Azmira, gadis kecil berusia sepuluh tahun, tumbuh dalam keterbatasan bersama ibunya.
Meski hidup serba kekurangan, Mira tidak pernah mau dikasihani. Ia memilih bekerja demi membantu ibunya, selalu ceria, dan berusaha menjadi anak yang kuat.
Namun, Mira tidak pernah tahu bahwa sejak kelahirannya, ada seseorang yang menganggap kehadirannya sebagai sebuah kesalahan.
Siapa yang tidak menginginkan Mira? Dan mengapa?
Nantikan kelanjutannya hanya di Manga Toon
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keteguhan seorang Azmira
Shasa begitu bahagia hari itu. Setelah sekian lama hanya bisa mendengar kabar tentang ibunya, akhirnya ia bisa bertemu juga dengan perempuan yang begitu dirindukannya.
Walaupun hanya sebentar, bagi Shasa waktu beberapa jam bersama sang ibu terasa sangat berharga.
Ibunya harus kembali bekerja menemani majikannya yang sedang berlibur di sebuah vila. Namun sebelum perempuan itu pergi, ia sempat memeluk Shasa erat-erat dan berpesan agar putrinya tetap rajin sekolah.
Shasa mengangguk berkali-kali.
"Iya, Bu."
"Jangan nakal."
Shasa terkekeh kecil.
"Shasa kan nggak nakal."
Ibunya ikut tersenyum, lalu mengusap rambut putrinya.
Mira yang berdiri tidak jauh dari mereka hanya tersenyum melihatnya. Setelah ibunya pergi, Shasa masih berdiri beberapa saat sambil memperhatikan kendaraan yang membawa majikan ibunya menjauh.
"Kak Shasa." Panggilan Mira membuatnya menoleh.
"Iya?"
"Kalau kamu masih mau di sini, temani Mira jualan saja."
Shasa langsung mengangguk. "Mau!"
Mira tersenyum lebar. Akhirnya kedua gadis kecil itu berjalan menyusuri area sekitar vila sambil membawa dagangan Mira.
Hari itu entah mengapa terasa berbeda. Mungkin karena hati Shasa sedang bahagia setelah bertemu ibunya. Atau mungkin karena sejak awal Mira memang membawa semangat yang berbeda.
Setiap kali Mira menawarkan dagangannya, anak itu selalu melakukannya dengan senyum yang begitu ramah.
"Cangcimennya, Bu. Masih segar."
"Pak, mau beli? Dua ribu saja."
Tidak sedikit orang yang akhirnya tertarik. Ada yang membeli satu. Ada yang membeli dua. Bahkan beberapa orang yang awalnya hanya melihat akhirnya ikut membeli setelah mendengar Mira menawarkan dagangannya dengan penuh semangat.
Shasa sampai beberapa kali terkekeh melihat sahabatnya. "Mira, kamu cocok jadi pedagang."
Mira tertawa. "Kalau dagangan Mira laku terus, Mira bisa kaya."
"Kamu mau jadi orang kaya?"
Mira mengangguk mantap. "Mira mau kaya Kak."
"Untuk apa?"
Mira terdiam sebentar. Kemudian senyumnya kembali muncul. "Supaya Ibu nggak susah lagi."
Jawaban itu membuat Shasa terdiam. Ia tahu betul bagaimana kehidupan sahabatnya. Mira bukan anak yang hidup serba berkecukupan. Namun anehnya, hampir tidak pernah sekali pun ia mengeluh.
Sore semakin dekat. Langit yang sejak siang berwarna biru perlahan berubah menjadi jingga. Tanpa mereka sadari, waktu sudah berlalu begitu cepat.
Mereka akhirnya memutuskan untuk berhenti berjualan. Mira duduk di samping ibunya sambil mengeluarkan uang hasil dagangan dari dalam wadah kecil.
Rani yang sejak tadi menunggu mereka pulang langsung tersenyum ketika melihat uang yang mereka bawa.
"Ramai?"
Mira mengangguk penuh semangat. "Ramai sekali, Bu!"
Shasa ikut duduk di samping Mira. "Hari ini banyak yang beli karena Mira yang jualan."
Rani terkekeh kecil. "Memangnya kenapa kalau Mira yang jualan?"
"Mira pintar menawarkan dagangan."
Mira langsung membusungkan dada. "Aku memang pintar."
Shasa tertawa. Rani pun ikut tersenyum.
Sudah beberapa hari terakhir dagangan Rani tidak terlalu laku. Namun hari ini hasil yang mereka dapatkan jauh lebih banyak. Mira dan Rani kemudian mulai menghitung uang tersebut bersama-sama.
