu?"

"Karena jadi dokter kan butuh banyak uang."

Mira menunduk melihat hasil dagangan mereka. "Kalau Mira bisa membantu Ibu jualan, nanti uangnya bisa ditabung sedikit-sedikit."

Rani menatap putrinya lama. Kemudian tangannya terulur mengusap kepala Mira.

"Sayang..."

"Iya, Bu?"

"Jangan pernah berpikir cita-citamu hanya bisa terwujud karena uang."

Mira menatap ibunya. "Memang harus bagaimana?"

"Belajar dan berdoa," Rani tersenyum. Tangannya masih mengusap rambut putrinya.

"Dan jangan pernah menyerah hanya karena keadaan kita tidak seperti orang lain."

Mira mengangguk perlahan. Rani menarik napas panjang. Dalam hati, perempuan itu kembali meneguhkan sesuatu. Ia mungkin tidak mampu memberikan kehidupan mewah untuk putrinya.

Ia mungkin tidak mampu membelikan semua yang Mira inginkan. Tetapi selama kedua tangannya masih mampu bekerja, ia akan berusaha memastikan anaknya memiliki kesempatan untuk meraih cita-citanya.

Ia tidak ingin Mira merasa kurang hanya karena tidak memiliki seorang ayah yang mendampinginya. Kalau memang harus berjuang seorang diri, maka ia akan melakukannya.

Rani ingin membuktikan bahwa tanpa uluran tangan lelaki yang pernah meninggalkan mereka pun, putrinya tetap bisa tumbuh menjadi seseorang.

Seseorang yang kelak mampu berdiri dengan kedua kakinya sendiri. Shasa yang sejak tadi mendengarkan percakapan mereka kemudian tersenyum kepada Mira.

"Mira..."

"Hmm iya Kak?"

"Kamu teman baik dan anak baik."

Mira menoleh, ke arah Shasa dengan tatapan teduh.

"Aku yakin Tuhan akan mendengar doa-doamu."

Mira tersenyum. Matanya kemudian memandang langit yang mulai berubah warna. Jingga perlahan memenuhi cakrawala.

Angin sore berembus lembut menerpa wajahnya.

Di usianya yang masih begitu kecil, Mira belum tahu seberapa panjang jalan yang harus ia tempuh untuk mewujudkan impiannya. Ia juga belum tahu berapa banyak air mata yang mungkin harus jatuh sebelum suatu hari nanti ia benar-benar sampai di sana.

Namun sore itu, ia hanya memiliki satu keyakinan sederhana. Suatu hari nanti... ia ingin mengenakan jas putih. Bukan untuk terlihat hebat. Bukan agar orang-orang mengaguminya.

Tetapi karena ia ingin setiap hari menggunakan kedua tangannya untuk menolong orang-orang yang sedang sakit.

Dan jika hari itu benar-benar tiba, Mira ingin menjadi dokter yang tidak pernah lupa bagaimana rasanya hidup dalam keterbatasan.

Dokter yang tetap mau menolong siapa pun.

Karena dulu, ketika ia hanya seorang gadis kecil dengan sepatu bekas dan dagangan sederhana di depan dada, ia pernah memiliki sebuah mimpi.

Mimpi yang terus ia jaga meski dunia berkali-kali membuatnya merasa bahwa mimpi itu terlalu tinggi.

Matahari semakin rendah. Mira merapikan uang hasil dagangan mereka, lalu tersenyum kepada ibunya dan Shasa. Mereka tidak tahu... bahwa hari sederhana itu kelak akan menjadi salah satu kenangan terakhir dari masa kecil Mira.

Sebab setelah hari itu, waktu akan berjalan jauh lebih cepat daripada yang mereka bayangkan.

Bersambung ...

Selamat malam semoga suka ya

1
Nancy Nurwezia
penyesalanmu mulai mendrkati mu dika
Nar Sih
lanjut kakk👍🥰
Tengku Nafisa
Terasa lamban semuanyaa. Dika banyak duit spt jalan di tempat sementara Dedemit Miranda dan anaknya sdh spt detektif yg sdh maju selangkah. Dan yg di cari tau kehidupannya ada di sekitar mereka. Adegannya seperti main kucing kucingan. Gaskan thor.. jgn keduluan dedemit yg mencelakai Azmira dan ibunya. Oh Wiliam lindungilah Azmira.
Nar Sih
kak ayu jdi gk sabar nunggu kebusukan miranda kebongkar dan penyesalan dika yg telah melupakan azmira
Sri Widiyarti
eh ga taunya Sherin bukan anak kandungnya 🤦🤦🤦
Nar Sih
kesalah mu sendiri dika ,yg sdh piara ular di rmh mu 🤣🤣
ceuceu
Ga sabar liat kehancuran dika pas tau kebusukan miranda wanita yg dia pilih,sampai rela membuang putri kandung
Tengku Nafisa
jgn lama2 thor membuka kedok miranda di dpn keluarga.
Nar Sih
semoga sgra terbongkar kejhtn miranda biar dika menyeslll🤣🤣🤣
ros
🙏
Suanti
setelah terungkap shiren bukan kandung dika
dika bakal menyesal seumur hidup 🤭
Nar Sih
kasihan kmu dika ,klau ternyata ank yg kau anggap ank kandung mu eh...ternyata ank sekingkuhan pelakor mu ,sedang ank kandung mu tak kau anggap🤣🤣
Tengku Nafisa
ketahuan... sdh terlambat utk sadar. terlanjur terlena dgn duniamu Dika. rasakan itu penyesalan yg tak bisa kembali
Marini Suhendar
anak orang lain d urus..anak sendiri d d usir..
ceuceu
sepertinya shiren bukan anak dika,sukurin deh dika biar tau rasa,ngurus anak orang lain,anak sendiri di telantarkan
Heni Fitoria
intinya anakku bukan anakku...
🤣🤣🤣🤣
itulah karma Dika...
sakit tak berdarah ketika tau kenyataan yang sebenarnya 😆😆😆
Nar Sih
satu demi satu rahasia miranda sgra terungkap dan saat dika tau tinggal lah penyesalan yg terlambat
Tengku Nafisa
Dika akan sadar ketika dirinya selama ini telah tertipu dan yg menipunya adalah wanita yg dipeliharanya dirmhnya sendiri.
Nar Sih: bnr banget kak ,dan saat kbnran itu tiba tinggal lan penyesalan
total 1 replies
ceuceu
Dika egois menelantarkan anak selama 25 tahun,ngapain sekarang baru cari tau
Nar Sih
seperti nya shiren bkn ank kandung mu dika ,dan bila kbnran rahasia istri perebut suami org terbongkar saat itu lah karma penyesalan mu tiba🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!