Satu lembar.
Dua lembar.
Beberapa keping uang receh. Mira menghitungnya dengan teliti, lalu kembali menghitung dari awal untuk memastikan tidak ada yang salah.
"Bu..."
"Iya?"
Mira menatap uang di tangannya. "Kalau jualan kita ramai terus seperti ini, Mira yakin bisa jadi dokter nanti."
Rani terdiam. Senyumnya perlahan berubah.
Ada sesuatu yang menyentuh hatinya setiap kali mendengar putrinya berbicara tentang cita-cita itu.
"Kenapa tiba-tiba ngomong begitu?"
"Karena jadi dokter kan butuh banyak uang."
Mira menunduk melihat hasil dagangan mereka. "Kalau Mira bisa membantu Ibu jualan, nanti uangnya bisa ditabung sedikit-sedikit."
Rani menatap putrinya lama. Kemudian tangannya terulur mengusap kepala Mira.
"Sayang..."
"Iya, Bu?"
"Jangan pernah berpikir cita-citamu hanya bisa terwujud karena uang."
Mira menatap ibunya. "Memang harus bagaimana?"
"Belajar dan berdoa," Rani tersenyum. Tangannya masih mengusap rambut putrinya.
"Dan jangan pernah menyerah hanya karena keadaan kita tidak seperti orang lain."
Mira mengangguk perlahan. Rani menarik napas panjang. Dalam hati, perempuan itu kembali meneguhkan sesuatu. Ia mungkin tidak mampu memberikan kehidupan mewah untuk putrinya.
Ia mungkin tidak mampu membelikan semua yang Mira inginkan. Tetapi selama kedua tangannya masih mampu bekerja, ia akan berusaha memastikan anaknya memiliki kesempatan untuk meraih cita-citanya.
Ia tidak ingin Mira merasa kurang hanya karena tidak memiliki seorang ayah yang mendampinginya. Kalau memang harus berjuang seorang diri, maka ia akan melakukannya.
Rani ingin membuktikan bahwa tanpa uluran tangan lelaki yang pernah meninggalkan mereka pun, putrinya tetap bisa tumbuh menjadi seseorang.
Seseorang yang kelak mampu berdiri dengan kedua kakinya sendiri. Shasa yang sejak tadi mendengarkan percakapan mereka kemudian tersenyum kepada Mira.
"Mira..."
"Hmm iya Kak?"
"Kamu teman baik dan anak baik."
Mira menoleh, ke arah Shasa dengan tatapan teduh.
"Aku yakin Tuhan akan mendengar doa-doamu."
Mira tersenyum. Matanya kemudian memandang langit yang mulai berubah warna. Jingga perlahan memenuhi cakrawala.
Angin sore berembus lembut menerpa wajahnya.
Di usianya yang masih begitu kecil, Mira belum tahu seberapa panjang jalan yang harus ia tempuh untuk mewujudkan impiannya. Ia juga belum tahu berapa banyak air mata yang mungkin harus jatuh sebelum suatu hari nanti ia benar-benar sampai di sana.
Namun sore itu, ia hanya memiliki satu keyakinan sederhana. Suatu hari nanti... ia ingin mengenakan jas putih. Bukan untuk terlihat hebat. Bukan agar orang-orang mengaguminya.
Tetapi karena ia ingin setiap hari menggunakan kedua tangannya untuk menolong orang-orang yang sedang sakit.
Dan jika hari itu benar-benar tiba, Mira ingin menjadi dokter yang tidak pernah lupa bagaimana rasanya hidup dalam keterbatasan.
Dokter yang tetap mau menolong siapa pun.
Karena dulu, ketika ia hanya seorang gadis kecil dengan sepatu bekas dan dagangan sederhana di depan dada, ia pernah memiliki sebuah mimpi.
Mimpi yang terus ia jaga meski dunia berkali-kali membuatnya merasa bahwa mimpi itu terlalu tinggi.
Matahari semakin rendah. Mira merapikan uang hasil dagangan mereka, lalu tersenyum kepada ibunya dan Shasa. Mereka tidak tahu... bahwa hari sederhana itu kelak akan menjadi salah satu kenangan terakhir dari masa kecil Mira.
Sebab setelah hari itu, waktu akan berjalan jauh lebih cepat daripada yang mereka bayangkan.
Bersambung ...
Selamat malam semoga suka ya
..kasih karma itu dengan segera....AQ gak akan puas lok blm lihat dia nyungsep Thor...apa lagi istri yg pernah jadi pelapor itu😡😡😡😡